Nada dan Alva di haruskan menjadi teman satu kamar di asrama karena ada sebuah kejadian yang tak diduga duga.
Selama menjadi teman satu kamar Alva selalu merasakan hal yang aneh pada dirinya yang menurutnya tak normal. Suatu hari Alva pergi ke dokter untuk memeriksaan kondisinya yang aneh selama ini.
"Apa keluhanmu?" Tanya sang dokter.
"Begini dok, akhir akhir ini jantungku selalu berdetak tak sewajarnya! Terkadang jantungku sakit, terkadang jantungku berdetak dengan kencangnya! Seperti itu yang kurasakan!" Jelas Alfa.
Sang dokter mengerutkan keningnya.
"Apa ini bereaksi setiap saat atau hanya saat saat tertentu? Atau mungkin bereaksi terhadap sesuatu?"
"Jantungku akan bereaksi seperti ini hanya pada seseorang saja dok!"
"Sepertinya anda punya masalah serius dengan jantung anda."
"Yang benar dok?"
Puk..
"Sakit kak!"
"Kau itu hanya pintar dalam akademi, tapi bodoh masalah cinta. Kau itu sedang jatuh cinta bodoh!!!"
Penasaran? langsung cek ceritanya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 7
Sebentar lagi ulangan tengah semester, Nada dan kawan kawan sedang sibuk mempelajari materi yang sudah di bahas guru sebelumnya. Vanio yang kelihatannya kurang pintar itu ternyata memiliki otak super encer melebihi Nada. Willie dan Vio merasa beruntung bisa berteman dengannya.
Nada menjelaskan materi matematika pada Vio yang lemah di pelajaran matematika. Sedangkan Willie masih berkutat dengan pelajaran sejarahnya bersama Vanio.
Drrrrrttttt ......... Drrrrrttttt......
Nada mengambil ponselnya karena ada panggilan masuk dari ibunya.
" Iya ma? Ada apa?" Tanya Nada.
"Ada yang ingin Mama bicarakan denganmu! Apa kita bisa bertemu?" Tanya ibunya.
"Mm.. Bisa kapan? Dan dimana Ma?" Tanya Nada.
"Nanti setelah kamu pulang sekolah, di kafe Cumi ya!" Jelas ibunya.
"Ah, baiklah." Nada menutup ponselnya dan beralih pada teman temannya yang saat ini sedang menatap Nada penasaran.
"Mamaku menelfon dan ingin bertemu." Jelas Nada sebelum teman temannya bertanya.
Yang lain hanya mengangguk angguk mengerti, kemudian melanjutkan acara belajar mereka.
Di tempat lain Alfa yang sedang beristirahat di atap gedung sekolah mendapat panggilan telvon dari ayahnya.
"Tumben pak tua ini menelfon ku." Gumam Alfa kemudian mengangkat panggilannya.
"Ada apa?" Tanya Alfa to the points.
"Seperti biasa kau selalu to the point ya." Kata ayahnya di sebrang telvon.
"Sudah cepat katakan ada apa?" Kata Alfa yang tak ingin berbasa basi itu.
"Bisakah nanti kau pulang ke rumah? Ada yang ingin ku katakan padamu! Penting!" Kata Ayahnya.
"Bisakah kau katakan di sini saja? Kenapa harus di rumah?" Tanya Alfa yang sebenarnya malas itu.
"Tidak ada penolakan! Ku tunggu kau di rumah nanti malam!" Kata ayahnya mutlak yang artinya tak ada bantahan atau penolakan.
Setelah itu penggilan di matikan sepihak oleh ayahnya. Alfa sudah bersiap akan membanting ponselnya namun tak jadi.
"Dasar pak tua seenaknya sendiri!!" Kesal Alfa pada ayahnya sendiri.
...****************...
Sesuai perjanjian, Nada menemui ibunya di tempat yang sudah ditentukan oleh ibunya. Nada sudah sampai dan di sambut oleh ibunya yang bersama adik kecilnya yang masih berusia 7 tahun.
"Hai Ma!" Sapa Nada, lalu memeluk ibunya melepas rindu.
"Hai sayang, bagaimana kabarmu?" Tanya ibunya ketika pelukan sudah terlepas.
"Baik, semua baik baik saja." Jelasnya.
"Syukurlah jika begitu." Ibunya tersenyum senang.
" Mama ingin bicara apa? Apa ini penting?" Tanya Nada penasaran.
"Begini, sebenarnya Mama punya kekasih yang memiliki nasib yang sama seperti Mama, di tinggal pergi orang terkasih untuk selama lamanya. Dan kekasih Mama ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Mama, dia melamarku kemarin. Bagaimana menurutmu?" Jelas ibunya membuat Nada terkejut.
Nada sudah tak memiliki ayah sejak 8 tahun yang lalu, tepatnya ketika ibunya sedang mengandung adiknya. Ayahnya sudah meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Ayahnya merupakan seorang anggota kepolisian dan meninggal saat dalam bertugas.
Ibunya bekerja dengan membuka toko bunga di rumah sejak kepergian ayahnya. Dan Nada tak ingin membebani ibunya jadi ia mencari beasiswa untuk sekolahnya dan membantu ibunya dari uang sisa beasisiwanya.
Back to the story
Nada terdiam sesaat sebelum pada akhirnya menyunggingkan senyumnya.
"Jika itu yang terbaik untuk Mama, maka lakukanlah! Nada akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Mama!" Kata Nada mencoba menerima semua keputusan ibunya.
Ibunya tersenyum senang mendengar jawaban yang di berikan Nada.
"Terima kasih sayang sudah mau mengerti akan Mama. Kau adalah anak kesayangan Mama, anak kebanggaan Mama." Ibunya memeluk Nada senang.
"Apa sudah selesai bicaranya? Soalnya Nada harus kembali ke asrama sebelum malam tiba." Jelas Nada yang memang benar adanya.
"Sudah selesai, mau Mama antar nak?" Tawar ibunya.
"Tidak perlu, aku bawa sepeda kok." Kata Nada diam sambil menunjuk sepeda milik Vio yang ia bawa tadi.
" Oh baiklah, hati hati di jalan ya!" Pesan ibunya.
"Iya Ma, daaah..." Nada keluar dari kafe dan kembali ke asrama.
Sebenarnya Nada tak rela ibunya menikah lagi, ia belum bisa menerima orang lain sebagai ayahnya. Tapi demi kebahagiaan ibunya ia merelakan ibunya menikah lagi dan ini juga demi masa depan adiknya kelak.
Di tempat lain Alfa sudah di jemput supir pribadi ayahnya. Ketika meninggalkan Asrama Alfa melihat Nada baru kembali entah dari mana dengan sepeda entah punya siapa.
"Dari mana dia?" Gumam Alfa yang di dengar oleh sang supir.
"Ada apa tuan?" Tanya si supir.
"Tidak ada, cepat kita pulang!" Titah Alfa yang kemudian mobilnya melaju meninggalkan gedung asrama.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 25 menit akhirnya mereka sampai di kediaman Alfa. Di dalam ayahnya sudah duduk menunggu kedatangan sang putra semata wayangnya.
Alfa duduk di sofa sebrang ayahnya.
"Ada apa? Cepat katakan!" Kata Alfa yang ti the point.
"Benar benar anak ini. Jadi begini, Daddy akan menikahi kekasih Daddy bulan depan. Daddy harap kau mau menerimanya!" Kata ayahnya.
"Bagaimana bisa Daddy menikah lagi? Apa Daddy sudah tidak mencintai Mommy lagi?" Tanya Alfa yang tak terima ayahnya menikah lagi.
"Daddy sangat mencintai mendiang Mommymu, Tapi Daddy selama ini kesepian Al! Tolong mengertilah keadaan Daddy! Daddy sudah menyendiri hampir 10 tahun! Apa kau tak menyayangi Daddymu ini nak? " Kata ayahnya mencoba meminta pengertian dari Alfa.
Alfa tak tahu akan berbuat apa lagi, yang dikatakan ayahnya memang benar. Menghela nafas kasar Alfa beranjak dari duduknya.
"Terserah Kau sajalah, aku tak ingin ikut campur." Kata Alfa.
Ayahnya menghela nafas lelah karena tindakan Alfa.
"Hah... Daddy hanya ingin kau kembali merasakan kasih sayang seorang ibu nak!" Gumam ayah Alfa.
Alfa menenangkan pikirannya di kamarnya, ia terus memikirkan perkataan ayahnya tadi. Ia terlaku egois selama ini, ia tak memikirkan kebahagiaan ayahnya selama ini. Ayahnya selalu menyibukkan diri dalam bekerja karena ia melarang ayahnya menikah lagi.
"Mungkin ini keputusan yang tepat, aku harus menerima jika Daddy menikah lagi." Alfa kembali ke ruang tengah dimana ayahnya masih berada di sana.
"Dad, aku merestuimu. Berbahagialah!" Kata Alfa, lalu menyunggingkan senyum kepada ayahnya untuk yang pertama kalinya semenjak kepergian ibunya.
"Terima kasih nak!" Ayahnya memeluk Alfa senang.
Gluduk.... gluduk....
Alfa mendengar suara gemuruh yang artinya hujan sebentar lagi akan turun. Alfa bergegas kembali ke asrama sebelum hujan turun.
"Kau mau kemana nak?" Tanya ayahnya heran.
"Aku harus kembali ke asrama Dad!" Kata Alfa.
"Tidak bisakah kau tidur di rumah?" Tanya ayahnya.
"Untuk saat ini tidak dad! Aku harus segera kembali ke asrama! Ada sesuatu yang harus aku lakukan dad!" Kata Alfa kemudian memasuki mobil.
Tanpa mengucapkan salam perpisahan Alfa sudah melaju pergi meninggalkan halaman rumahnya.
"Pak bisa lebih cepat sedikit?" Pinta Alfa.
"Baik tuan." Si supir menambah kecepatan mobilnya.
Sesampainya di asrama Alfa berlari menuju kamarnya. Dan benar saja apa yang dipikirkan Alfa, Ia melihat Nada yang meringkuk ketakutan di bawah selimut.
Alfa membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya kemudian melakukan seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. Alfa mengulurkan tangannya melewati tirai dan mengetuk lantai tempat tidur.
Mendengar ada suara ketukan, Nada membuka selimut yang menutupi kepalanya. Nada melihat ada tangan Alfa yang terulur seperti waktu itu. Dengan tangan bergetar Nada meraih tangan Alfa yang langsung di genggam dengan erat oleh Alfa.
Entah kenapa Nada selaku nyaman jika Alfa menggenggam tangannya seperti ini, apalagi ibu jari Alfa yang mengusap pelan tangannya. Nada seolah tak ingin melepas genggaman tangannya dari Alfa.
'Dia selalu ada disaat aku membutuhkan, terima kasih banyak!' Batin Nada yang tak berani berterima kasih secara langsung.
...#...
...#...
...#...
...Hai hai hai......
...Bagaimana kelanjutannya?...
...terus ikuti author ya!...
...Belajarlah menghargai karya orang lain dengan cara klik like, vote dan komen!...
...karena semua itu gratis gak bayar cuma modal kuota!...
...karya author sangat bersusah payah dalam mengembangkan pikiran untuk menjadi sebuah cerita yang bisa kalian nikmati!...
...Terima kasih yang sudah mampir dan memberi like author....
...Annyeong!!...