Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??
Benarkah itu??
Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??
Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.
Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??
Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.
Penasaran dengan perjuangannya??
Langsung baca aja yak...
Jangan lupa like, vote, rate ya...
Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 7
Suasana jalanan yang ramai, seperti biasa dipagi hari yang cerah jalanan selalu ramai dipenuhi para pekerja kantor yang ingin pergi ke kantor mereka. Gaby tampak lesu duduk dibelakang kursi kemudi, rasanya lelah walaupun ia tak berbuat kegiatan apapun.
"Nona? Apa nona baik-baik saja?" Tanya Kangjian, ia memperhatikan bayangan Gaby dari kaca.
"Ah! Saya baik-baik saja Sekertaris Kang," jawab Gaby lesu.
Kangjian hanya menghela nafas.
Sesampainha dirumah Gaby dibantu oleh Kangjian, tak lama Anny keluar dari dalam rumah untuk menyambut kedatangan Gaby.
"Ah ... nona Gaby!" Ucapnya dengan tergesa-gesa menghampiri Gaby.
"Tolong bantu nona berjalan!" Perintah Kangjian sesaat setelah Anny berada disamping Gaby.
Anny hanya mengangguk kemudian memapah Gaby berjalan masuk kerumahnya.
"Ah ya, kemarin ada kiriman surat untuk nona," ucap Anny memberi tahu.
"Benarkah? Dari siapa itu?" Tanya Gaby sambil mendudukkan diri tepi kasur. Anny membantu mengangkat kaki Gaby sebelum menjawab.
"Bibi tidak tahu nona, disurat tersebut tak ada nama pengirimnya,"
"Ah begitukah, dimana surat itu?" Gaby membenarkan posisi duduknya.
Anny tersenyum, lantas ia memberikan sepucuk surat tersebut. Gaby menerima surat itu dengan tangannya yang dingin.
"Hmmm ... baiklah nona pasti lapar, kebetulan tadi bibi memasak sup. Biar bibi hangatkan dulu ya, setelah itu nona bisa memakannya," ucap Anny penuh kehangatan. Gaby melemparkan senyum hangatnya sebelum ia mengucapkan kata-kata.
"Ya, terima kasih," sesaat setelah ia berkata demikian wajah Anny seketika berubah. Dengan cepat ia membalas senyuman Gaby lalu membungkuk dan pergi meninggalkan Gaby.
"Eh?" Gaby kebingungan dengan sikap Anny yang tampak terburu-buru.
Tak lama kemudian Anny kembali dengan membawa semangkuk sup hangat. Anny meletakannya diatas meja kecil disamping tempat tidur Gaby.
"Nah, nona makanlah. Setelah itu jangan lupa minum obat yang diberikan dokter!" Ucap Anny.
"Hmm..." Gaby mengangguk paham, ia menyuapkan sesendok sup kemulutnya.
"Rasanya hangat, sangat hangat hingga menghangatkan tubuhku," batin Gaby.
Gaby memejamkan mata menikmati aroma dan kehangatan dari sup itu. Perlahan ia membuka mata dan sempat melirik kerah Anny yang berdiri disampingnya dengan senyum hangatnya.
"Rasanya seperti pelukan ibu yang menghangatkan ku saat musim dingin tiba,"
"Mengapa rasanya aku tampak nyaman berada disisi Anny?" Gaby termenung.
"Ah ya," ucapan Anny mengejutkan lamunan Gaby.
"Apakah nona menyukai supnya?" Tanya Anny, ia sengaja mengejutkan Gaby agar Gaby tak lagi banyak melamun. Ia tahu itu akan merugikan kesehatan Gaby.
"Ah ... iya aku sangat menyukainya," jawab Gaby.
Anny kembali tersenyum.
Beberapa menit kemudian mangkuk berisi sup telah habis dilahap Gaby. Setelah itu Anny memberikan obat Gaby dan membantunya meminum obat tersebut. Saat Anny hendak pamit untuk membersihkan bekas mangkuk sup, Gaby menghentikannya.
"Aku mohon jangan ceritakan tentang surat ini pada siapapun," pinta Gaby sambil menunjukan sepucuk surat yang ia terima akhir-akhir ini.
"Ah, mengapa begitu nona?" Tanya Anny keheranan dengan apa yang dilontarkan mulut Gaby.
"Tidak apa, hanya saja aku tak ingin merepotkan tuan Ardiaz saat ia tahu ada surat dari seseorang yang tak dikenal," jawab Gaby
"Beliau pasti akan menyelidikinya," sambungnya.
"Ah begitu, tapi kenapa. Tuan Ardiaz melakukan itu karena khawatir pada nona," ucap Anny.
Gaby menggelengkan kepalanya.
"Aku mohon jangan ceritakan ini pada siapapun," Gaby kembali meminta Anny untuk merahasiakan perihal surat itu namun, kali ini ia sangat-sangat meminta dengan wajah yang memelas.
Anny menghela hafas panjang sebelum memutuskan.
"Huuff ... baiklah, tapi sebaiknya nona memeberi tahu tuan muda. Bibi pamit pergi kedapur," jawab Anny.
"Ah, terima kasih bi, terima kasih banyak," ucap Gaby tulus dengan senyum lega.
Anny mengangguk kemudian membungkuk untuk pamit pergi.
Sementara itu...
"Hah ..." Ardiaz menghela nafas lalu meletakan selembar foto Gaby.
"Ada apa tuan?" Tanya Kangjian yang baru saja datang sembari membawa berkas-berkas.
"Tidak ada, hanya saja aku merasa Gaby itu adalah gadis yang baik," jawab Ardiaz sembari menyandarkan punggungnya disandaran kursi.
"Itu memang benar tuan, gadis seperti nona Gaby sangatlah langka. Tuan jangan pernah menodai nona Gaby," sahut Kangjian.
"Ah kau ini," Ardiaz mengibas-ngibaskan tangannya.
"Eh? Apa saya salah bicara tuan?" Kangjian bermaksud menyindir Ardiaz namun tak sepenuhnya ucapan ia berupa sindiran.
"Memangnya aku ini laki-laki seperti apa, sehingga kau berkata seperti tadi?" Ardiaz tertawa.
"Yah, saya sering melihat tuan muda bermain dengan perempuan liar diluar sana,"
"Ppfftt ..." Kangjian menahan tawanya, ia merasa geli sendiri setelah berkata demikian.
Tawa Ardiaz mereda setelah Kangjian kembali meledeknya.
"Ah, kau ini selalu saja meledekku," seketika wajah Ardiaz memerah karena kesal.
Kangjian berhenti tertawa.
"Saya senang tuan muda kembali tertawa seperti dulu," batin Kangjian.
Ardiaz melihat-lihat berkas yang dibawa Kangjian, membacanya sekilas sambil mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. Lalu ia pun sempat berpikir.
"Ah, bagaimana keadaan Gaby sekarang?" Tanya Ardiaz.
"Semenjak sampai dirumah, nona kelihatan baik-baik saja. Dan lagipun Anny akan selalu menjaganya," jawab Kangjian dengan tenang.
"Hmm ... aku butuh bantuanmu," ucap Ardiaz.
Setelah membaca surat tersebut, rasa kantuk Gaby mulai menyerangnya. Meski ia terlihat tak ingin tidur tapi kedua bola matanya sudah lelah dan ingin terlelap.
Gaby membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut dan mulai terlelap.
Suasana halaman rumah Gaby.
Anny yang tengah menyiram tanaman dikagetkan oleh kedatangan mobil mewah yang tak asing lagi baginya. Dan keluarlah sesosok pria bertubuh kekar dan berwajah tampan keluar dari mobilnya, dengan segera Anny menyambut kedatangannya dengan ramah dan sopan.
"Ah tuan muda," sapa Anny sambil membungkuk.
"Tuan muda ada keperluan apa sampai repot-repot datang kemari?" Lanjut Anny sesaat setelah ia berdiri tegap dengan kedua tangannya yang berdempet didepan perutnya.
"Aku hanya ingin menemui Gaby," jawab Ardiaz tenang dengan menunjukkan sebuket bunga.
"Ah begitu, silahkan masuk tuan," Anny mempersilahkan Ardiaz untuk masuk kedalam rumah Gaby.
Ardiaz menaiki tangga, sementara Anny pergi kedapur membuatkan minuman untuk majikannya. Perlahan Ardiaz membuka pintu kamar Gaby. Perlahan tampaklah tubuh Gaby yang terbaring diatas kasurnya.
Ardiaz tersenyum kecil sambil memasuki kamar Gaby.
Sebuket bunga yang dibawa Ardiaz diletakkan dimeja kecil Gaby, sementara dirinya mendekat kewajah Gaby. Pesona kecantikan Gaby tak hilang meski sedang tertidur, ia tetap cantik bagai seorang putri. Ardiaz kembali tersenyum.
Perlahan tangannya meraih pipi Gaby dan mengusapnya dengan lembut. Kelembutan tangan Ardiaz hampir saja membangunkan tidur Gaby. Kepala Gaby bergerak berpindah kesisi lain, dengan cepat Ardiaz menarik tangannya.
"Huff," Ardiaz merasa lega karena Gaby masih tertidur.
Ardiaz beranjak menuju jendela kamar Gaby. Sebuah jendela yang besar bak dinding kaca, Ardiaz membukanya.
Udara segar masuk kedalam kamar Gaby. Hal itu membuat Gaby terbangun.