NovelToon NovelToon
Nusantara Pysco

Nusantara Pysco

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Rei

Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Log yang Terbuka

# Bab 7 — Log yang Terbuka

**POV: Hime**

---

Malam itu, setelah Reiki dikurung di ruang belakang pesawat, aku duduk sendirian di gudang tua. Perangkat perakku menyala di depanku, memantulkan cahaya redup ke dinding-dinding kayu yang lapuk.

Aku sudah menunda ini terlalu lama.

Selama dua hari terakhir\, aku mengumpulkan data tentang Reiki. Pola energinya\, spektrum auranya\, frekuensi psikisnya—semua tercatat rapi di perangkatku. Tapi aku belum berani membandingkannya dengan data yang kumiliki tentang *dia*.

Tentang Dewa Psikis.

Tentang pria yang kucintai 38 tahun lalu.

Aku menarik napas dalam-dalam. Tanganku gemetar saat membuka folder lama di perangkatku. Folder yang sudah ribuan kali kubuka. Folder yang berisi data tentang seseorang yang mati di pelukanku.

*Data Dewa Psikis — Klasifikasi: Rahasia.*

Aku membuka file pertama. Grafik energi. Spektrum aura. Pola frekuensi. Semua data yang kukumpulkan selama bertahun-tahun bersamanya.

Lalu aku membuka file Reiki.

Dan aku membandingkannya.

---

Layar perangkatku menampilkan dua grafik yang berdekatan. Yang kiri adalah data Dewa Psikis. Yang kanan adalah data Reiki.

Untuk beberapa detik, aku hanya menatapnya. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas.

Grafik itu hampir identik.

Bukan sepenuhnya sama—ada perbedaan di beberapa titik. Tapi pola dasarnya... pola dasarnya sama. Seperti dua sidik jari yang berasal dari tangan yang sama.

Aku memeriksa angka di sudut layar. *Kecocokan: 70%.*

Tujuh puluh persen.

Aku meletakkan perangkat itu dan menutup mata. Dadaku sesak. Tanganku gemetar.

*70%. Itu bukan kebetulan.*

Aku sudah mencari selama 38 tahun. Melompat ke masa depan berkali-kali. Mengumpulkan petunjuk, mengejar bayangan, berharap bahwa suatu hari nanti aku akan menemukannya.

Dan sekarang, di desa terpencil ini, aku menemukan seorang anak SMA dengan kecocokan 70%.

*Ini dia. Ini benar-benar dia.*

Tapi kenapa aku merasa takut?

---

Aku menghabiskan satu jam berikutnya dengan memeriksa data lebih detail. Setiap grafik, setiap angka, setiap pola—aku membandingkannya satu per satu.

Hasilnya selalu sama. 70%.

Tidak sempurna. Tapi cukup.

Aku ingat saat-saat bersamanya. Caranya tersenyum. Caranya berbicara. Caranya menatapku dengan mata ungu itu—mata yang sama seperti yang kulihat pada Reiki.

*"Aku akan kembali\,"* katanya sebelum mati. *"Mungkin tidak dalam bentuk yang sama. Tapi aku akan kembali."*

Dan sekarang ia kembali. Dalam bentuk seorang anak SMA berusia 16 tahun yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya sendiri.

Aku menutup perangkatku dan merebahkan diri di lantai gudang yang berdebu. Langit-langit kayu di atasku retak-retak, sama seperti pikiranku saat ini.

*Apa yang harus aku lakukan?*

Aku bisa memberitahu Reiki. Tapi apa gunanya? Ia tidak akan percaya. Atau jika ia percaya, ia mungkin akan takut pada dirinya sendiri.

Atau aku bisa diam. Terus mengawasinya. Melindunginya dari jarak jauh, tanpa harus mengungkapkan kebenaran.

Tapi untuk berapa lama?

Aku menutup mata. Dan untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku menangis.

---

Pagi harinya, aku bangun dengan mata bengkak. Aku membersihkan wajahku, mencoba terlihat normal, lalu berjalan menuju pesawat Hubble.

Reiki masih di ruang belakang. Ketika aku masuk, ia sedang duduk di lantai, menatap kosong ke dinding.

"Kau tidak tidur?" tanyaku.

"Tidak bisa."

Aku duduk di sampingnya. Beberapa saat kami diam.

"Hei," kataku akhirnya. "Aku perlu memeriksa kondisimu."

Reiki menatapku. "Memeriksa?"

"Setelah kejadian kemarin, aku perlu memastikan bahwa tidak ada efek samping yang berbahaya."

Ia mengangguk. Aku meraih tangannya—tangannya yang dingin—dan meletakkan perangkatku di atas telapak tangannya.

Perangkat itu menyala. Grafik-grafik mulai muncul.

Tapi aku tidak fokus pada grafik. Aku fokus pada sentuhan tangannya.

Hangat. Familiar.

Seperti sentuhan yang sama dari 38 tahun lalu.

Detak jantungku berdebar kencang. Aku bisa merasakan wajahku memanas. Tapi aku berusaha terlihat tenang.

"Ada apa?" tanya Reiki. "Wajahmu merah."

"Tidak apa-apa. Hanya... panas."

Kebohongan yang buruk. Tapi Reiki tidak mendesak.

Aku melepaskan tangannya dan berpura-pura memeriksa data di perangkatku. Tapi sebenarnya, aku tidak melihat apa-apa. Pikiranku terlalu kacau.

*Ini dia. Ini benar-benar dia. Dan aku memegang tangannya.*

*Tapi ia tidak tahu siapa aku.*

---

Sore harinya, aku kembali ke gudang untuk menyendiri. Aku perlu waktu untuk berpikir.

Tapi ketika aku sampai di sana, KSAN sudah menunggu.

"Ada apa denganmu?" tanyanya langsung. "Wajahmu kusut."

"Aku baik-baik saja."

"Jangan bohong. Aku bisa lihat kau tidak baik-baik saja."

Aku duduk di lantai, menghela napas. KSAN duduk di depanku, menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kubohongi.

"Ini tentang Reiki, kan?" tanyanya.

Aku tidak menjawab.

"Kau tahu sesuatu tentang dia. Sesuatu yang tidak kau ceritakan."

"KSAN..."

"Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku perlu tahu: apa yang kau sembunyikan berbahaya?"

Aku menatapnya. "Tidak. Tidak berbahaya. Tapi... rumit."

"Rumit bagaimana?"

Aku diam sejenak. Lalu aku berkata, "Bayangkan kau mencari seseorang selama hampir 40 tahun. Dan ketika kau menemukannya, ia tidak tahu siapa dirimu."

KSAN mengerutkan dahi. "Maksudmu... Reiki?"

Aku tidak menjawab. Tapi diamku sudah cukup.

"Kau kenal Reiki? Sebelumnya?"

"Aku kenal... seseorang yang mirip dengannya."

"Siapa?"

Aku menatapnya. "Maaf. Aku belum bisa cerita."

KSan menghela napas, tapi tidak mendesak. "Baik. Tapi ingat: kau tidak sendiri. Kalau kau butuh bantuan, aku di sini."

Aku tersenyum tipis. "Terima kasih."

---

Malam itu, aku duduk sendirian di gudang, memegang perangkatku. Data masih ada di layar—grafik energi Reiki dan Dewa Psikis, berdampingan.

70%.

Aku menatapnya lama. Lalu aku mengambil keputusan.

Aku akan diam. Untuk sekarang.

Bukan karena aku takut. Tapi karena Reiki belum siap. Ia masih anak SMA yang bingung dengan kekuatannya. Jika aku memberitahunya bahwa ia adalah reinkarnasi dari dewa psikis yang legendaris, ia mungkin akan hancur.

Atau mungkin ia akan menjadi sombong.

Atau mungkin ia akan lari.

Aku tidak tahu. Dan aku tidak ingin mengambil risiko.

Jadi untuk sekarang, aku akan terus mengawasinya. Melindunginya. Dan menunggu waktu yang tepat.

*Maafkan aku\,* bisikku dalam hati. *Maafkan aku karena belum bisa memberitahumu.*

*Tapi suatu hari nanti\, kau akan tahu.*

*Dan aku harap kau bisa memaafkanku.*

---

Keesokan harinya, aku kembali ke pesawat untuk menemui Reiki. Ia masih di ruang belakang, tapi kali ini wajahnya lebih cerah.

"Kau datang," katanya.

"Tentu. Aku bilang akan menjagamu."

Ia tersenyum. Senyum yang tulus. Dan untuk sesaat, aku melihat bayangan dirinya di masa lalu—senyum yang sama, mata yang sama.

Aku menggelengkan kepala, membuang bayangan itu.

"Aku membawa makanan," kataku, mengangkat kantong plastik. "Kau pasti lapar."

"Kelihatan sekali?"

"Kelihatan sekali."

Ia tertawa. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, suasana di antara kami terasa ringan.

Kami makan bersama di ruang sempit itu. Tidak banyak bicara. Tapi keheningan itu tidak canggung. Rasanya... alami.

Seperti kami sudah melakukan ini ribuan kali sebelumnya.

Mungkin kami pernah melakukannya. Di kehidupan lain.

Tapi itu cerita untuk lain waktu.

---

Aku menghabiskan sisa hari itu dengan mengawasi Reiki dari kejauhan. Ia sedang duduk di ruang tengah pesawat, membaca buku catatan yang kuberikan padanya. Wajahnya serius, fokus—seperti ia benar-benar ingin memahami semua ini.

Hatiku terasa sakit melihatnya.

Ia tidak tahu. Ia tidak tahu bahwa buku catatan itu sebenarnya miliknya—milik Dewa Psikis—dari 38 tahun lalu. Aku menyimpannya selama ini, berharap suatu hari nanti bisa mengembalikannya.

Dan sekarang, ia membacanya tanpa tahu bahwa itu adalah tulisannya sendiri.

Aku berjalan mendekat.  "Bagaimana? Apa kau mengerti? "

Ia mendongak.  "Beberapa bagian. Tapi ada istilah-istilah yang tidak kumengerti. "

 "Yang mana? "

Ia menunjuk ke sebuah halaman.  "Di sini. Tentang 'Ruang Raja.' Apa itu? "

Aku menahan napas. Ruang Raja. Tempat di mana Dewa Psikis bisa mengubah hukum fisika.

 "Itu... tempat khusus, " jawabku hati-hati.  "Tempat di mana psikis level tinggi bisa mengakses kekuatan penuh mereka. "

 "Kau pernah ke sana? "

 "Belum. Tapi aku pernah mendengar cerita tentangnya. "

Reiki mengangguk, lalu kembali membaca. Aku duduk di sampingnya, diam.

 "Hime. "

 "Hm? "

 "Terima kasih. Karena sudah mengajariku. "

Aku tersenyum.  "Tidak perlu berterima kasih. "

 "Aku serius. Tanpamu, aku mungkin sudah gila. "

 "Kau kuat, Reiki. Kau bisa melewati ini. "

Ia menatapku. Dan untuk sesaat, aku melihat kilasan dirinya di masa lalu—tatapan yang sama, senyum yang sama.

 "Aku harap kau benar, " katanya.

---

Malam harinya, aku duduk sendirian di gudang, memeriksa data di perangkatku untuk yang kesekian kalinya. 70%. Masih 70%.

Tapi kali ini, aku tidak merasa takut. Aku merasa... tenang.

Selama 38 tahun, aku mencari. Dan sekarang aku menemukannya. Mungkin tidak dalam bentuk yang kuharapkan. Mungkin tidak dengan ingatan yang utuh. Tapi ia ada di sini. Hidup. Bernapas.

Dan itu sudah cukup.

Aku mematikan perangkatku dan merebahkan diri di lantai gudang. Langit-langit kayu di atasku retak-retak, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa damai.

*Maafkan aku karena belum bisa memberitahumu\,* bisikku dalam hati. *Tapi suatu hari nanti\, kau akan tahu. Dan aku harap kau bisa memaafkanku.*

---

Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Lebih ringan. Seperti beban yang selama ini kupikul mulai berkurang.

Aku berjalan menuju pesawat untuk menemui Reiki. Tapi ketika aku sampai di sana, suasana berbeda. Hubble berdiri di pintu, wajahnya tegang.

 "Ada apa? " tanyaku.

 "Kami baru menerima laporan dari Markas. Ada aktivitas energi yang tidak biasa di sekitar desa. "

 "Aktivitas seperti apa? "

 "Fluktuasi. Tersebar di beberapa titik. Kami curiga itu adalah fragmen energi dari pertarungan kemarin. "

Aku mengerutkan dahi. Fragmen. Itu bisa berbahaya.

 "Apa yang harus kita lakukan? "

 "Kita harus mengumpulkannya sebelum jatuh ke tangan yang salah. "

Aku mengangguk.  "Aku akan membantu. "

Hubble menatapku.  "Kenapa? "

 "Karena jika fragmen itu menyebar, efeknya bisa berbahaya bagi warga desa. "

Ia diam sejenak, lalu mengangguk.  "Baik. Tapi kau tidak boleh sendirian. Bawa Reiki. "

 "Kau percaya padanya? "

 "Tidak. Tapi ia adalah sumber energi itu. Mungkin ia bisa merasakan di mana fragmen-fragmen itu berada. "

Aku menatap Hubble. Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di matanya—bukan kebencian, tapi kelelahan. Ia lelah membenci.

 "Baik, " kataku.  "Aku akan membawanya. "

---

Aku menemukan Reiki di gudang, sedang membaca buku catatan yang kuberikan. Wajahnya lebih tenang dari kemarin.

 "Kita punya misi, " kataku.

Ia mendongak.  "Misi apa? "

 "Mengumpulkan fragmen energi yang tersebar di desa. "

 "Fragmen? Dari pertarungan kemarin? "

 "Ya. Hubble khawatir mereka bisa berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah. "

Reiki menutup bukunya.  "Aku ikut. "

 "Kau yakin? Kau masih dalam masa pemulihan. "

 "Aku baik-baik saja. Lagipula, jika fragmen itu berasal dari energiku, mungkin aku bisa merasakannya. "

Aku tersenyum.  "Itulah yang Hubble katakan. "

Kami berjalan keluar gudang. Matahari bersinar terang—kontras dengan suasana hatiku yang masih mendung.

 "Hime. "

 "Hm? "

 "Terima kasih. Karena terus ada di sini. "

Aku menatapnya.  "Tidak perlu berterima kasih. Aku di sini karena aku mau. "

Ia tersenyum. Dan untuk sesaat, beban di pundakku terasa sedikit lebih ringan.

---

Kami berjalan menyusuri desa, mencari fragmen energi yang tersebar. Perangkatku memandu kami ke titik-titik tertentu—sebuah pohon di pinggir sawah, sebuah batu di dekat sungai, sebuah sudut pasar yang sepi.

Di setiap titik, Reiki berdiri diam, memejamkan mata, dan merasakan energi di sekitarnya. Lalu, dengan gerakan tangannya, ia menarik fragmen itu—gumpalan kecil cahaya biru—dan menyerapnya ke dalam tubuhnya.

 "Bagaimana rasanya? " tanyaku setelah ia menyerap fragmen ketiga.

 "Aneh. Seperti... mengingat sesuatu yang tidak pernah terjadi. "

 "Apa maksudmu? "

Ia menatap tangannya.  "Setiap kali aku menyerap fragmen, aku melihat kilasan. Gambar-gambar. Tempat-tempat yang tidak pernah kukunjungi. Wajah-wajah yang tidak kukenal. "

Aku menahan napas. *Ia mulai mengingat.*

 "Apa yang kau lihat? " tanyaku hati-hati.

 "Seorang wanita. Ia tersenyum padaku. Tapi aku tidak tahu siapa dia. "

Ia menatapku. Dan untuk sesaat, aku merasa bahwa ia melihat sesuatu di wajahku—sesuatu yang familiar.

 "Aneh, " katanya.  "Wanita itu mirip denganmu. "

Aku tidak bisa menjawab. Karena wanita yang ia lihat adalah diriku—38 tahun lalu.

---

Kami beristirahat di bawah pohon besar di pinggir desa. Aku membagikan air minum dan beberapa biskuit yang kubawa. Reiki duduk bersandar di batang pohon, matanya setengah terpejam.

 "Kau lelah? " tanyaku.

 "Sedikit. Menyerap fragmen itu menguras energi. "

 "Kau butuh istirahat. "

 "Aku tahu. Tapi kita tidak punya banyak waktu. "

Ia benar. Kami masih harus mencari tiga fragmen lagi sebelum malam tiba.

 "Hime. "

 "Ya? "

 "Apa yang terjadi jika fragmen ini jatuh ke tangan yang salah? "

Aku diam sejenak.  "Seseorang bisa menggunakannya untuk melacak sumber energinya. Yaitu dirimu. "

 "Berarti mereka bisa menemukanku? "

 "Ya. Dan jika mereka tahu apa yang kau mampu lakukan, mereka bisa memanfaatkanmu—atau menghancurkanmu. "

Reiki menunduk.  "Kedengarannya menyenangkan. "

Aku tersenyum pahit.  "Selamat datang di dunia psikis. "

Ia tertawa kecil. Tapi tawanya tidak sampai ke matanya.

 "Ayo, " kataku, berdiri.  "Masih ada tiga fragmen lagi. "

Ia mengangguk dan berdiri. Dan kami melanjutkan perjalanan.

---

Fragmen keempat berada di dekat balai desa. Ketika kami sampai di sana, seorang ibu-ibu sedang duduk di teras, menatap kosong ke depan.

 "Bu? " Aku menghampirinya.  "Bu, apa kau baik-baik saja? "

Ia menatapku dengan mata kosong.  "Aku melihatnya lagi. Cahaya biru itu. Di malam ketika semuanya gelap. "

Aku menatap Hime. Ia mengangguk—ini efek fragmen.

 "Bu, ini akan sebentar, " kata Hime. Ia memberi isyarat pada Reiki.

Reiki mendekat. Ia memejamkan mata, merasakan energi di sekitarnya. Lalu, dengan gerakan tangannya, ia menarik fragmen itu—gumpalan cahaya biru kecil—dari udara di sekitar ibu itu.

Ibu itu berkedip, seperti baru sadar dari mimpi.  "Aku... apa yang terjadi? "

 "Tidak apa-apa, Bu. Kau hanya kelelahan. "

Kami meninggalkannya dengan perasaan bersalah. Warga desa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan kami tidak bisa memberi tahu mereka.

 "Dua lagi, " kata Hime.

Aku mengangguk.  "Ayo. "

---

**— Bersambung —**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!