NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda Tangan di Surat Nikah

Hari-hari setelah lamaran tak terasa berlalu dengan cepat. Apa yang tadinya terasa seperti mimpi buruk bagi Vira, kini berubah menjadi rentetan persiapan yang mewah dan megah bak sebuah acara kenegaraan. Keluarga Ibrahim dan keluarga Febrian benar-benar bekerja sama dengan sangat kompak. Zyan Ibrahim yang memiliki selera tinggi dan Evan Febrian yang detail serta teliti, menyatukan visi untuk membuat pernikahan anak mereka menjadi acara yang tak terlupakan.

"Pesta pernikahan ini akan digelar di Grand Ballroom Hotel Raffles," kata Zyan saat rapat keluarga beberapa hari lalu. "Tempatnya luas, mewah, dan sudah pasti aman. Dekorasinya kita serahkan pada tim terbaik yang biasa menangani acara internasional."

"Setuju," sahut Evan antusias. "Untuk tema, bagaimana kalau Modern Royal? Putih dan emas. Melambangkan kesucian dan kemewahan. Cocok sekali dengan karakter Farzhan yang tegas dan Vira yang manis."

Shaffa dan Fenny langsung bertepuk tangan. "Ide bagus sekali! Anak-anak kita pasti akan terlihat seperti pangeran dan putri kerajaan!"

Vira yang duduk di pojok hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tidak punya suara dalam keputusan ini. Semuanya diatur sempurna oleh orang tua dan calon mertuanya. Bahkan untuk pemilihan baju pengantin pun, Vira dibawa ke butik-butik eksklusif yang harganya membuat mata Vira melotot.

"Nah, yang ini Nona Vira!" seru desainer baju itu sambil memperlihatkan gaun pengantin berwarna putih susu dengan hiasan manik-manik dan renda yang sangat rumit. "Model ballgown dengan kerah tinggi, akan membuat Nona terlihat sangat anggun dan klasik."

Vira mencobanya. Saat ia keluar dari ruang ganti, seluruh ruangan terdiam sesaat. Gaun itu sangat pas di tubuhnya. Menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah, wajahnya yang cantik semakin bersinar dengan riasan natural yang dibuatkan oleh MUA andalan.

"Ya ampun... cantiknya Anak Mama" desah Fenny sambil memegang dadanya, terharu. "Tidak terasa, Anak Mama sudah besar sudah mau jadi pengantin saja."

Farzhan yang sejak tadi duduk diam menunggu, juga sempat tertekan melihat penampilan Vira. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Gadis ini... kalau sudah berdandan dan pakai baju bagus, ternyata cantik juga ya, batinnya mengakui dengan berat hati. Tapi mulutnya tetap saja berkata, "Baju nya kegedean bagian bawahnya. Nanti kamu tersandung dan jatuh, malu-maluin."

Vira yang tadinya senyum-senyum manis langsung mendengus kesal. "Iya-iya, mulut kamu emang nggak ada manis-manisnya sih!"

Drama kecil pun terjadi saat sesi pemilihan cincin. Mereka datang ke sebuah butik perhiasan ternama. Petugas memperlihatkan deretan cincin berlian yang berkilauan indah.

"Bagaimana kalau model ini, Tuan? Pasangan ini sangat cocok. Desainnya saling mengunci, melambangkan ikatan yang tak terputus," jelas petugas itu ramah.

Cincin itu memang indah. Sederhana namun elegan. Farzhan mengambil cincin miliknya, lalu menatap cincin yang lebih kecil untuk Vira.

"Ambil yang ukurannya jangan yang agak besar," kata Farzhan tiba-tiba.

Vira mengerutkan kening. "Hah? Kenapa? Di jari aku pas lho."

"Ini penting," jawab Farzhan singkat. "Aku tidak mau nanti kamu ceroboh, main air terus, terus cincinnya lepas dan hilang. Kalau ukurannya agak ketat atau pas banget, baru aman."

"Yah! Kamu tuh ya! Selalu aja anggap aku ceroboh!" protes Vira, tapi tetap membiarkan petugas mengukur jarinya dengan ukuran yang disarankan Farzhan. Ternyata, Farzhan benar. Jari Vira memang agak bengkak saat itu, dan ukuran yang disarankan Farzhan justru terasa paling nyaman.

"Hmph, sekali ini aja kamu bener," gumam Vira pelan.

Farzhan tersenyum miring, merasa menang. "Dengar aja sama orang yang lebih berpengalaman."

 

Hari berganti hari, Akhirnya, kini hari yang dinanti-nantikan (dan juga ditakuti) pun tiba.

Hari pernikahan itu cerah dan sejuk. Udara pagi terasa segar, seolah alam pun ikut mendukung acara sakral ini. Ballroom hotel yang luas itu sudah dihias dengan sangat megah. Bunga-bunga segar berwarna putih dan emas memenuhi setiap sudut ruangan. Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya yang hangat dan mewah.

Tamu undangan mulai berdatangan. Bukan hanya keluarga dan teman, tapi juga rekan-rekan bisnis dari kalangan elit, pejabat, dan orang-orang penting di kota ini. Semua datang dengan busana terbaik, membawa doa dan ucapan selamat.

Di ruang persiapan, Vira tampak begitu cantik dan memukau. Gaun pengantinnya sangat megah, riasan wajahnya menonjolkan kesan anggun dan lembut. Ia duduk di kursi, menunggu giliran dengan jantung yang berdegup kencang bagai mau copot.

"Tenang ya sayang," bisik Fenny sambil merapikan mahkota di kepala Vira. "Semua akan lancar. Farzhan anak baik, dia akan jaga kamu."

Vira mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Iya Ma..."

Sementara itu, di sisi lain, Farzhan sudah berdiri tegap di atas pelaminan mini tempat ijab qabul yang akan dilangsungkan. Ia mengenakan setelan jas pengantin warna hitam emas yang sangat pas di tubuh tingginya. Penampilannya gagah, tampan, dan sangat berwibawa. Wajahnya terlihat tenang, dingin, dan penuh percaya diri, seolah ini bukan acara pernikahan melainkan rapat kerja besar. Namun, di balik ketenangannya, ada getaran aneh yang ia rasakan di dadanya.

Waktu yang ditentukan pun tiba. Suasana menjadi hening. Musik latar berhenti. Semua mata tertuju pada dua orang yang akan menyatukan ikatan suci.

Vira berjalan pelan diiringi ayahnya, Evan Febrian. Langkahnya anggun, wajahnya teduh. Sepasang mata tamu undangan terpukau melihat kecantikannya. Dan saat ia duduk di samping Farzhan, sorak-sorai halus terdengar di antara tamu.

"Sempurna..."

"Betapa cocoknya mereka..."

"Pangeran dan Putri sungguhan."

Farzhan menoleh sedikit, menatap Vira. Gadis itu terlihat sangat berbeda. Tidak ceroboh, tidak berisik, hanya duduk dengan sopan dan cantik. Farzhan menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya.

Ini cuma formalitas, Zhan. Ini cuma kontrak. Nanti selesai, hidup kembali normal.

Prosesi ijab qobul dimulai. Penghulu yang bijak memandu acara dengan lancar dan jelas. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan kepada Farzhan hingga proses sakral dimulai.

"Saya terima nikah dan kawinnya Vira Calista binti Evan Febrian dengan mas kawin berupa emas dua puluh gram dan uang tunai dua puluh dolar di bayar tunai." Farzhan mengucapkan kalimat sakral itu dengan suara yang lantang, tegas, dan jelas. Tidak ada kata yang tergagap.

Seketika itu juga, seluruh tamu berseru serentak. "SAH! BARAKALLAH..."

Suasana menjadi haru dan bahagia. Evan Febrian dan Zyan Ibrahim saling berpelukan. Shaffa dan Fenny sudah tidak bisa menahan air mata bahagia.

Acara dilanjutkan dengan penandatanganan buku nikah. Farzhan menandatangani dulu dengan tulisan tangannya yang rapi dan tegak. Kemudian giliran Vira. Tangan Vira sedikit gemetar saat memegang pena.

Ini tanda tangan yang paling mahal harganya dalam hidupku, batin Vira.

Dengan hati-hati, ia menandatangani di atas namanya: Vira Calista.

Selesai.

Secara hukum agama dan negara, mereka kini resmi menjadi sepasang suami istri.

 

Acara resepsi berjalan sangat meriah dan megah. Farzhan dan Vira berdiri berdampingan menerima ucapan selamat. Satu per satu tamu datang mengantre.

"Wah, Farzhan! Selamat ya! Istri kamu cantik sekali, cocok banget sama kamu!" puji seorang pengusaha tua.

"Makasih, Pak," jawab Farzhan sopan, lalu secara otomatis ia melingkarkan tangannya di pinggang Vira, menariknya sedikit lebih dekat sesuai instruksi kontrak: Di depan orang lain, harus terlihat harmonis.

Vira tersentak sedikit merasakan sentuhan itu, tapi ia segera memasang senyum termanisnya. "Makasih banyak, Om."

"Pasangan yang serasi banget sih kalian," celetuk tamu yang lain. "Kelihatan bener-bener soulmate. Gaya kalian kompak sekali."

Pujian demi pujian terus mengalir. Banyak yang memuji keserasian mereka. Farzhan yang tampan dingin dan Vira yang cantik manis, benar-benar menciptakan harmoni yang memikat mata. Bahkan Vira sendiri mulai merasa... mungkin mereka memang terlihat serasi di mata orang lain.

Di tengah keramaian itu, sesaat mereka berdua berdiri dalam diam di antara hiruk pikuk acara.

"Berdiri yang benar, jangan seperti cacing kepanasan. " bisik Farzhan pelan tepat di telinga Vira, suaranya rendah hanya bisa didengar berdua. "Kalau diam begini, semua jadi lancar kan? Tidak ada kejadian aneh-aneh."

Vira menoleh, menatap mata tajam suaminya itu. Ia tersenyum kecil, campuran antara kesal dan lega.

"Iya lah, semuanya lancar, karena ada Tuan Sempurna yang ngatur segalanya," jawab Vira menyindir halus. "Tapi makasih ya... Zhan. Semuanya perfect."

Farzhan tersenyum tipis, senyuman yang sangat jarang ia perlihatkan. "Kerja bagus. Pekerjaan hari ini selesai dengan baik. Sekarang, ayo tersenyum lagi. Tamu lain sudah pada datang."

Dan di bawah sorotan lampu sorot dan decak kagum para tamu, pasangan suami istri yang baru saja mengikat janji karena sebuah kontrak ini, berdiri tegak seolah mereka adalah pasangan paling bahagia dan serasi di seluruh dunia.

1
Siti Sarfiah
di bawah langit yg sama tumbuh cinta mereka seperti bintang bersinar memancarkan cahayanya
Siti Sarfiah
janji mereka semakin menguat , selama bintang masih bersinar tak akan berbOhOng, tak akan berhianat dan tak akan berubah👍
Siti Sarfiah
alhamdulillah, keinginan yg aneh" itu sekalinya membawa kabar baik buat keluarga mereka
Siti Sarfiah
petualangan yg terindah penuh tawa canda tak perlu d cari kemana mana semua ada d sini🤣💪
Siti Sarfiah
segala keraguan harus d bicarakan dengan baik agàr tidàk ada lagi kesalah pahaman
Siti Sarfiah
memberi kejutan yg nyaris salah paham💪bikin panik🤣
Siti Sarfiah
manisnya hari" berdua💪
Siti Sarfiah
wah nasi goreng dengan toping ciuman selamat pagi🤣🤣
Siti Sarfiah
masya allah, dulu ga ada malunya , sekarang beda dan sangat pemalu setelah menghuni rumah sendiri semuanya serba baru👍💪
Siti Sarfiah
akhirnya sah juga jadi suami istri
Siti Sarfiah
masya allah , wejangan penuh tanggung jawab dalam rumah tangga untuk masa depan👍💪
Siti Sarfiah
setelah memilih gaun mereka habiskan waktu tuk memanjakan diri ke salon kecantikan👍
Siti Sarfiah
tinggal selangkah lagi dh menuju sah🤲
Siti Sarfiah
rista ingin menikah sederhana , hanya di saksikan oleh orang " yg di,cintainya, tempatnya yg luas dan penuh d3ngan bumga"
Siti Sarfiah
sidang untuk sepasang kekasih tuk membuat keputusan pernikahan👍
Siti Sarfiah
keputusan kedua belah pihak nenek dan kakek serta kedua orang tua rista akan mempersatukan rista dan zikri👍
Siti Sarfiah
wah, kencan pertama dh melanggar aturan yg d berikan oleh calon mertua was was saja kalau nggak d ijinkan kencan berikutnya🤣
Siti Sarfiah
mantap , dua pria yg bertanggung jawab antara calon menantu dan calon mertua, calon mertua banyak syaratnya dan calon menantu bisa menyanggupinya👍
Siti Sarfiah
mantap janji yg indah 😄😄
Siti Sarfiah
wah ternyata sudah afa calonnya ya👍🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!