Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan yang Mengganggu
Lin Tian berlari cepat menyusuri Lembah Hijau, dan segera bergabung dengan Bai Feng yang sudah memimpin rombongan wanita mendekati ujung timur desa.
"Kau baik-baik saja?" tanya Bai Feng dengan napas tersengal.
Lin Tian mengangguk. "Dua ekor. Satu mudah, satu sedikit merepotkan. Tapi semuanya sudah beres."
Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah lapangan rumput yang agak tinggi, tempat yang ditunjuk Li Wei sebagai titik kumpul. Tanahnya kering dan dikelilingi pepohonan rindang, cukup aman untuk sementara waktu. Wanita-wanita itu duduk lesuh di atas rumput. Beberapa anak kecil mulai menangis, entah karena lapar atau ketakutan yang tertahan lama.
Bai Feng segera menyentuh cincin penyimpanannya lalu mengeluarkan beberapa botol pil penyembuhan luka dan segulung kain bersih. Ia membuka botol pertama dan mulai memeriksa luka-luka ringan pada warga.
"Ada yang terluka parah?" tanya Bai Feng sambil berlutut di samping seorang nenek dengan luka gores di lengannya.
"Tidak parah, Nak. Hanya tergores saat kabur," jawab nenek itu dengan suara lemah.
"Tetap saja nek, ini perlu diobati."
Lin Tian membantu sebisa mungkin, meskipun ia sebenarnya tidak tahu banyak tentang pengobatan. Ibunya dulu mengajarinya bertarung, bukan merawat luka. Tapi setidaknya ia bisa membersihkan luka dengan air dari kendi yang dibawa salah satu warga, lalu mengoleskan pil yang sudah dihancurkan Bai Feng di atas kain untuk menutup luka. Gerakannya lambat dan canggung, tapi Bai Feng ternyata cukup cekatan. Pria tambun itu dengan gesit membalut luka di tangan seseorang.
"Kau belajar dari mana?" tanya Lin Tian sambil menyaksikan Bai Feng bekerja.
"Ayahku bilang, pebisnis yang baik harus tahu cara menjaga asetnya. Kesehatan adalah aset paling berharga. Jadi aku belajar pengobatan dasar sejak kecil," jawab Bai Feng sambil mengikat perban dengan rapi.
Lin Tian tersenyum kecil. Pria tambun ini memang penuh kejutan.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki berat terdengar. Li Wei muncul bersama enam anggota lainnya, di belakang mereka beriringan sekitar dua belas pria desa yang selamat. Wajah para pria itu lusuh dan penuh debu, beberapa di antaranya memegang senjata darurat yang sudah penyok.
Li Wei melangkah ke tengah lapangan, lalu menyentuh cincin penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah giok komunikasi berwarna hijau tua. Ia menggenggamnya erat, mengirimkan aliran Qi ke dalam batu giok itu hingga bersinar redup.
"Laporan Tetua... Kami berhasil melakukan misi evakuasi," ucap Li Wei dengan suara tegas. "Namun sayangnya, saat kami tiba, keadaan sudah hancur. Tapi cukup banyak warga yang berhasil kami selamatkan. Sekitar empat puluh jiwa, termasuk wanita, anak-anak, dan beberapa pria dewasa."
Dari giok itu terdengar suara Tetua Chen yang berat namun tenang. "Bagus. Tetap di posisi kalian. Kapal spiritual sedang dalam perjalanan. Perkirakan tiba dalam dua jam."
"Baik, Tetua," jawab Li Wei lalu menyimpan kembali giok itu.
Dua jam menunggu terasa seperti dua hari bagi para warga yang masih diliputi ketakutan.
Lin Tian duduk di bawah pohon besar, matanya mengawasi sekeliling dengan waspada. Bai Feng di sampingnya tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Pria tambun itu mungkin sangat lelah setelah berlari dan mengobati luka.
Akhirnya, suara gemuruh angin terdengar dari langit. Sebuah kapal spiritual berwarna biru laut sepanjang tiga puluh meter turun perlahan, layar Qi-nya berkibar indah tertiup angin buatan. Kapal itu mendarat dengan lembut di lapangan rumput, dan sebuah papan kayu turun dari lambungnya sebagai jalan masuk.
Seorang Tetua berjubah biru tua berdiri di geladak, tangannya di belakang punggung. Tetua Chen. Ternyata beliau sendiri yang datang menjemput.
"Seluruh warga naik ke kapal! Tenang, kalian akan dibawa ke tempat yang aman," perintah Tetua Chen dengan suara yang menenangkan.
Para warga bergegas naik, saling membantu. Wanita menggendong anaknya, pria menuntun nenek mereka. Lin Tian dan Bai Feng membantu mengangkat barang-barang kecil yang masih tersisa. Li Wei berdiri di samping tangga kapal, memastikan semua orang naik dengan tertib.
Setelah sudah naik semua, kapal langsung melesat ke langit.
Di dalam kapal, Tetua Chen menginterogasi setiap anggota tim secara bergiliran di ruang depan kapal. Bai Feng dipanggil lebih dulu.
"Ceritakan apa yang kau lakukan di sana," pinta Tetua Chen sambil duduk bersila di atas bantal sutra.
Bai Feng menjelaskan dengan rinci tentang bagaimana ia mengevakuasi warga, bagaimana ia mengobati luka-luka mereka, dan bagaimana ia dan Lin Tian memisahkan diri untuk melindungi rombongan saat diserang dua makhluk kegelapan. Tetua Chen hanya mengangguk-angguk, mencatat setiap detail dalam ingatannya.
Giliran Lin Tian tiba. Ia duduk di hadapan Tetua Chen dengan tenang, jubah putihnya masih rapi meski sudah seharian bertugas.
"Kau yang melawan dua makhluk kegelapan sendirian, benar?" tanya Tetua Chen.
"Benar, Tetua. Satu berhasil saya bunuh dengan mudah. Satu lagi sedikit lebih sulit, tapi akhirnya bisa saya tebas," jawab Lin Tian.
"Ada yang tidak biasa dari pertempuran itu?"
Lin Tian mengambil napas dalam-dalam. Ia ragu sejenak, tapi akhirnya memutuskan untuk jujur. "Makhluk yang kedua... dia berbicara, Tetua."
Mata Tetua Chen menyipit. "Berbicara?"
"Iya. Dia mengatakan bahwa tuannya tidak akan membiarkan ini terjadi. Saya tanya siapa tuannya, tapi dia tidak menjawab. Lalu dia berteriak... 'Bahkan jika langit menentang tuan... neraka akan menelan langit.' Setelah itu saya tebas kepalanya," jelas Lin Tian dengan nada datar.
Begitu mendengar perkataan Lin Tian tentang "neraka akan menelan langit", Li Wei yang sedang berdiri di dekat pintu mengernyitkan dahinya. Tetua Chen juga melakukan hal yang sama. Dahi tua itu berkerut dalam, matanya menyiratkan kecemasan yang tidak biasa.
"Kata-kata itu... kau yakin tidak salah dengar?" tanya Tetua Chen dengan nada lebih serius.
"Saya yakin, Tetua. Kata-kata itu persis seperti yang saya sampaikan," jawab Lin Tian.
Tetua Chen terdiam cukup lama. Udara di ruangan itu terasa semakin berat. Akhirnya beliau mengangguk pelan. "Baik. Ini informasi yang sangat penting. Aku akan laporkan pada Pemimpin Sekte. Kau boleh istirahat sekarang."
Lin Tian bangkit dan meninggalkan ruangan. Saat sampai di geladak, Bai Feng sudah menunggunya dengan wajah penasaran.
"Kau cerita soal teriakannya?" tanya Bai Feng pelan.
"Iya. Kenapa?"
"Makhluk itu... aneh, bukan?" Bai Feng menggaruk kepalanya. "Tapi sudahlah. Aku terlalu lelah untuk berpikir."
Kapal terus melaju hingga matahari nyaris tenggelam di ufuk barat. Saat tiba di wilayah Sekte Ombak Biru, semua murid turun. Sedangkan Tetua Chen membawa kapal itu melanjutkan perjalanan ke kota perlindungan.
Li Wei mengumpulkan semua anggota tim di lapangan. "Kita sudah menyelesaikan misi. Istirahatlah, tapi tetap jaga-jaga. Bisa saja kita diperintahkan lagi kapan pun. Jadi jangan bepergian jauh."
Para murid mengangguk lalu berjalan ke asrama masing-masing dengan langkah gontai. Lin Tian dan Bai Feng berjalan berdampingan melewati lorong batu yang diterangi lentera giok. Suasana malam di sekte terasa sunyi, hanya suara jangkrik yang terdengar dari kejauhan.
Sesampainya di kamar asrama, Bai Feng langsung merebahkan diri di dipan tanpa melepas jubahnya. Ia menatap langit-langit kayu dengan mata kosong.
"Lin Tian... makhluk itu bilang soal tuannya," ucap Bai Feng dengan nada ragu. Suaranya pelan, hampir berbisik. "Tuan mereka pasti sangat kuat. Formasi Jiwa mungkin? Atau bahkan lebih tinggi?"
Lin Tian duduk di dipan di seberangnya. Ia mengeluarkan botol air putih dari cincin penyimpanan lalu minum perlahan. "Mungkin. Tapi tidak perlu terlalu dipikirkan sekarang. Kita masih lemah. Urusan sebesar itu bukan untuk kita."
"Kau benar," Bai Feng menghela napas panjang. "Tapi mendengar teriakan itu... 'neraka akan menelan langit'... dari ceritamu, aku jadi merinding. Seperti ada sesuatu yang sangat kelam di balik kata-kata itu."
Lin Tian tidak menjawab. Ia memejamkan mata, mengingat kembali suara parau makhluk hitam itu. Getaran aneh yang ia rasakan di dadanya saat mendengar kalimat tersebut.
Tapi ia tidak ingin terlalu tenggelam dalam pikiran itu.
"Kita tidur, Bai Feng. Besok mungkin ada misi lagi. Kita butuh tenaga," ucap Lin Tian sambil merebahkan diri.
Bai Feng mengangguk malas. Dalam beberapa menit, dengkurannya sudah terdengar memenuhi ruangan.
Lin Tian tersenyum kecil. Pria tambun ini bisa tidur di mana saja, kapan saja. Mungkin itulah bakat terbesarnya.
Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan menguasai tubuhnya. Tapi pikirannya tetap terjaga, berputar di sekitar kata-kata makhluk itu. Neraka akan menelan langit. Siapa yang berani mengucapkan kalimat penghujatan seperti itu? Siapa tuan dari makhluk-makhluk kegelapan itu?
Dan mengapa hatinya bergetar mendengarnya?
Lin Tian membuka mata sejenak, menatap langit-langit kayu yang retak di kegelapan malam. Sesuatu sedang bergerak di dunia ini.
Tapi untuk saat ini, ia hanya seorang murid Pendirian Fondasi dari Sekte Ombak Biru. Tugasnya membantu warga. Sisanya... biarlah waktu yang menjawab.
Ia memejamkan mata kembali, dan perlahan-lahan tenggelam dalam tidur yang lelap.