Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Pintu ruang tamu tertutup perlahan.
Langkah Sagita sudah menjauh ke arah kamar, Ratna sibuk merapikan meja makan, dan rumah kembali pada ritme sunyinya. Namun Mama Anggun belum juga beranjak. Ia berdiri mematung sejenak, seolah memastikan tidak ada telinga lain yang menguping.
“Haikal,” panggilnya pelan, tapi tegas.
Haikal yang sedang meraih tas kerjanya berhenti. Ia menoleh, menangkap tatapan ibunya tatapan yang terlalu dalam untuk sekadar basa-basi.
“Mama mau bicara. Berdua.”
Haikal mengangguk. Ia meletakkan tasnya kembali, lalu mengikuti Anggun menuju ruang keluarga yang jarang digunakan. Anggun menutup pintu, bahkan memutar kunci kecil di gagangnya kebiasaan lama setiap kali ia ingin memastikan percakapan tetap terkunci.
Anggun duduk di sofa, punggungnya tegak. Tangannya yang terawat bertumpu di pangkuan. Ia menarik napas panjang, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.
“Kamu jujur sama Mama,” katanya membuka. “Selama ini… Gita pakai KB?”
Haikal terdiam. Pertanyaan itu datang tanpa peringatan. Ia menggeleng pelan.
“Tidak, Ma.”
Anggun menyipitkan mata.
“Kamu yakin?”
“Yakin,” jawab Haikal mantap. “Kami tidak pernah menunda.”
Anggun menghela napas, nada suaranya berubah bukan lagi menyelidik, melainkan gusar yang tertahan.
“Kalau begitu, apa masalahnya? Empat tahun, Haikal. Empat tahun bukan waktu singkat.”
Haikal menunduk. Ia tahu, percakapan ini tidak bisa lagi dihindari.
“Ini tidak ada hubungannya dengan karier Gita,” lanjut Anggun cepat, seolah menebak arah pikirannya.
“Mama tahu, perempuan sekarang banyak yang takut tubuhnya berubah, takut kariernya hancur. Model, artis, semuanya sama. Tapi Mama tidak melihat itu pada Gita. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum juga hamil.”
Haikal mengangkat wajahnya. “Memang tidak ada, Ma.”
Anggun mengetuk-ngetukkan jarinya ke sandaran sofa.
“Lalu kenapa?”
Sunyi.
Jam dinding berdetak, terdengar terlalu keras.
“Haikal,” suara Anggun melembut, namun justru lebih menekan. “Mama ini ibumu. Satu-satunya yang kamu punya. Kalau ada masalah, Mama berhak tahu.”
Haikal menelan ludah. Kata-kata itu menekan tepat di dadanya.
“Apa kamu sakit?” tanya Anggun tiba-tiba, langsung menatap putranya. “Atau Gita?”
Haikal refleks menggeleng.
“Tidak ada yang sakit, ma.”
“Kalau begitu?” Anggun mendesak. “Kamu mau Mama terus hidup dalam tanda tanya?”
Ia berdiri, berjalan perlahan ke jendela. Dari sana, halaman rumah terlihat lengang. Anggun menatap keluar, suaranya merendah.
“Papamu sudah pergi duluan,” katanya lirih. “Mama tinggal sendirian di rumah besar itu. Setiap sudutnya sunyi. Pembantu datang dan pergi, Haikal. Tapi tidak ada yang memanggil Mama ‘Oma’.”
Haikal berdiri juga. Ada getaran kecil di bahunya.
“Mama tidak minta banyak,” lanjut Anggun, suaranya bergetar untuk pertama kalinya. “Mama hanya ingin rumah itu ramai. Tertawa anak-anak. Jejak kaki kecil berlarian. Mama ingin tahu… warisan keluarga ini ada penerusnya.”
Ia berbalik, menatap Haikal lurus-lurus. “Kalau Gita tidak bisa...”
“Ma,” potong Haikal cepat, nadanya tegang. “Jangan bicara begitu.”
Anggun terdiam sesaat, lalu menghela napas. “Mama tidak bermaksud jahat. Mama realistis. Umur tidak ada yang tahu. Mama juga manusia. Mama ingin melihat cucu sebelum menutup mata.”
Haikal mengepalkan tangannya. “Maafkan aku ma.”
“Aku tahu,” sahut Anggun.
“Tapi seorang istri juga punya tanggung jawab. Dan seorang anak laki-laki punya kewajiban pada ibunya.”
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan dingin.
“Kalau memang perlu,” Anggun melanjutkan dengan nada yang lebih dingin, “kamu bisa mencari perempuan lain. Bukan untuk main-main. Untuk memberikan keturunan. Banyak keluarga besar melakukan itu.”
Haikal menatap ibunya dengan terkejut. “Mama menyarankan...”
“Bukan menyarankan,” potong Anggun. “Mama membuka pilihan. Demi keluarga.”
Hening kembali.
Haikal mengusap wajahnya, lalu mengangkat kepala. “Ma… Mama percaya padaku, kan?”
Anggun mengangguk.
“Selalu.”
“Kalau begitu,” kata Haikal pelan namun tegas, “percayalah bahwa masalah ini tidak sesederhana itu. Dan tidak bisa diselesaikan dengan mencari perempuan lain.”
Anggun memejamkan mata.
“Kamu selalu membela Gita.”
“Karena dia istriku,ma” jawab Haikal. “Dan karena Mama mengajarkanku untuk bertanggung jawab.”
Anggun membuka mata, menatap putranya lama. Ada kebanggaan dan kekecewaan bercampur di sana.
“Baik,” katanya akhirnya.
“Mama beri waktu. Tapi tidak selamanya.”
Ia melangkah mendekat, menggenggam tangan Haikal. “Ingat, Haikal. Pada akhirnya, yang Mama inginkan hanya satu, keluarga ini tidak berakhir di kamu.”
Haikal mengangguk pelan.
“Aku mengerti, Ma.”
Anggun melepas genggaman itu, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
“Dan satu lagi,” katanya tanpa menoleh. “Mama ingin kamu berhati-hati memilih orang-orang di sekitarmu. Rumah tangga yang retak seringkali runtuh bukan karena pasangan… tapi karena orang ketiga yang datang di waktu yang salah. Jaga istri kamu. Jangan terlalu kamu biarkan dia kerja diluar kota tanpa pengawasan.”
Pintu terbuka. Anggun pergi.
Haikal berdiri sendiri di ruang keluarga, napasnya terasa berat. Kata-kata ibunya berputar-putar di kepalanya tentang cucu, penerus, dan pilihan yang tak pernah ingin ia buat.
Di lantai atas, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Laura duduk bersandar di dinding. Ia tidak mendengar semuanya tapi cukup untuk menangkap potongan-potongan penting.
Tentang cucu.
Tentang perempuan lain.
Tentang pilihan.
Ia tersenyum tipis, bukan karena senang melainkan karena ia tahu satu hal dengan pasti, Tekanan itu nyata. Dan Haikal tidak akan bisa menghindar selamanya.
Dan ketika saat itu tiba…
Laura tahu persis di mana ia harus berdiri.
Sejak meninggalkan rumah pagi itu, pikiran Haikal tidak pernah benar-benar sampai ke kantor.
Tubuhnya memang duduk di kursi empuk ruang direktur, jasnya rapi, berkas-berkas tersusun sempurna di atas meja. Namun pikirannya tertinggal di ruang keluarga pada suara Mama Anggun yang bergetar ketika mengucapkan satu kata yang terus menggema di kepalanya, Cucu.
Haikal memejamkan mata sesaat. Tangannya mengusap pelipis, mencoba meredam denyut yang terasa semakin kuat.
“Empat tahun, Haikal…”
Empat tahun pernikahan yang terlihat sempurna dari luar, tapi rapuh dari dalam. Empat tahun ia memikul peran sebagai suami tanpa pernah merasa utuh. Empat tahun Sagita menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa ia berikan.
Dan kini, ibunya menunggu cucu. Penerus. Bukti bahwa garis keluarga mereka tidak berhenti di dirinya.
Haikal membuka mata, menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Ia melihat seorang pria dewasa, mapan, berpendidikan, disegani.
Namun di balik semua itu, ada satu bagian dari dirinya yang selalu ia sembunyikan, bahkan dari orang-orang terdekatnya.
Bagaimana jika ini satu-satunya jalan? pikirnya.
Ide itu datang tiba-tiba, seperti kilat yang membelah langit kelabu.
Menikahi Laura. Secara siri.
Bukan sekadar keinginan. Bukan pelarian. Tapi solusi, setidaknya di atas kertas.
Haikal bersandar di kursinya. Logikanya mulai bekerja, menyusun alasan-alasan yang terdengar masuk akal.
Jika ia menikahi Laura, tidak ada lagi hubungan terlarang.
Jika Laura mengandung, anak itu sah.
Jika ia memiliki keturunan, Mama Anggun akan tenang.
Dan Sagita… tidak perlu tahu sekarang.
Bukan karena ia ingin menyakiti Sagita. Justru sebaliknya ia tahu, jika ia mengatakan ini secara terbuka, Sagita tidak akan pernah setuju. Dan pertengkaran itu hanya akan mempercepat kehancuran.
Ini bukan pengkhianatan, ia membujuk dirinya sendiri. Ini tanggung jawab.
Namun satu ketakutan muncul, lebih kuat dari yang lain.
Mama Anggun.
Bagaimana jika mamanya tidak setuju Laura menjadi ibu dari cucunya?
Laura gadis dari panti asuhan. Tanpa silsilah. Tanpa keluarga. Tanpa “nama”.
Haikal menghembuskan napas panjang. Setahunya, Mama Anggun tidak pernah memandang rendah orang lain berdasarkan asal-usul. Ia keras, iya. Tegas. Tapi tidak kejam.
Namun urusan cucu… urusan darah… itu berbeda.
Ponsel di atas meja bergetar. Nama Beni sahabat sekaligus asistennya muncul di layar.
“Masuk,” kata Haikal tanpa mengangkat kepala.
Beni masuk membawa tablet. Ia langsung menyadari ada yang tidak beres dari raut wajah Haikal.
“Kamu kelihatan seperti orang yang baru memutuskan sesuatu yang besar,” ujar Beni hati-hati.
Haikal tersenyum tipis. “Aku memang sedang memikirkannya.”
Beni duduk di seberang.
“Tentang keluarga?”
Haikal terdiam beberapa detik, lalu mengangguk.
“Tentang masa depan.”
Beni menatapnya serius.
“Kamu tidak biasanya berputar-putar. Langsung saja.”
Haikal menghela napas. “Bagaimana menurutmu… kalau seseorang melakukan sesuatu yang benar menurut agama, tapi salah menurut orang-orang?”
Beni mengernyit. “Itu tergantung. Benar menurut siapa, salah menurut siapa?”
“Menurut niat,” jawab Haikal.
“Dan akibat.”
Beni bersandar. “Masalah keturunan?.”
Itu bukan pertanyaan.
Haikal menatap sahabatnya tajam. “Bagaimana kamu tahu?”
“Kamu tidak akan bertanya seperti itu kalau tidak sudah sampai pada keputusan,”
jawab Beni tenang.
“Pertanyaannya bukan apa, tapi siapa.”
Haikal terdiam.
“Laura,” lanjut Beni pelan.
Ruangan terasa sunyi. Haikal tidak menyangkal.
Beni mengusap wajahnya.
“Kamu sadar apa konsekuensinya?”
“Aku sadar,” jawab Haikal lirih. “Justru itu yang membuatku berpikir.”
“Dan Sagita?”
Haikal memejamkan mata. “Aku tidak ingin menyakitinya.”
Beni mendengus pelan. “Sayangnya, niat baik tidak selalu mencegah luka.”
Haikal membuka mata. “Aku tidak ingin terus hidup dalam kebohongan.”
“Menikah diam-diam juga kebohongan,” balas Beni tajam, tapi tidak menghakimi.
Haikal menunduk. “Aku hanya ingin melakukan ini dengan cara yang paling… tidak merusak.”
Beni menatapnya lama. “Lalu Laura? Kamu sudah berpikir apakah dia mau?”
Pertanyaan itu menusuk.
Haikal mengangkat ponselnya, menatap layar nama Laura tersimpan tanpa embel-embel apa pun. Ia belum menghubunginya sejak pagi.
“Aku berharap dia mau,” katanya jujur. “Aku tidak ingin memaksanya.”
“Kalau dia menolak?”
Haikal tersenyum pahit. “Berarti aku harus mencari cara lain.”
Beni berdiri. “Kalau kamu serius, jangan jadikan dia alat. Bicara jujur.”
Haikal mengangguk pelan.
Setelah Beni keluar, Haikal akhirnya mengirim pesan singkat,
Laura, kita perlu bicara. Penting. Setelah jam kerja.
Balasan datang cepat.
Baik, Pak Haikal.
Tidak ada emotikon. Tidak ada basa-basi. Itu membuat Haikal semakin gugup.
Sore hari, Haikal memilih pulang lebih awal. Bukan ke rumah utama, tapi ke sebuah rumah kecil miliknya tempat yang jarang ia datangi, jauh dari pengawasan siapa pun.
Laura sudah menunggu di ruang tamu ketika ia tiba. Penampilannya sederhana. Tenang. Tatapannya lurus, tidak menghindar.
“Kamu mau bicara apa, Mas?” tanyanya setelah mereka duduk berhadapan.
Haikal menautkan jarinya.
“Laura, apa yang akan aku katakan ini… tidak mudah.”
Laura mengangguk. “Saya siap mendengarkan nya.”
“Aku tidak ingin berhubungan di luar pernikahan,” katanya pelan tapi tegas. “Dan aku tidak ingin kamu berada dalam posisi yang merugikan.”
Laura menatapnya tanpa berkedip.
“Aku mempertimbangkan untuk menikahimu. Secara siri.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Laura tidak langsung bereaksi. Ia hanya menarik napas, lalu bertanya dengan suara tenang, “Alasannya?”
“Karena aku ingin bertanggung jawab,” jawab Haikal. “Dan karena aku ingin memiliki keturunan.”
“Untuk Mama Mas,” simpul Laura.
Haikal mengangguk. “Iya.”
Laura terdiam cukup lama. Ia menatap tangannya sendiri, lalu kembali ke Haikal.
“Kalau aku setuju,” katanya perlahan, “apa posisiku nanti?”
Haikal menatapnya serius. “Istri. Bukan simpanan. Bukan rahasia murahan.”
“Dan Ny.Sagita?”
Haikal menelan ludah. “Aku belum siap bicara padanya.”
Laura tersenyum tipis bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang memahami risiko.
“Mas tahu,” katanya pelan, “orang sepertiku tidak pernah punya kemewahan untuk berpikir tanpa konsekuensi.”
Haikal mengangguk. “Aku tidak akan memaksamu.”
Laura berdiri, melangkah ke jendela. Cahaya senja memantul di wajahnya.
“Aku tidak menolak,” katanya akhirnya. “Tapi aku juga tidak mau menjadi alat dan dimanfaatkan.”
Haikal ikut berdiri. “Aku tidak melihatmu seperti itu.”
Laura menoleh. “Kalau begitu, satu hal yang harus kamu jawab jujur.”
“Apa?”
“Kalau nanti Mama kamu tahu… dan tidak setuju karena aku dari kalangan bawah, kamu akan berdiri di pihak siapa?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari yang Haikal duga.
Ia terdiam. Lama.