Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Luca mendekat dengan langkah cepat, sepatu bot taktisnya berderit di atas lantai mansion yang dingin.
“Semuanya sudah siap, Tuan. Semuanya sudah berada di posisi masing-masing. Jalur utara sudah kita kunci dari kedua sisi.”
Benedict mengangguk singkat sambil mengancingkan jas hitamnya.
“Bergerak sekarang. Aku tidak ingin ada satu pun kapal mereka menyeberang ke Swiss malam ini.”
Mereka bergegas menuju konvoi SUV yang sudah menunggu di halaman. Selama perjalan menuju Genoa, suasana di dalam mobil terasa mencekam. Benedict menatap keluar jendela, memikirkan sesuatu yang sebentar lagi akan ia hanguskan.
Pemilik jalur utara sebenarnya adalah keluarga Franklin. Namun, dengan kelicikannya, Don Jericho berhasil mencurinya dari Noah Franklin, ayah Benedict.
Melalui jalur utara, Don Jericho membangun kartelnya. Ia sangat menjaga jalur utara, satu-satunya jalur yang aman untuk meloloskan barangnya melintasi perbatasan Swiss dan Prancis.
Lampu-lampu sorot pelabuhan berayun pelan, membelah kabut tipis saat SUV hitam merangsek masuk ke area pergudangan. Benendict turun, diikuti oleh Luca dan para pengawalnya yang bersenjata HK416 dengan peredam suara.
Alex dan para cecunguk nya berdiri di depan gudang
“Benendict Franklin,” Alex berteriak. “Sesuai dugaan ku, kau datang malam ini.”
“Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya tidak pernah kalian miliki. Jalur ini milik Franklin, Alex. Sejak dulu, sekarang, dan selamanya” jawab Benedict dengan tenang.
Alex mengacungkan senjatanya. “Dengar! Pelabuhan ini akan menjadi milikmu kembali. Kita bisa bagi hasil. Ambil lima puluh persen, biarkan kami menjalakan jalur ini.”
Benedict terkekeh. “Aku tidak butuh uang receh, Alex” desis Benendict.
Wajah Alex berubah merah padam. “Kalau begitu, selamat datang di kuburanmu!”
“HABISI MEREKA SEMUA!!!!” teriak Alex.
Seketika, hujan peluru dari senapan serbu pasukan Alex menghujani aspal. Benedict merunduk di balik pintu mobil yang sudah bolong dihantam peluru. Dengan dua Sig Sauer di tangan, ia balas menembak.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan Benedict menjatuhkan dua penembak di atas kontainer. Ia berlari zig-zag, peluru-peluru musuh menciptakan percikan api di lantai semen tepat di belakang tumitnya.
Benedict melompat ke balik tumpukan peti kayu, sementara anak buahnya melemparkan granat asap untuk memecah fokus musuh.
“Sisi kanan, gerak!” perintah Benedict.
Pertempuran pecah menjadi jarak dekat. Benedict merangsek maju, seorang anak buah Alex muncul dari balik sudut dengan shotgun ditangannya, namun Benedict lebih cepat. Ia menendang selaras senjata itu hingga pelurunya menghantam atap, lalu melepaskan tembakan telak ke dada lawan.
Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Saat Benedict mencoba mengisi ulang peluru, sebuah peluru menyerempet bahunya.
“Sial!” Benedict menggeram.
Benedict menarik granat dari rompi salah satu anak buahnya yang mati dan melemparkannya ke arah kerumunan anak buah Alex yang berlindung di balik forklift.
BOOM!
Ledakan itu membakar tangki bahan bakar di dekatnya. Api membumbung, menerangi wajah Benedict yang kini mulai memucat.
Di tengah kepulan asap, ia melihat Alex mencoba lari menuju dermaga. Benendict mengejar, mengabaikan perih di bahu dan rusuknya yang kini mulai basah oleh darah.
Melihat Benedict yang mendekat, Alex memberondonkan pelurunya secara liar. Satu peluru berhasil menyerempet lengan kanan Benedict, membuatnya terjatuh.
“MATI KAU, ANAK SOMBONG!” Alex membidik kepala Benedict.
Dalam posisi terjatuh, Benendict menendang tiang penyangga disampingnya untuk menggeser posisi tubuhnya, lalu dengan tangan kiri yang gemetar, ia melepaskan sisa pelurunya.
Dor! Dor!
Dua peluru menghantam paha Alex, membuatnya tersungkur. Benendict bangkit dengan sisa tenaganya, berjalan tertatih menghampiri Alex yang meraung kesakitan.
Benedict menginjak Alex tepat di bekas tembakannya. Raungan Alex menggelegar seantero pelabuhan.
“Sampaikan salamku pada Jericho.” ucap Benedict.
Tanpa ragu, Benedict melepaskan satu peluru terakhirnya tepat di jantung Alex.
Pelabuhan itu kini menjadi lautan api, asap hitam membumbung ke langit. Luca berlari menghampiri Benedict dengan napas terengah.
“Tuan! Bahu dan lengan kananmu!” teriak Luca panik melihat darah mengalir deras, membasahi pakaian tuannya yang kini koyak akibat terserempet peluru
“Bakar semuanya. Jangan tinggalkan satu pun jejak mereka,” sahut Benedict. Napasnya pendek-pendek dan berat, matanya mulai sayu karena kehilangan banyak darah.
Benendict nyaris ambruk, Luca langsung memapahnya menuju mobil.
“Kita ke rumah sakit sekarang! Kau kehilangan banyak darah, Tuan” seru Luca dengan nada mendesak.
“Tidak…..” suara Benedict terdengar seperti bisikan.
“Rumah sakit, sekarang!” perintah Luca pada sopir, mengabaikan Benedict.
“Aku bilang tidak!” bentak Benedict, meski suaranya bergetar karena menahan perih yang luar biasa.
“Bawa aku pulang….. panggil saja dokter Victor.”
“Tapi ini terlalu berisiko………”
“Lakukan saja!” potong Benedict, keringat dingin membasahi dahinya yang pucat. “Dan satu lagi……jangan bawa aku ke kamarku.”
Luca mengerutkan keningnya, “Lalu ke mana?”
“Kamar Zara,” perintahnya. “Bawa aku ke sana.”
Luca tidak lagi membantah, ia tahu tidak akan ada gunanya mendebat Benedict saat pria itu sudah membuat keputusan, terutama dalam kondisi sekarat seperti ini.
Benedict berjuang mempertahankan kesadarannya. Setiap guncangan mobil mengirimkan gelombang rasa sakit yang luar biasa dari bahunya yang terkoyak.
“Pastikan semua yang terluka mendapat perawatan terbaik,” perintah Benedict pada Luca dengan napasnya yang tersengal-sengal.
Begitu mobil berhenti di halaman mansion, Luca dan dua pengawal sigap membopong Benedict. Merek bergerak cepat menaiki tangga menuju kamar Zara.
“Buka pintunya,” perintah Luca pada penjaga di dapat kamar Zara.
Zara sedang berdiri di depan jendela, ketika pintunya terhempas terbuka. Jantungnya berdegup kencang melihat Luca dan anak buahnya masuk sambil membopong tubuh Benedict yang terkulai.
Jas hitam pria itu sudah compang-camping, dan kemeja putihnya telah berubah menjadi merah pekat.
“Apa yang terjadi?!” pekik Zara, suaranya tercekat di tenggorokan.
Mereka meletakkan tubuh Benedict di atas tempat tidur Zara yang berwarna putih bersih. Dalam sekejap, sprei putih itu ternoda oleh darah.
Benedict mengerang pelan saat punggungnya menyentuh kasur. Kepalanya terkulai ke samping, menatap Zara dengan mata yang setengah tertutup.
“Dokter sedang dalam perjalanan,” lapor Luca sambil menekan luka di bahu Benedict dengan kain kasa.
Luca kemudian keluar untuk menyambut dokter yang sebentar lagi akan tiba, menyisakan Zara di dalam kamar bersama Benedict.
Suasana kamar menjadi sunyi, hanya menyisakan suara napas Benendict yang berat dan terdengar. Zara ragu-ragu, namun kakinya melangkah mendekat.
Ia melihat tangan kanan Benedict berlumur darah, jari-jarinya bergetar kecil. Melihatnya sekarat memunculkan perasaan asing yang menyesakkan.
“Sudah ku bilang untuk jangan terluka lagi sampai luka yang lama sembuh,” ucap Zara, suaranya gemetar.
“Kenapa kau selalu kembali dalam keadaan terluka seperti ini?” lanjut Zara, matanya berkaca-kaca.
Dengan gerakan yang sangat lambat dan gemetar, Benedict menggerakkan tangan kirinya, mencoba meraih jemari Zara.