"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: MULUT BUSUK SANG TUAN MUDA
Aula yang tadinya penuh decak kagum mendadak tegang. Surya Sanjaya berdiri dengan muka merah padam, urat lehernya menonjol kayak mau pecah. Di depan ratusan kolektor elit, dia baru saja dipermalukan oleh seorang pemuda yang dia anggap "remah rengginang".
"Sujud? Lu nyuruh gue, pewaris Sanjaya Group, sujud sama si tua bangka Hendra?!" Surya teriak, suaranya melengking penuh kebencian. "Lu pikir karena lu hoki nemu besi karatan, lu udah jadi raja di sini?!"
Arka berdiri dengan tenang, tangannya masuk ke saku celana. "Taruhan tetap taruhan, Surya. Laki-laki itu dipegang omongannya, bukan cuma gaya rambutnya."
Surya ketawa sinis, langkahnya mendekat ke arah Arka sampai jarak mereka cuma satu meter. Dia nunduk, ngebisik tapi cukup keras buat didengar orang sekitar.
"Denger ya, bocah bau kencur. Gue tahu asal-usul lu. Gue udah suruh orang cek latar belakang lu pas lu menang lelang tadi. Lu cuma anak pungut dari panti asuhan yang orang tuanya aja nggak sudi pelihara lu, kan?"
Mata Arka sedikit menyipit. Aura di sekitarnya mendadak dingin.
"Pantas aja lu nggak punya sopan santun," lanjut Surya makin melunjak karena ngerasa Arka diem aja. "Mungkin emak lu dulu itu cuma wanita murahan yang buang lu di pinggir jalan karena lu cuma beban. Orang tua gagal kayak gitu emang biasanya nurunin gen sampah ke anaknya. Lu dapet kekuatan ini hasil nyolong di mana? Atau emak lu jual diri buat beliin lu jimat?"
Deg!
Clarissa yang berdiri di samping Arka langsung melotot. "Surya! Tutup mulut kamu! Kamu udah kelewatan!"
Bahkan Hendra Wijaya yang tadinya tenang, sekarang berdiri dengan muka marah. "Surya, jaga bicaramu! Jangan bawa-bawa orang tua!"
Tapi Surya malah makin gila. Dia nengok ke arah pengunjung, termasuk Siska dan Rendy yang lagi nonton di pinggir. "Kenapa? Gue bener kan? Liat aja penampilannya. Orang tua bener mana yang mau ngakuin anak kayak gini? Palingan sekarang emaknya lagi membusuk di neraka karena nyesel udah ngelahirin sampah!"
CRAAAK!
Gelas kristal di tangan Arka pecah jadi debu, padahal dia nggak pake tenaga besar. Mata emas Arka mendadak berpendar merah darah di bagian pupilnya. Dia nggak cuma ngeliat fisik Surya lagi, tapi dia ngeliat aliran saraf dan titik-titik lemah di tubuh Surya.
"Surya," suara Arka pelan, tapi saking dinginnya, orang-orang di baris belakang sampai merinding. "Ada satu hal yang nggak boleh kamu sentuh dalam hidup aku. Yaitu orang tuaku."
"Halah! Mau apa lu?! Mau pukul gue? Pukul nih! Gue tuntut lu sampe masuk liang lahat!" Surya majuin mukanya, nantang.
Tepat saat itu, Arka nggak mukul. Dia cuma gerakin dua jarinya di depan mata Surya. Di mata orang lain, itu cuma gerakan kecil. Tapi bagi Arka, dia baru saja "memotong" aliran energi di penglihatan Surya.
"A-Aakh! Mata gue! Gelap! Semuanya gelap!" Surya mendadak teriak histeris. Dia megangin matanya yang nggak berdarah, tapi dia kayak orang buta total. Dia nabrak meja lelang sampai Kendi Giok 15 miliarnya jatuh pecah berkeping-keping.
"Tuan Muda!" Tuan Han panik, mencoba nolongin tapi malah didorong sama Surya yang lagi kalap.
Surya merangkak di lantai, tangannya ngeraba-raba lantai hotel yang dingin. "Siapa yang matiin lampu?! Tolong! Gue nggak bisa liat apa-apa!"
Arka jalan mendekat, berdiri tepat di depan Surya yang lagi sujud tanpa sadar karena nyari pegangan.
"Tadi kamu tanya orang tuaku di mana?" Arka nunduk, ngebisik di telinga Surya yang lagi gemeteran. "Mungkin mereka lagi liat dari atas... betapa lucunya Tuan Muda Sanjaya nungging kayak anjing minta ampun di kaki gue."
Siska yang liat kejadian itu dari jauh bener-bener lemes. Dia ngeliat Arka yang dulu selalu dia injak-injak, sekarang punya kekuatan buat bikin raksasa bisnis kayak Surya jadi buta dalam sedetik tanpa menyentuhnya.
"Arka... kamu... kamu beneran iblis," gumam Siska dengan bibir bergetar.
Arka balik badan, nggak peduli sama teriakan minta tolong Surya. Dia natap Hendra dan Clarissa. "Pak, ayo pergi. Tempat ini mendadak bau sampah."
semangat kak👍