Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — Wajah di Atas Gedung
“ITU DIA!”
Suara Raka pecah di tengah hujan.
Tubuh kecilnya gemetar hebat.
Tangannya mencengkeram lengan Nadira sampai hampir sakit.
“ITU DIA!”
Air matanya mengalir tanpa henti.
Tatapannya tidak pernah lepas dari sosok hitam yang berdiri di atas gedung kantor polisi.
Deg.
Semua orang langsung menoleh ke arah yang sama.
Ke atap gedung.
Ke siluet yang berdiri tenang di tengah hujan deras.
Seolah ledakan, sirene, dan kekacauan di bawah sana hanyalah hiburan baginya.
“Mahendra…”
Suara mamanya Nadira nyaris tidak terdengar.
Tubuh wanita itu langsung melemas.
Papanya refleks menopangnya.
Karena tidak peduli berapa tahun telah berlalu—
Nama itu tetap membawa ketakutan yang sama.
Arsen menyipitkan mata.
Jarak mereka cukup jauh.
Wajah pria di atas gedung tidak terlihat jelas.
Namun entah kenapa…
Ada sesuatu dalam cara berdirinya.
Cara ia mengamati semua orang.
Yang membuat bulu kuduk meremang.
“Dia sengaja nunjukkin diri.”
gumam Rey.
Tatapannya berubah dingin.
“Biasanya dia nggak pernah begitu.”
Deg.
Nadira langsung menoleh.
“Maksudnya?”
Rey tersenyum pahit.
“Artinya dia marah.”
DUARRR!
Ledakan ketiga terdengar.
Kali ini dari sisi parkiran.
Api langsung membumbung tinggi.
Orang-orang berteriak panik.
Mobil polisi mulai terbakar.
Dan situasi berubah semakin kacau.
“Semua masuk ke dalam!”
teriak seorang polisi.
Namun Rey langsung menggeleng.
“Jangan.”
Tatapannya masih ke atas gedung.
“Itu yang dia mau.”
Deg.
“Apa maksud lo?”
tanya Damar.
Rey mengembuskan napas pelan.
“Kalau kita masuk gedung…”
Tatapannya menyapu asap yang mulai memenuhi area.
“…kita masuk perangkap.”
Sunyi.
Dan melihat kondisi sekarang—
Tidak ada yang bisa membantah.
Sosok di atas gedung tiba-tiba bergerak.
Pelan.
Sangat pelan.
Lalu mengangkat satu tangan.
Seolah sedang memberi salam.
Deg.
Raka langsung menjerit lagi.
“Jangan lihat aku!”
Anak itu bersembunyi di belakang Nadira.
Tubuhnya gemetar semakin parah.
“Nadira.”
Suara Arsen terdengar rendah.
“Bawa Raka pergi.”
“Apa?”
“Sekarang.”
Tatapannya tidak lepas dari atap.
“Dia datang buat Raka.”
Deg.
Kalimat itu menghantam semua orang.
Karena mereka tahu itu benar.
“Aku nggak ninggalin kamu.”
balas Nadira cepat.
Namun Arsen justru menoleh.
Tatapannya lembut untuk pertama kalinya malam itu.
“Kalau sesuatu terjadi…”
Ia menelan ludah.
“…Raka harus hidup.”
Deg.
Jantung Nadira langsung berdetak lebih cepat.
Karena ada sesuatu dalam cara Arsen bicara.
Seolah ia sedang bersiap menghadapi sesuatu yang buruk.
“Gue juga ikut.”
kata Damar.
Arsen langsung menggeleng.
“Lo lindungi Nayla.”
“Jangan nyuruh gue.”
“Damar.”
Nada suara Arsen berubah serius.
“Satu kali aja dengerin gue.”
Sunyi.
Damar mengumpat pelan.
Namun akhirnya mengangguk.
Di atas gedung—
Sosok itu mulai berjalan perlahan menuju tepi atap.
Lampu sirene menyinari sebagian wajahnya.
Dan untuk sesaat…
Semua bisa melihatnya.
Pria tua.
Rambut mulai memutih.
Wajah tenang.
Dan senyum kecil yang membuat darah terasa dingin.
Deg.
“Itu dia…”
bisik mamanya.
Air matanya jatuh lagi.
“Mahendra…”
Suara wanita itu dipenuhi ketakutan dan kesedihan.
Karena bagaimanapun—
Itu kakaknya.
Darah dagingnya sendiri.
Mahendra menatap ke bawah.
Ke arah mereka semua.
Lalu perlahan menepuk tangannya.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Seolah sedang memberi apresiasi.
Deg.
“Psikopat.”
gumam Damar.
Dan tidak ada yang membantah.
Tiba-tiba pengeras suara terdengar dari salah satu mobil yang terbakar.
Suara berisik.
Lalu—
Sebuah suara pria memenuhi area parkiran.
“Halo semuanya.”
Deg.
Raka langsung membeku.
Karena ia mengenali suara itu.
Mahendra.
“Sudah lama sekali ya.”
Suara itu terdengar santai.
Seolah sedang berbicara dalam acara keluarga.
Bukan di tengah ledakan dan kepanikan.
“Mahendra!”
teriak papanya Nadira.
“Keluar kalau memang berani!”
Namun yang terdengar justru tawa kecil.
“Masih emosional seperti dulu.”
“Kenapa?”
teriak mamanya sambil menangis.
“KENAPA SEMUA INI?”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Mahendra menjawab.
Dengan tenang.
Sangat tenang.
“Karena kalian mengkhianatiku.”
Deg.
“Kami nggak pernah—”
“BOHONG!”
Suara Mahendra mendadak berubah keras.
Untuk pertama kalinya emosinya muncul.
“Semua orang pergi saat aku membangun semuanya!”
Napasnya terdengar berat.
“Dan saat aku sukses…”
Tawanya kembali muncul.
“…semua orang mau jadi pahlawan.”
Nadira mengepalkan tangan.
Karena semakin lama…
Pria itu terdengar semakin gila.
“Aku kasih kalian uang.”
“Aku kasih kalian kekuasaan.”
“Aku kasih kalian hidup.”
Suara Mahendra menggema.
“Dan sekarang kalian bilang aku jahat?”
Deg.
“Lo bunuh orang!”
teriak Rey.
Mahendra langsung diam.
Beberapa detik.
Lalu tertawa.
Tawa panjang yang membuat semua orang merinding.
“Rey.”
Nada suaranya berubah lebih lembut.
“Hidup ternyata baik padamu.”
Tatapan Rey langsung membeku.
“Kamu harusnya mati waktu itu.”
lanjut Mahendra santai.
Deg.
Semua langsung diam.
Karena kalimat itu terlalu mengerikan untuk diucapkan begitu saja.
“Jadi memang lo.”
Suara Rey berubah dingin.
“Lo yang nyuruh orang bunuh gue.”
Mahendra tidak menyangkal.
Sama sekali.
“Mobil itu kecelakaan yang mahal.”
jawabnya ringan.
Deg.
Nadira langsung melihat tangan Arsen mengepal kuat.
Sangat kuat.
Karena pria tua itu bahkan tidak merasa bersalah.
“Kenapa?”
teriak Rey.
“Karena aku tahu terlalu banyak?”
Mahendra tersenyum.
“Karena kamu nggak bisa dikendalikan.”
Sunyi.
Lalu perlahan…
Tatapannya jatuh ke Raka.
Dan suasana langsung berubah.
“Nah.”
Senyumnya melebar sedikit.
“Ada anak kecil juga di sana.”
Deg.
Tubuh Raka langsung kaku.
“Raka.”
Suara Mahendra terdengar hampir ramah.
Dan justru itu yang paling menyeramkan.
“Masih ingat Om?”
“Nggak!”
teriak Raka sambil menangis.
“Aku nggak mau lihat Om lagi!”
Mahendra tertawa kecil.
Namun tidak ada kehangatan di sana.
“Aku juga sebenarnya nggak mau lihat kamu lagi.”
Deg.
Nadira langsung berdiri di depan adiknya.
Melindunginya.
Seperti yang selalu ia lakukan.
“Sayangnya…”
lanjut Mahendra.
“…kamu masih hidup.”
Suara hujan terasa semakin keras.
Namun tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang bicara.
Karena ketegangan terasa menyesakkan.
Lalu tiba-tiba—
Mahendra mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah remote kecil.
Deg.
Rey langsung pucat.
“Tidak…”
“Apa itu?”
tanya Nadira.
Namun wajah Rey sudah cukup menjawab.
Pria itu panik.
Benar-benar panik.
“SEMUA MENJAUH DARI GEDUNG!”
teriaknya.
“SEKARANG!”
Deg.
“Kenapa?!”
teriak Damar.
Rey langsung menunjuk gedung kantor polisi.
Matanya melebar.
“Itu bukan ledakan biasa!”
Mahendra tersenyum.
Dan perlahan mengangkat remote itu lebih tinggi.
Seolah ingin semua orang melihat.
“Aku selalu benci meninggalkan pekerjaan setengah jadi.”
katanya santai.
Deg.
“LARI!”
teriak Rey.
Namun semuanya terlambat.
Klik.
Jempol Mahendra menekan tombol itu.
Dan dalam sepersekian detik—
Dunia meledak.
DUUUUUAAAARRRRRRRR!!!
Ledakan raksasa mengguncang seluruh area.
Gedung kantor polisi hancur dalam sekejap.
Api membumbung ke langit malam.
Kaca pecah ke segala arah.
Tanah bergetar hebat.
Gelombang kejut menghantam semua orang.
Nadira hanya sempat memeluk Raka.
Lalu tubuh mereka terlempar.
Suara di telinganya menghilang.
Hanya dengungan panjang yang tersisa.
Sakit.
Gelap.
Dan kacau.
Beberapa detik…
Atau mungkin beberapa menit kemudian—
Nadira perlahan membuka mata.
Pandangan kabur.
Tubuhnya terasa nyeri.
Asap memenuhi udara.
“Raka…”
Suaranya serak.
Namun tak ada jawaban.
Deg.
Nadira langsung panik.
Ia memaksa bangun.
Melihat sekeliling.
Api.
Puing.
Orang-orang berteriak.
“RAKA!”
teriaknya.
Namun suara itu tenggelam di tengah kekacauan.
“Nadira!”
Seseorang memanggilnya.
Arsen.
Pria itu berlari tertatih ke arahnya.
Wajahnya penuh luka kecil.
Namun matanya justru panik.
“Raka mana?”
Deg.
Jantung Nadira langsung jatuh.
Karena saat itulah ia sadar.
Raka tidak ada di sampingnya.
Tidak ada.
Dan di antara asap yang mulai menyelimuti area—
Sebuah mobil hitam terlihat melaju menjauh dari lokasi ledakan.
Cepat.
Menuju jalan gelap di luar kota.
Sedangkan di kursi belakang mobil itu—
Seorang anak kecil duduk dengan wajah pucat.
Air mata masih mengalir di pipinya.
Tangannya terikat.
Dan matanya penuh ketakutan.
Raka.
Sementara pria yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum tipis.
Lalu berkata pelan,
“Sekarang kita bisa bicara tanpa gangguan.”
Dan untuk pertama kalinya—
Raka melihat wajah Mahendra Pratama dari dekat.