"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Simpul yang Tak Pernah Putus
Kapal pesiar mewah The Aurora membelah selimut samudera dengan tenang, meninggalkan kerlip lampu kota yang kian menjauh di cakrawala. Di atas dek kapal, tidak ada kebisingan wartawan, tidak ada tuntutan hukum, dan tidak ada aroma alkohol yang biasa mengisi pesta-pesta kelas atas. Hanya ada bau garam laut yang segar dan suara deburan ombak yang menghantam lambung kapal, menciptakan simfoni alam yang menenangkan.
Amora berdiri di tepi pagar dek, membiarkan angin laut memainkan helai gaun sutra biru lautnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, napasnya terasa ringan. Ia merasa seolah-olah beban sebagai "Mawar Klan" telah tertinggal di daratan, dan di sini, ia hanyalah seorang wanita yang tengah mencari kembali kepingan dirinya yang hilang.
"Udara laut selalu punya cara untuk menyembuhkan luka, bukan?"
Suara bariton itu membuat Amora menoleh. Hamdan berdiri di sana, mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Tidak ada jas kaku, tidak ada dasi yang mencekik. Cahaya rembulan menyinari wajahnya yang kini nampak jauh lebih muda dan damai.
----------
Mereka menikmati makan malam di bawah taburan bintang. Sebuah meja kecil telah ditata di area paling privat di atas dek. Cahaya lilin menari-nari di wajah mereka, memantulkan binar di mata Amora yang mulai kembali bersinar.
"Terima kasih buat semua ini ya, Bang," ucap Amora tulus setelah mereka menyelesaikan hidangan laut segar. "Tenang banget... tanpa kerumunan orang, tanpa tatapan menghakimi."
Hamdan meletakkan gelas jus jeruknya, lalu menatap Amora dengan lekat. "Aku cuma mau kamu ingat malam ini bukan sebagai pelarian, Amora. Tapi sebagai awal yang baru. Biarkan saja dunia luar menganggap kita apa, tapi di atas kapal ini, cuma ada kita dan kebenaran."
Hamdan bangkit dari kursinya, mendekat ke arah Amora, dan merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang nampak sudah sangat tua. Serat kayunya telah halus karena sering diusap, menunjukkan betapa berharganya benda di dalamnya bagi sang pemilik.
"Ada sesuatu yang mau aku tunjukin ke kamu. Benda ini... yang bikin aku bisa bertahan selama tujuh belas tahun nyari kamu," ucap Hamdan dengan suara yang sedikit bergetar.
Ia membuka kotak itu di hadapan Amora. Di dalamnya, tergeletak seuntai benda yang nampak rapuh: sebuah gelang yang terbuat dari anyaman rumput yang telah mengering dan berubah warna menjadi cokelat tua.
Amora terpaku. Ia mengulurkan tangan yang gemetar, menyentuh tekstur kasar dari rumput kering itu.
-----------
Seketika, dunia di sekitar Amora seolah memudar. Suara ombak berganti menjadi suara gemericik air sawah. Bau laut berganti menjadi aroma tanah basah setelah hujan.
Ia melihat bayangan seorang anak laki-laki berpipi tirus, dengan tangan yang kotor karena lumpur, sedang sibuk menganyam helai demi helai rumput di bawah pohon mangga besar. Anak itu tersenyum padanya, sebuah senyum yang sanggup mengusir rasa sakit di lutut Amora yang baru saja terjatuh.
"Jangan nangis lagi, Mawar kecil. Pakai ini, sekarang kamu udah jadi putri paling berani di desa kita," suara anak laki-laki itu bergema di kepala Amora.
Air mata Amora tumpah seketika, jatuh membasahi anyaman rumput di dalam kotak itu. Ingatannya yang selama ini seperti kabur tertiup angin, kini kembali dengan kekuatan penuh. Ia ingat bagaimana Hamdan kecil selalu berdiri di depannya saat anak-anak lain mengejeknya. Ia ingat rasa aman saat tangannya digenggam oleh tangan kasar anak laki-laki itu.
"Abang..." bisik Amora di sela isak tangisnya. "Kamu... kamu beneran simpan ini? Selama ini?"
Hamdan menarik Amora ke dalam pelukannya, mendekap kepala gadis itu erat di dadanya. "Aku nggak pernah lepasin benda ini, Amora. Di malam-malam paling gelap dalam hidupku, gelang rumput ini satu-satunya bukti kalau kamu itu nyata. Kalau kamu pernah ada di hidupku. Aku udah janji sama diri sendiri, aku nggak bakal buang ini sampai aku bisa pasang lagi di pergelangan tangan kamu."
Isak tangis Amora perlahan mereda, namun ia masih enggan melepaskan pelukannya pada Hamdan. Ia menyandarkan wajahnya di kemeja linen Hamdan yang kini basah oleh air matanya. Aroma maskulin pria itu, bercampur dengan asinnya udara laut, terasa seperti penawar rindu yang telah tertahan selama tujuh belas tahun.
Amora menarik diri sedikit, menatap gelang rumput kering di dalam kotak kayu itu sekali lagi. "Benda sekecil ini... kok bisa bertahan selama ini sih, Bang?"
Hamdan tersenyum tipis, tangannya mengusap sisa air mata di pipi Amora. "Sama kayak perasaanku ke kamu, Amora. Mengeras karena waktu, tapi nggak pernah hancur. Sengaja aku simpan di kotak kedap udara, aku bawa ke mana pun aku pergi—London, New York, Istanbul—cuma buat ngingetin aku kalau ada anak perempuan di desa yang lagi nunggu aku jemput."
Amora mengambil gelang itu dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah porselen paling rapuh di dunia. "Pantesan... tiap kali aku ke pasar desa, aku selalu merasa ada yang hilang. Kayak lagi nunggu seseorang, tapi aku nggak tahu siapa. Sekarang aku tahu... orang itu kamu, Bang."
Hamdan meraih tangan Amora, lalu dengan gerakan perlahan, ia memakaikan kembali gelang rumput tua itu ke pergelangan tangan Amora, tepat di samping cincin berlian yang berkilau. Kontras antara rumput kering yang bersahaja dan berlian yang mewah itu nampak begitu indah—mewakili perjalanan hidup mereka dari lumpur sawah menuju puncak dinasti.
"Dulu aku kasih ini biar kamu berani," bisik Hamdan, suaranya kini terdengar sangat emosional. "Sekarang aku pakaiin lagi, biar kamu tahu... setinggi apa pun kasta atau posisi kamu sekarang, kamu bakal selalu punya hatiku yang paling sederhana."
Hamdan kemudian menarik Amora kembali ke dalam dekapannya. Mereka berdiri di sana, di ujung dek kapal, menatap cakrawala di mana langit dan laut menyatu dalam kegelapan. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Di atas samudera yang luas ini, Amora tidak hanya mendapatkan kembali ingatannya, tapi ia juga mendapatkan kembali "Abang"-nya—pelindung sejatinya yang tak pernah sekalipun membiarkannya pergi dari dalam hatinya.
To be continued...