Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.
Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.
Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di dalam ruang ICU, atmosfer berubah menjadi mencekam ketika ponsel milik Tuan Bayu yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat.
Sebuah notifikasi pesan dari nomor tak dikenal masuk, mengirimkan sebuah berkas video berdurasi singkat.
Tuan Bayu dengan tangan gemetar membuka pesan tersebut.
Detik berikutnya, wajah pria tua itu memucat sempurna, napasnya tercekat melihat apa yang tertayang di layar kaca.
Layar itu menampilkan rekaman langsung kondisi Pratama yang sangat mengenaskan.
Di dalam sebuah gudang tua yang remang-remang, Pratama tampak terikat erat dengan rantai besi tebal di atas ranjang berkarat.
Setiap kali tubuhnya bergerak, perban yang membungkus luka bakar di punggungnya tampak memerah karena darah yang kembali merembes.
Mulutnya tersumpal kain hitam, memperlihatkan betapa tersiksanya sang CEO di bawah sekapan pasukan bayaran Mita.
"Jika dalam waktu satu jam Papa tidak memindahkan seluruh sisa aset utama Pratama Group dan hak kuasa penuh atas nama saya," terdengar suara Mita dari balik rekaman, dingin dan tanpa belas kasihan, "maka Papa hanya akan menerima kepulangan menantu kesayangan Papa ini dalam bentuk potongan tubuh."
Tepat di kamera, Pratama yang menyadari dirinya sedang direkam, langsung menggerakkan kepalanya dengan paksa.
Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat di balik sumpalan kain hitamnya, menatap lurus ke arah lensa kamera dengan sorot mata yang tajam dan penuh penekanan.
"Mmmmpphh!! Mmmpphh!!"
Melalui gelengan kepala dan tatapan matanya, Pratama seolah berteriak sekencang mungkin, meminta Papa Bayu untuk tidak memenuhi permintaan Mita.
Ia lebih memilih mati menahan siksaan di atas ranjang besi itu daripada harus membiarkan wanita ular tersebut merebut apa yang menjadi hak Diandra dan keluarganya.
Gia yang sejak tadi ikut menyaksikan video tersebut dari balik punggung ayahnya, seketika merasakan seluruh darah di dalam tubuhnya mendidih.
Amarah yang begitu besar, yang belum pernah bergejolak sedahsyat ini sejak ia terbangun di raga barunya, meledak di dalam dada.
Brak!!
Tanpa bisa ditahan lagi, Gia menghantam dinding semen ruang ICU di samping ranjangnya dengan kepalan tangan telanjang.
Pukulan keras itu menimbulkan suara dentuman yang cukup nyaring, membuat buku-buku jarinya yang mungil seketika memar dan mengeluarkan darah segar.
Rasa sakit di tangannya sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih di hatinya melihat pria yang dicintainya disiksa seperti binatang.
"Cukup, Mita... Cukup!" desis Gia, suaranya bergetar hebat karena amarah yang sudah mencapai puncaknya.
Manik matanya berkilat mengerikan, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
Ia menatap Diko yang masih berdiri siaga di depannya.
"Diko! Cari distorsi audio dari video itu! Periksa kelembaban udara dan struktur dinding gudang yang terekam! Aku tahu persis karakteristik aset-aset perusahaan cangkang milik Mita. Detik ini juga, kita berangkat untuk menjemput suamiku!"
"Diandra, tidak! Kondisimu belum stabil, Nak!" Tuan Bayu berusaha menahan lengan putrinya, sementara dokter dan perawat ICU bergerak maju untuk menghalanginya.
"Minggir, Papa!" bentak Gia dengan suara yang begitu mengintimidasi, mutlak tanpa bantahan.
Gia menolak dicegah oleh Tuan Bayu dan tim medis.
Persetan dengan trauma inhalasi atau raga remaja yang lemah ini; jiwanya adalah Diandra, wanita yang tidak akan membiarkan suaminya dijemput maut.
Menggunakan analisis siber mendalam pada distorsi audio video Mita serta mencocokkannya dengan data struktural gudang yang dikirim Diko, jemari Gia bergerak secepat kilat di atas papan ketik.
Hanya dalam hitungan menit, ia berhasil mengunci koordinat lokasi tepat gudang logistik tua terisolasi di pinggiran kota tersebut.
"Kita berangkat sekarang, Diko. Siapkan pasukan," perintah Gia dingin sambil melangkah tegap keluar dari ruang ICU, menyisakan keheningan mencekam bagi tim medis yang tak berkutik.
Iring-iringan mobil taktis hitam melesat membelah kegelapan malam dengan kecepatan penuh.
Gia memimpin langsung tim keamanan Pratama Group bersama Diko menuju lokasi sekapan. Wajahnya mengeras, tidak ada lagi ruang untuk ketakutan.
Begitu roda-roda mobil menggilas halaman gudang logistik yang terbengkalai, kubu lawan langsung menyadari kedatangan mereka.
Tanpa peringatan, terjadi baku tembak dan pertarungan sengit antara tim keamanan Pratama dengan pasukan bayaran Mita di area luar gudang.
Bunyi letusan senjata api dan dentingan selongsong peluru menggema, memecah kesunyian malam.
Diko dan pasukannya bergerak taktis, menekan mundur para penjaga.
Di tengah kekacauan dan hujan peluru itu, Gia tidak tinggal diam di belakang.
Memanfaatkan kelengahan musuh yang terfokus pada baku tembak utama, Gia menerobos masuk ke dalam gudang dengan menggunakan keberanian dan taktik cerdasnya, menyelinap melalui jalur ventilasi pembuangan udara yang telah ia pelajari dari cetak biru bangunan.
Brak!
Gia berhasil mendobrak pintu kayu ruang sekapan utama di bagian terdalam gudang. Namun, pemandangan di dalam ruangan seketika membuat pasokan udara di paru-parunya seolah merosot habis.
Gia menemukan Pratama yang sudah dalam kondisi sangat kritis.
Siksaan rantai besi yang mengunci mati pergerakannya ditambah gesekan konstan pada luka bakar yang parah di punggungnya membuat tubuh Pratama mengalami syok neurogenik akibat rasa sakit yang melampaui batas toleransi manusia, memicu trauma hebat pada organ dalamnya.
Sebuah monitor denyut nadi portabel yang sengaja dipasang oleh pasukan Mita di sudut ranjang besi menunjukkan angka yang terus merosot tajam.
Angka digital itu berkedip merah, turun dari 50, 45, menuju 40 kali per menit. Pratama sudah berada di ambang kematian.
Mendengar suara deburan pintu, kelopak mata
Pratama bergerak sangat lambat.
Kesadarannya perlahan sirna, pandangannya mengabur tertutup kabut hitam abu-abu. Namun, tepat sebelum matanya tertutup rapat, ia melihat siluet gadis kecilnya—belahan jiwanya—datang menerobos kegelapan. Sebuah lengkungan tipis yang lemah sempat terbentuk di sudut bibirnya yang membiru di balik sumbatan kain.
"Mas! Mas Pratama! Bertahanlah, kumohon!"
Gia berlari histeris, menjatuhkan lututnya di samping ranjang besi yang dingin.
Air matanya tumpah tak terbendung melihat darah segar telah membasahi seluruh perban di punggung suaminya.
Dengan tangan telanjang yang gemetar dan mulai berdarah, Gia menangis histeris sambil berusaha melepaskan rantai besi tebal yang mengunci tubuh suaminya.
"Jangan tutup matamu, Mas! Lihat aku! Ini aku, Diandra! Aku di sini!" jerit Gia parau, terus menepuk-nepuk pipi Pratama yang kian mendingin, mencoba sekuat tenaga mempertahankan kesadaran pria itu dari tarikan maut yang kian pekat.
Dari balik layar monitor di ruang kendali tersembunyi, wajah Mita mendadak distorsi oleh kemarahan dan ketakutan.
Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana pasukan bayaran termahalnya ditumbangkan satu per satu oleh tim keamanan Pratama Group yang mengamuk di bawah komando Diko.
Lebih tidak masuk akal lagi, gadis SMA sialan bernama Gia itu berhasil merangsek masuk dengan taktik yang teramat rapi.
Menyadari markasnya telah jebol dan pasukannya kalah jumlah, Mita yang licik tidak mau mengambil risiko tertangkap.
Ia adalah tipe wanita yang selalu menyiapkan jalan keluar paling kotor.
"Sialan! Bagaimana jalang kecil itu bisa tahu denah tempat ini?!" umpat Mita sambil merenggut tas berisi dokumen aset dan paspor palsunya.
Tanpa memedulikan nasib anak buahnya yang sedang bertaruh nyawa, Mita memutar sebuah tuas di balik lemari besi.
Sebuah pintu rahasia terbuka, menuntunnya menuju jalur lorong bawah tanah gelap yang terhubung langsung dengan dermaga tikus di belakang gudang.
Di sana, sebuah kapal cepat telah bersiap dengan mesin yang menyala.
Mita berhasil meloloskan diri sesaat sebelum Gia berhasil menjebol pintu ruang kendali utama.
Sambil memandang siluet gudang yang kian menjauh di atas kapal yang membelah air malam,
Mita mencengkeram pembatas besi dengan urat-urat tangan yang menegang.
"Ini belum berakhir," desis Mita penuh dendam.
"Gia... Pratama... kalian pikir kalian sudah menang? Aku akan mengaktifkan rencana pelarian ke luar negeri malam ini juga. Begitu aku menginjakkan kaki di luar negeri, aku akan menghancurkan kalian dari jauh!"
Di dalam ruang sekapan, suasana justru jauh lebih mencekam.
Gia berhasil membebaskan Pratama setelah dengan nekat menghantam gembok rantai besi menggunakan potongan pipa besi yang ia temukan di sudut ruangan.
Begitu rantai terakhir terlepas, tubuh tegap Pratama ambruk ke dalam pelukan Gia yang
ringkih.
"Diko!! Bawa tandu sekarang!! Cepat!!" teriak Gia, suaranya parau dan bergetar hebat.
Dengan bantuan Diko yang baru saja berhasil mengamankan area dalam, mereka melarikan Pratama yang sudah tidak sadarkan diri kembali ke rumah sakit dengan ambulans darurat yang sejak awal bersiaga di barisan belakang tim penyerbu.
Kini, ketegangan luar biasa menyelimuti ruang medis ambulans yang melaju membelah jalanan dengan kecepatan penuh.
Sirine raung-meraung, namun bagi Gia, suara itu kalah bising dengan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.
Gia duduk berlutut di lantai ambulans, terus menggenggam tangan Pratama yang terasa sedingin es.
Air matanya terus mengalir tanpa henti, membasahi jemari suaminya yang terkulai lemah.
"Mas, kumohon, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku seperti ini," bisik Gia, menempelkan keningnya pada punggung tangan Pratama.
Biiiiiiiiipppp...
Suara monoton yang paling ditakuti itu mendadak menggema.
Grafik detak jantung Pratama di layar monitor bergerak sangat lemah, berfluktuasi rendah sebelum akhirnya membentuk garis yang nyaris datar.
Angka saturnasi oksigennya merosot di bawah batas aman. Punggung Pratama yang terluka parah mengalami infeksi dan syok sistemik yang mematikan.
"Dokter! Detak jantung pasien drop! Kita kehilangan denyut nadinya!" seru perawat ambulans sambil bergegas menyiapkan alat kejut jantung (defibrillator).
Di saat yang bersamaan, dada Gia seketika terasa dihantam oleh godam yang sangat besar.
Napas raga remajanya mendadak tercekat, badannya bergetar hebat, dan ia ikut memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Efek mistis keterikatan dua raga satu jiwa itu kembali bekerja dengan kejam.
Detik itu juga, ponsel Diko berdering nyaring dari pihak rumah sakit bawah tanah yang memantau tubuh asli Diandra.
"Diko! Kondisi Ibu Diandra di ruang bawah tanah kritis! Grafik EKG-nya mendatar total selaras dengan penurunan kondisi Pak Pratama! Jika Pak Pratama tidak selamat, jiwa Ibu Diandra di kedua raga ini akan ikut tersedot mati!"
Gia mencengkeram dadanya yang luar biasa sakit, pandangannya mengabur. Namun dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menolak untuk tumbang.
Ia kembali menggenggam erat tangan Pratama, menyalurkan seluruh sisa daya hidupnya.
"Kalau kamu mati. Aku juga akan mati bersamamu malam ini, Mas..." bisik Gia di telinga
Pratama tepat saat petugas medis meneriakkan,
"Clear! Shock!" dan kejutan listrik pertama menghantam dada Pratama.
Jedug!
Guncangan keras dari alat kejut jantung yang menghantam dada Pratama tidak hanya membuat tubuh pria itu tersentak di atas brankar ambulans, tetapi juga mengirimkan gelombang kejut yang tak kasat mata langsung ke ulu hati Gia.
"Mas..."
Suara Gia nyaris tak terdengar, tenggelam di balik raungan sirene ambulans yang membelah jalanan kota.
Pandangannya yang semula mengabur kini menggelap total.
Kesadarannya ditarik paksa oleh kekosongan yang dingin.
Cengkeraman erat jemarinya pada tangan Pratama perlahan-lahan terlepas, terkulai lemas di atas lantai ambulans.
Gia jatuh pingsan, ambruk ke depan dengan sisa darah yang masih menempel di bibir mungilnya.
"Nyonya?!"
Diko yang sejak tadi berdiri siaga di sudut
ambulans dengan sigap melompat maju.
Dengan gerakan refleks yang cepat, Diko memegang tubuh Gia sebelum kepala gadis itu membentur lantai besi ambulans yang keras.
Ia mendekap tubuh ringkih itu, menyandarkannya pada dadanya dengan tangan yang gemetar hebat.
"Nyonya! Nyonya! Sadar, Nyonya!" panggil Diko parau, menepuk-nepuk pipi Gia yang kini sama pucatnya dengan Pratama.
Situasi di dalam ambulans berubah menjadi horor yang paling mengerikan bagi Diko.
Di atas brankar, tim medis sedang berjuang memasang kembali masker oksigen dan melakukan CPR pada Pratama yang garis jantungnya di layar monitor masih bergerak datar nan kritis.
Sementara di dalam pelukannya, raga Gia—yang di dalamnya bersemayam jiwa Diandra—tertidur tak berdaya dengan napas yang kian menipis.
Diko menempelkan jarinya ke leher Gia, mencari denyut nadi gadis itu.
Jantungnya serasa copot. Denyut nadi Gia berdenyut sangat lambat, melemah dalam ritme yang mengerikan, seolah-olah detak kehidupan di dalam tubuh remaja itu sengaja melambat untuk menyamai detak jantung Pratama yang sedang sekarat.
Ikatan mistis itu benar-benar nyata dan kejam. Jiwa Diandra yang terikat pada dua raga kini sedang terseret ke dalam lubang kematian yang sama bersama Pratama.
"Dokter! Tekanan darah Nyonya Gia juga merosot tajam! Tolong dia!" teriak Diko dengan mata yang memerah akibat kepanikan yang luar biasa.
Sebagai orang kepercayaan, ia tidak boleh kehilangan keduanya malam ini.
"Pasang infus kedua! Berikan stimulan!" perintah dokter ambulans, membagi fokusnya di antara dua pasien yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk.
Diko mempererat dekapannya pada tubuh Gia yang terasa semakin dingin.
Di dalam hatinya, ia terus merapalkan doa, berharap ambulans ini bisa melompati waktu agar segera sampai di rumah sakit.
Jika dalam beberapa menit ke depan jantung Pratama tidak kembali berdenyut, Diko tahu, ia tidak hanya akan kehilangan bos besarnya, melainkan juga menyaksikan kematian tragis dari jiwa Diandra untuk yang kedua kalinya.