Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Pertama Bersama Liam
Pagi berikutnya adalah hari terakhir Cassie bekerja di kafe sesuai kesepakatan awal. Besok ia harus kembali menjadi mahasiswa penuh waktu, tenggelam dalam buku, jurnal, dan ketakutan kehilangan beasiswa jika nilainya turun.
Hari itu kafe terasa lebih hangat dari biasanya. Cassie bekerja dengan energi yang aneh, campuran lega dan nostalgia kecil.
Saat shift selesai, ia melepas apron dan menggantungnya dengan rapi.
Marla menepuk bahunya. “Kau pelayan yang bagus, Cassie. Kalau butuh kerja lagi saat liburan berikutnya, datang saja.”
Cassie tersenyum tulus. “Terima kasih, Marla. Aku benar-benar banyak belajar di sini.”
“Dan jangan lupa makan yang layak,” tambah Marla sambil menyipitkan mata curiga.
Cassie tertawa kecil, meskipun kalimat itu terasa seperti sindiran yang terlalu tepat sasaran.
Keluar dari kafe, Cassie tidak menuju perpustakaan. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, tasnya terasa lebih ringan. Tugasnya sudah selesai berkat bantuan Ethan.
Langkahnya langsung mengarah ke kedai langganannya. Pilihan praktis. Murah. Aman bagi dompet.
Ia hampir sampai di depan jendela pesanan ketika sebuah mobil berhenti pelan di sisi trotoar.
Mobil itu tidak sekadar mewah. Ia terlihat seperti sesuatu yang biasanya hanya Cassie lihat di iklan parfum mahal atau parkiran hotel bintang lima.
Sebuah Mercedes-Benz S-Class hitam mengilap. Catnya memantulkan lampu jalan seperti permukaan air malam yang tenang. Velg-nya berkilau halus, dan seluruh mobil itu memancarkan aura mahal tanpa harus berteriak soal harga.
Jendela pengemudi turun perlahan.
Liam duduk di balik kemudi.
Tapi tampilannya malam itu… berbeda.
Mantel panjangnya diganti dengan coat abu-abu gelap yang lebih rapi, dipadukan dengan kemeja hitam dan scarf tipis. Rambutnya tertata lebih rapi dari biasanya, dan cahaya lampu jalan membuat garis wajahnya terlihat lebih tajam, hampir seperti potret editorial majalah.
Cassie berkedip beberapa kali.
Ia benci harus mengakui ini… tapi Liam terlihat mempesona.
"Ada apa dengan semua ini? Dan kenapa kau ada di sini?" Cassie menjeda sejenak, hatinya sedikit berdebar saat ia bertanya, "Kau... menjemputku?"
Liam tertawa lepas, sebuah tawa yang menarik perhatian orang lain di sekitar mereka. Ia kemudian menepuk-nepuk kap mobilnya yang halus.
"Menjemputmu? Percaya diri sekali kau," ujar Liam sambil kembali memakai kacamatanya. "Aku baru saja selesai mengurus dokumen legalitas pabrikku di dekat sini, dan kebetulan lewat. Aku cuma mau mamerin mobil baru ini saja padamu. Keren, kan? Jauh lebih bagus daripada bus yang biasa kau naiki."
Wajah Cassie seketika memerah karena malu sekaligus kesal. Bisa-bisanya aku berpikir dia berniat baik!
"Kau benar-benar pria paling menyebalkan!" seru Cassie sambil menghentakkan kakinya, hendak berjalan pergi menuju halte bus.
"Hei, tunggu," panggil Liam, suaranya kini sedikit lebih lembut tapi tetap mengandung nada perintah. "Masuklah. Aku tidak mau tetanggaku pingsan karena kedinginan di halte bus dan arwahnya menghantui kamarku. Anggap saja ini tumpangan sebagai ganti pretzel yang kumakan kemarin."
Cassie diam sejenak, menatap mobil mewah itu lalu menatap ke arah halte bus yang mulai diselimuti kabut dingin.
Antara rasa gengsi dan rasa dingin, akhirnya ia memilih untuk membuka pintu mobil tersebut.
Interior mobil itu membuat Cassie langsung menegakkan badan. Kursi kulit lembut, aroma parfum maskulin yang halus, panel dashboard dengan lampu ambient biru lembut yang terasa seperti berada di dalam kapsul teknologi.
“Wow…” gumam Cassie tanpa sadar.
Ia menyentuh jahitan kursi dengan ujung jarinya, jelas terkesan.
“Kemana mobil listrikmu?” tanyanya tiba-tiba.
“Disimpan.”
Cassie menoleh cepat. “Ini mobilmu?”
"Kredit berapa tahun?"
Liam tertawa rendah, suara baritonnya memenuhi kabin mobil.
"Kredit? Kau pikir aku ini pegawai kantoran yang harus mencicil hidup? Aku membelinya tunai."
Ia melirik Cassie dengan tatapan menyindir yang tajam namun jenaka.
"Menarik sekali melihat perubahanmu. Ternyata rasa takutmu pada 'pembunuh misterius' bisa hilang seketika hanya karena jok mobil mewah dan aroma uang, ya? Kau ternyata dangkal juga, Cassie."
"Bukannya dangkal!" Bantah Cassie cepat, wajahnya sedikit memerah. "Aku hanya... aku hanya mengagumi keberhasilan finansial tetanggaku. Itu namanya apresiasi!"
"Apresiasi, ya?" Liam memperlambat laju mobilnya saat mendekati lampu merah, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Cassie. "Hati-hati, Cassie. Mobil bagus seringkali dimiliki oleh pria yang jauh lebih berbahaya daripada preman di tangga darurat. Kau yakin tidak mau turun sekarang dan lari ke halte bus?"
"Sudah kepalang tanggung," jawab Cassie sambil kembali bersandar santai.
Liam hanya membalas dengan dengusan kecil sambil memutar kemudinya ke arah distrik yang lebih mewah, menjauh dari jalanan kumuh menuju Raven's Gate.
"Kita makan sesuatu yang benar-benar bisa disebut makanan," ujar Liam datar. "Berhentilah mengisi perutmu dengan roti pinggir jalan yang sosisnya lebih banyak tepung daripada daging itu setiap hari. Kau bisa keracunan sebelum sempat lulus kuliah."
Cassie tersentak. Pertanyaan itu kembali berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Bagaimana dia bisa tahu? Apakah pria ini benar-benar memasang mata di seluruh sudut kota, atau dia memang punya hobi menguntit yang sangat profesional?
Namun, alih-alih bertanya soal bagaimana Liam tahu, Cassie yang sudah merasa sangat lapar dan lelah secara mental malah menyemburkan kekesalannya.
"Bisa tidak sih, kalau sekali saja kau berbuat baik itu jangan dibarengin dengan meledek?" ketus Cassie sambil bersedekap. "Niatnya mau kasih tumpangan dan makan malam, tapi mulutmu itu benar-benar tidak bisa dikontrol. Harusnya kau bilang, 'Cassie, mari kita makan makanan yang lebih bergizi', kan jauh lebih sopan!"
Liam tertawa pendek, kali ini suaranya terdengar lebih renyah. "Sopan santun tidak akan membuatmu kenyang, Cassie. Dan jujur saja, melihat wajahmu yang cemberut karena tersinggung itu jauh lebih menghibur daripada melihatmu pura-pura anggun di depan polisi itu."
Mobil berhenti di depan sebuah restoran kecil namun terlihat sangat eksklusif dengan lampu-lampu warm white yang temaram. Tidak ada papan nama yang mencolok, tipe tempat yang hanya diketahui oleh orang-orang dengan koneksi tertentu.
"Turunlah. Dan tolong, kali ini makannya yang banyak. Jangan bersikap seperti burung lagi kalau tidak mau aku menghabiskan porsimu juga," ucap Liam sambil mematikan mesin mobil.
Cassie keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia sangat ingin memakan makanan enak di restoran itu. Di sisi lain, ia sadar bahwa setiap kali Liam berbuat baik, pria itu selalu menyelipkan "duri" yang membuatnya kesal setengah mati.
Saat melangkah masuk ke restoran yang hangat itu, Cassie diam-diam melirik ke arah Liam yang berjalan di sampingnya. Pria ini sangat sulit ditebak. Dia bisa terlihat seperti pembunuh, pengusaha sukses, penguntit, hingga tetangga menyebalkan dalam waktu bersamaan.
"Kau memesan apa?" tanya Liam saat mereka sudah duduk di meja sudut yang privat.
"Apa saja yang mahal dan bikin kau rugi karena sudah meledekku," jawab Cassie asal, membuat Liam menaikkan alisnya dengan ekspresi geli.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭