NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:37.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Di dalam mobil, suasana terasa jauh dari kata nyaman. Hening yang tercipta bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. Aira duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan, namun pikirannya berkelana ke mana-mana.

Ucapan Bima di depan paman dan bibinya tadi masih terngiang jelas di kepalanya.

Lamaran.

Sebuah kata yang terlalu besar untuk diucapkan sembarangan. Terlebih lagi… itu bukan sesuatu yang pernah mereka bicarakan sebelumnya.

Aira menggenggam ujung bajunya, gelisah.

“Apa sebenarnya yang dia pikirkan…” gumamnya pelan.

Bima yang sedang fokus menyetir melirik sekilas ke arah Aira. Ia bisa merasakan ketegangan itu sejak mereka meninggalkan rumah paman Aira. Namun, untuk sekali ini, bahkan Bima pun tidak langsung tahu harus berkata apa.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

Akhirnya, Bima menghela napas pelan, seolah menyerah pada suasana yang terlalu kaku.

“Kamu mau ke suatu tempat?” tanyanya tiba-tiba.

Aira sedikit terkejut, lalu menoleh. “Tempat?”

“Iya. Daripada kita begini terus. Kamu juga kelihatan mau kabur dari pikiran sendiri.”

Aira mengerutkan kening. “Aku tidak tahu mau ke mana.”

“Bagus,” jawab Bima santai.

“Bagus apanya?”

“Berarti aku yang pilih.”

Aira langsung menatap curiga. “Jangan aneh-aneh.”

Bima tersenyum tipis. “Aku memang sering aneh. Tapi kali ini… kamu bakal suka.”

“Tidak meyakinkan.”

“Percaya sedikit saja. Aku tidak akan menculikmu ke tempat berbahaya.”

Aira mendengus pelan, lalu kembali menatap ke depan. “Aku tidak percaya.”

“Tidak apa-apa. Kamu tetap ikut.”

Beberapa saat kemudian, mobil mulai melambat. Lampu-lampu warna-warni mulai terlihat dari kejauhan, diikuti dengan suara musik dan riuhnya orang-orang.

Aira mengerjapkan mata beberapa kali.

“Ini…?” katanya pelan.

Bima memarkir mobilnya dengan santai. “Pasar malam.”

Aira menatapnya tidak percaya. “Serius?”

“Serius. Kenapa? Kamu berharap aku bawa ke restoran mahal?”

Aira menggeleng pelan. “Bukan itu… hanya saja… kenapa ke sini?”

Bima tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka pintu mobil dan keluar. Kemudian, tanpa banyak bicara, ia berjalan ke sisi Aira dan membuka pintunya.

“Turun.”

Aira masih ragu. “Bima—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Bima sudah meraih tangannya dan menariknya keluar dengan santai.

“Ayo. Jangan banyak mikir.”

Aira menghela napas, namun tetap ikut.

Begitu mereka masuk ke area pasar malam, suasana langsung berubah. Aroma makanan menyeruak dari berbagai arah. Lampu-lampu berwarna menggantung di setiap sudut, dan suara tawa anak-anak bercampur dengan musik yang diputar dari pengeras suara.

Aira menatap sekelilingnya dengan bingung.

“Kita mau apa di sini?” tanyanya.

Bima menoleh. “Makan.”

“Makan saja?”

“Ya. Kamu tadi bilang tidak tahu mau ke mana. Jadi aku bawa ke tempat yang punya banyak pilihan.”

Aira mengerutkan kening lagi. Ia menatap deretan stan makanan yang berjejer.

Cumi bakar, sosis bakar, bakso bakar, aneka gorengan, kue manis, minuman warna-warni—semuanya terlihat menggoda.

Justru karena itu, Aira semakin bingung.

“Aku… tidak tahu mau pilih yang mana,” katanya jujur.

Bima mengangguk pelan. “Wajar.”

“Jadi?”

“Tidak usah pilih.”

Aira menoleh cepat. “Apa maksudmu?”

Namun Bima sudah berjalan ke salah satu stan.

Beberapa menit berikutnya, Aira hanya bisa menatap dengan ekspresi antara heran dan tidak percaya saat Bima membeli satu per satu makanan dari berbagai stan.

“Bima, ini kebanyakan—”

“Diam. Ini penelitian.”

“Penelitian apa?”

“Menentukan makanan mana yang paling enak.”

Aira memijat pelipisnya. “Kamu tidak masuk akal.”

“Sudah dari dulu.”

Tak lama kemudian, tangan mereka penuh dengan kantong makanan. Bima bahkan membeli minuman buah dalam gelas besar.

Aira menatap semua itu. “Kita mau makan di mana?”

Bima melihat sekeliling. Area pasar malam sangat ramai. Hampir tidak ada tempat kosong untuk duduk.

“Ada satu tempat,” katanya.

“Di mana?”

Bima tersenyum tipis. “Mobil.”

Aira terdiam.

“…Serius?”

Beberapa menit kemudian, mereka kembali ke mobil dengan membawa semua makanan itu.

Aira masih sedikit tidak percaya, namun begitu mereka duduk dan membuka bungkus makanan, aroma yang menggoda langsung membuatnya lupa pada keraguan tadi.

Ia mengambil satu tusuk bakso bakar, meniupnya sebentar, lalu menggigit.

Matanya langsung sedikit membesar.

“Enak…”

Tanpa sadar, Aira mulai mencoba yang lain. Sosis bakar, cumi, gorengan, kue—semuanya ia cicipi dengan antusias.

Bima yang baru saja mengambil satu porsi bakso bakar berhenti sejenak dan menatapnya.

Aira makan tanpa jeda. Bahkan tanpa sadar, saus sedikit mengenai pipinya.

Bima menghela napas kecil, lalu membuka dasbor dan mengambil tisu.

“Kamu…” katanya sambil menahan tawa.

Aira tidak menoleh. “Apa?”

“Kamu makan seperti anak kecil.”

Aira tetap fokus pada makanannya. “Aku lapar.”

“Itu bukan alasan untuk berantakan.”

Bima menyodorkan tisu ke pipi Aira dan mengusapnya pelan.

Aira berhenti sejenak, lalu menatapnya.

Namun bukannya malu, ia justru kembali makan.

“Terima kasih,” katanya santai.

Bima menggeleng pelan, tertawa kecil. “Tidak ada harapan.”

Tak lama kemudian, semua makanan itu… habis.

Bima menatap kosong kantong-kantong kosong di tangannya.

“Aku baru makan satu porsi,” katanya pelan.

Aira meneguk minumannya, lalu bersandar santai. “Lalu?”

“Itu semua ke mana?”

Aira menatapnya datar. “Masuk ke perut.”

Bima menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. “Aku tidak mengerti.”

“Apa?”

“Kamu makan sebanyak itu… tapi tetap tidak tinggi-tinggi.”

Aira langsung melotot. “Bima!”

“Aku hanya penasaran secara ilmiah.”

Aira menyilangkan tangan. “Aku sehat.”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku.”

“Aku tidak peduli dengan pertanyaanmu.”

Bima tersenyum kecil. “Sensitif sekali.”

Aira mendengus, namun tidak membalas lagi.

Beberapa detik hening, lalu Bima membuka pintu mobil.

“Ayo.”

“Kemana lagi?”

“Main.”

Aira menatapnya lelah. “Aku bukan anak kecil.”

“Lima menit lalu kamu makan seperti anak kecil.”

Aira terdiam.

“…Baik. Tapi hanya sebentar.”

Mereka kembali ke area pasar malam. Kali ini, Bima tidak berhenti di stan makanan, melainkan menuju area permainan.

Aira mulai merasa tidak enak.

“Bima… jangan yang aneh-aneh.”

Namun Bima sudah menariknya ke satu wahana.

Aira berhenti mendadak.

“Mandi bola?”

Bima mengangguk santai. “Masuk.”

“Aku tidak mau.”

“Sudah dibayar.”

“Kapan kamu bayar?!”

“Barusan.”

Aira menatapnya tidak percaya, namun petugas sudah membuka pagar kecil dan mempersilakan mereka masuk.

Beberapa anak kecil di dalam sudah bermain dengan riang.

Aira berdiri kaku.

Bima mengeluarkan ponselnya.

“Ayo, semangat mainnya, adik,” katanya sambil tersenyum jail.

Aira langsung mengambil bola dan melemparkannya ke arah Bima.

Bima menghindar dengan mudah.

“Sasarannya buruk.”

Aira mengambil lebih banyak bola dan melempar bertubi-tubi.

Bima tertawa sambil menangkap beberapa bola dan melemparkannya kembali—namun dengan pelan.

Permainan itu berubah menjadi saling lempar.

Anak-anak di sekitar mereka ikut tertawa.

Beberapa orang tua bahkan mulai memperhatikan.

Namun Aira dan Bima… tidak peduli.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke mobil tadi, Aira benar-benar tertawa.

Setelah beberapa saat, mereka keluar dari wahana itu.

Aira sedikit terengah, namun wajahnya jauh lebih cerah.

Bima menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis.

“Akhirnya hidup lagi.”

Aira menatapnya. “Apa?”

“Kamu tadi seperti orang yang kehilangan arah.”

Aira terdiam sejenak.

Namun sebelum suasana kembali canggung, Bima langsung berjalan ke wahana lain.

“Sekarang ini.”

Aira melihat ke arah yang ditunjuk.

“Trampolin?”

“Ya. Kita lihat siapa yang lebih tinggi lompatnya.”

Aira mengangkat alis. “Kamu serius menantangku?”

“Tentu.”

Mereka masuk ke area trampolin.

Begitu permainan dimulai, Aira langsung mencoba melompat.

Awalnya canggung, namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa.

Bima melompat lebih tinggi, namun Aira tidak mau kalah.

“Aku bisa lebih tinggi!” katanya.

“Coba saja,” jawab Bima santai.

Mereka saling menantang, melompat lebih tinggi dan lebih tinggi.

Tawa mereka kembali terdengar.

Orang-orang dewasa di sekitar hanya bisa melihat dengan ekspresi heran.

Dua orang dewasa… bermain seperti anak kecil tanpa beban.

Namun bagi Aira, untuk malam ini saja, itu tidak masalah.

Untuk beberapa saat… ia lupa tentang lamaran, kebohongan, dan semua hal yang membuatnya bingung.

Yang tersisa hanya… dirinya yang menikmati momen itu.

Dan Bima, yang entah bagaimana, berhasil menariknya keluar dari pikirannya sendiri.

1
susi_ambarsari
enak y pemikiran laki laki, lbh terbuka biarpun sakit hati mereka gk baperan, beda klo cewe lebih baperan ujung2nya ngambek gk selesaikan mslh mlh bikin mslh stuck dsitu, klo pandu - bima menimpa cewek pasti berantem abz itu udahan persahabatan selesai, serumit itu y pemikiran cewe krn terlalu berpegang pd ego msg2 😮‍💨😮‍💨😮‍💨
susi_ambarsari: SEMANGAAAAAT 💪🏽💪🏽💪🏽💪🏽💪🏽
total 4 replies
McBos
Bapak temanku ternyata ibuku
Black Rascall: maaf ga bikin karya BL kalau suka BL mungkin bisa cari yang lain kak
total 1 replies
Hennyy exo
suka banget alurnya thor
Black Rascall: semoga terus baca sampai selesai
total 1 replies
Hennyy exo
wow awal yg bagus kk
Black Rascall: terima kasih
total 1 replies
Uning Sodik
waduh. ru miiiit ya😄😄😄
Black Rascall: kalau gak rumit kurang Indonesia aja kak karena rumit adalah budaya
total 1 replies
Uning Sodik
duuuh .... 😄😄😄😄
Black Rascall: 🤫🤫🤫🤫🤫🤫
total 1 replies
Uning Sodik
eeeeh..blm ada yg komen
Black Rascall: makasih kak udah komen
total 1 replies
Nurhasana Oppo
laaaanjuuuuttttt kak mantap ❤️😭❤️😭😭❤️
Black Rascall: siap kak minta dukungannya dengan like dan komen biar saya makin semangat 🙏🙏🙏
total 1 replies
Sri Wahyudi
klo bisa up nya sehari 2x kak
Black Rascall: maaf ya kak soalnya ada dua karya yang saya tulis jadi gak bisa 🙏🙏🙏
total 1 replies
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Black Rascall: siap kak jangan lupa dukungannya
total 1 replies
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!