NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Beberapa hari kemudian, kondisi Zaidan menunjukkan kemajuan yang luar biasa.

Luka-lukanya mulai mengering dan pernapasannya sudah kembali normal sepenuhnya.

Dokter akhirnya memberikan lampu hijau, dan Zaidan sudah diperbolehkan pulang ke rumah kontrakan mereka yang sederhana namun penuh kenangan.

Sesampainya di rumah, aroma kayu dan tanah yang akrab menyambut mereka. Zaidan hendak membantu mengangkat tas pakaiannya, namun dengan sigap Sulfi menahan lengannya.

"Eits, tidak ada kerja berat hari ini," cegat Sulfi dengan nada tegas namun lembut. Sulfi meminta agar suaminya istirahat total di kamar.

"Mas harus ingat, pemulihan di dalam itu lebih lama daripada yang terlihat di luar. Sekarang, Mas duduk manis di kasur, biar aku yang urus semuanya."

Zaidan hanya bisa tersenyum pasrah dan menurut.

Ia merebahkan diri di ranjang, memandangi langit-langit kamar yang sederhana, merasa sangat bersyukur bisa kembali ke rumah ini dalam keadaan bernapas.

Tak lama kemudian, bunyi denting sudip dan wajan terdengar dari dapur, diikuti aroma harum yang membangkitkan selera makan.

Ia memasak sayur asem dan pepes ikan, menu favorit yang sudah lama diidamkan Zaidan sejak mendekam di rumah sakit.

Uap panas dari sayur asem yang segar dengan perpaduan rasa asam-manis menusuk indra penciuman Zaidan, ditambah aroma daun pisang terbakar dari pepes ikan yang bumbunya meresap sempurna.

Sulfi masuk ke kamar membawa nampan kayu berisi nasi hangat dan lauk-pauk tersebut.

"Masakan istriku memang paling juara," puji Zaidan saat Sulfi meletakkan nampan itu di pangkuannya.

"Makanya, Mas harus cepat pulih biar bisa menjagaku lagi," balas Sulfi sambil menyuapi suaminya dengan penuh kasih.

Di tengah kesederhanaan kontrakan itu, mereka menikmati momen tenang pertama mereka sebagai suami istri yang sah di mata hati masing-masing.

Tidak ada lagi ancaman Maya, tidak ada lagi bayang-bayang Riko. Hanya ada mereka berdua, ditemani wangi masakan rumah dan harapan baru yang mulai tumbuh.

Ketenangan siang itu di rumah kontrakan mereka terusik oleh suara mesin mobil yang berhenti di depan pagar.

Zaidan yang sedang menikmati suapan terakhir pepes ikan buatan istrinya menoleh ke arah pintu.

Tak lama, sosok wanita dengan gaya kantoran yang modis muncul dengan langkah terburu-buru.

Mereka dikejutkan dengan kedatangan Yuana yang mengatakan kalau sidang akan dilaksanakan minggu depan.

Wajah Yuana tampak serius, ia membawa sebuah map tebal berisi jadwal persidangan dari Pengadilan Negeri.

"Persiapannya harus cepat, Sulfi. Jaksa sudah merampungkan berkas dakwaan untuk Maya, Riko, dan Guntur. Hakim ketua sudah ditunjuk, dan mereka menjadwalkan sidang perdana hari Senin depan," lapor Yuana sambil meletakkan dokumen itu di meja makan.

Sulfi menarik napas panjang, matanya seketika berubah tajam dan penuh fokus.

Ia melepaskan celemeknya dan duduk di hadapan Yuana.

"Aku sudah siap. Semua bukti rekaman, aliran dana dari Maya ke Riko, hingga hasil visum Zaidan sudah aku klasifikasikan."

Yuana tersenyum puas, lalu menoleh ke arah Zaidan. "Dan Zaidan, bersiaplah. Kamu bukan hanya hadir sebagai saksi, tapi sebagai simbol kebenaran yang mereka coba lenyapkan."

Zaidan menatap istrinya yang kini kembali memancarkan aura seorang

"Singa Betina Pengadilan". Ada rasa bangga sekaligus haru di hatinya melihat Sulfi kembali ke dunianya demi membela harga diri mereka.

Ia meraih tangan Sulfi dan menggenggamnya dengan tulus.

"Sulfi sebagai pengacara suaminya, sepertinya Maya melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya karena telah membangunkan raksasa tidur seperti kamu, Sayang," bisik Zaidan.

"Terima kasih, Sayang," ucap Zaidan lagi sambil menatap mata Sulfi dengan penuh rasa cinta.

Sulfi mengangguk mantap.

"Kali ini, aku tidak akan membiarkan hukum dipermainkan oleh uang mereka, Mas. Kita akan pastikan mereka mendapatkan tempat yang layak di balik jeruji besi."

Minggu depan bukan sekadar persidangan biasa. Bagi Sulfi, itu adalah panggung pembuktian bahwa baktinya kepada suami kini sejalan dengan pengabdiannya pada keadilan.

Persiapan besar dimulai hari ini, di dapur kecil itu, di mana strategi hukum disusun di antara aroma pepes ikan dan sayur asem yang masih tersisa.

Setelah memberikan beberapa berkas penting, Yuana berpamitan untuk kembali ke firma hukum, meninggalkan pasangan itu dalam kesunyian rumah yang menenangkan.

Sulfi merapikan meja, lalu dengan lembut membantu suaminya berdiri.

Sulfi mengajak suaminya untuk istirahat di kamar agar kondisi fisiknya benar-benar bugar sebelum menghadapi jadwal sidang yang padat minggu depan.

Saat mereka baru saja merebahkan diri di ranjang, Zaidan memiringkan tubuhnya, menatap wajah Sulfi dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh damba.

Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara detak jam dinding yang mengisi ruangan.

"Sayang, kita belum pernah melakukan malam pertama. Apakah kamu mau melakukannya sekarang?" tanya Zaidan dengan suara rendah yang serak, memecah kecanggungan di antara mereka.

Sulfi tertegun sejenak. Jantungnya berdegup kencang mendengar permintaan yang jujur itu.

Ia menatap perban yang masih menempel di beberapa bagian tubuh Zaidan, merasa khawatir sekaligus tersentuh oleh keberanian suaminya.

"Mas. Apa mas sudah kuat?" tanya Sulfi lirih, tangannya mengelus lembut pipi Zaidan, memastikan tidak ada rasa sakit yang tersembunyi di balik senyum pria itu.

Zaidan menganggukkan kepalanya dengan mantap.

Ia meraih tangan Sulfi dan mencium telapak tangannya dengan takzim.

"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan keinginanku untuk memilikimu sepenuhnya, Dik. Aku ingin memulai lembaran baru kita hari ini, tanpa ada lagi bayang-bayang masa lalu atau ancaman luar. Hanya aku dan kamu," bisik Zaidan.

Sulfi tersenyum manis, sebuah anggukan kecil menjadi jawaban yang dinanti Zaidan.

Di dalam kamar sederhana itu, di bawah temaram lampu yang redup, mereka akhirnya merayakan persatuan cinta mereka yang telah melewati ujian maut.

Malam itu menjadi saksi bahwa luka fisik bisa sembuh, namun ikatan jiwa yang tulus akan tetap abadi.

Keheningan menyelimuti rumah kontrakan sederhana itu saat jarum jam menunjuk ke angka tiga.

Suasana masih sangat gelap dan dingin, namun jam tiga pagi Sulfi membuka matanya.

Ia bergerak dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak mengusik ketenangan yang sedang dinikmati suaminya.

Dengan gerakan anggun, ia beranjak menuju kamar mandi untuk mandi besar, berwudhu, membiarkan air dingin menyentuh kulitnya dan menyegarkan jiwanya.

Setelah mengenakan mukena putih bersih, ia melakukan sholat malam di sudut kamar yang sempit namun terasa sangat lapang karena ketenangan yang ia rasakan.

Dalam setiap sujudnya, Sulfi membisikkan doa yang panjang—syukur atas keselamatan Zaidan, permohonan kekuatan untuk sidang minggu depan, dan harapan agar pernikahan mereka selalu diberkahi.

Setelah mengakhiri sholatnya dengan salam, Sulfi tetap duduk bersimpuh di atas sajadah.

Ia melihat suaminya yang masih tertidur pulas di bawah selimut tebal.

Wajah Zaidan tampak sangat damai, jauh dari gurat ketegangan yang biasanya menghiasi dahinya saat bertugas sebagai detektif.

Cahaya lampu tidur yang temaram membiaskan bayangan lembut di wajah Zaidan.

Sulfi tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap pria yang kini telah menjadi dunianya itu.

Ia merasa sangat beruntung; pria yang ia selamatkan dari amukan warga tempo hari ternyata adalah sosok yang kini memberikan rasa aman yang selama ini hilang dari hidupnya.

Sulfi merapikan sajadahnya, lalu mendekat ke sisi tempat tidur.

Ia membetulkan letak selimut Zaidan yang sedikit melorot dengan sentuhan tangan yang sangat ringan.

Di saat-saat tenang seperti inilah, Sulfi menyadari bahwa perjuangannya di meja hijau minggu depan bukan hanya soal hukum, tapi soal menjaga senyum damai yang ada di wajah suaminya saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!