NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Racun di Balik Gelas Kristal

Musim semi hampir berakhir, dan sebagai kerabat dekat Raja, Daisy tidak bisa selamanya bersembunyi di balik kabut Glanzwald. Sebuah undangan resmi dengan stempel emas dari istana tiba—sebuah jamuan minum teh sore yang dihadiri oleh para wanita bangsawan kelas atas. Ibu mertuanya, Helena, memohon agar Daisy hadir untuk mewakili keluarga Eisenberg, mengingat posisi Matthew yang semakin gemilang di medan perang.

Daisy memilih gaun yang mencerminkan statusnya sebagai Duchess. Gaun sutra berwarna hijau zamrud tua yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, dengan potongan leher yang sopan namun menunjukkan jenjang lehernya yang putih porselen. Rambut hitamnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah baby facenya. Ia tampak seperti dewi yang turun dari lukisan klasik.

Acara itu diadakan di taman istana yang megah. Aroma mawar dan suara denting sendok perak mengisi udara. Daisy duduk di antara para countess yang sibuk memuji karya lagu terbarunya. Namun, suasana berubah saat seorang wanita dengan gaun merah menyala dan tatapan mata yang tajam menghampiri meja mereka.

Ia adalah Lady Beatrice, putri dari seorang Marquis yang konon hampir menjadi istri Matthew sebelum perang pecah.

"Ah, Duchess Daisy," Beatrice menyapa dengan nada yang terlalu manis untuk dianggap tulus. "Senang akhirnya melihatmu keluar dari hutan pinus itu. Kupikir kau sudah berubah menjadi lumut karena terlalu lama menunggu Jenderal Matthew."

Daisy tersenyum tenang, meski hatinya mulai waspada. "Hutan Glanzwald terlalu indah untuk ditinggalkan, Lady Beatrice. Tapi terima kasih atas perhatianmu."

Beatrice duduk di kursi kosong di samping Daisy, menyesap tehnya dengan anggun sebelum melempar bom pertama. "Kau tahu, Daisy... kau sangat cantik. Parasmu yang seperti bayi ini pasti membuat Matthew merasa harus melindungimu. Tapi aku penasaran, apakah dia pernah menceritakan padamu tentang alasan sebenarnya kenapa pernikahan kami batal?"

Daisy tetap diam, jemarinya menggenggam gagang cangkir lebih erat. Apa mereka pernah bertunangan?

"Dulu, sebelum kau datang, ada seorang gadis pelayan di paviliun utama milik Duchess Helena," lanjut Beatrice dengan suara yang cukup keras hingga beberapa orang di sekitar mereka mulai mencuri dengar. "Seorang yatim piatu yang malang. Matthew sangat terobsesi padanya. Dia mencintai gadis itu dengan cara yang... yah, kau tahu Matthew, kan? Kaku, dominan, dan posesif."

Dada Daisy terasa sesak. Nama Matthew dan kata terobsesi tidak pernah ia bayangkan dalam satu kalimat. Namun ia harus tetap tenang mendengarkan cerita ini.

"Gadis itu tidak tahan," Beatrice berbisik tepat di telinga Daisy, senyum kemenangannya merekah. "Dia kabur bersama kekasihnya—seorang dokter muda, kalau aku tidak salah ingat. Dia lebih memilih hidup biasa-biasa saja daripada harus dikurung oleh cinta Matthew yang tidak tahu cara menggunakan kelembutan. Kejadian itu memalukan keluarga Eisenberg. Ibu dan neneknya dicemooh habis-habisan karena putra mereka tidak bisa menjaga bahkan seorang pelayan."

Beatrice tertawa kecil, suara yang terdengar seperti pecahan kaca di telinga Daisy. "Jadi, jangan terlalu percaya diri dengan statusmu sekarang, Duchess Daisy. Pernikahanmu dengan Matthew hanyalah cara agar publik berhenti membicarakan skandal itu. Kau hanyalah pajangan cantik untuk membersihkan nama baik suamimu. Matthew tidak butuh cinta, dia hanya butuh perisai untuk egonya."

Daisy pulang ke Glanzwald sore itu dengan pikiran yang kacau. Kata-kata Beatrice berputar-putar di kepalanya seperti racun.

Gadis yatim piatu. Pelayan. Posesif. Pajangan.

Sesampainya di paviliun, ia tidak langsung menuju ruang kerjanya. Ia berjalan menuju dermaga, menatap sungai yang biasanya memberikan ketenangan, tapi kali ini sungai itu tampak gelap dan dingin.

Apakah benar ia hanya sebuah tameng? Apakah rasa rindu yang mulai ia pupuk selama setahun lebih ini hanyalah sebuah kesia-siaan?

Sifat gengsi Daisy bangkit dengan kemarahan yang tenang. Ia merasa bodoh karena sempat menuliskan kalimat manis di laci meja Matthew yang ternyata ikut serta dengan surat-surat lainnya. Ia merasa bodoh karena merawat bunga-bunga itu seolah-olah mereka adalah saksi cinta.

"Jadi itu sebabnya kau begitu biasa-biasa saja padaku?" Gumam Daisy pada air sungai. "Karena kau tidak tahu cara mencintai tanpa menghancurkan orang lain? Atau karena kau masih merindukan gadis yang lebih memilih orang lain daripada dirimu?"

Malam itu, Daisy tidak menyentuh keyboardnya. Ia tidak menyentuh kanvasnya. Ia hanya duduk di perpustakaan, menatap barisan buku sejarah milik Matthew. Ia mencari-cari tanda, mencari-cari bukti di antara barang-barang suaminya.

Ia membuka laci meja kerja Matthew—tempat ia menyimpan surat-suratnya. Di sana, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terkunci. Dengan rasa penasaran yang membakar, Daisy mencoba membukanya dengan jepit rambutnya kemampuan yang ia pelajari saat melakukan riset untuk komik detektifnya.

Klik.

Kotak itu terbuka. Di dalamnya tidak ada foto gadis pelayan itu. Hanya ada beberapa koin militer kuno, sebuah medali keberanian milik mendiang ayah Matthew, dan... sebuah pita rambut berwarna hitam yang sudah usang.

Hati Daisy mencelos. Apakah ini milik gadis itu? Pita sederhana yang tidak mungkin milik seorang bangsawan.

Air mata mulai menggenang di mata coklat madunya. Di usianya kini dua puluh lima tahun, dengan segala kesuksesan dunia di tangannya, Daisy merasa sangat kecil dan tak berarti. Ia adalah The Muse bagi jutaan orang, tapi mungkin ia hanyalah Pengganti bagi suaminya sendiri.

Keesokan harinya, Daisy menjadi sosok yang berbeda. Kehangatan yang mulai tumbuh beberapa bulan terakhir seolah membeku kembali. Ia tetap melakukan rutinitasnya, memetik bunga dan memotret, namun ekspresi wajahnya datar dan dingin.

Sifat mandiri Daisy mengambil alih. Jika ia memang hanya dijadikan pajangan, maka ia akan menjadi pajangan yang paling mahal dan tak tersentuh. Ia mulai merencanakan sebuah proyek komik baru yang menceritakan tentang seorang Jenderal yang kehilangan segalanya karena kesombongannya. Ini adalah caranya membalas rasa sakit hatinya.

Namun, di tengah kemarahannya, sebuah surat baru tiba dari markas besar. Kali ini amplopnya tampak sedikit kotor, menunjukkan betapa sulitnya surat itu mencapai tujuannya.

Daisy menatap amplop itu dengan sinis sebelum membukanya.

"Musim panas ketiga akan segera tiba. Aku menghitung hari untuk melihatmu kembali, Daisy. Aku harap kau tidak lupa bagaimana suaraku."

Daisy meremas surat itu. "Aku tidak lupa suaramu, Matthew. Tapi aku tidak tahu siapa kau sebenarnya."

Ia melemparkan surat itu ke meja. Ia tidak membalasnya. Untuk pertama kalinya, Daisy membiarkan keheningan Glanzwald menjadi benar-benar hening. Tidak ada lagu, tidak ada tawa Lily yang berkunjung, hanya suara goresan pena yang penuh dengan rasa kecewa.

Ia memutuskan untuk tidak bertanya pada Helena atau sang Nenek. Ia ingin mendengar kebenaran itu langsung dari mulut Matthew saat musim panas ketiga tiba. Ia ingin melihat mata dark blue itu dan bertanya: Siapakah aku bagimu? Seorang Duchess, seorang pajangan, atau sekadar cara untuk melupakan masa lalumu yang memalukan?

Kini semua berubah menjadi bara yang memanas. Kerinduan Daisy kini tercampur dengan kecurigaan yang tajam. Dan di medan perang yang jauh, Matthew tidak tahu bahwa kepulangannya nanti tidak akan disambut oleh mawar kecil yang manis, melainkan oleh seorang wanita jenius yang telah menyiapkan duri-duri tajam untuk menyambutnya.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!