NovelToon NovelToon
CEO Itu Ayahku

CEO Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: T Moel

Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontak Bathin.

Leon menghampiri sebuah etalase yang terdapat banyak roti, di sana ada seorang wanita memakai masker yang sedang melayani pembeli. Entah dorongan dari mana, Leon datang menghampiri wanita tersebut. Leon menyapanya dengan sopan.

Entah kenapa hati Leon seolah merasa tenang menatap mata wanita tersebut yang dari matanya terlihat sangat cantik.

Sedang kan wanita itu yang tidak lain adalah Rania merasa terkejut karena melihat Leon yang tiba tiba saja sudah berada di depannya. Kilasan masa lalu yang membuat.nya harus pergi dari rumah nyamannya. Hatinya bergetar karena ada kebencian namun juga ada sebuah getaran yang entah sangat sulit di artikan.

"Selamat siang tuan, apa ada yang bisa saya bantu? " Dengan suara yang bergetar Rania menyapa Leon.

Sedangkan Leon seperti ada sebuah dorongan untuk terus menatap mata tersebut. .

"Oh iya, saya tidak tahu apa yang telah terjadi dengan diri saya, namun sesuatu yang menarik hati saya untuk datang ke tempat ini." Jujur Leon berkata.

"Oh mungkin ada kontak bathin dengan tempat ini atau ada kenangan dengan tuan di tempat ini. "

"Saya tidak tahu, mungkin saya pernah ke tempat ini atau tidak karena memang bukan yang pertama kali saya datang ke Borneo ini. "

Rania hanya diam, namun hatinya bergemuruh serasa ingin meledak, semakin banyak Leon berbicara semakin sesak dadanya. Ingin rasanya Rania berlari dari hadapan Leon, namun tubuh ini terasa tidak berdaya, dan entah kenapa bayi yang ada di dalam kandungan nya sangat aktif mungkin mereka bahagia karena bisa mendengar suara ayahnya.

'Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan, berikanlah pertolongan Mu. " Bathi Rania.

Di saat hatinya sedang tidak tenang, dadanya yang terasa sangat sesak, tiba tiba saja pertolongan datang, seorang karyawan meminta bantuan karena ada konsumen yang ingin bertemu dengan Rania.

"Maaf tuan, saya tinggal dulu, biar tuan di layani oleh karyawan saya. " Rania bermata sopan.

"Silakan nona. " Leon menatap kepergian Rania dengan pandangan yang dirinya tidak tahu ada apa dengan hatinya.

Leon tidak mengenali Rania, karena wajahnya tertutup masker dan penampilan Rania saat ini telah menggunakan hijab. Dan juga saat di apartemen nya dulu, Rania tidak berbicara sehingga Leon tidak mengenali suara Rania.

"Maaf tuan, rotinya ambil yang mana ya? " Leon tersentak dari lamunannya, dengan tergagap Leon memborong semua roti yang ada di etalase.

"Oh ini anu e e saya ambil semua roti yang ada di etalase saja. "

"Baik tuan. "

"Billing nya nanti serahkan saja pada asisten saya. "

Leon memanggil Ryan dan memintanya untuk menyelesaikan pembayaran roti yang baru saja di belinya. Ryan hanya mengangguk saja walaupun wajahnya merasa heran kenapa bosnya memborong semua roti yang ada di etalase toko tersebut. Dan anehnya Leon tidak mual saat mencium aroma roti yang ada di toko tersebut, karena biasanya Leon akan mual jika mencium aroma roti.

Sementara itu Rania yang sedang berada di ruangannya menangis tersedu sedu mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Laki laki yang pernah menghancurkan hidupnya ada di hadapannya, dunia begitu sempit, hingga orang yang ingin di hindarinya ada di depan matanya.

"Ya Tuhan, mengapa harus seperti ini orang tidak ingin hamba tenui justru saat ini berada di depan ku. "

Bu Arini masuk ke dalam ruangan Rania yang sedang menangis. Melihat anaknya menangis bu Arini segera memeluknya dan bertanya "Ada apa nak, apa ada orang yang sudah menyinggung kamu? "

"Tidak ada bu, hanya saja orang yang pernah menghancurkan hidup ku tadi ada di depan ku. " Rania menangis di pelukan bu Arini.

"Apa maksud kamu, ibu tidak mengerti? "

"Maksud Ran orang yang telah menanam benih dalam rahim Rania bu. ' Kembali Rania menangis.

Mendengar penuturan puteri nya, bu Arini pun ikut menangis, karea dirinya menjadi saksi bagaimana Rania terpuruk dan berusaha untuk bangkit kembali untuk menata hidupnya. Dan setelah hidupnya mulai tertata serta menerima kehadiran calon buah hati nya, tiba tiba orang yang sudah menghancurkan hidupnya ada di depan matanya.

" Apa orang itu masih ada di toko roti kita? "

"Entah lah bu, tadi Ran meninggalkannya dengan Nina, karena tadi ada bu Daus yang minta di buatkan roti buaya untuk sunatan masal di yayasan yatim piatu nya. "

"Coba ibu akan lihat di CCTV. " Bu Arini tampak melihat CCTV yang ada di dalam ruangan Rania.

Dengan teliti, bu Arini melihat tayangan CCTV, satu persatu di lihatnya.

"Maksud kamu yang ini? "

"Iya bu, orang yang berbicara dengan Rania. "

"Sepertinya orang itu bukan orang biasa, seperti seorang yang berpengaruh di negeri ini. " ujar bu Arini.

"Iya bu, dia memang seorang pengusaha sukses yang memiliki perusahaan di hampir semua negara, dia orang yang terkaya di Asia."

"Tapi kenapa laki laki seperti itu bisa menodai gadis seperti kamu. "

Rania hanya terdiam dan tidak banyak bicara. Bu Arini pun tidak berbicara lagi, melihat putrinya terlihat sangat terpukul dengan kenyataan yang ada.

"Ran, sudah ya jangan menangis lagi, nanti bayinya ikut sedih. " Bu Arini mengelus lembut punggung Rania.

"Iya bu, Rania akan berusaha untuk tetap tegar demi bayi yang Ran kandung. " Rania mengusap perutnya yang sudah terlihat buncit, karena hamil bayi kembar padahal usia kandungan nya baru menginjak 4 bulan.

Leon yang masih terpaku di tempat nya merasakan getar getar aneh saat berbicara dengan wanita yang memakai masker tadi. Leon merasakan seperti ada kedekatan emosional dengan wanita itu.

"Ya Tuhan apa yang sudah terjadi dengan diriku, wanita itu bukan siapa siapa, namun kenapa ada gelenyar aneh yang aku rasakan. " Gumamnya.

"Tuan, semuanya sudah selesai, roti yang anda beli tadi sudah di kemas sebagian sudah di bagikan pada masyarakat sekitar, sebagian ada di mobil untuk kita bagikan di lampu merah. " Jelas Ryan.

Leon mengangguk kemudain berjalan keluar toko roti, namun sebelum nya melihat kembali ke tempat wanita tadi berbicara.

"Semoga kita akan bertemu lagi di lain kesempatan, dan akan aku cari apa yang membuatku merasakan perasaan aneh ini. "

Leon melangkahkan kakinya keluar dari toko roti kemudain masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang berkecamuk.

Rania yang melihat Leon dari CCTV mengusap perutnya seraya berkata pada kedua bayi kembarnya.

"Mamah tahu pasti kalian berdua yang sudah memanggil papah ke sini. Kalian memang pintar. " Terasa ada sebuah tendangan dari perut Rania yang terkekeh pelan karena merasa geli dan juga ngilu.

"Ran, sebaiknya mulai saat ini, kamu jangan datang dulu ke toko roti yang di sini, ibu khawatir lelaki itu akan datang kembali ke sini atau menyelidiki siapa kamu. " Bu Arini terlihat wajahnya sangat khawatir.

"Iya bu, Ran juga berpikir seperti itu sesaat setelah Ran bertemu dengan laki laki itu. " Rania meng iya kan saran dari ibunya demi kebaikan bayi yang sedang di kandungnya.

"Sekarang kita pulang saja, pekerjaan hari ini sudah selesai kan? "

"Sudah bu, Ran mau ambil dulu roti kesukaan si kembar. " Rania beranjak dari duduknya berjalan ke etalase yang terdapat roti kesukaan nya.

Menggunakan taksi online, keduanya pulang ke rumah, Rania duduk sambil memejamkan mata mengingat kejadian tadi di toko roti miliknya.

Rania tidak ingin sampai Leon tahu kalau perbuatan nya malan itu membuahkan bayi bayi yang ada di dalam perutnya sekarang. Rania takut jika Leon tahu dirinya sedang hamil anak kembar, leon akan membawa dirinya ke ibukota dan setelah melahirkan bayi kembarnya akan di ambil dan dirinya akan di campakkan. Membayangkan hak itu membuat Rania bergidik ngeri.

Setelah satu jam perjalanan, Rania dan ibunya sudah sampai di depan rumah rumah mungil milik nenek buyut nya. Rumah tempat nya pulang yang membuat merasa sangat nyaman dan aman dari kerasnya dunia luar.

Beruntung Rania memiliki ibu yang sangat menyayangi dirinya, mempertaruhkan segalanya untuk melindungi dirinya dan kedua bayi kembarnya.

"Bu, roti ini Ran harus simpan di mana? "

"Rotinya mau di simpan di atas meja makan atau mau kamu simpan di dalam kamar jika nanti kamu lapar tidak harus mencari makanan lagi keluar kamar. ""

"Iya bu... "

"Sebagian simpan di dalam kamar, dan sebagian lagi simpan di depan buat camilan, dan jagan lupa berikan juga beberapa roti ke tetangga sebelah. Biar mereka menikmati kelezatan roti toko kita sambil kita promosi produk baru kita. Tetangga kita banyak yang menyukai berbagai macam varian roti yang kita produksi. "

"Ran masuk kamar dulu ya, rasanya kepala ini pusing sekali, di tambah lagi si kembar aktif sekali. "

"Iya nak lebih baik kamu istirahat saja, tenangkan pikiran mu, ajak si kembar berbicara. Walaupun masih dalam perut, tapi bayi yang ada dalam kandungan sudah mengerti apa yang kita bicarakan."

Rania masuk ke dalam kamar nya untuk mengistirahatkan badannya yang terasa sangat lelah, mungkin karena perutnya yang semakin besar melebihi usia kandungannya.

Waktu sudah berganti pagi, nyonya Erlina dan tuan Aditama sedang bersiap untuk sarapan pagi bersama Leon.

"Mah bagaimana kelanjutannya pertunangan Leon dan Stela, kapan mereka akan meresmikan ke jenjang pernikahan? "

"Mamah tidak berani membicarakannya dengan Leon, papah tahu sendiri kan bagaimana saat Leon menentang pertunangan itu, jika bukan karena papah mungkin Leon tidak akan menerima pertunangan itu, apalagi kalau mamah sampai menyinggung tentang pernikahan Leon dan Stela, mungkin saja Leon akan benci dengan mamah. "

Tuan Aditama tampak terdiam, seperti sedang menimbang baik buruk nya jika rencana pernikahan Leon dan Stela di bicarakan. Bukannya tidak sayang, tuan Aditama merasa berhutang budi dengan keluarga Stela.

"Pagi mah pah. "

Sapaan Leon membuyarkan lamunan tuan Aditama, shingga membuatnya menghela nafas seperti ada beban besar dalam hati tuan Aditama.

"Pagi sayang, bagaimana kabar kamu, kemarin mamah tidak melihat Leon datang, hanya ada roti saja di meja makan, bi Asih bilang kamu yang bawa. "

" Iya mah, kemarin saat Leon meninjau proyek yang bekerja sama dengan BUSTAMI CORP, entah kenapa tiba tiba hati kecil Leon seperti ada yang menggerakkan untuk datang ke tempat toko roti itu. "

"Lalu di sana kamu mendapatkan apa? " tuan Aditama bertanya.

"Di toko roti iti ada seorang wanita yang dari tatapan matanya seperti tatapan mata uang Leon kenal. Dan di sana hati Leon semakin bergetar. "

"Coba mamah coba rotinya seperti nya enak. "

Nyonya Erlina mencicipi roti yang di bawa oleh Leon. Terlihat sangat menikmati roti tersebut, hingga tuan Aditama pun merasa ingin mencicipi roti itu.

"Benar benar enak roti ini, sayang sekali tempatnya sangat jauh. "

"Memang kenapa mah dengan tempatnya? "

"Kan kalau dekat mamah bisa pesan lebih banyak buat teman arisan mamah. "

"Walaupun jauh kan bisa pesan minta dikirim di hari mamah ada arisan., biar rotinya masih fresh. pakai paket kilat. "

"Benar juga ya pah, kok mamah ga kepikiran ya. " Nyonya Arini tertawa pelan.

"Oh iya sayang, mamah kok ga melihat kalung yang biasa kamu pakai, yang di berikan opa, kalung liontin turun temurun. "

Leon meraba lehernya, dirinya baru menyadari jika kalung liontin itu sudah tidak ada di lehernya.

"Leon bahkan lupa dengan kalung itu kalau mamah tidak mengingatkan nya. Apa mungkin jatuh, tapi dimana? " Leon bertanya pada diri sendiri.

"Kalung itu warisan keluarga kita, hanya ada satu di dunia ini karena kakek buyut kamu yang membuat sendiri kalung itu. " Tuan Aditama angkat bicara.

"Iya sayang, coba nanti kamu cari lagi, jangan sampai kalung itu hilang. "

"Iya mah, nanti Leon akan cari lagi sampai ketemu. Leon berangkat dulu ya sudah siang."

Leon beranjak dari duduknya, setelah pamit pada kedua orang tuanya, Leon pergi ke kantornya.

Sementara kalung yang sedang di bicarakan keluarga Aditama sedang berada dalam genggaman Rania, di pandangi terus kalung itu, sambil sesekali meraba perutnya yang sudah terlihat besar.

"Tidak sia sia aku mengambil kalung ini, karena suatu saat nanti kelak kedua anakku sudah besar, akan ku berikan kalung ini pada mereka berdua, agar anak anakku kelak mendapatkan pengakuan dari keluarga Aditama, namun sebelum nya akan ku buat mereka menderita terlebih dahulu melalui kalung ini. "

Rania meletakkan kembali kalung itu ke dalam sebuah kotak beludru berwarna merah marun,a disimpan rapi di dalam laci.

Selama masa kehamilan nya ini, Rania sama sekali tidak pernah merasakan mual muntah seperti ke kebanyakan wanita hamil lainnya. Rania sendiri sempat heran namun juga bersyukur kehamilan nya tidak membuatnya repot dengan keinginan yang di luar nalar. Karena jika itu terjadi, mungkin hanya akan menyiksa batin Rania, karena pasti akan banyak keinginan yang tidak akan terlaksana karena tidak ada orang yang akan membantunya, hanya ibu yang di andalkan dan jika hal itu terjadi Rania tidak tega untuk meminta ibunya mencari apa yang di inginkan nya, karena pastinya benda atau makanan yang sangat sulit di dapatkan.

Rania sempat berpikir apa mungkin Leon yang mengalami mual dan muntah serta ngidam. Rania akan sangat bersyukur jika hal itu terjadi, setidaknya Leon punya banyak uang dan banyak orang yang bisa mewujudkan semuanya.

1
tia
lanjut thor
tia
cepat satukan thor kembar sama papa nya
Nadia salma: ada lika liku dulu kak, biar ada gregetnya
total 1 replies
tia
tambah lagi Thor 🫢,,suka cerita ny
Nadia salma: siap kak...
total 1 replies
tia
update yg banyak lah thor
Nadia salma: akan saya usahakan kak, karena saya sambil kerja membagi waktu. Terima kasih sudah menyukai karya saya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!