Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Hari H
Meskipun sudah berusaha untuk bersikap biasa saja, tak bisa dipungkiri Vivi sebenarnya masih sangat kepikiran.
Apa yang harus aku lakukan? Apa iya aku harus pergi besok ke apartemen Althan? Apa yang harus aku lakukan pertama kali saat sampai sana? Haruskah aku kabur saja?
Dan pertanyaan pertanyaan lain yang membuatnya benar-benar tak bisa fokus hari ini.
"Mbak, aku kan mintanya dicat warna merah, kenapa jadi blonde?"
Vivi terhenyak. Astaga! Saking tidak fokusnya, dia sampai salah melayani pelanggan.
"Ma maaf kak, maaf, saya benar benar nggak sengaja," Vivi berulang kali meminta maaf.
"Vi," Farida yang melihat hal itu langsung mengambil alih. "Udah, kamu istirahat aja sana. Atau nggak pulang aja dulu, biar lebih tenang,"
Vivi menghela napas panjang, lalu menganggukkan kepala. "Aku bener bener minta maaf mbak,"
"It's okey, udah sana,"
Pada akhirnya, Vivi pun meminta izin untuk pulang cepat.
Benar benar kacau, batinnya. Apa ini adalah karma yang harus kubayar karena dulu telah menyakiti Althan?
Sembari mencoba menenangkan diri, Vivi pun pergi ke rumah Rika untuk menjemput Mikaila. Melihat kedatangan mamanya, Mikaila langsung tersenyum gembira.
"Mama!" gadis kecil itu berlari menyambut kedatangan Vivi.
"Hai sayang..." Vivi tersenyum sambil mengecup pipi Mikaila.
Rika dan mamanya lalu muncul dari dalam rumah.
"Loh, tumben sudah pulang, Vi?" tanya mamanya Rika dengan nada sedikit heran.
"Iya mbak, soalnya hari ini aku dapat izin buat pulang cepat," Vivi berusaha tetap terdengar ramah. "Makasih juga ya mbak, untuk hari ini. Kalau bukan karena kamu, aku nggak tau harus nitipin Mikaila kemana lagi," ucapnya dengan tulus.
"Sama-sama Vi," Anita, nama mamanya Rika, mengelus pipi Mikaila lembut. "Mikaila anak yang pintar dan baik, dia sama sekali nggak merepotkan. Kamu tau nggak, akhir akhir ini Rika jadi bisa membaca berkat bantuan Mikaila loh,"
"Oh ya?" Vivi mengangkat alis, merasa takjub mendengarnya.
"Iya. Rika sekarang juga sudah hapal perhitungan tambah tambahan sampai angka lima. Mikaila benar-benar hebat, Vi. Aku justru berterima kasih karena Mikaila mau berteman dengan Vivi. Kalau tidak, mungkin sampai sekarang Rika masih sulit bergaul,"
Vivi tersenyum. Ada rasa bangga hinggap di hatinya saat mendengar ucapan Anita.
Memang, dulu Vivi adalah orang yang pertama kali mendekati Rika duluan. Rika punya penyakit sejak kecil, jadi dia banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Setelah penyakitnya membaik, dia pun ke sekolah dan kesulitan untuk bergaul. Untungnya Vivi adalah anak yang ceria dan supel, jadi dia membantu Rika untuk bergaul dengan teman teman lainnya. Di saat itulah pertemanan antara Vivi dan Anita terjalin sampai sekarang.
Selesai bercakap-cakap dengan Anita dan Rika, Vivi dan Mikaila pun pamit pulang.
Karena masih ada waktu, Vivi pun mengajak Mikaila untuk pergi ke supermarket membeli eskrim kesukaannya. Mikaila sangat senang, karena jarang mamanya memperbolehkan membeli eskrim kalau bukan waktu waktu tertentu.
"Gimana? enak, nggak?" tanya Vivi saat mereka duduk di taman dekat supermarket untuk memakan eskrim.
"Enyak!" Mikaila menjawab dengan mulut yang masih belepotan eskrim. Vivi tertawa, ia mengusapkan tisu ke mulut sang putri.
"Meskipun enak, tapi nggak boleh sering sering ya,"
"Oke Mama,"
Vivi tersenyum. Mikaila adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuknya di masa masa tersulit. Saat ia harus menjalani kehidupan saat hamil sendirian tanpa orang-orang terdekat. Kehadiran Mikaila membuat gairah hidupnya serasa muncul kembali.
Vivi mengedarkan pandangan ke arah lapangan di dekat taman. Ada beberapa anak laki-laki seusia Mikaila yang sedang bermain sepak bola bersama ayahnya. Tak jauh dari sana, ada juga anak perempuan yang berteriak kegirangan saat ayahnya mengangkat tubuhnya ke atas pundak.
Dada Vivi tiba tiba terasa sesak. Diam diam ia melirik ke arah Mikaila, menebak nebak apa kira kira yang ada di kepala gadis kecil itu. Apakah Mikaila merasa iri dengan mereka?
Sebenarnya, dulu pun Vivi pernah merasakan iri seperti itu. Sejak kecil, dirinya sudah ditinggalkan di panti asuhan karena orang tuanya meninggal setelah kecelakaan, dan tidak ada yang mau mengurusnya. Vivi jadi tau betul bagaimana rasanya kesepian dan merindukan kasih sayang orang tua tapi tak bisa mendapatkan. Sebenarnya pun, ia tak ingin anaknya merasakan hal yang sama. Tapi mau bagaimana lagi, sudah jalannya seperti itu.
Maka dari itu, Vivi berusaha untuk memenuhi tangki cinta Mikaila. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa Mikaila masih bisa merasakan kasih sayang secara utuh meskipun tanpa kehadiran seorang ayah. Meskipun kadang-kadang Mikaila pernah beberapa kali bertanya tentang ayahnya, Vivi hanya menjawab seadanya, dan setelah itu Mikaila tidak akan bertanya lagi.
"Ma, Ma,"
Sentuhan Mikaila pada punggung tangannya membuat Vivi tersentak.
"Eh, iya sayang, ada apa? Mikaila sudah selesai makan?"
"Sudah," Mikaila mengangguk. "Yuk, kita pulang,"
Vivi tersenyum getir, lantas menganggukkan kepala. "Oke, yuk,"
Mereka pun bergandengan tangan keluar dari taman.
Diam-diam, Mikaila sempat melirik ke arah belakang, di lapangan tempat anak anak bermain tadi. Sebenarnya Mikaila tau kalau mamanya sempat memperhatikan itu tadi.
Kasihan, mama pasti sedih karena kangen papa. aku harus menghiburnya nanti, batin Mikaila di dalam hati.
...****************...
Sore pun berganti malam, dan malam pun dengan cepat berganti pagi.
Vivi merasa ia belum bisa memejamkan mata sama sekali, tapi tiba-tiba fajar sudah menyingsing.
"Bagaimana ini?" Vivi berjongkok di depan pintu kontrakannya. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Mama ngapain?" Mikaila yang baru keluar dari kamar terheran-heran melihat tingkah Vivi. "Mama sakit?"
"Hah? nggak..." Vivi buru buru menggeleng. "Mama nggak sakit kok. Mikaila udah siap? Yuk kita berangkat sekarang," Katanya sambil berusaha tersenyum lebar.
"Ayok," Meskipun heran, Mikaila tetap menggandeng mamanya keluar dari rumah.
Selesai mengantar Mikaila, Vivi pun bergegas menuju apartemen Althan, yang alamatnya telah dikirimkan oleh Roni. Sepanjang perjalanan, hati Vivi terus berdebar tak karuan. Ia bahkan beberapa kali menggigit bibir karena gugup.
Begitu sampai di depan gedung apartemen, ia menghela napas panjang.
Gedung ini berbeda dengan gedung apartemen Althan dulu. Gedung ini jauh lebih besar dan kelihatan mahal dibanding sebelumnya. Wajar, karena dulu saat bersama Vivi, Althan masih seorang artis baru, berbeda dengan sekarang.
"Rileks, Vivi... lakukan seperti kemarin kemarin, seolah kamu nggak kenal dia. Semuanya akan baik baik saja,"
Ia pun naik ke lantai atas, tempat apartemen Althan berada.
Sesampainya di depan pintu, Vivi segera memencet bel. Ia menunggu, tapi tidak ada yang membukakan. Ia pun segera menekan bel lagi, untuk yang kedua kali, barulah terdengar ada orang yang membuka kunci Pintu dari dalam.
"Oh, mbak Vivi ya," Roni yang muncul dari balik pintu. "Masuk mbak,"
"Iya," Vivi tersenyum canggung, kemudian ia pun masuk dengan hati-hati.
"Tunggu disini dulu ya, Althan kayanya masih mandi," Roni menunjuk ke atas sofa di depan televisi.
"Iya Mas," Vivi menurut dan duduk di atas sofa.
Sembari menunggu, Vivi pun mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bagian dalam apartemen ini terlihat mewah sekali. Ada banyak barang barang yang terlihat baru tertata di sana. Di tengah ruangan, juga terdapat foto Althan yang sangat besar memenuhi dinding.
Vivi sempat tertawa dalam hati. Aku baru tau kalau dia senarsis itu, padahal sepertinya dulu dia sedikit pemalu.
"Sudah datang?"
Suara Althan memecah keheningan, membuat Vivi sontak menoleh ke sumber suara. Dan seketika matanya membola.
Althan muncul dari kamarnya dengan hanya menggunakan handuk terlilit di pinggang.
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara