NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Labirin Cermin Masa Lalu

​Cahaya ungu yang menyembur dari gerbang benteng Utara itu terasa dingin, bukan panas seperti api. Aruna merasakan kulitnya meremang, seolah ada ribuan semut tak kasat mata yang merayap di sekujur tubuhnya. Pandangannya mulai mengabur, dan untuk sesaat, dinding batu benteng itu tampak transparan, memperlihatkan bayangan gedung-gedung tinggi dan lampu neon dari dunianya yang dulu.

​"Jangan menatap cahayanya terlalu lama, Aruna! Fokus pada tujuanku!" suara Barka menyentak kesadaran Aruna.

​Barka menarik kasar lengan Aruna, menyeretnya menjauh dari bibir jurang tempat Arvand baru saja jatuh. Aruna masih terisak, matanya terus menatap reruntuhan jembatan yang terbakar di bawah sana. "Arvand... dia masih di bawah sana, Barka! Kita harus menolongnya!"

​"Jenderal itu punya nyawa sembilan. Jika kau diam di sini, kau hanya akan membuat pengorbanannya sia-sia!" Barka menunjuk ke arah kereta kuda Arel yang sudah tertelan masuk ke dalam benteng. "Lihat! Cahaya itu berasal dari ruangan tempat mereka membawa Arel!"

​Aruna menghapus air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. Amarah mulai menggantikan rasa sedihnya. Siapa pun yang berada di dalam benteng itu, siapa pun yang berani menyentuh Arel dan menggunakan kekuatan aneh ini, mereka harus membayar.

​"Ayo," desis Aruna. Suaranya kini terdengar berbeda... dingin dan penuh obsesi.

​Mereka berlari menyelinap di antara bayang-bayang dinding benteng. Barka tampaknya sangat mengenal tempat ini, dia tahu celah-celah kecil yang tidak dijaga oleh prajurit Utara. Namun, ada yang aneh. Para prajurit di benteng ini tidak bergerak. Mereka berdiri tegak seperti patung, mata mereka putih kosong, dan mulut mereka komat-kamit menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

​"Mereka terkena pengaruh sihir ruang dan waktu," bisik Barka. "Seseorang sedang mencoba membuka pintu antar dunia secara paksa."

​Mereka sampai di depan sebuah pintu besi besar yang diukir dengan simbol matahari terbenam. Cahaya ungu merembes dari celah pintu itu. Aruna bisa mendengar suara tangisan Arel dari dalam, tapi suara itu terdengar bergema, seolah datang dari tempat yang sangat jauh.

​"Arel!" Aruna hendak menerjang pintu itu, tapi Barka menahannya.

​"Tunggu! Di dalam sana ada seseorang yang menyebut dirinya 'Sang Penulis'. Dia yang mengatur agar kau masuk ke tubuh Ratri," Barka mengeluarkan belatinya. "Dia ingin menukar nyawa Arel dengan energi untuk kembali ke dunianya."

​Aruna terbelalak. "Menukar nyawa? Jadi Arel hanya tumbal?"

​"Ya. Karena Arel adalah satu-satunya karakter yang memiliki darah murni dari garis keturunan asli dunia ini yang masih suci," Barka menatap Aruna dengan tatapan bersalah. "Dulu aku membantunya karena dia menjanjikan kekuasaan padaku. Tapi setelah melihat apa yang terjadi di lembah... aku sadar dia hanya ingin menghancurkan dunia ini."

​Aruna menendang pintu besi itu dengan sekuat tenaga. Brak!

​Ruangan di balik pintu itu sangat luas, berbentuk lingkaran dengan lantai yang terbuat dari kaca hitam. Di tengah ruangan, Arel terikat di atas sebuah altar batu yang dikelilingi oleh pilar-pilar cahaya ungu. Dan di depan altar itu, berdiri seorang pria dengan pakaian modern. Kemeja hitam motif kotak-kotak dan celana kain yang sangat kontras dengan lingkungan kuno ini.

​Pria itu berbalik. Wajahnya terlihat lelah, dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet digital yang layarnya bercahaya terang.

​"Aruna... akhirnya kau sampai juga di bab terakhir ini," ujar pria itu dengan nada santai, seolah mereka sedang bertemu di kantor penerbitan.

​"Siapa kamu?" suara Aruna bergetar karena amarah.

​"Namaku tidak penting. Di sini, aku adalah penciptamu. Aku yang menulis setiap penderitaanmu, setiap trauma yang kau rasakan, dan setiap kali kau hampir mati," pria itu melangkah mendekati Arel, jemarinya menggeser sesuatu di layar tabletnya. "Kau tahu, menulis cerita tentang 'Ibu Jahat' itu sangat membosankan jika tidak ada drama perpindahan jiwa. Jadi, aku membawamu ke sini untuk memperumit plotnya."

​"Lepaskan anakku!" Aruna menerjang, tapi sebuah dinding transparan tak kasat mata mementalkannya kembali ke lantai kaca.

​Pria itu tertawa kecil. "Anakmu? Dia hanya rangkaian kata-kata di layarku, Aruna. Dia tidak nyata. Begitu aku menekan tombol 'Selesai', dia akan hilang, dan aku akan kembali ke apartemenku di Jakarta dengan royalti yang besar."

​Arel menangis, menatap Aruna dengan mata memohon. "Ibu... tolong... ini sakit..."

​Melihat Arel kesakitan, rasa bersalah dan obsesi pelindung Aruna meledak. Ia bangkit berdiri, matanya menyala. "Dia mungkin hanya kata-kata bagimu, tapi bagiku dia adalah segalanya! Dia punya detak jantung, dia punya air mata, dan dia punya ibu yang akan membunuhmu jika kau menyentuhnya!"

​Aruna meraba sakunya dan menemukan kunci perunggu yang diberikan Seraphina tadi. Kunci itu mulai bersinar keemasan, menolak cahaya ungu di ruangan itu.

​"Kunci itu..." Pria berbaju modern itu tampak terkejut. "Bagaimana bisa kunci itu ada padamu? Itu tidak ada dalam naskahku!"

​"Karena naskah ini sudah bukan milikmu lagi sejak aku memutuskan untuk mencintai anak ini!" Aruna menusukkan kunci perunggu itu ke lantai kaca hitam di bawah kakinya.

​Prang!

​Lantai kaca itu retak seribu. Cahaya ungu yang mengelilingi altar Arel mulai bergetar hebat. Pria itu panik, ia mencoba mengetik sesuatu di tabletnya dengan terburu-buru. "Tidak! Jangan merusak alurnya! Kau harus mati di bab ini agar Arvand bisa menjadi pahlawan tunggal!"

​Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah pintu masuk yang hancur. Aruna menoleh dan jantungnya melonjak kegirangan.

​Arvand berdiri di sana. Bajunya basah kuyup, rambutnya berantakan, dan pundaknya bersimbah darah, tapi ia masih memegang pedangnya dengan kokoh. Di belakangnya, Seraphina muncul dengan kipas besinya yang sudah terbuka.

​"Maaf aku terlambat, Ratri. Sungainya agak dalam," ujar Arvand dengan senyum miring yang khas.

​"Arvand!" Aruna berteriak lega.

​Pria berbaju modern itu mundur ketakutan. "Bagaimana... bagaimana kau bisa selamat? Harusnya kau mati di jurang itu! Itu hukum naskahnya!"

​Arvand melangkah maju, pedangnya menunjuk tepat ke tenggorokan sang pria. "Aku tidak tahu naskah apa yang kau bicarakan, tapi di duniaku, seorang ayah tidak akan mati sebelum dia memastikan anaknya aman."

​Seraphina mendekati Aruna. "Cepat, Aruna! Gunakan kuncinya untuk memutuskan koneksi tablet itu dengan altar! Hanya kau yang bisa menyentuhnya karena kau berasal dari dimensi yang sama!"

​Aruna menerjang ke arah pria itu. Arvand memberikan pengalihan dengan menebas pilar-pilar cahaya ungu yang mencoba menghalangi jalan Aruna. Barka ikut menyerang prajurit-prajurit bayangan yang tiba-tiba muncul dari lantai.

​Aruna berhasil mencapai pria berbaju modern itu. Ia merampas tablet digitalnya dan menghantamkannya ke sudut altar batu.

​"TIDAAAKKK!" teriak pria itu.

​Tablet itu hancur, mengeluarkan percikan listrik yang aneh. Cahaya ungu di ruangan itu mendadak tersedot masuk ke dalam retakan lantai, menciptakan pusaran angin yang sangat kuat. Arel terlepas dari ikatannya dan langsung ditangkap oleh Arvand.

​Pria berbaju modern itu mulai memudar, tubuhnya menjadi transparan. "Kalian tidak mengerti... jika aku hilang, dunia ini akan menjadi tidak stabil! Kalian akan terjebak dalam kehampaan!"

​"Aku lebih baik terjebak di sini bersama keluargaku daripada membiarkanmu mengatur hidup kami!" balas Aruna tegas.

​Pria itu menghilang sepenuhnya, meninggalkan keheningan yang mencekam. Namun, pusaran angin di tengah ruangan tidak berhenti. Justru semakin besar, mulai menarik segala sesuatu di sekitarnya.

​"Gerbangnya tidak mau tertutup!" teriak Seraphina sambil menahan diri pada sebuah pilar. "Koneksinya rusak! Seseorang harus tinggal di sini untuk menahan kuncinya agar gerbang ini tertutup dari dalam!"

​Arvand menatap Aruna, lalu menatap Arel. Ia memberikan Arel ke pelukan Aruna. "Bawa dia keluar, Ratri."

​"Tidak! Arvand, apa yang kau lakukan?" Aruna mencengkeram jubah Arvand.

​"Hanya aku yang punya kekuatan cukup untuk menahan tekanan energi ini, Aruna. Kau dan Arel harus pergi. Cari jalan kembali ke ibu kota, bersihkan namaku, dan besarkan anak kita dengan baik," Arvand mencium kening Aruna dengan lembut.

​"Ayah! Jangan pergi!" Arel menangis keras, memegang tangan Arvand.

​Arvand melepaskan tangan mereka perlahan, matanya penuh dengan kedamaian yang menyakitkan. Ia berjalan menuju pusat pusaran, memasukkan pedangnya ke celah lantai untuk menahan tubuhnya agar tidak terhisap.

​"Aku mencintaimu, Ratri... atau siapa pun namamu di sana," bisik Arvand.

​Tepat saat Aruna hendak mengejar Arvand, Seraphina menariknya keluar ruangan. "Jangan sia-siakan pengorbanannya!"

​Pintu besi itu tertutup dengan ledakan cahaya yang membutakan. Seluruh benteng Utara berguncang hebat, mulai runtuh satu per satu. Aruna berlari keluar bersama Arel dan Mira yang sudah menunggu di luar.

​Begitu mereka sampai di luar benteng, bangunan raksasa itu ambruk menjadi debu, tidak menyisakan apa pun selain tanah kosong yang sunyi. Cahaya ungu di langit menghilang, digantikan oleh cahaya fajar yang mulai menyingsing.

​Aruna jatuh berlutut di atas salju yang dingin, memeluk Arel erat-erat. Ia menatap tumpukan puing benteng itu dengan pandangan kosong.

​"Ayah mana, Ibu?" tanya Arel dengan suara serak.

​Aruna tidak menjawab. Ia hanya bisa terisak, merasakan kehampaan yang luar biasa di hatinya. Ia telah mengalahkan 'Pencipta Naskah', ia telah menyelamatkan Arel, tapi ia kehilangan pria yang menjadi alasannya untuk benar-benar hidup di dunia ini.

​Namun, saat ia hendak berdiri, ia melihat sesuatu yang berkilau di antara puing-puing. Sebuah benda kecil yang dikenalnya dengan baik.

​Itu adalah cincin perak milik Arvand. Dan di samping cincin itu, ada sebuah jejak kaki yang masih segar, mengarah ke arah hutan terlarang di sebelah utara.

​Tiba-tiba, dari arah belakang mereka, terdengar suara derap kaki kuda yang sangat banyak. Itu bukan pasukan Kaelan, bukan juga pasukan kaisar. Pasukan itu membawa bendera putih dengan lambang bunga melati, lambang pasukan rahasia yang selama ini dianggap mitos.

​Di barisan paling depan, seorang pria dengan zirah emas turun dari kuda. Wajahnya sangat mirip dengan Arvand, tapi usianya jauh lebih tua.

​"Di mana putraku?" tanya pria itu dengan suara yang menggelegar.

​Aruna mendongak, matanya membelalak. "Putraku? Siapa anda?"

​Pria itu menatap Aruna dengan tatapan yang sangat tajam. "Aku adalah Kaisar yang sebenarnya, yang selama ini kau pikir sudah mati. Dan Arvand... dia bukan hanya seorang jenderal. Dia adalah putra mahkota yang asli."

​Ternyata Arvand adalah putra mahkota yang asli? Siapakah kaisar tua yang tiba-tiba muncul ini? Dan apakah jejak kaki di hutan itu benar-benar milik Arvand, ataukah ada ancaman baru yang sedang menantinya di dalam kegelapan hutan terlarang?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Erchapram: Siapa pun yang tidak berpihak... 🤭
total 1 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!