“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Beni, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
“Ha? Kamu serius? Apa tidak terlalu cepat dan terkesan terburu-buru kamu mengambil keputusan ini?” Seorang wanita yang kini tengah duduk berhadapan dengan Syafira di sebuah kafe, tampak melotot setelah mendengar sebuah pernyataan dari teman baiknya itu.
Mengangguk, Syafira tampak yakin dengan keputusannya. “Keputusanku sudah bulat. Tolong bantu aku, Len.”
Wanita bernama Helena itu terlihat seperti masih ingin menyanggah dan menyangkal keputusan Syafira, tapi ia tak dapat berkata apapun saat ini.
“O-oke, akan aku kirimkan daftar berkas yang harus kamu siapkan nanti,” ujar Helena dengan terbata.
“Aku mau sekarang, Lena, bukan nanti. Tunjukkan saja padaku sekarang berkas apa saja yang harus aku berikan supaya kamu bisa segera memprosesnya hari ini juga. Apa yang aku bawa ini sudah lengkap?” tanya Syafira bernada tinggi, lalu menyodorkan sebuah map berwarna merah.
Menutup mulutnya, Helena kembali dibuat shock kala melihat Syafira seakan sudah menyiapkan semua berkas itu dengan matang. “Maksudku sembari kamu menyiapkan berkasnya, kamu bisa berpikir ulang. Membicarakan baik-baik misalnya, mencari jalan keluar.”
Tak menjawabnya, tatapan wajah Syafira begitu tajam hingga membuat Helena yang sehari-hari begitu tegas saat bekerja membela siapa pun kliennya dengan kasus sedemikian rupa, kini menjadi kicep dibuatnya. Sungguh, tak pernah ia sangka akan menjadi kuasa hukum temannya sendiri, apalagi dengan kasus menyesakkan seperti ini. Tak ada pilihan lain, ia terpaksa menyanggupi permintaan Syafira.
“Aku percayakan semuanya padamu dan suamimu. Advokat terbaik di kota ini, jam terbang tinggi, lulusan luar negeri, dan telah memiliki klien dari berbagai kalangan juga partner ternama. Aku percaya kalian berintegritas, tak akan tertarik dengan sebanyak apa pun uang yang mungkin saja akan Khale berikan nantinya.
Tenang saja, biarpun kita teman aku tetap akan membayar jasamu sesuai tarif yang kamu pasang. Kabari saja jika ada berkasku yang kurang. Aku tunggu progressnya hari ini juga,” ucap Syafira dengan mantap, sembari berdiri dari kursinya lalu pergi membawa tas miliknya.
***
Malam ini saat Khale tiba di rumah, tak ada sambutan apa pun dari istrinya. Biasanya sepulang kantor, Syafira selalu menyambutnya di ruang tamu. Tapi malam ini, tak juga ia temui sang istri di kamar sekalipun.
Semalam saat ia kembali ke rumah, dilihatnya istrinya itu sudah tertidur pulas. Begitu pun saat pagi tadi ketika akan berangkat ke kantor, sang istri tampak masih berbaring di kasur karena perutnya terasa mual. Alhasil, Khale belum banyak bicara dengan Syafira. Sekarang, ia justru tak melihat sang istri.
“Buk Mar, di mana Syafira? Aku cari di kamar tidak ada. Pak Aden juga sepertinya sedang ngopi di pos satpam, seharusnya tak sedang mengantar Syafira ke mana-mana. Aku telepon ponselnya tidak aktif,” tanya Khale panik saat berpapasan dengan kepala asisten rumah tangganya.
Terdiam sejenak, Buk Mar seakan merasa bersalah karena seharian tak memperhatikan keberadaan nyonyanya itu. “Maaf, Tuan. Seharian saya urus dapur bersama Lela karena Yani sedang izin pulang kampung per hari ini. Jadi, kami kerepotan sekali sampai-sampai tidak memperhatikan Nyonya. Tapi, tadi siang Lela masih melihat Nyonya di kamar. Dia yang antar makanan ke kamar.”
Tampak kecewa dengan jawaban Buk Mar, Khale memperingatkannya kembali bahwa selama ia tak ada di rumah, Syafira menjadi tanggung jawab seluruh pekerja di rumahnya terutama Buk Mar. Ia pun kembali mencari sang istri di setiap sudut rumah. Tak lupa, Khale pun memanggil Pak Aden untuk meminta keterangan.
“Terakhir saya antar Nyonya semalam ke rumah sakit dan tadi pagi ke kafe, Tuan,” lapor Pak Aden.
Terdiam, Khale seketika teringat akan jadwal kontrol sang istri yang ia lupakan begitu saja. “Ke kafe? Tadi pagi? Apa kamu melihat dia bertemu siapa di sana?”
Menunduk, Pak Aden terdiam karena ia memang tak tahu dengan siapa sang Nyonya bertemu.
“Jawab saya!” titah Khale.
“Nyonya hanya bilang ingin menikmati teh pagi hari dengan suasana kafe. Tuan. Tidak lama berada di sana, nyonya meminta diantar pulang. Tapi, setelahnya saya tidak tahu aktivitas nyonya,” jawab Pak Aden setengah menunduk karena takut salah menjawab.
Berganti memanggil satpam rumahnya, Khale memastikan Syafira memang tak keluar rumah lagi sepulang dari kafe.
“Sa-saya dan Aden tidak melihat Nyonya keluar, Pak,” jawab satpam pelan karena teringat ia sempat ketiduran selama beberapa jam di pos, sementara Aden juga sempat izin pergi ke luar mencari angin.
Dengan wajah muram, Khale kembali ke kamarnya. Entah mengapa firasatnya tak enak. Diperiksanya lemari dan seluruh barang-barang milik istrinya. Semuanya terlihat masih lengkap, tapi terasa ada yang berbeda.
Ya, Syafira meninggalkan gaun-gaun mewahnya di dalam lemari, sedangkan baju sehari-seharinya kini tak ada. Barang-barang pribadi milik Syafira juga masih terlihat ada di meja rias. Tapi, tas yang biasa ia pakai tak terlihat di sana. Perhiasan pemberian Khale pun masih ada di dalam kotak.
Hingga kedua bola mata CEO perusahaan keluarganya itu tertuju pada selembar amplop di atas meja kecil di samping tempat tidur. Penasaran, segera dibukanya amplop putih itu. Di dalamnya, terdapat beberapa lembar cetak foto dan selembar surat.
Khale, maafkan aku harus pergi. Aku kecewa padamu yang tak pernah jujur padaku soal masa lalumu. Seharusnya kamu tak akan mempermasalahkan kepergianku ‘kan? Bukan kah kamu tak pernah mencintaiku? Bukan kah selama ini kamu menjalani pernikahan ini tanpa rasa, dan yang kamu lakukan tak lebih dari sekedar bertanggung jawab sebagai seorang suami?
Kamu pun membenarkan ucapan temanmu bahwa cintamu telah habis padanya, denganku hanya lah melanjutkan sisa hidupmu. Bukankah itu artinya memang tak pernah ada cinta untukku?
Ibumu, orang yang kekeh menjodohkan kita kini sudah tiada. Artinya pula, tak ada lagi yang menentang hubunganmu dengan mantan kekasihmu itu yang kini sudah menjanda. Silakan kembali padanya dan lupakan kami, aku dan anak-anakmu.
Surat singkat dari Syafira itu membuat Khale mematung. Tak hanya karena surat itu, tapi beberapa lembar foto di dalam amplop membuatnya ingin ambruk. Foto-foto yang Syafira cetak adalah foto saat dua kali mobil Khale tertangkap basah mampir ke toko kue milik Karina, juga saat ibu hamil itu melihat Khale tengah menggendong anak kecil yang diduga adalah anak Karina, keluar dari ruang praktik dokter anak.
Di belakang foto itu juga tertulis sebuah tulisan tangan Syafira yang membuat hatinya tersayat.
Aku mengambil gambar ini saat sedang kontrol kandungan.
Tak sengaja aku melihatmu yang lebih memilih peduli pada anak dari mantanmu, dari pada menengok perkembangan anak-anakmu sendiri dalam rahimku.
Gambar ini juga aku ambil tak lama setelah kamu tahu kabar mantanmu yang kini menjanda, mungkin kamu sudah memendam rindu mendalam padanya hingga langsung menemuinya.
“Anak-anak?” Belum sempat Khale mempertahankan keseimbangan tubuhnya, satu foto terakhir yang ia lihat membuatnya benar-benar ingin pingsan.
Foto USG anak kembar yang ternyata ada di dalam perut Syafira, yang tak pernah ia tahu sebelumnya, karena pada kontrol di waktu-waktu sebelumnya, tak terdeteksi sang istri tengah mengandung 2 janin.
Khale mencoba menyadarkan dirinya secara penuh di tengah serangan ombak dahsyat ini, untuk mencoba berpikir dari mana Syafira bisa mengetahui semua ini. Ia lalu bergegas melihat layar monitor di ruang CCTV, sebab beberapa praduga mulai muncul dalam benaknya. Benar saja, Khale terduduk shock saat melihat rekaman CCTV ketika Syafira menguping pembicaraan di ruang kerjanya bersama Beni, juga saat sang istri kembali pergi setelah dirinya berpamitan pergi ke kantor pagi itu, yang mungkin bisa saja Syafira mengikuti mobilnya menuju toko kue milik Karina.
“Jadi…” Sontak Khale berlari keluar kamar menuju garasi mobilnya untuk mencari keberadaan sang istri yang kini entah di mana.
...****************...
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh