"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pasukan di Balik Bayangan
Berita tentang keajaiban medis di kediaman Tuan Broto meledak seperti bom atom di kalangan medis dan elit politik
Vandiko Elhaz bukan lagi sekadar "orang kaya baru"; ia kini dianggap sebagai pemegang kunci hidup dan mati
Namun, Vandiko tahu bahwa semakin tinggi sebuah pohon tumbuh, semakin kencang angin yang menerpanya.
Malam itu, Vandiko berdiri di balkon griya tawang barunya yang menghadap langsung ke lahan SCBD yang baru ia akuisisi
Isabella Wijaya berdiri di belakangnya, menyesap anggur merah dengan tatapan cemas.
"Vandiko, kau baru saja mempermalukan 'para konglomerat'
Mereka bukan tipe orang yang akan menuntutmu di pengadilan, Mereka akan mengirimkan 'penghapus' untuk melenyapkanmu dan ibumu," bisik Isabella
Vandiko tidak menoleh, Matanya tertuju pada sebuah titik merah kecil yang tiba-tiba muncul di dadanya
Sebuah sinar laser dari senapan runduk (sniper) dari gedung seberang
"Tuan, bahaya!" teriak Isabella
Namun, sebelum peluru itu melesat, sebuah bayangan hitam meluncur dari langit-langit balkon
Sring! Suara logam beradu terdengar, dan sebuah peluru kaliber besar jatuh ke lantai, terbelah menjadi dua
Di depan Vandiko, berdiri seorang wanita berpakaian taktis hitam dengan pedang pendek yang masih bergetar
[Ting! Misi Rekrutmen Selesai.]
[Nama: Shadow/Gia]
[Status: Mantan Agen Intelijen Tertinggi yang Dikhianati.]
[Loyalitas: 100% (Karena Sistem telah melunasi hutang nyawa adiknya)]
"Area sudah bersih, Tuan
Penembak di gedung seberang telah dinetralkan," lapor Gia dengan suara tanpa emosi
Vandiko memungut belahan peluru itu
Matanya menyipit dingin "Siapa yang mengirimnya?"
"Naga Ketiga, Tuan Keluarga Haris yang menguasai bisnis militer swasta," jawab Gia
Vandiko tersenyum sinis, Ia tidak takut justru merasa gairahnya tertantang
Ia kembali membuka Toko Sistem yang kini telah naik ke level 3
[Item Baru Tersedia: Kamp Pelatihan Ruang Waktu (1 Jam di dunia nyata \= 1 Bulan pelatihan intensif)]
[Item Baru Tersedia: Serum Prajurit Super (Meningkatkan refleks dan kekuatan fisik 5x lipat)]
"Gia, ambil serum ini dan pilih 50 orang paling setia dari unit keamanan yang kita beli tadi siang
Masukkan mereka ke kamp pelatihan
Dalam tiga hari, aku ingin mereka menjadi pasukan yang tidak bisa dilihat oleh radar manapun di dunia ini."
Gia membungkuk dalam "Perintah diterima, Tuan."
Vandiko berbalik menghadap Isabella yang masih terpaku melihat peluru yang terbelah
"Isabella, kau bilang mereka akan mengirim penghapus? Katakan pada mereka, aku sedang menyiapkan pemakaman massal untuk setiap 'naga' yang mencoba menyentuh wilayahku."
Malam itu, sebuah organisasi bayangan bernama "The Black Sentinel" lahir di bawah komando Vandiko
Di saat yang sama, di sebuah bunker rahasia di pinggiran Jakarta, lima pria tua berkumpul mengelilingi meja bundar yang gelap
"Bocah itu punya sesuatu yang tidak masuk akal. Bukan hanya uang, tapi teknologi atau sihir yang kita tidak tahu," ucap salah satu dari mereka dengan suara parau
"Kalau begitu, jangan gunakan manusia," jawab pria di kursi utama
"Hubungi 'Proyek X'. Kirimkan subjek pertama kita untuk menjemput ibunya di rumah sakit
Kita lihat, sejauh mana dia bisa terbang setelah sayapnya kita patahkan."
Di rumah sakit, saat perawat sedang mengganti infus ibu Vandiko, lampu tiba-tiba berkedip dan mati total
Pintu ruang VVIP yang dijaga ketat itu perlahan terbuka dengan suara decitan yang memilukan, namun tidak ada siapa pun di sana...
kecuali aroma logam yang menusuk dan suara napas yang berat yang bukan milik manusia