PENULIS : NESC PL
ILUSTRASI : ABU SAMUEL ETO
SINOPSIS : Aku adalah seorang wanita yang memiliki Dua Kehidupan, Dua Wajah. Suatu hari aku bertemu dengan seorang pria yang lebih muda dariku. Aku terjatuh di atas tubuhnya saat memanjat dinding sekolah. Apakah hubungan di antara kami yang bermula dari kebencian bisa berubah menjadi cinta?
Bagaimana cinta itu bisa terjadi di saat aku kehilangan cinta pertamaku karena penghianatan. Pesona cowok berondong yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NESC PL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 Doble Date
Heinry dan Essen pergi ke Cina untuk berlibur menikmati musim semi.
"Aku ingin menemui kekasihku."
"Apakah boleh aku ikut denganmu?"
Essen menatapku setelah mendengar perkataan yang telah aku katakan.
"Kalau begitu aku akan menghubunginya dan memintanya untuk membawa temannya seorang wanita."
Tak lama kemudian kami bertemu di tempat yang sesuai kami janjikan. Aku terkejut saat bertemu dengan seorang gadis yang aku kenal dengan penampilan yang berbeda.
"Salam kenal. Perkenalkan namaku Essen dan aku adalah kekasih Evelly. Pria yang ada di sebelahku namanya Heinry."
"Salam kenal. Perkenalkan namaku Xian Mai dan aku sahabat Evelly."
"Karena kita datang berpasangan. Bagaimana kalau kita mengadakan doble date?"
Essen menatap kami dan meminta persetujuan. Kami bertiga saling menatap dan kemudian menyetujui pendapatnya.
"Karena kalian tidak keberatan. Kita akan segera pergi ke Taman Hiburan."
Essen berkata kepada kami. Kami semua naik bus menuju ke Taman Hiburan. Setiba di sana kami berpisah dengan berpasangan. Essen dan Evelly pergi menuju wahana bianglala. Mereka menaiki bianglala bersama.
"Senang dapat bertemu lagi dengan anda."
Aku berjalan mendekatinya.Dia tetap terdiam dan tidak menjawab.
"Bagaimana kabar anda?"
Heinry berusaha bertanya kabar untuk mencairkan suasana.
"Keadaan saya sekarang sedang baik."
"Tak pernah ku sangka hari ini akan bertemu denganmu. Apakah temanmu mengetahui kalau kita pernah bertemu?"
Heinry bertanya kepadaku.
"Temanku tidak tahu kalau aku kenal denganmu."
"Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu."
Heinry berusaha untuk menjelaskan.
"Aku tidak tersinggung."
Aku menjawab perkataannya.
"Apakah boleh kalau aku menjalani persahabatan denganmu?"
Heinry ingin menjalani persahabatan denganku. Aku memandang wajahnya. Dia mendekatiku dan mengulurkan tangannya. Aku mengulurkan tangan dan kami berdua saling berjabat tangan.
"Aku juga senang berteman denganmu."
Tersenyum kepadanya. Dia memperlihatkan tatapan wajahnya yang lembut.
"Apakah kamu tinggal di daerah sini?"
Heinry bertanya kepadaku.
"Benar.Aku tinggal di daerah sini bersama dengan ibuku."
"Apakah ayahmu sudah meninggal?"
Heinry bertanya kepadaku. Aku menghentikan langkah. Hanya diam dan tidak menjawab.
"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih."
Heinry menyesal karena telah mengatakan hal itu.
"Kedua orang tuaku masih hidup.Mereka bercerai saat aku masih kecil."
Aku menjawab pertanyaan dengan kepala tertunduk.
"Aku juga tinggal bersama Ibuku. Ayahku telah meninggal saat aku berusia 10 tahun karena penyakit jantung yang di deritanya. Aku tidak begitu ingat wajahnya dan hanya melihat melalui foto."
Heinry berkata kepadaku. Aku terpanah setelah mendengar perkataannya dan tidak mengira jika ayah Heinry telah meninggal.
"Terima kasih sudah menghiburku."
Aku berkata kepada Heinry.
"Tetaplah hidup dengan tersenyum. Karena orang yang kita cintai akan merasakan bahagia jika kita tersenyum."
Heinry berkata kepadaku lalu tersenyum. Kami mengelilingi tempat. Heinry berjalan menuju pedagang yang berjualan gula kapas. Membeli sepasang gula kapas yang berbentuk lucu dan memberikan salah satunya kepadaku.
"Apakah tidak bermasalah kalau kita melakukan pergi berpasangan?"
Heinry berkata kepadaku.
"Itu tidak bermasalah."
"Apakah kekasihmu tidak marah kalau kamu berkencan dengan seorang pria?"
Aku mengehentikan langkahku. Apakah Heinry ingin mengetahui aku sudah memiliki kekasih atau masih sendiri?
"Tidak ada yang akan ada yang marah."
Aku menjawab pertanyaannya. Mendengar jawabanku membuat Heinry tersenyum bahagia. Melihat senyuman di wajahnya. Membuat jantungku berdetak dengan cepat.
"Sepertinya mereka cocok."
Essen berkata kepada Evelly dan tersenyum bahagia.
"Apa pria itu teman baikmu?"
Evelly bertanya kepada Essen dan menggandeng lengan kekasihnya.
"Aku berteman dan tumbuh bersamanya sejak masih kecil."
Essen menjawab pertanyaan Evelly.
"Apakah dia pria yang baik?"
Evelly bertanya kembali kepada Essen.
"Tentu saja. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab walaupun dia juga memiliki sikap yang dingin".
Essen menjawabnya dengan penuh percaya diri.
"Aku sangat senang jika mereka bisa bersama".
Evelly berkata kepada Essen.
"Semoga saja mereka bisa menjadi sepasang kekasih".
Essen berharap Heinry dan Zhao Mai bisa menjadi sepasang kekasih.
"Kalau mereka bisa menjadi sepasang kekasih.Kita bisa sering melakukan doble date saat kita bersama."
Evelly berkata dan tersenyum kepada kekasihnya. Essen terpesona melihat senyum Evelly. Senyum yang terlihat sangat manis.
"Hubungan kita akhir ini agak memburuk. Ku harap kita bisa memperbaiki hubungan kita. Tetaplah selalu berada di sisiku. Apapun yang terjadi aku akan selalu berusaha untuk membuat dirimu bahagia."
Essen berkata dengan wajah serius. Menggenggam ke dua telapak tangan Evelly dengan lembut dan menciumnya.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu."
Essen berkata kepada Evelly.
Evelly menjawabnya dengan tersenyum dan mengangguk kepala. Hari telah sore. Heinry dan Xian mai berjalan menghampiri sahabatnya.
"Apakah kalian sudah makan?"
Henry bertanya kepada Essen dan Evelly.
"Aku dan Evelly belum makan."
Essen menjawab pertanyaan dari Heinry.
"Bagaimana kalau kita mencari restauran terdekat?"
Aku berkata dan memberi petunjuk jalan ke tempat restauran yang tidak jauh dari taman hiburan. Restauran yang sederhana dan romantis. Terlihat ramai di penuhi oleh pengunjung yang datang dengan berpasangan.
"Kamu mau pesan menu apa?"
Heinry bertanya kepadaku dan menyerahkan buku menu restoran. Aku melihat buku menu. Terdapat berbagai menu makan dan minuman yang berpasangan.
"Aku pesan menu makanan Bibimbap dan minuman capuccino."
Aku menyerahkan kembali buku menu yang telah di berikan kepadaku.
"Kamu juga mau pesan apa, Heinry?"
Aku berkata kepada Heinry.
"Aku pesan menu yang sama seperti yang kamu pesan."
"Kalian berdua terlihat sangat romantis."
Kami berdua tersenyum malu mendengar perkataan yang telah di ucapkan oleh Essen.
"Apakah kita pernah bertemu?"
Evelly bertanya kepada Heinry.
"Sepertinya ini merupakan pertemuan pertama."
Heinry menjawab pertanyaan dari Evelly. Aku mendengar perbincangan antara Evelly dan Heinry.
"Apakah kamu menyukai Heinry?"
Essen bertanya kepada Evelly dengan nada cemburu.
"Bukan seperti itu.Aku hanya merasakan Deja Vu ketika melihat wajah dan nama temanmu."
Evelly berusaha untuk menjelaskan.
"Aku tidak suka mendengarkan kamu membicarakan pria lain di hadapanku."
Essen berkata kepada Evelly. Mendengar Essen cemburu yang cemburu dan itu membuatku tersenyum. Heinry tertawa ringan setelah melihatku. Aku merasa malu. Berusaha menyembunyikan rasa malu dengan memegang dan melihat buku menu. Pesanan makan telah di hidangkan. Aku mengambil peralatan makan yang ada di meja dan kemudian Evelly berbisik kepadaku.
"Aku yakin sekali kalau aku pernah bertemu dengan Heinry."
Evelly berkata kepadaku. Aku tidak menduga jika Evelly pernah bertemu dengan Heinry.
"Lebih baik kita tidak membicarakannya lagi karena itu akan bisa membuat kekasihmu marah jika dia mendengarnya."
Aku mencoba untuk menghindari perkataannya. Evelly mengangguk kepala dan menyetujui. Kami semua menikmati makanan yang telah ada di meja. Heinry beberapa kali menatap wajahku dan aku juga beberapa kali menatap wajahnya. Dan kadang pula kami saling menatap wajah.
salam hangat dari CINTA DALAM LUKA...👍👍👍
lanjut nanti..
🌹🌹🌹
salam dari Gadis Tiga Karakter