Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
Ibunya tak berhenti sampai disitu, dia kemudian mengambil bantal peluk anaknya yang tergeletak di atas tempat tidur, dan mulai mengejar mereka berdua. Putaran demi putaran Ibunya mengejar mereka mengelilingi ruang tamu, sebelum kecapean dan nafas mereka bertiga ngos-ngosan.
Pandangan Rianhto tertuju pada anaknya yang tergesa-gesa akibat ulahnya sendiri, 'Kayanya, ini sudah terlalu berlebihan.'
Diapun mengarahkan pandangannya kepada Istrinya, sembari mengehela nafas panjang sedangkan kedua tangannya menahan pukulan yang ia terima dari Istrinya, "Esi, sudahlah. Janganlah bertingkah demikian... Lihatlah anakmu... Dia begitu kelelahan."
Ibu Esi tersenyum lebar menatap Mey sesaat, sebelum mengarahkan kembali pandangannya kepada Suaminya dengan tatapan yang sangat sinis, "Tidak akan aku ampuni kalian berdua... Sebelum kupuas, aku tidak akan pernah berhenti," kini langkahnya dipercepat, begitu pula dengan Mey dan Ayahnya, mereka juga tidak mau kalah dari Ibu Esi.
Setelah mengelilingi ruang tamu tiga putaran lagi, langkah kaki Ibu Esi menjadi tidak teratur, namun dia tetap memaksakan kakinya yang sangat kelelahan dan juga rematikan hingga membuatnya terjatuh.
Melihat itu, Riantho dengan cepat meraih tangan kanannya dan menarik dia. Jikalau tidak, dia akan terluka parah akibat menimpa meja kaca yang sangat tipis di tengah-tengah ruang itu.
Sungguh kejadian yang tidak terduga akibat kuatnya tarikan Riantho, pipi kiri Ibu Esi berhasil juga mendarat di hidung Suaminya.
Mey berdiri mematung melihat Ibunya yang hampir saja terjatuh, "Ibu!" dia berteriak histeris, sebelum menundukkan kepala dan menghela nafas panjang, serta mengalihkan kembali pandangannya kepada Ayah dan Ibunya dengan penuh ceria. Dia kemudian mengangkat kedua tangannya dan meloncat kegirangan, "Untung saja sang penyelamat begitu cepat. Hore! Ayah hiroku."
Mey sendiri ingin menghampiri mereka berdua, hanya saja dirinya masih merasa sedik keraguan di dalam benak, sebab dari tadi lbunya sangatlah marah terhadap kelakuan dia dan Ayahnya.
"Siapa dulu? Jikalau bukan Ayah," pintanya, menatapi Mey dengan senyuman yang penuh makna, serta menaik-turunkan kedua alis matanya.
Riantho sedikit terkesima Ketika mengarahkan kembali pandangannya kepada istrinya, "Eh..." Ia melebarkan matanya dengan sedikit senyuman yang menghiasi wajahnya, sedangkan Ibu Esi hanya tersenyum lebar dan tersipu malu terhadap Suaminya. Dia pun mengalihkan pandangannya kepada Mey, dengan senyuman hangat yang menghiasi ayu parasnya, "Ayahmu memang demikian... Dia selalu saja mengisi kesempatan dalam kesempitan. Kamu lihat, kan?"
Mey terpaku bingung dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya, dia hanya bisa diam menatapi mereka berdua dengan penuh tanya. Sedangkan Ayahnya mulai menggaruk-garukkan kepalanya, memandangi mereka berdua secara bergantian.
Kini Ibu Esi mulai marah kembali, sebelum memukul pundak Riantho dan menariknya duduk di atas sofa, "Lepaskan aku..." dia mengatakannya dengan nada yang begitu datar, oleh karena nafas yang tidak teratur, akibat terlalu banyak stamina yang dikeluarkan ketika mengejar mereka berdua.
Keduanya saling bertatapan dengan senyuman hangat yang menghiasi wajah, sebelum mengarahkan kembali pandangan mereka kepada Mey yang terpaku sejak tadi menatapi mereka berdua
"Ayo... Sini, Nak. Duduk di sini." Ibu Esi memanggil Mey dan menyuruh duduk di tengah-tengah mereka berdua.
"Tos dulu, Nak," Ayahnya mengarahkan tangan kanannya, dan melakukan beberapa gerakan yang seperti biasa mereka gunakan sebelum tos.
"Ibu tidak marah, kan?" bisik Mey kepada Ayahnya, namun tatapan sinisnya mengarah pada Ibunya.
"Hm..." Ibu Esi tersenyum penuh makna mendengar bisikan dari Mey, sebelum dia memutarkan badan Mey kepadanya, "Tentu tidak, Nak. Kamu adalah satu-satunya permata Ibu... Mana mungkin Ibu memarahimu."
Mey menundukkan kepalanya, dia merasa sangat bersalah dengan tindakan yang dilakukan bersama Ayahnya, sebab itu semua terjadi atas sarannya, "Maaf, Bu"
"Iya, Nak. Tapi ingat! Lain kali kamu tidak boleh melakukannya lagi. Apalagi menakut-nakuti Ibu seperti tadi," Ibu Esi tersenyum hangat, sembari menyentil jidat Mey dan menciumnya.
Melihat itu, Riantho langsung merangkul anaknya dengan sedikit tawa, "Akhirnya kena juga iya, Nak."
Mereka bertiga pun tertawa terkikir-kikir, sebelum Ayah dan Ibunya mencium pipinya disaat yang bersamaan dengan penuh kasih sayang.
Kebahagiaan mereka di hari itu, terkadang membuat Mey sedih oleh karena membayangi tampan sang hironya yang begitu ceria bermain bersamanya. Walaupun telah dua tahun Ayahnya tiada, Mey selalu mengingat senyuman Manis yang begitu lebar dan mempesona.
*****
Metallo memegang kedua lengan Mey, dan mendorong-dorongkannya sebab dia tidak sadarkan diri, "Mey... Mey... Ada apa dengan dirimu... Sadar Mey," usaha yang ia lakukan untuk menyadarkan Mey sia-sia, sehingga dirinya menjadi panik.
Ia mencari solusi yang terbaik untuk menangani Mey, tetapi tidak juga menemukannya, 'Tidak ada cara lain, selain memberikannya pertolongan pertama,' ia mengumpat dalam bena,k serta kesal terhadap kelakuannya.
Metallo sebenarnya ingin memanggil Ibu Mey, hanya saja jarak antara dapur dan taman mereka lumayan jauh, hingga iapun tak mau meninggalkan Mey di situ sendirian apalagi dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.
*****
"Ada apa dengan mereka berdua?" guman seorang gadis, yang sejak tadi memperhatikan mereka, dia berdiri di pojok kanan tanaman itu.
Keberadaannya sungguh sama sekali tak diketahui oleh Metallo, karena pandangannya terpele dengan beberapa bunga yang ada di lorong masuk tanaman itu. Dia mengerutkan dahi, matanya terbuka lebar serta raut wajahnya seketika dipenuhi kebencian yang mendalam, ketika melihat Metallo menggendong Mey dan menyandarkannya di pohon mangga, yang dimana tergantungnya ayunan itu.
Karena tidak ada cara lain untuk menyadar Mey, iapun mengambil keputusan dengan memberikan nafas buatan untuk menolongnya.
'Ah... bagaimana?' iapun menepuk jidatnya, "Jikalau nanti aku sedang memberikannya nafas buatan, dia tersadar dari pingsannya. Hm..."
Ia menghela nafas panjang, sebelum berdiri dan mondar-mandir dihadapan Mey dengan sebelah tangannya dilipatkan, sedangkan jari dari tangan kanannya terus menyentil jidatnya.
*****
Wanita yang berada di pojok kanan tanaman itu hendak menuju ke arahnya, namun seketika dia menghentikan langkahnya, oleh karena melihat Metallo yang sedang kebingungan, "Apa yang hendak ia pikirkan," gumannya pelan.
*****
Metallo menggelengkan kepalanya, ketika meletakan tangannya di atas dada Mey. Ia semakin panik, karena detak jantung Mey makin lama makin tak menentu, "Aku harus sesegera mungkin menyadarkannya, sebelum orang lain mengetahui ini."
Iapun mulai duduk di samping kiri Mey, sembari menarik nafas yang sebanyak-banyaknya sebelum memberikan nafas buatan itu kepada Mey.
Ketika ia hendak mendekatkan mulutnya ke hidung Mey berjarak dua jari, terdengar langkah kaki yang begitu cepat mengarah kepada mereka berdua. Seketika ia terhenti, dan membuat wajahnya menjadi memerah akibat menahan terlalu banyak udara di dalam tubuhnya.
"Metallo!" Sebuah pukulan dadakan mendarat di pinggangnya, hingga membuat dirinya terlempar dua langkah dari Mey.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??