Boy mencoba menghindari tragedi pembunuhan saat dia melintasi jalanan sepi, namun nasib malang menimpanya. Pria pewaris tunggal perusahaan besar itu malah menjadi tersangka utama dari tragedi pembunuhan dan kini menjadi burunon kepolisian.
Apakah Boy mampu mengungkap pembunuh sebenarnya?
Bagaimana nasib perusahaannya setelah kejadian malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon soesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlari
Ken masih berbaring dengan santai di atas kasur empuknya bukan karna hari ini libur, tapi karna Ken menunggu jam berputar.
"Ken," panggil Kanaya dari sisi pagar.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Ken muncul dari balik pintu.
"Aku pikir kamu masih tidur, tidak biasanya kamu belum nongol jam segini."
"Aku sudah siap dari tadi, sebentar ya."
Ken kembali masuk ke dalam rumahnya, tidak lama Ken kembali keluar dengan menunggangi sepeda motor.
"Ken, kamu beli motor?" tanya Kanaya sat melihat Ken keluar.
"Ini akan lebih praktis untuk kita, jadi kita tidak perlu menunggu bus lagi."
"Dari mana kamu bisa membelinya?"
"Aku masih punya tabungan jadi aku bisa membelinya. Ayok aku bonceng kamu."
Ken memberikan helm pada Kanaya dan gadis itu naik di belakang Ken.
"Pegangan ya," ucap Ken sambil menarik gas.
"Pelan-pelan saja!"
Ken melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Pulang kerja kita jalan-jalan dulu ya?" ucap Ken.
"Kemana?"
"Kamu mau kemana biar aku antar?"
"Kemana saja boleh, sekalian ngetes motormu."
"Sip."
Ken memarkirkan motornya.
"Hai, motor baru nih," ucap Talita saat melihat Ken dan Kanaya datang bersamaan.
"Motor Ken, dia baru beli."
"Wow keren."
"Udah yuk." Kanaya menarik tangan Talita.
Kok bukan aku yang ditarik?
Ken mengikuti dua wanita yang berjalan di depannya.
"Kay," panggil seorang pria.
Tiga anak manusia itu kompak menoleh ke arah suara.
"Bos."
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu, bisa ke ruanganku sekarang?"
"Bisa Bos."
Kanaya menoleh ke arah Ken lalu berjalan ke mengikuti pria yang dipanggil Bos.
"Masuklah!" ucap pria itu.
Setelah Kanaya masuk, dia memastikan bahwa tidak ada orang yang mengikuti mereka dan menutup serta mengunci pintunya.
"Apa kamu benar-benar mengenal Ken dengan baik?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku hanya tidak mau kamu salah mengenal orang."
"Apa kamu mencurigainya?"
"Entahlah. Aku merasa sepertinya dia bukan orang biasa."
"Selama ini aku tidak menemukan hal yang mencurigakan dari dia. Dia sangat baik padaku."
"Aku harap kamu harus selalu waspada. Jangan terlalu banyak berada di luar sebelum semuanya aman."
"Aku akan ingat nasehatmu. Kamu tenang saja! Hari-hariku hanya di rumah dan di tempatmu ini."
"Aku hanya khawatir padamu."
"Terimakasih Bos. Kalau begitu aku kembali bekerja dulu, ga enak sama yang lain."
"Baiklah. Jangan terlalu lelah, buatlah dirimu senyaman mungkin di sini."
"Siap Bos."
Kanaya meninggalkan ruangan itu dengan senyum merasa senang Karna pria itu selalu memperhatikan dan membantunya.
"Kanaya," panggil Ken mengejutkan gadis itu.
"Ken, kamu membuatku terkejut."
"Maaf. Kenapa Bos memanggilmu?"
"Oh itu, masalah kerjaan. Dia bilang kita harus lebih baik ramah melayani pelanggan biar tempat ini rame, terus kita dapat bonus deh," ucap Kanaya mencoba memberi jawaban.
"Kamu yakin?"
"Ya. Apa nanti kita jadi jalan-jalan?"
"Ya. Apa kamu berubah pikiran?"
"Tidak. Aku akan ikut denganmu."
Ken merasa ada sesuatu yang disembunyikan Kanaya padanya, tapi Ken tidak punya alasan untuk mengetahuinya. Ken mencoba mengusir pikirannya tentang gadis itu. Sepanjang hari ini Ken selalu memperhatikan Kanaya, memperhatikan sikap Kanaya yang sedikit berbeda setelah keluar dari ruangan Bos.
Seperti yang sudah mereka rencanakan, Ken dan Kanaya pergi kesebuah pasar tradisional yang ada di kota itu.
"Kamu mau cari apa di sini?" tanya Ken.
"Bahan makanan untuk stok di rumah."
"Apa kamu sering ke sini?"
"Aku lebih nyaman belanja di sini dari pada di Supermarket."
"Kamu hebat ya," ucap Ken kagum pada gadis itu.
"Hebat bagaimana?"
"Aku pikir semua gadis itu tidak akan mau masuk pasar seperti ini, kumuh, ramai dan bau, tapi kamu berbeda kamu mau belanja di sini."
"Kalau aku banyak uang pasti aku juga tidak mau belanja di sini. Aku pasti belanja di Supermarket dan Mall."
"Ternyata sama saja kamu," ucap Ken sambil menyentuh hidung Kanaya dengan jarinya.
"Ayok, aku sudah selesai belanja."
"Aku traktir kamu makan."
Ken manarik tangan Kanaya dan membawanya berjalan menjauh dari pasar. Mereka makan di sebuah resto di tengah kota.
Selama makan mata Kanaya selalu melihat di sekitar mereka.
"Kamu kenapa?" tanya Ken penasaran melihat sikap Kanaya.
"Tidak. Aku hanya merasa tidak nyaman makan di sini?"
"Kenapa?"
"Apa makanan di sini tidak mahal? Apa kamu punya uang untuk membayarnya?"
"Kamu tenang saja! Aku masih mampu membayarnya."
Kanaya tersenyum mendengar ucapan Ken, tapi matanya masih berkeliaran seperti sedang diawasi oleh seseorang.
"Ken, sebaiknya kita pergi dari sini!" ucap Kanaya gelisah.
"Kenapa?" Ken memutar matanya karna melihat Kanaya gelisah.
"Aku hanya tidak nyaman saja di sini."
"Baiklah. Kamu tunggu di sini aku bayar dulu!"
"Aku ikut," ucap Kanaya cepat.
Gadis itu melingkarkan tangannya pada lengan Ken dan berjalan mengimbangi langkah pria itu.
Ken merasa ada yang aneh pada Kanaya, gadis itu seperti orang ketakutan dan gelisah.
"Sebelum pulang kita mampir di pertokoan ya, aku mau beli perlengkapan mandi," ucap Ken.
Kanaya hanya mengiyakan dengan anggukan, tangannya masih setia melingkar di lengan Ken.
Mereka berjalan menelusuri pertokoan dan berbaur dengan pengunjung yang lain.
Saat Ken sedang membayar di kasir, mata Kanaya melihat sesuatu yang sangat dia takut dan langsung menarik tangan Ken. Kanaya membawa Ken berjalan menjauhi tempat itu dengan cepat sepeti sedang diburu oleh seseorang.
Ken sangat bingung dengan apa yang dilakukan gadis itu tapi dia hanya bisa mengikutinya.
"Berhenti!" ucap Ken menghentikan langkahnya
"Ken kita harus pergi dari sini!" ucap Kanaya.
"Tidak. Kenapa kita harus pergi dengan cara seperti ini? Ada apa denganmu?"
"Ken, tolong! Kita harus cepat meninggalkan tempat ini," ucap Kanaya semakin cemas.
"Katakan padaku sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?!"
"Aku tidak bisa mengatakan padamu, tapi kita harus meninggalkan tempat ini."
Kanaya kenali menarik tangan Ken dan membawanya pergi. Gadis itu menoleh ke belakang.
"Ken lari!!" teriak Kanaya mengejutkan Ken.
Kanaya membawa Ken berlari dengan cepat memasuki setiap gang di antara pertokoan. Langkahnya sangat cepat dan napasnya tidak beraturan, mereka seperti sedang diburu singa singa kelaparan.
Ketika merasa sudah cukup jauh dan aman, Kanaya menghentikan langkahnya dan membungkuk karna lelah. Napasnya terdengar sangat kasar dan cepat.
Ken memperhatikan Kanaya yang masih kelelahan sambil mengatur napasnya.
"Ken, kita harus segera pulang," ucap gadis itu di sela dengarkan napasnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang mengejarmu?"
"Aku tidak bisa mengatakan padamu, tapi kita harus cepat meninggalkan tempat ini."
"Bagaimana dengan motorku?"
"Aku akan menunggumu di sana, kamu bisa mengambilnya." Kanaya menunjuk satu tempat di sudut toko.
"Apa kamu yakin bila aku meninggalkanmu sendiri?"
"Tenang saja, sebelah toko itu adalah kantor polisi aku akan aman di sana."
"Baiklah, aku akan segera kembali."
Ken meninggalkan Kanaya untuk mengambil motornya sedangkan Kanaya berjalan menuju tempat yang dia tunjuk tadi.
eh, nih cewek petugas hotel, jadi lucu sih
hilih matanya ternoda
Kasihan andai Boy tak bisa menghindari masalah