Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 7
"Setelah ini, antarkan aku padanya. Aku merindukannya. Bagaimana bisa gudang ini mengalami perampokan, Jep?" kali ini, Rivaldo bertanya dengan serius, menatap binik mata cokelat itu.
"Aku tidak tahu. Yang pasti, mereka adalah musuh terbesar yang ingin menjatuhkanmu, Rivaldo. Coba kau ingat, siapa orang yang pernah menyimpan dendam denganmu." celetuk Jep sambil mengingatkankan Rivaldo akan siapa musuh terbesarnya.
Pria itu kembali memutar fikirannya untuk mengingat siapa musuh yang selalu mengincar dirinya, setelah mengingat ternyata memori otaknya mengingat siapa musuhnya itu.
"Steve!" ungkap Rivaldo berbicara dengan Jep, sambil mengerutkan dahinya.
"Steve, putra tunggal keluarga Gabriel. Tentu mereka telah mengincar nyawamu dari dulu, maka dari itu, mereka ingin dirimu hancur perlahan." tutur Jep dengan antusias mengingatkan Rivaldo tentang kenyataan yang ada.
Dorrr!
Dorrr!
Dorrrr!
Suara tembakan terdengar jelas di telinga Jep dan Rivaldo. Kedua bola mata pria itu terbelalak saat mendengar keributan di luar sana. Rivaldo meraih pistol yang ada di belakang tubuhnya itu lalu segera berlari ke luar ruangan.
Namun sayangnya, ia sudah terlambat. Ini adalah sebuah pengkhianatan terbesar dalam hidupnya, ternyata Jep, adalah pengkhianat yang menjebak dirinya terperangkap di dalam ruangan ini. Sungguh kenyataan ini sangat membuat hati Rivaldo menjadi sangat kesal.
Jep memasang wajah lugu dan kasihan terhadap dirinya ternyata itu salah. Ini adalah topeng dahaga yang membuatnya menjadi tidak dapat melihat kelicikan Jep.
"Ini semua telah terlambat, Rivaldo Xendrick! Kau ingat, ketika Ibumu menghinaku dengan kalimat yang pedas dan dirimu tidak sama sekali membelaku! Kau membiarkan Ibumu menghinaku dengan kata-kata yang sangat menyakiti hatiku!" protes Jep sambil tersenyum sumringah.
"Ternyata kau adalah pengkhianat Jep! Aku membencimu! Kau ingat, kau telah bermain dengan orang yang salah! Akanku pastikan bahwa hidupmu akan menderita sebelum kematian!" ancam Rivaldo marah. Ia sangat tidak menyangka jika Jep akan menjebaknya kali ini.
"Dan apa yang kau katakan, kau merindukan Ibuku? Salah besar, aku tak akan membiarkanmu bertemu dengannya. Karena tanganku sendiri yang telah menghabisi nyawanya!" pekik Jep sambil mengangkat tangannya dengan bangga.
"Kau sungguh gila! Menghabisi nyawa seorang Ibu yang merawatmu dari kecil, hingga dewasa! Aku mengutukmu Jep!" Rivaldo berkata dengan marah, ia sangat membenci Jep. Bagaimana bisa pria yang dahulunya lemah lembut sekarang menjadi sosok iblis pengkhianat.
"Ya, aku memang gila, karena aku malu untuk mempunyai seorang Ibu yang miskin dan tidak berguna! Aku malu mempunyai Ibu seperti dia! Aku bersumpah akan menghabisi nyawamu kali ini, Rivaldo!" ancam Jep sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rivaldo.
Nathan yang melihat dari arah luar ruangan pun menjadi gegabah, ia tahu bahwa pintu itu terkunci otomatis. Ini semua pasti ulah Jep. Pria brengsek itu, ia harus cepat mencari kunci cadangan agar Rivaldo tidak akan terluka oleh Jep.
Setelah mendapatkan kunci itu, Nathan dengan cepat membunyikan pintu otomatis yang terkunci menggunakan alaram. Rivaldo melihat pintu terbuka segera keluar dari sana dengan cepat. Tak kalah cepatnya oleh Jep, pria itu juga ikut menyusul Rivaldo untuk menghabisi nyawanya.
Sedangkan di gudang, ada beberapa anak buah Steve yang menunggu Jep untuk menjemput pengkhianat itu. Rivaldo berjanji akan segera melenyapkan Jep dan Steve hari ini juga.
"Steve, aku berjanji akan melenyapkan kalian berdua hari ini! Pengkhianat seperti kalian, tidak akan pernah pantas untuk hadir di Dunia ini!" pekik Rivaldo sambil berlari ke arah Steve.
Dorr!
Nathan melepaskan satu timah panas yang membuat langkah kaki Jep melambat. Timah itu melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Jep membawa kakinya dengan paksa untuk sampai di sebuah helikopter milik Steve sebelum kakinya benar-benar lumpuh akibat tembakan itu.
Darah segar berceceran dari kaki Jep.
Dorr!
Kedua kalinya Jep tertembak di kaki, semakin lama, pergerakan kakinya melambat, jangan sampai kakinya akan lumpuh sebelum sampai di helikopter.
Dorr-dorr-dorr!
Rivaldo melepaskan timah panas itu ke arah Steve. Pria yang menjadi musuh terbesar sepanjang hidupnya. Sampai kapanpun, Jep dan Steve adalah pria brengsek yang pernah ia temui. Ia berjanji akan membalaskan ini semua. Sekali pengkhianat tetaplah pengkhianat.
"Bersiaplah untuk mati, Steve!"
Dorr!
"Argh!" pekik Jep, saat kedua kakinya mulai lumpuh dan tidak dapat berjalan, namun dari kejauhan beberapa anak buah Steve melihat Jep seperti itu pun segera membantu Jep untuk segera masuk ke dalam helikopter.
Dorr-dorr-dorr!
Tiga buah timah panas yang dapat melumpuhkan musuh dalam hitungan detik, melesat di bagian kaki dan tangan Steve.
Pria itu mengerang kesakitan akibat tembakan itu, seluruh badannya hampir tidak bisa digerakkan. Ia melangkah mundur segera masuk ke dalam helikopter.
Dan beberapa anak buah lainnya menyusul Steve dan Jep masuk ke dalam helikopter.
Rivaldo yang masih emosi pun menembakkan helikopter yang telah terbang di udara itu dengan senjata apinya. Namun sangat disayangkan jika helikopter itu tidak hancur. Ia masih kesal terhadap pengkhianatan Jep dan Steve yang telah berani mempermainkan hal memalukan ini.
"Arghhhhh!" pekik Rivaldo frustasi. Kali ini, ia benar-benar kecewa pada dirinya.
"Sabar, Bos. Dibalik semua kejadian ini, pasti ada sesuatu yang akan menyadarkan kita. Anda lihat bagaimana Jep mengkhianati kita, dia bekerja sama dengan Steve untuk menjatuhkanmu, Boss." Nathan berbicara dengan tegas sambil menepuk pundak pria itu dengan pelan.
Rivaldo memasang muka datar tanpa expresi. Jep membuat hatinya merasakan sakit karena pengkhianatan pria itu pada dirinya.
Ia tidak ingin mengingat kejadian ini, biarlah semua ini menjadi perpisahan antara dirinya bersama Jeprian. Semua kisah di masa lalunya biarlah menjadi sebatas kenangan yang akan menjadi debu, seiring berjalannya waktu. Debu akan menghilang jika terkena oleh angin. Cepat atau lambat, pasti menghilang.
Anggap saja, ini adalah sebuah permintaan maaf Mamanya dahulu saat menghina Jep bersama Ibunya.
Sebuah hal terlintas di kepala Rivaldo. Mengapa Jeprian melenyapkan Ibunya? Pasti ada sebuah alasan yang sangat melekat di hati Jep, sehingga berfikir untuk melenyapkan nyawa Ibunya sendiri.
Itu sama sekali tidak mungkin.
"Boss, kita harus membereskan kekacauan ini semua, sebelum ada beberapa Wartawan yang tahu kalau kita mengalami perampokan. Jika berhasil diberitakan, maka perusahaan kita akan berdampak buruk setelah ini," Nathan memberikan pendapatnya. Hal itu disetujui oleh Rivaldo.
"Baiklah, ayo!" balas Rivaldo pasrah.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam gudang senjata. Terlihat banyak beberapa penjaga yang terluka akibat serangan dari Steve dan anak buah yang lainnya.
"Apa luka kalian terlalu parah? Cepat obati luka itu! Nathan, tolong hubungi Dokter pribadi kita yang ada di sini, sekarang juga!" pinta Rivaldo dengan penekanan.
Pria itu, adalah sosok lelaki yang sangat peduli dengan sesama.
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...