NovelToon NovelToon
Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku

Status: tamat
Genre:Poligami / CEO / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Romansa / Tamat
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ria

Kisah seorang gadis yang terjerat hubungan sangat rumit, dia menikahi seorang pria yang sama sekali tidak dia kenal.

Gadis itu mengambil keputusan dalam desakan yang tidak bisa dipungkiri. Keinginan, cinta pertama serta cita-citanya dia lupakan karena suatu tragedi yang menimpanya.

Di suatu ketika dia mengetahui rahasia besar, kenapa suaminya menikahinya? Dan rahasia itulah yang membuat gadis itu berubah 180°.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerenggangan

Seperti biasa Alun selalu berpenampilan memukau meski hanya mengenakan kaos singlet saja. Dengan langkah yang pasti dia menaiki anak tangga, sesekali dia menyugar rambutnya ke belakang.

Ketika dia sampai di ujung anak tangga dia melihat Mbok Tun keluar dari kamar adiknya dengan raut wajah sedih.

“Kenapa Mbok?” tanya Alun dengan mata yang mengintip ke dalam sana.

“Non Ayas, Den.” Menatap sekilas wajah majikannya dan kembali tertunduk.

“Iya, kenapa dia?”

“Nona enggak mau makan, Den. Mbok takut nona akan sakit,” pungkas Mbok Tun khawatir.

“Sini Mbok, biar Alun aja yang bujuk Ayas makan.” Mengambil nampan yang di bawa Mbok Tun.

Meski ragu Mbok Tun membiarkan tuan mudanya masuk membawa makanan yang dia bawa tadi.

“Siang Tuan Putri, apa boleh saya masuk?” sapa Alun setelah bertanya.

Laras tampak malas melihat kakak berada di kamarnya, segera gadis itu membaringkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya.

“Apa yang Abang mau?” Masih dengan posisi terbaring tanpa melihat sedikit pun ke arah Alun.

Seperti seorang tersangka Alun meletakan nampan berisi makanan di atas nakas secara perlahan.

“Cuma mau lihat keadaan Tuan Putri dan mau mengajak Tuan Putri pergi jalan-jalan sore nanti,” sahut Alun merayu.

“Aku malas ke mana-mana,” putus Laras sambil mengubah posisi tidurnya.

Alun tetaplah seorang kakak yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap adiknya, dia masih bertahan dengan segala kesabaran yang ada.

“Kamu mau makan apa? Nanti aku belikan semua keinginanmu,” tawar Alun sembari mendudukkan dirinya di sebelah Laras.

“Aku enggak mau makan! Aku enggak lapar!” tolaknya dengan suara lantang.

Namun, tidak lama setelahnya ada suara aneh yang terdengar di gendang telinga Alun. Sontak Alun menahan tawa mendengar perut keroncongan, sedangkan Laras menyembunyikan wajahnya di dalam selimut.

“Kemarin aku lihat iklan restoran baru di dekat sini loh, Yas. Mereka jual tom yam goong, lasagna ada juga ayam betutu,” kata Alun mengiming-imingi adik perempuannya.

Tentu saja gadis itu menelan saliva berulang kali ketika nama makanan yang di sebut kakaknya, berbagi gambaran makanan terlintas kala Alun mengucapkannya. Ingin rasanya dia memukul kepala kakaknya dengan guci, tapi dia tidak ingin kakaknya terluka.

Dengan perut yang keroncongan Laras beranjak duduk dengan mencebik mengungkapkan amarahnya.

“Gara-gara Abang, Ayas tidak bisa menghubungi Mue!” ucapnya bersungut-sungut.

Kening Alun mengerut dia tidak mengerti maksud ucapan adiknya.

“Apa salahku?”

“Ayas enggak bisa cerita. Pokoknya ini semua salah Abang!” tunjuk Laras marah.

Drama apa lagi ini? Kenapa selalu aku yang jadi kambing hitam? Gerundel Alun dengan tangan mengusap kasar wajahnya sendiri.

“Kita makan aja, yuk!” ajak Alun dengan senyum yang dia suguhkan.

“Ayas enggak mau makan sebelum Abang berjanji,” sahut Laras memerintah.

“Tolong jangan bikin kesabaranku hilang!” Menakupkan kedua tangannya di hadapan Laras.

“Janji dulu!” ucap Laras sembari mengacungkan jari kelingkingnya.

Dengan memijat pangkal hidung Alun mengangguk dan menautkan kelingkingnya di jari kelingking Laras.

“Jangan bicara dengan wanita mana pun saat bertemu atau pun bersama Mue,” titah Laras dengan wajah yang terlihat serius.

“Memang kenapa? Itu hakku, mau ngobrol sama siapa aja. Kenapa juga kamu repot-repot menjanjiku untuk hal ini?” kata Alun menanyakan alasan Laras.

“Ya sudah enggak jadi makan. Ayas akan tinggal di kamar untuk selamanya,” ancam Laras tidak main-main.

“Ya sudah lakuin aja mau mu. Aku tidak peduli!” tukas Alun hendak meninggalkan adiknya.

Namun, langkahnya terhenti tatkala mami mereka masuk menanyakan hal apa yang tengah terjadi.

“Ada apa ini?”

“Abang enggak mau melakukan permintaan kecil Ayas, Mam ...,” rintih Laras sambil menggerakkan kakinya seperti anak kecil yang tengah menangis kejer.

Intan menatap nyalang anak laki-lakinya, seakan menuntut janji yang diucapkan tadi pagi. Meski berat hati Alun kembali duduk dan mempertanyakan hal apa yang harus dia lakukan, Laras tersenyum bahagia.

Dia menang melawan keras kepalanya Alun, dengan sedikit mengejek Laras kembali mengulang permintaannya.

“Bagaimana Bang, Deal!” Mengulurkan jabatan tangan.

Lagi-lagi Alun menatap ibunya yang duduk miring di bibir ranjang.

“Deal.” Mengulurkan tangan lalu menjabat tangan Laras.

Sampai kapan aku seperti ini Tuhan?

***

Di tempat lain, Muezza tengah gelisah. Hatinya terasa sakit, tapi dia tidak tahu apa penyebab rasa sakit itu yang jelas sakitnya mengalahkan luka di tangannya.

Kemarin ketika Muezza tengah memotong ubi tanpa sengaja tangannya terkena pisau, lukanya cukup lebar, tapi tidak begitu sakit seperti hatinya saat ini. Di tengah lamunan terdengar seseorang mengucapkan salam di luar sana.

“Assalamualaikum.”

Muezza berdiri dan menghampiri tamunya di luar sana.

“Wa ‘alaikumsalam,” jawab Muezza dengan bibir yang tersenyum melihat kedatangan Vita.

“Dari mana?” tanya Muezza santai.

“Jalan-jalan. Kebetulan aku lewat sini jadi aku mampir,” jawab Vita dengan mengulas senyum.

“Kamu mau minum apa?” tawar Muezza.

Vita mengangkat tangan kirinya, menunjukkan dua cup minuman yang biasa dia minum bersama Muezza ketika di sekolah.

"Kalau gitu aku ambil kue buatan ibuku, dulu," sambung Mue seraya melangkah, tapi langkahnya dihentikan Vita.

"Tidak perlu, Mue. Lihat ini!"

“Masyaallah ... kamu tamu yang istimewa Vit,” ujar Muezza senang.

Gadis yang bergigi gingsul tersebut tersenyum lagi, dia merasa tersanjung ketika Muezza menyebutnya ‘tamu istimewa’, bagaimana tidak Vita membawa minuman dan sekantung plastik camilan.

“Sebenarnya kamu dari mana Vit?” tanya Muezza dengan mulut yang dipenuhi makanan.

“Tadi aku lagi gabut. Terus aku keluar aja jalan-jalan tanpa sadar aku berhenti dan beli minuman di ujung jalan, ketika aku ingat-ingat jalan yang aku lewati adalah jalan yang menuju rumah kamu. Jadi aku putuskan untuk mampir,” jelas Vita panjang lebar.

Muezza mendengar penjelasan Vita dengan sabar sambil menyeruput es boba kesukaannya. Singkat cerita Vita membahas tujuannya setelah lulus SMA dan dia juga menanyakan tujuan Muezza, tapi gadis itu tampak tidak berselera ketika bilang akan kuliah di kota ibunya yakni Palembang.

“Bagus dong itu, Vit. Kamu bisa dekat lagi sama ibumu,” kata Muezza menenangkan hati sang teman.

Vita mengembuskan napas beratnya lalu menjawab perkataan Muezza.

“Tapi ... aku akan berpisah dengan adikku Mue. Kasihan dia kalau aku ikut mama,” ungkapnya sedih.

Muezza mengelus punggung temanya itu, dia tidak enak hati setelah bilang bisa dekat lagi dengan sang ibu. Orang tua Vita bercerai 5 tahun yang lalu dan hak asuh jatuh kepada sang ayah, tapi ibu Vita keberatan dan dia meminta ayah Vita untuk mengantar Vita kelak saat dia telah lulus SMA.

Demi kebaikan bersama dan tidak mau ada keributan lagi, ayah Vita menyetujuinya. Namun, keputusan itu membuat sulit Vita saat ini.

Dia tidak ingin meninggalkan Rumi, Vita sangat menyayangi adik perempuannya itu. Terlebih lagi Rumi adalah difabel, sejak kecil dia terlahir tidak memiliki kaki yang sempurna itulah sebabnya Vita sangat menyayangi adiknya dan tidak ingin meninggalkan sang adik sendiri.

“Bagaimana jika kamu membujuk ibumu untuk membatalkan niatnya demi kebaikan Rumi. Dia perlu kamu,” usul Muezza dan disetujui Vita dengan gembira.

“Nanti malam aku akan telepon ibuku semoga aja dia mau menuruti permintaanku,” sahut Vita semringah.

Kedua gadis itu kembali tersenyum dan obrolan mereka semakin melebar.

“Yang bener kamu, Vit?” Menatap penuh penasaran.

“Iya, tadi aku lihat di sana. Masak iya aku bohong,” katanya menimpali ucapan Muezza.

“Bisa anter aku ke sana?”

1
hasian077
next 👏, btw kepoin profil aku kakak hehehe baru belajar nulis butuh banyak saran juga.
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
wkwkwkw🤣
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
Jangan dibujuk lagi ras jangan
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
sensor
pєkαᴰᴼᴺᴳ
sedih😭😭😭
jangan jangan sudah firasat ini😑😑jangan bikin mereka kehilangan ayah 🥺
pєkαᴰᴼᴺᴳ
kakek ngegombal gak ingat usia 🤣🤣🤣jangan genit 😏
pєkαᴰᴼᴺᴳ
pak azmi melamun jangan2 karena thr belum turun🙈🙈
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
hayo siapa itu yang manggil 🤔🤔🤔🤔
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
konyol sekali kelakuan kalian 😂😂😂😂😂
sabar yah mue , ingin kuliah tapi liat kondisi keuangan 😓😓😓😓😓😓
pєkαᴰᴼᴺᴳ
jawab pertanyaan saja susah amat, pki gugup segala🤣🤭
pєkαᴰᴼᴺᴳ
jangan jangan bosnya juga suka ini🤭
pєkαᴰᴼᴺᴳ
untung ada bang jarwo yang anterin kamu mue🤣🤣🤣
pєkαᴰᴼᴺᴳ
gak mau ngaku kalau naksir 😄
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
mungkin Mue tau kalau keadaan ekonomi keluarganya saat ini sedang tidak baik baik saja makanya ia memutuskan untuk bekerja saja
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
Laras usil sengaja buat muez jadi salting sampe samoe muez keringatan
🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣhˢ⍣⃟ₛ❤️⃟Wᵃf࣪ᯓℛ𓍝
sadar diri ya muezza wkwk
🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣhˢ⍣⃟ₛ❤️⃟Wᵃf࣪ᯓℛ𓍝
aduh siapa sih yang gk pengen jadi pacar Andhika yg populer, ku juga pengen
🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣhˢ⍣⃟ₛ❤️⃟Wᵃf࣪ᯓℛ𓍝
wkwk gak gitu juga, ngakak plis
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
semangat dan sukses buat authornya
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
masa putih abu abu adalah masa paling indah teringat jaman SMA dl pulang sekolah dikejer² ama fans 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!