Raya Adha gadis manis berambut panjang dan hidup sebatang kara karena orang tua dan adiknya meninggal karena kecelakaan. Raya kemudian terusir dari rumahnya sendiri oleh adik tiri ayahnya.
Tak ingin terpuruk raya memilih pergi ke Jakarta menyusul temannya untuk melanjutkan hidup dan bekerja.Namun karena sebuah kejadian raya harus terikat sebuah pernikahan dengan laki-laki yang tidak ia cintai bahkan tidak di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07.apartemen
Matahari masih malu-malu menampakan sinarnya, namun Raya sudah bangun dari tidurnya, di pandang sejenak wajah tampan suaminya wajah yang teduh memberi kenyamanan. Ada rasa sedih di hati Raya bukan pernikahan seperti ini yang ia dambakan. Tak mau berlarut dalam kesedihan Raya beranjak menuju kamar mandi setelah membersihkan diri Raya pergi ke dapur membantu bu Ami untuk membuat sarapan pagi.Setelah selesai raya kembali kekamar untuk membangunkan rendy namun rendy sudah bangun bahkan sudah berpakaian rapi.
"Mas...sarapan sudah siap."
"hmm." jawab singkat Rendy.
"Mas apa kita akan kembali ke bandung untuk mengambil barang yang masih berada di sana??
"Tidak..Bayu yang akan pergi setelah sarapan berkemaslah kita akan pindah ke apartemen."
''Baik mas.."
Rendy pun pergi menuju ruang makan di lihatnya semua keluarga sudah berkumpul di meja makan termasuk Agra dan Bella, ada tatapan sinis dari Agra entah maksudnya Rendy pun tidak tahu selama ini Agra adalah anak yang pendiam dan penurut sedangkan Bella berusaha mencari perhatian semua orang karna dia sadar tak satu pun yang menyukai Raya termasuk Rendy.
"Mah...nanti kita shopping ya"ujar Bella.
"Iya sayang beli aja yang kamu suka."
"Oh..ya mah ajak Raya sekalian pasti dia gak pernah tu shopping lihat aja penampilannya iiuuhh nora."
"Tutup mulut mu Bella ini meja makan bukan ajang cari muka"bentak Artha.
Bella saat itu mendadak diam termasuk Lina, tak ada yang berani menjawab pak Artha. Raya yang mendengar ucapan Bella hati nya seakan teriris, sambil menahan air matanya ia tetap menyantap makanan.Sebenarnya pak Artha sedikit tidak suka dengan Bella menurutnya Bella hanya bisa foya-foya dan tidak mempunyai sopan santun kepada orang tua. Tanpa sepengetahuan Rendy, pak Artha sebenarnya sudah tahu masalalu Raya.Setelah selesai sarapan Rendy dan Raya berkemas dan berpamitan untuk pindah ke apartemen saat Raya ingin menyalami tangan ibu mertuanya seketika di tepis oleh Lina.
Hanya ada keheningan di sepanjang jalan, Raya membuang pandangannya keluar pikirannya melayang entah kemana, Rendy melirik sekilas dan membuang nafas kasar, tak berapa lama mereka sampai di apartemen Raya hanya bisa mengekor di belakang Rendy ada rasa kagum di hati Raya saat masuk ke dalam ruangan yang bersih rapi dan kelihatan mewah lagi-lagi Raya bingung harus berbuat apa.
"kamu ****** terserah mau tidur di mana asal jangan di kamar ku karna tempat ini hanya memiliki satu kamar."
"Mas..aku punya nama jangan panggil aku seperti itu." ujar Raya dengan suara sedih.
"Ngaca sana kamu, lihat diri mu berapa banyak orang yang kamu sakiti."
"Aku juga korban mas..aku juga tidak mau berada di situasi ini."
"Terserah kamu..ingat kalau kamu mau makan kerja aku tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun meski kau akan mati sekali pun."
Raya hanya bisa menangis mendengar ucapan Rendy, sakit sudah pasti ingin pergi tidak mungkin karna Raya sudah berjanji pada dirinya akan membuat Rendy menerima ia sebagai istri dan akan pergi kecuali Rendy sendiri yang menyuruhnya untuk pergi.
Raya kemudian pergi ke balkon di lihat pemandangan kota jakarta ada rasa tenang namun ada rasa kerinduan terhadap kampung halamannya, rumahnya dan orang-orang yang ia sayangi namun mereka telah tiada, tanpa terasa bulir bening air matanya jatuh kembali betapa kejam jika mengingat om dan tantenya yang tega mengusir dari rumahnya sendiri ya saat ini raya sedang merindukan kehangatan rumahnya.