Raya Salsabila wanita yang memiliki IQ di bawah rata-rata, membuat nya menjadi Bully-an teman-temannya, Ia jatuh hati pada seorang Elvano yang memiliki IQ di atas rata-rata, sehingga ia membuat dirinya merasa seakan seperti langit dan Bumi, siapa sangka ia akan menikah dengan pria idamannya itu karena perjodohan , Pernikahan yang sama belum Elvano bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fiah MSI probolinggo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Mendapatkan hal yang tak terduga, membuat Raya terdiam, ia menatap punggung Elvano. Rasa ingin menyerah akan perasaan nya tiba-tiba datang. Ia tersenyum merasakan keputus asaan dirinya.
'Ayolah Raya jangan goyah, sebentar lagi kau akan lulus, buat kah ia berkesan, dan belajarlah dengan baik, ujian akhir semester sudah kurang 2 Minggu lagi, dan kemaren ulangan harian nilaimu masih hancur, bagaiman bisa kau akan lulus kalau begini terus' bathin Raya.
Di saat Raya masih melamun, suara gurunya menggema dan ia tersentak kaget. Ia langsung mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Sedangkan Lola dan yang lainnya masih di beri hukuman atas apa yang sudah mereka lakukan.
Pelajaran sudah di mulai, Raya berusaha mendengarkan dengan baik.
"Baiklah anak-anak, jam kedua setelah istirahat, Bapak akan memberikan kalian tugas, pelajari halaman 105 dan semoga kalian bisa menjawab" ucap pak guru itu sebelum mengakhiri pelajaran nya.
Benar saja, jam istirahat sudah tiba. Secepat itu kah ...?
"Ray, kekantin yuk?" Ajak Amel
"Kau saja lah, kau tahu ... Tadi pak guru bilang apa? Aku butuh sendiri," ucap Raya dengan bibir manyun
"Kau ingin belajar?" Tanya Amel tak percaya
" Tentu, Mel. Kalau tidak, nanti pasti kena marah lagi, kau ke kantin saja dulu ya, aku mau belajar, kau juga, sukses buat kita" ucap Rayabdengqn tingkah konyolnya, yang mana ia memeragakan kata semangat dalam mengucapkan kata sukses.
"Ah, baiklah sahabatku emang is the best lah" ucap Amel seraya meninggal kan Raya di kelas. Raya langsung mengambil buku pelajaran nyandan menuju ke tempat yang menurutnya sepi dari lalu lalang anak-anak. Ia menaiki tangga menuju ke tempat di atas gedung, yang seperti tempat belum selesai di bangun .Raya berdiri dan menikmati pemandangan sejenak. Lalu ia duduk bersandar ke dinding yang belum selesai itu. Mencoba memahami pelajaran yang ada di halaman 105. Ia terus membaca dan mengingat semua garis besar yang menurutnya adalah itu yang benar, Namun ... Siapa sangka ia tertidur dengan buku di tangannya, dan tubuh bersandar. Dasar Raya yang bodoh.
Namun dalam tidurnya ia merasakan ada seseorang yang hadir dengan wajah yang begitu tampan dan sempurna, lelaki itu mendekat dan menatap wajahnya dengan tatapan penuh cinta. Mendekat kan wajahnya lalu memberinya ciuman yang begitu indah, tepat ciuman di bibir itu seketika membuat Raya terbangun, ini dua kalinya ia merasakan ciuman dalam mimpi, tapi kenapa terasa nyata. Bahkan saat ia memegang bibir nya, ia masih merasakan aroma bibir lelaki itu. Sayangnya di dalam mimpi itu, Raya tak melihat siapa lelaki itu.
"Ah sialan, mimpi itu lagi, kenapa bukan kenyataan nya coba! Misal El kek datang lalu menciumiku" rutuk Raya dengan wajah imutnya, membuat orang yang ada di balik dinding menarik sudut bibirnya yang tak pernah tersenyum.
Raya melihat kearah sekitar, tapi benar saja, tak ada jejak siapa pun yang datang. Merasa hanya itu hanyalah mimpi yang terasa nyata, Raya pun duduk kembali dan seketika kantuknya hilang. Raya kembali membaca buku itu hingga ia tersenyum kala mengingat sedikit pelajaran nya.
"Hai, otak. Nanti jangan lupakan apa yang kau baca ya ...? Awas saja kalau kau lupa, ku keluarkan kau dari kepala ku lalu akan ku masak, kau mengerti!" Ancam Raya pada dirinya sendiri dengan menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri. Sungguh tingkah yang konyol.
Nun ... Saat Raya menggeliat kan tubuhnya, tatapan matanya kini menangkap sebotol minuman di dekat tubuhnya, dan ia mengambil botol itu sambil mengingat-ingat apakah ini milik nya. Merasakan haus yang luar biasa, Raya langsung meneguk.air boto itu hingga tinggal sedikit.
"Dasar ceroboh" gumam seseorang sebelum berlalu meninggalkan tempat itu. Tepatnya takut ketahuan oleh Raya bisa ramai sejagat raya jika ia ketahuan nantinya.
*****
"Lola, aku lelah banget, sial kita harus ini, dan siapa yang melaporkan kejadian itu, padahal Devan sedang melindungi nya saat itu,?" Tanya Astrid pada Lola
"Kau benar juga, kalau Amel tidak mungkin, aku lihat dia baru datang saat itu, lalu siapa lagi yang mendukung nya,?" Pekik Lola dengan geram.
"Aku capek banget, kalau bukan karena akumjuga gak sampai hatintega melakukan kayak itu, kau sendiri yang bilang aman, dan apa tadi. Devan malah melindunginya,"ucap Astrid dengan sangat cemburu
"Ngakunya cinta sama Devan tapi memperjuangkan nya ogah, kau mau dia tambah dekat dengan Raya? Lalu ... Kau hanya bisa nangis gitu? Udahlah yuk ke kantin, udah lapar banget" ucap Lola menarik tangannya Astrid
Di sepanjang lorong sekolah, banyak mata yang menatap ke arah mereka. Sam halnya saat tadi mereka menyaksikan Raya yang di kerjai, Mereka adalah Tan yang tak bisa membantu teman yang lainnya. Begitulah penilaian Raya pada teman sekolah nya.
"Apa kalian lihat-lihat!" Lola menatap seluruh wajah yang menatap nya dikantin. Seketika semua.mata berpaling dari tatapan Lola. Mereka tak ingin ikut ut campur akan masalah Lila dan gengnya, hanya saja ... Saat ini yang di hukum hanyalah Lolq dan Astrid yang dua lainnya bebas karena saat itu belum datang ke sekolah.
"Lesti dan Feni mana? Sedari tadi mereka gak kelihatan" ekor mata Astrid menyusuri setiap arah.
"Hai, aku cari kalian ke lapangan, tapi Kalian disini" sapa Feni dan Lesti saat melihat Lola dan Astrid yang duduk di meja kantin. Mereka berdua pun duduk bergabung dengan Lola dan Astrid.
"Sebenarnya aoanyang terjadi? Beneran kalian mengerjai Raya sampai parah?" Tanya Lesti
"Yups, sayangnya adanyang melaporkan kejadian itu, ya ... Di hukum deh, lihat saja kalau sampai yang laporin kita ketahuan, akan aku balas dia" ucap marah Lola
"Kau ingin membalasku? Aku tunggu! Karena aku yang sudah melapor kan kalian berdua" ucap tiba-tiba suara yang sangat mereka kenali, meski pun pemilik suara jarang bicara, tapi dia sering menerangkan pelajaran di kelas, tentu Lola langsung berdiri tak percaya, kalau yang melaporkan mereka adalah Elvano. Sosok yang sudah jadi rebutan di sekolah. Lola masih membelalakkan matanya dan menutup mulutnya.
"Lain kali jangan mengerjai orang di hadapan mataku, jika kalian melakukan lagi, lihat saja, ini bukan karena Raya, siapapun itu ... Pasti akan aku laporkan. Tapi, apakah kalian puas dengan melakukan itu? Dasar norak!" Cebik Elvano seraya meninggalkan kantin dengan Lola yang menahan malu dan amarah secara bersamaan.
"Kalian dengar, Elvano yang melaporkan kalian, Lola ... Kau masih sadar kan? Kau masih ingin membalasnya?" Tanya Feni dengan bodohnya
"Feni, mana mungkin aku membalasnya!" Ucap geram Lola seraya terus menatap arah kepergian Elvano. Tangannya mengepal, ia tak percaya bahwa dia laki-laki itu telah melindungi Raya hari ini.
"Apakah ini kebetulan atau ... Kenapa dua lelaki pujaan itu sama-sama melindungi wanita bodoh itu" rutuk kesal Lola bersama dengan rasa kesla yang juga di rasakan oleh Astrid
walaupun sakit hati saat saat raya
mengabaikan perasaan Devan
tapi ujung-ujungnya El menjadi suaminya/Wilt/
walaupun sakit hati saat saat raya
mengabaikan perasaan Devan
tapi ujung-ujungnya El menjadi suaminya
Lanjutkn thor
Jangan lama ya thor
aku tunggu setiap hari,tp gk kunjung update