Warning!! sebelum membaca usahakan untuk membaca terlebih dahulu "ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH"
supaya kalian tau alur ceritanya.
🌹🌹🌹🌹
Erlon yang mabuk berat membuat dirinya kehilangan kendali, sehingga tanpa sadar ia melakukan pelecehan terhadap Briana. Yang membuat Kenzo sang daddy harus rela melihatnya menikah dengan anak dari musuhnya, dari situlah kisah perjalanan cinta mereka akan dimulai.
Siapakah yang akan terlebih dahulu jauh cinta? Apakah Erlon atau Briana?
🍃🍃🍃🍃
Eeetsss!! disini juga bakal ada kisah cinta Erlan dan juga Aurora lho, penasaran seperti apa kisah mereka. Cus dibaca saja bestie. Tapi sebelum kalian baca usahakan berikan Ayuza yang mental patungan ini dukungan ya ... .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekasih Lama Aurora Telah Kembali
Erlan dengan cepat membalas pesan Erlon yang memintanya untuk datang ke cafe. "Anak itu, kenapa selalu saja aku yang mengalah," guman Erlan yang bisa didengar oleh Aurora yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Ada apa lagi?" tanya Aurora yang kini sudah sedikit akrab dengan Erlan.
"Erlon, menyuruhku untuk datang. Katanya dia sa–"
"Aish … kenapa selalu saja begini, di saat aku sudah bersiap-siap, ada saja halangannya," ketus Aurora.
Tadi Aurora mandi dengan jurus secepat kilat, karena Erlan tiba-tiba mengajaknya untuk pergi shopping dan juga mengunjungi Darel di penjara. "Keluar sana." Aurora mengusir Erlan dari kamarnya. "Bisa-bisanya buat mood ku yang tadi bagus kini menjadi jelek. Dasar kutu buku!" teriak Aurora di telinga Erlan.
Ya, Aurora memanggil Erlan dengan nama kutu buku karena Erlan selalu sibuk dengan tumpukan dokumen, yang selalu ia kerjakan setiap hari.
"Gini saja." Erlan mulai mendekati Aurora. "Gimana, kalau kamu ikut saja ke cafe. Habis itu kita per–"
"Gak mau, pergi saja sana sendiri." Lagi-lagi Aurora memotong perkataan Erlan.
"Kamu kenapa sih, aku sudah baik hati lho, mau nemenin kamu," ucap Erlan sambil duduk di ranjang Aurora.
"Baik dari mana, kamu hanya bisa membuat darah ku naik." Aurora lalu mengambil tasnya ia ingin pergi sendiri namun, Erlan menarik tangannya. "Lepas, jangan menyentuhku."
"Aurora bisa tidak, kamu bersikap jangan seperti anak kecil!" bentak Erlan yang membuat Aurora semakin naik darah.
"Tutup mulutmu kutu buku, aku tidak suka dibentak," suara Aurora lebih melengking dari Erlan.
Erlan malah mendorong Aurora ke atas ranjang, lalu ia menindihnya. "Apa aku harus melakukan itu sekarang, supaya kamu bisa nurut sama seperti Ana," ucapan Erlan membuat Aurora salah paham.
"Jadi, kamu sudah meno–"
"Otakmu terlalu kotor Aurora, mana mungkin aku akan melakukan itu kepada istri adikku sendiri," sergah Erlan. "Bagaimana, kalau kita yang melakukannya se–"
"Selain kutu buku, sekarang kamu juga merangkak menjadi si mesum." Aurora menendang ************ Erlan, sehingga Erlan meringis kesakitan. "Makanya jangan macam-macam. Tuh burung masih aman 'kan?"
Erlan tidak menjawab ia masih berguling-guling di atas ranjang, menahan rasa sakit di bawah sana karena tendangan Aurora yang cukup keras.
"Urus diri sendiri, aku mau pergi dulu." Aurora bangun dan kembali merapikan rambutnya yang tadi berantakan.
"Aurora, kamu tega ninggalin aku. Di saat keadaan ku begini." Erlan berusaha untuk bangun. "Ayolah, Aurora. Jangan begini, tolong aku cepat."
Aurora menghembuskan nafas, entah mengapa ia merasa kasihan melihat Erlan padahal tadi dia sendiri yang melakukannya. "Laki kok lemah."
"Aku tidak lemah Aurora, kamu menendang pusaka ku bagaimana aku tidak merasa kesakitan. Andai saja kamu yang merasakannya," lirih Erlan. Yang membuat Aurora seketika tertawa terbahak-bahak.
"Kamu tetap lemah Erlan, masa begitu saja sudah mengaduh kesakitan." Aurora membantu Erlan untuk berdiri. "Ayo, kita pergi ke cafe. Mumpung suasana hatiku sudah berubah."
Erlan menggeleng. "Tidak, aku tidak mau pergi kemana-mana. Kamu saja yang keluar, nih ambil," kata Erlan sambil menyerahkan kunci mobilnya. "Jangan membawa mobil kesayanganku ngebut-ngebut."
"Lebih baik aku naik taxsi saja, simpan saja mobilmu. Sebelum aku membawanya menabrak pohon," ucap Aurora yang sebenarnya tidak bisa mengendarai mobil.
—-
Setelah semua urusannya selesai Aurora merasa lapar, ia mencari tempat makan terdekat. Untung saja aku sempat mengambil uangnya di dompet, tidak lupa juga kartu black cardnya. Jadi, aku tidak perlu cemas masalah uang. Aurora membatin.
Saat dirinya akan masuk seseorang malah menabraknya. Sehingga ia terjatuh.
"Hai, tuan!" Aurora berteriak. "Kalau jalan itu pakai mata," ucapnya lagi dengan kesal.
"Maaf nona, saya sedang terburu-buru," kata seseorang yang menabrak Aurora. "Mari saya bantu Anda No–" ucapan laki-laki itu terputus di saat ia melihat siapa yang ia tabrak tadi. "Aurora… ."
Aurora baru menyadari laki-laki yang ia tabrak itu adalah kekasihnya Gio, yang sudah lama pergi meninggalkan dirinya. "Gio, kamu!" Aurora menunjuk wajah Gio yang kini tersenyum manis kepadanya "Selama ini kamu pergi kemana?" tanya Aurora dengan mata berkaca-kaca.
Gio meraih tangan Aurora, membantunya untuk segera berdiri. "Sayang, kamu gak lupa sama aku 'kan?"
"Kamu jahat Gio, kenapa meninggalkan aku sendiri." Sambil meraih tangan Gio Aurora berdiri.
"Sayang, dengar penjelasan ku dulu."
"Terlambat," ucap Aurora lirih.
"Apanya yang terlambat, hmm. Aku akan mengenalkan kamu sama keluarga ku, kebetulan mereka sebentar lagi akan datang ke sini."
Saat mereka berdua sudah duduk, Gio melambaikan tangan, Karena ia melihat kedua orang tuanya sudah datang. "Mama, papa. Gio disini." Gio lalu berdiri ingin menghampiri kedua orang tuanya. "Kamu tunggu disini dulu ya, sayang."
"Iya." Hanya itu kalimat yang Aurora lontarkan karena ia sekarang sedang berperang dengan perasaannya sendiri.
Gio, kenapa kamu datang disaat aku sudah menjadi istri orang. Dan aku sudah berusaha melupakanmu.
Kedua orang tua Gio, terlihat sangat senang karena akhirnya putranya mau menikah. "Aurora," sapa mamanya Gio. Mamanya Gio memang belum pernah bertemu dengan Aurora tapi karena Gio selalu menceritakan tentang Aurora jadi ia tahu semua tentangnya, tadi Gio sempat berbisik kalau sekarang ia sedang bersama Aurora.
Aurora yang dari tadi melamun, tidak menyadari kalau kedua orang tua Gio ternyata sudah duduk. Gio lalu mencolek pipi Aurora yang hanya diam saja. "Sayang, mama manggil kamu."
"Ta-tante, maaf tadi Aurora tidak mendengar tante," ucap Aurora yang kini matanya tidak sengaja tertuju pada dua orang yang begitu iya kenal. Mommy sama Daddy. Gawat, jangan sampai mereka berdua melihatku disini. "Aduh, kepalaku kenapa tiba-tiba pusing," kata Aurora yang membuat Gio panik beserta kedua orang tuanya.
"Sayang, kamu sakit. Ya ampun." Gio terlihat sangat cemas.
"Aku pulang dulu ya, mungkin aku butuh istirahat. Om, tante. Maaf karena tidak bisa ikut makan malam."
"Tidak apa-apa Aurora. Gio kamu antar Aurora dulu. Nak," kata mamanya Gio lemah lembut.
"Sekali lagi maaf tante, sepertinya sakit kepala Aurora kambuh." Aurora yang melihat Zizi dan Kenzo keluar dari restoran tanpa menoleh ke arahnya langsung bernafas lega.
"Ayo sayang aku antar kamu pulang."
Namun, sebelum Aurora berdiri. Ada yang menyiramnya dengan minuman yang ada di depannya tadi. "Selain murahan, lu juga sekarang ingin merebut kakak gue."
Gio menarik tangan sang adik. "Kamu, kenapa menyiram calon kakak iparmu."
"Calon kakak ipar, dia ini sudah menikah kak. Jangan tertipu dengan wajah polosnya."
Aurora tidak tinggal diam ia menunjuk wajah adik Gio. "Saya tidak mengenal kamu, jadi jangan sok kenal."
"Erlon harus tau, kelakuan lu di belakangnya."
Bukannya marah Aurora sekarang malah tertawa, karena ia sekarang baru mengerti setelah mendengar nama Erlon. "Erlon, dia suami Briana adik saya Kalau saya kakaknya." Sambil mengusap wajahnya dengan tisu Aurora melihat penampilan adik Gio dari atas sampai bawah. Terbuka, sekali. Apa ini adiknya Gio yang dulu selalu ia ceritakan.