Sebuah misi yang di emban oleh dua saudara kembar tak identik. Namun, mereka memegang misi yang berbeda-beda. Bahkan, mereka pun terpisah oleh sebuah tragedi yang menimpa mereka semasa kecil.
Lalu, akankah mereka kembali di pertemukan oleh takdir yang saling berkaitan?
Apa jadinya bila seorang kakak kandung mencintai kembarannya sendiri?
Semua itu akan tersaji dalam sebuah kisah 'Misi Rahasia Si Kembar'.
Selamat membaca!
Terima kasih atas idenya pembaca setiaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Kuliah
Bugh ....
Bugh ....
Bugh ....
Mi Kyong dan Habib, menghajar segerombolan orang jahat itu dengan tangan kosong.
“Eotteohge? Geulaedo gyesoghasigessseubnikka?!” tantang Mi Kyong pada segerombolan pria jahat tersebut.
{Bagaimana? Apakah masih mau lanjut, hah?!}
“Gabsida! Ulineun igeos-eul sangsa-ege bogohal geos-ibnida.” kata salah seorang dari mereka.
{Ayo, pergi! Kita laporkan hal ini pada bos.}
Kini, tinggallah Habib dan Mi Kyong saja di tempat itu. Tak ingin berlama-lama berurusan dengan gadis asing, Habib memutuskan untuk pergi.
“Because the problem is solved, I will go now.” ujarnya tanpa menoleh ke arah Mi Kyong.
{Karena masalahnya sudah selesai, saya akan pergi sekarang.}
“Wait a minute! You haven't introduced yourself to me.”
{Tunggu, dulu! Kamu belum memperkenalkan dirimu padaku.}
“Should? Can't you just thank me?”
{Haruskah? Tidak bisakah kamu berterima kasih saja padaku?}
“Ok, thanks!” ucap Mi Kyong dengan setengah hati.
Habib terus berjalan melanjutkan langkahnya dan sedikit melambaikan tangan pada Mi Kyong.
“Wa, yaeneun mwoji? Geuneun geuga nugulago saeng-gaghabnikka? Geuga gamhi na-ege geuleon haengdong-eul hadani. najung-e boja! Dasi mannamyeon kkog dabjang deuligessseubnida!”
{Wah, apa-apaan dia? Dia pikir dia siapa, hah? Berani sekali dia bertindak seperti itu padaku. Lihat saja nanti! Kalau kita bertemu lagi, akan aku pastikan kau akan menerima balasan dariku!}
Sungguh omelan yang sia-sia. Habib sudah pasti tidak bisa mendengar semua omelan Mi Kyong saat ini.
“Migyeong ...!” jerit seseorang dari arah belakang Mi Kyong.
{Mi Kyong ...!}
“Abeoji ....”
{Ayah ....}
...----------------...
Lelah dengan semua kejadian malam ini yang menimpa dirinya. Habib membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Mata ia pejamkan sembari mengingat lagi kejadian luar biasa yang baru saja ia alami.
“Hahhh ... seumur hidupku, baru kali ini melihat seorang gadis berkelahi dengan epiknya. Dan ... gara-gara dia juga aku harus mengalami semua ini. Rasanya aku sungguh mengantuk sekali.” Tak lama setelah berkata demikian, Habib pun tertidur dengan pulasnya.
...----------------...
Pagi mulai menyapa lagi. Dingin yang masih lagi setia menemani, nyatanya tak membuat Habib berhenti. Ia tetap melakukan niatnya untuk pergi ke perguruan tinggi hari ini.
Universitas Hanyang adalah tujuan Habib ke Korea. Hanyang merupakan salah satu universitas terbaik di Korea. Jadi, tak salah bila ia mendapatkan rekomendasi ke sana.
Hari pertama Habib masuk kuliah. Dia pun lekas mempercepat segala sesuatunya. Tak ingin terlambat di hari pertamanya. Ia buru-buru memakai baju.
Bermodalkan otak cerdas dan talenta yang mumpuni, serta keinginan yang terlampau tinggi. Ia tak akan melewatkan kesempatan untuk menjadi yang terbaik nanti di kampus barunya.
Ya, memang Habib berharap dirinya dapat membanggakan kedua orang tuanya. Apalagi, ia tak main-main dengan keinginannya. Di balik itu semua ada sebuah rencana yang ingin ia realisasikan menjadi kenyataan.
Kira-kira hal apa yang ingin dilakukan Habib, ya?
Entahlah, hanya Habib yang tahu akan hal itu!
...----------------...
Langkah-langkah kaki Habib menelusuri jalanan baru baginya. Menuju halte bus untuk pergi ke kampus. Habib menikmati setiap hal baru baginya saat ini. Akan ada banyak hari yang ia lalui di sini. Jadi, membiasakan diri dengan lingkungan itu sudah pasti. Agar kelak tak merasa canggung lagi.
Bagian sudut kota Seoul yang lainnya, tengah menyajikan drama tak menyenangkan di pagi hari yang sedingin ini.
Mi Kyong tak kunjung bangun dari tidurnya. Semalam rencananya untuk merengkuh kebebasan tak terlaksana. Alhasil, pagi ini dia membuat drama. Drama yang cukup menyesakkan rongga dada.
“Mi-gyeong ...! Dangsindo kkaeeo issji anhseubnikka? Eonjekkaji geuleohge janeun geoya, eung? Ppalli il-eona ... Mi-gyeong! seuseungnim-eun sigtag-eseo dangsin-i hamkke achim-eul meoggileul gidaligo issseubnida.” panggil Do Hyun dari balik pintu kamar Mi Kyong.
{Mi Kyong ...! Apa kau tidak juga bangun? Mau sampai kapan kau akan tidur terus seperti itu, hah? Cepatlah, bangun ... Mi Kyong! Tuan sudah menunggu mu di meja makan untuk sarapan pagi bersama.}
“Sikkeuleoun ...! Naega wonhandamyeon il-eonal geos-ida. Gada ...!” jerit Mi Kyong dengan serta-merta melempar bantal ke arah pintu kamarnya.
{Berisik ...! Aku akan bangun jika aku mau. Pergilah ...!}
Do Hyun pun turun dengan membawa kekesalan karena Mi Kyong menolak perintah tuannya. Tak ada yang bisa memaksa Mi Kyong melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan.
Mi Kyong kembali menarik selimut dan merapatkan ke tubuhnya. Bahkan, untuk pergi kuliah pun gadis itu begitu enggan. Dilanda rasa malas yang teramat sangat, membuatnya bersikap bodo amat.
...----------------...
“Eotteohge? Geuneun kkaeeo issseubnikka?” tanya Joon Woo begitu Do Hyun turun dari lantai atas.
{Bagaimana? Apakah dia sudah bangun?}
Do Hyun hanya menggeleng pelan dengan wajah yang tertunduk lesu.
“Geugeos-eun jung-yohaji anhseubnida. I sijeom-eseo geuga wonhaneun geos-eul hadolog naebeolyeo dusibsio. Naneun geuui gamjeong-eul oleulagnaelilag hage mandeulgo sipji anhda. Bancheje insaleul haleo gasibsio. Geudeul-i yeojeonhi jibul-eul jiyeonhaneun gyeong-u. Geunyang ilbanjeog-in bangbeob-eulo kkeutnaeseyo. ihaehasijyo?”
{Tidak apa-apa. Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan saat ini. Aku tidak ingin membuat emosinya naik turun lagi. Kamu pergilah urus orang-orang yang membangkang. Bila mereka masih menunda pembayaran. Selesaikan saja mereka dengan cara biasanya. Kau mengerti, 'kan?}
“Algessseubnida, Sajangnim.”
{Mengerti, Pak bos.}
...----------------...
Universitas Hanyang, Korea Selatan ....
Kampus baru, suasana yang tentunya juga baru bagi Habib. Sebelum masuk ke kelas, Habib menyempatkan diri untuk sejenak meliput kegiatannya hari ini. Hal itu ia bagikan di situs laman sosmed-nya.
Belum lama mengunggah video di laman sosmed-nya, cuap-cuap di kolom komentar pun ia terima begitu cepatnya. Zaman memang sudah berubah. Segalanya serba canggih.
Ini adalah beberapa komentar yang muncul pada akun sosial media Habib.
Adnan_Attar Wah, itu kampus baru kamu, Bib? Gila! Itu sih keren abis, Bro! 😍👍🏻❤️
Vikal_Alvaro Bib, ini keren banget!👍🏻❤️ Gue jadi pengen kan nyusul Lo ke sana. 😥
Selty_Apriani Suka ❤️😍👍🏻
Nur_Jannah Mantap!👍🏻 I like it, Kak. 😍 Sarange, Oppa!
Ardi_Febrian Gila ... sumpah keren, Bro!👍🏻
Itulah beberapa komentar yang muncul di kolom komentarnya. Tak semua komentar Habib balas. Ia hanya membalas komentar dua sahabatnya yang telah berpartisipasi untuk meluapkan emosi.
Habib_Adhelard @Adnan_Attar Iya, makasih, Bro. 😊.
Habib_Adhelard @Vikal_Alvaro Ya, udah buruan ke sini. Aku tunggu kedatangan kamu, Kal dan @Adnan_Attar. 😊.
Tak ingin membuang waktu lagi, Habib lekas melanjutkan langkahnya. Memasuki beberapa ruangan di kampus, cukup membuat Habib lelah. Tapi, tak apa. Dia selalu tersenyum ramah pada mahasiswa/mahasiswi yang berseliweran di dekatnya.
...----------------...
Ruang kelas ....
Dosen memperkenalkan Habib pada teman sekelasnya.
“Oneul-eun oegug-eseo on hagsaengdeul-i issseubnida. Jagi sogae butagdeulibnida!” seru sang dosen pada Habib dengan bahasa Korea.
{Hari ini kita kedatangan mahasiswa baru dari luar negeri. Silakan perkenalkan diri mu!}
Tiba-tiba Habib sedikit menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Barulah sang dosen memahami gelagat Habib tersebut.
“Sorry! I mean please introduce yourself to them.”
{Maaf, Maksud saya silakan perkenalkan dirimu pada mereka.}
“Okay, Sir.”
{Baik, Pak.}
“Hi everyone! Introduce my name is Habib Adhelard. I come from Indonesia. Greetings all! ”
{Halo, Semua! Perkenalkan nama saya Habib Adhelard. Saya berasal dari Indonesia. Salam kenal semua!}
Semua atensi tertuju pada Habib yang tengah memperkenalkan diri. Namun, momen itu tak berlangsung lama. Cukup dua menit saja momen itu pun usai.
Jam pertama pun berlangsung cukup tenang. Habib telah bisa beradaptasi dengan sangat baik. Suasana belajar yang begitu menyenangkan, membuat pikiran Habib merasa nyaman.
Ada beberapa mahasiswa yang ingin berkenalan dengan Habib di kelas seusai jam pelajaran pertama. Lebih tepatnya sewaktu dosen selanjutnya belum masuk ke kelas.
“Hi ...!”
“Hello ....” balas Habib dengan wajar dan seperlunya saja.
“Can you get to know me better?”
{Boleh kenal lebih dekat?}
“Sure.” jawab Habib yang masih terus fokus pada buku-bukunya.
Begitu mendapat izin dari Habib, ke-tiga gadis itu pun mengulurkan tangan mereka satu persatu. Sontak, Habib menoleh ragu-ragu. Ia tampak canggung sekaligus merasa gugup yang begitu hebatnya.
Gadis pertama yang berkenalan dengan Habib adalah gadis paling cantik di kelas.
“Hi, my name is ... Park Ae-Ri.”
{Hai, namaku ... Park Ae-Ri.}
Lanjut, berikutnya adalah gadis bermata paling sipit di antara ke-tiga gadis tersebut.
“Hi, my name is ... Kim Myung Hee.”
{Hai, namaku .... Kim Myung Hee.}
Sama seperti ekspresi Habib sebelumnya, ia hanya mengangguk pelan seperti sedang melakukan slow motion.
Terakhir adalah gadis paling terlihat tomboi dari yang lainnya.
“My name is ... Yoon Hei-Ran.” ucapnya tanpa ekspresi sama sekali. Kelihatannya, dia hanya ikut-ikutan ke-dua temannya saja untuk memperkenalkan diri pada Habib.
“Greetings all! I'm Habib.”
{Salam kenal, Semuanya! Saya Habib.}
Lalu, mereka kembali melanjutkan pelajaran lagi. Sebab dosen yang mengajar telah datang ke kelas.
...----------------...
Akhirnya, hari ini di kampus berjalan lancar. Meskipun Habib sedikit merasa heran. Di dalam kelas tadi, bukannya murid laki-laki yang ingin berkenalan dengannya. Melainkan, murid perempuan yang tampak antusias berkenalan dengannya.
“Di sini sangat aneh sekali. Sejak tadi yang mengajakku berkenalan hanya perempuan saja. Kenapa bisa begitu, ya? Ah, sudahlah! Mungkin, memang perempuan di sini terlampau ramah saja. Makanya mereka bertindak seperti itu. Lebih baik sekarang aku pulang saja.” celoteh Habib di sepanjang jalan pulangnya.
Rute yang ditempuh Habib sama seperti saat ia pergi. Bedanya hanya orang-orang yang ia temui tidak lagi sama dengan yang tadi ia temui ketika pergi.
Sorot mata teduh Habib memandang ke arah luar jendela. Tampaklah olehnya gedung-gedung yang menjulang tinggi. Serta tata letak kota yang begitu epik dan menarik.
Hari ini tampaknya Habib sangat lelah. Sampai-sampai, ia tiba-tiba saja terlelap di dalam bus yang membawanya.
...----------------...
yang terakhir adalah Aku Mencintaimu dan Menyukai Semua Bab Awal-Akhir 😍😘😘👌🏻
sama donk kitaa😅