Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Misteri Pagi
Asep tersepona untuk entah keberapa kali begitu melihat Depy si anak mantan lurah desa Rukun Jengkol.
Asep baru saja akan tebar-tebar pesonanya manakala dilihatnya dua gadis yang tadinya berdiri di pinggir jalan depan rumah Bibiknya Asep itu tiba-tiba saja pergi.
"Sapa tuh Sob?"
Tanya Asep pada Sobir yang sedang mematikan puntung rokoknya di asbak.
"Depy sama Ela, teman adikku si Kais."
Ujar Sobir.
"Oh ya? Anak baru apa di kampung ini? Kok aku baru lihat?"
Tanya Asep sambil berjalan ke arah meja di teras dan meletakkan teh manis panas Sobir di sana.
"Enggaklah, ngawur, mereka asli orang sini, si Depy itu anaknya mantan lurah, si Ela itu anak juragan ayam, Nenekmu dulu langganan tuh di tempat Bapaknya Ela.
"Oh ya?"
"Hadeh, kamu mah di sini males-malesan doang sih, tuh si Fatih, anak Wak Imah, dia kalo liburan di sini sering tuh bantuin Nenek anterin ke tempat Bapaknya Ela beli ayam potong yang khusus ayam kampung."
Kata Sobir.
"Lhah kamu kok tahu banget sih Sob?"
Tanya Asep malah penasaran.
"Ya tahulah, aku kan kalau libur bantuin di sana, rumahnya kan deket rumahku, gimana sih."
Sobir benar-benar heran dengan Asep, jadi laki kok mageran dan apa-apa tidak tahu. Hihihi...
"Ooh iya iya..."
Asep mantuk-mantuk.
"Cantik ya mereka."
Kata Asep mesam mesem.
"Halah kamu mah emang ngga bisa lihat cewek."
Kata Sobir.
"Hahaha sialan."
Asep tertawa.
"Mata keranjang tapi ditolak mulu."
Seloroh Sobir lagi.
"Hahaha... Jangan gitu Sob, nanti nih aku bakal buktiin kalau aku pasti bakal bisa gebet cewek cantik."
Pongah Asep.
"Cewek cantik apa? Halu paling kamu mah."
Sobir tak percaya begitu saja.
"Hmm jangan salah, kemarin sore pas aku ke sini, aku udah boncengin dia dan bahkan udah aku anterin ke rumah."
Kata Asep bangga.
Sobir mengangkat kedua alisnya.
"Serius?"
Asep mantuk-mantuk.
"Namanya Melati, hmm bagus kan namanya? Cantik seperti orangnya."
Kata Asep lagi.
"Anak mana?"
Tanya Sobir jadi penasaran.
"Anak kampung ini juga kok, cuma rumahnya agak deket lapangan sama sekolahanmu waktu SD. Aku lewat sana kemarin, aku jadi inget dulu pernah main layangan sama kamu dan Fatih di lapangan yang deket sekolahmu."
Sobir sejenak terdiam.
"Memangnya ada ya di sana cewek namanya melati?"
Sobir tak yakin.
Seingatnya di dekat lapangan bukannya hanya ada gudang kasur punya mebel Hajjah Lilik Suryani?
Sama kuburan warga yang sudah mulai jarang dipakai memakamkan jenazah karena tanah kuburan di sana sudah mulai penuh?
Sobir jadi garuk-garuk kepala, bingung mengingat daerah itu yang seingatnya memang tidak ada rumah.
"Enggak percayaan kamu mah."
Kesal Asep.
"Ah sudah ah, aku mau balik, Emak lagi ke pasar, kasihan Kais sendirian, tadi diajakin ke Fit Yan Swalayan jadi ngga bisa pergi."
Ujar Sobir sambil nyeruput teh buatan Asep.
"Jiaaah, udah capek dibikinin diseruput doang."
Kesal Asep.
Sobir nyengir.
"Gampang nanti balik lagi. Oh ya, pamitin Bibik aku pulang."
Kata Sobir.
"Yaaa nanti aku chat."
Sahut Asep.
Sobir tertawa sambil geleng-geleng kepala.
Dasar Asep gendeng, wong Bibiknya di dalam rumah pake ngechat.
Pikir Sobir yang tahunya tadi ada yang melongok di pintu pasti tak lain adalah Bik Marni, Bibiknya Asep.
Sobir menuju motornya, lalu segera meninggalkan rumah Bibik Asep dan juga si Asep yang mulai menyalakan rokok lagi.
Asep mulai menghisap rokoknya dan kemudian menghembuskan asapnya ke udara, manakala hp nya berdering ada panggilan masuk.
Asep melirik layar hp nya dan terlihat nama Bik Marni di sana.
Asep segera mengangkatnya.
"Ya Bik, ada apa gerangan?"
Tanya Asep.
"Ooh kamu sudah bangun."
Terdengar suara Bik Marni jauh di sana.
"Sudahlah Bik, tadi pas Bik Marni habis ketok pintu itu aku langsung bangun."
Kata Asep.
"Huuu dasar, bukannya kamu ngorok kenceng sampe keluar kamar saja kedengeran, Bibik ketok sampe jari mau lecet kamu nggak keluar-keluar kok, untungnya pas subuh ojek akhirnya dateng, telat lima menit saja ketinggalan kereta."
Omel Bik Marni.
Asep terdiam.
Pas subuh?
"Bibik berangkat jam berapa memangnya?"
Tanya Asep.
"Subuh lah, itu juga sudah telat."
Asep mengerutkan kening.
Subuh?
Asep lalu melihat jam di hp nya.
Jam sembilan pagi, itu berarti tadi ia bangun sudah jam delapan.
Lalu yang ketuk pintu kamar siapa?
Batin Asep keder.
Dan...
Asep melihat piring di mana tadi ubi dan singkong kukus yang masih kebul-kebul telah kosong karena pikir Asep dihabiskan Sobir.
"Bibik berangkat habis ngukus ubi sama singkong?"
Tanya Asep lagi.
"Lah justru Bibik mau bilang, tadi Bibik tidak sempat masak apa-apa, itu di dapur banyak mie instan, kamu bikin saja, ada telur di kulkas juga."
Asep makin bingung mendengar penuturan Bik Marni.
"Sebentar Bik, maksudnya Bibik tidak ngukus Ubi dan Singkong?"
Tanya Asep memastikan.
"Ya mana sempat Asep, masak nasi pake magicom saja tidak sempat, orang Bibik bangun kesiangan, sudah begitu hubungi ojek tidak ada respon sampe subuh itu baru datang."
Asep ketok-ketok kepalanya yang jadi pusing.
"Tapi tadi ada ubi sama singkong kukus di dapur Bik satu piring."
Kata Asep.
"Hadeeeh, ngawur, tidak mungkin, kamu masih halu saja kebiasaan Nenek saat masih hidup kukus singkong dan ubi kalau pagi."
"Serius Bik."
Asep memandangi piring seng bergambar bunga.
"Sudahlah, ini keretanya sebentar lagi sampai, kamu jangan lupa bersihkan kamar bekas Bapakmu, sama kios itu buka lagi."
Kata Bik Marni.
Asep menghela nafas, ia belum bisa menjawab apapun karena otaknya tiba-tiba jadi beku.
Bukan Bibik yang ketok pintu, bukan juga Bibik yang rebus singkong dan ubi, lalu siapa?
Asep masih bertanya-tanya, manakala tiba-tiba ada panggilan dari nomor baru.
Asep mengerutkan kening, melihat nomor baru itu menelfon ke aplikasi chat.
Tampak foto profil nomor itu gambar bunga melati.
Mungkinkah?
Asep lalu mengangkat panggilan itu.
"Ya... halo, cari siapa?"
Tanya Asep.
"Bang Asep, ini Melati."
Suara lembut itu pun terdengar.
Asep langsung seketika lupa dengan semua ketidak beresan yang terjadi di rumah sang Bibik pagi ini.
"Melati, ooh ya ya..."
Asep pura-pura lupa sebentar.
Jaim, jaga imej. Hihihi...
"Maaf Melati ganggu."
Kata Melati.
"Ooh nggak apa Melati, Bang Asep tak pernah merasa terganggu kalau Melati yang hubungi. Betewe, tahu nomor Bang Asep dari mana?"
Tanya Asep.
"Kan kemarin Bang Asep kasih nomor."
Kata Melati.
Asep terdiam.
Masa sih? Seingatnya tidak, apa dia lupa?
"Bang... Melati bisa minta tolong lagi?"
Tanya Melati.
"Ya, tentu saja, katakanlah."
Kata Asep.
"Tapi Melati mau bicara langsung saja, Melati ke rumah Bang Asep saja ya."
Ujar Melati.
Wah gadis ini benar-benar kepincut padaku? Batin Asep GR.
"Tapi Bang Asep tidak di rumah, masih di rumah Bibik."
"Ooh ya nggak apa, Melati ke sana."
"Eh, tapi kan Melati bel..."
Tuuuuut...
Sambungan terputus, Asep melihat layar hp nya.
"Kan belum tahu di mana rumah Bibikku Melati..."
Asep meneruskan kalimatnya yang terputus seperti gumaman.
Tapi...
"Abaaaang."
Tiba-tiba Melati di jalan melambai ke arah Asep.
Hah?
**-----------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus