Hidup sebagai single parent tidaklah mudah, banyak tantangan dan ujian di dalamnya. Namun, semua itu harus dilalui Riana Aisyah Humairah, yang membesarkan anak seorang anak diri, Kaila Humairah, sepenih jiwa raga untuk kebahagiaannya.
Riana adalah korban kekerasan rumah tangga dan keegoisan sang suami, Arsyid. Hingga ia tidak peduli lagi akan cinta seolah kata itu hilang dalam kamus hidupnya.
Riana pun memutuskan membawa sang buah hati ke Negara Ginseng, Korea Selatan. Di sana ia berhasil menjadi seorang arsitek dan bertemu CEO muda sekaligus pelukis ternama, Kim YeonJin.
Kim YeonJin hadir di antara banyak perbedaan, salah satunya kepercayaan. Ia yang juga menjadi korban broken home memahami kepelikkan dan kesusahan Riana, sampai rasa kagum itu hadir.
Mampukah kisah mereka berkembang ke hal lebih baik di balik perbedaan melingkupi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7
...Pertemuan menjadi langkah awal sebuah perjalanan....
.......
Riana tengah fokus pada pekerjaannya membuat miniatur. Di atap perusahaan ia tengah bermain bersama dua benda yang berharga. Benda mati yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup selama ini.
Coretan demi coretan di atas kertas mulai terlihat. Senyum terbit di bibir ranumnya dengan rona merah menghias pipi putihnya. Ia senang bisa kembali ke dunia sendiri.
Dari kecil Riana memang suka menggambar rumah impian. Meskipun hanya coretan sederhana, itu sudah membuatnya bahagia.
Sepeninggalan ayah dan ibu, Riana hidup sendiri dengan mengandalkan pemberian dari sanak saudara. Seolah menjadi beban, ia pun tidak dipedulikan lagi. Kemudian ia dijodohkan dengan seseorang.
Setelah pernikahan itu Riana tidak dianggap lagi oleh keluarganya sendiri. Ia seperti hidup sebatang kara. Begitulah, kisah memilukan seorang Riana yang tidak ingin dikenang kembali.
“Dulu, hanya dengan menggambar rumah mewah sudah membuatku senang," celotehnya lalu menghela napas berat. "Ya Allah aku jadi teringat momen menyedihkan itu," lanjutnya.
Perlahan angin berhembus menyapu wajah sendu. Tanpa disadari seseorang tengah berjalan mendekat. Entahlah sebenarnya dia itu seorang bos atau pengangguran? Itulah yang mungkin dipikirkan setiap karyawan ketika berpapasan dengannya dan juga selalu muncul di hadapan Riana. Bahkan dirinya sendiri tidak mengerti.
Entah sudah menjadi kebiasaan atau memang kurang kerjaan sejak kedatangan, Riana ia selalu merasa luang. Ia nyaman berada di sampingnya.
Wajah tampan itu semakin memesona tat kala senyum manis kembali terbit di bibir menawannya. Lesung pipi semakin masuk ke dalam menambah keindahan. Riana yang masih menunduk tidak tahu jika sosok itu duduk tepat di depannya. Ia senang betapa rajin karyawannya satu ini.
“Aku tidak tahu kalau suasana bagus bisa mempengaruhi pekerjaan.”
Sontak perkataan barusan membuat Riana terperanjat dan langsung mendongakkan kepala.
“Ki-Kim YeonJin-ssi? Apa yang sedang Anda lakukan di sini?” tanya Riana heran.
“Kamu sendiri?” YeonJin malah balik bertanya.
“Saya sedang menyelesaikan rancangan ini. Rencananya habis makan siang nanti saya mau mulai menyusunnya,” jelas Riana kembali.
YeonJin menganggukkan kepala beberapa kali. Setelah mengatakan itu Riana pun menggambar lahi tanpa mempedulikan keberadaannya.
Mata sipit YeonJin masih saja memperhatikan wanita berhijab ini. Ada sesuatu dalam dada yang tidak bisa dideskripsikan dengan jelas. Hal itu mengganggu pikiran. Ia ragu untuk bertanya, tetapi rasa penasaran semakin menggebu.
“Apa yang membuatmu bekerja keras seperti ini?” Akhirnya pertanyaan itu meluncur bebas.
Riana menghentikan kegiatannya beberapa detik dan kembali fokus pada dunia sendiri sambil membalas pertanyaan sang lawan bicara.
“Saya ingin memberikan kehidupan yang layak untuk Kaila. Dia satu-satunya harta paling berharga untuk saya,” balasnya.
Mendengar jawaban Riana, tiba-tiba saja YeonJin merasakan jantungnya berdebar kencang. Bukan perasaan suka yang dirasakan, melainkan teringat memori beberapa tahun silam. Momen itu berputar cepat dalam kepala.
“Kamu adalah harta paling berharga bagi Eomma. Meskipun Appa pergi meninggalkan kita, Eomma akan bekerja keras untuk kebahagiaanmu, Jin.”
Kata-kata dari sang ibu terus terngiang. YeonJin tumbuh tanpa seorang ayah selama enam belas tahun tahun. Seorang remaja yang masih membutuhkan pengawasan kedua orang tua, nyatanya ia hanya merasakan dari salah satu pihak, sang Ibu. Hanya beliau yang ia punya dan ketika usianya menginjak dua puluh satu tahun sang ibu meninggal tanpa melihat keberhasilannya.
“Ternyata semua ibu memiliki pemikiran yang sama,” ucap YeonJin sendu.
Mendengar nada kesedihan itu Riana mendongak. Sorot mata sang atasan berubah, tidak sehangat tadi. Terlihat sayu menyimpan banyak kesedihan di dalamnya.
Riana mengerti, setiap orang memiliki kisah perjalanan hidup yang berbeda.
“Dulu Eomma juga mengatakan hal yang sama,” lanjutnya.
Riana masih tidak mengerti dan membiarkan pria itu bermain dengan pikirannya sendiri.
“Akh, yang jelas kamu harus tetap berjuang untuk Kaila. Kapan-kapan kenalkan aku yah.”
Setelah mengatakan itu YeonJin berlalu begitu saja. Riana terus menatap sosoknya hingga menghilang dalam pandangan.
“Apa yang dia bicarakan? Bukannya aneh seorang bos akrab dengan pegawainya? Ah molla.” Riana menggelengkan kepala.
Di balik pintu itu, YeonJin menghentikan langkah. Kepala dengan surai hitam legamnya menunduk dalam. Sepatu pantofel mengkilap menarik perhatian.
Kembali, ingatan itu terus berputar dalam bayang. YeonJin tidak pernah tahu bisa bertemu wanita yang hidupnya sama dengan sang ibu. Bak membuka kisah lama, ia merasa bernostalgia.
“Eomma, bogoshippo," gumamnya, lirih.
...***...
Gelap datang, langit bertabur bintang malam ini. Dari kepulangannya sejak sore tadi, Riana tidak lepas dari pekerjaannya.
Pernak-pernik untuk membuat miniatur menyebar di ruang keluarga. Apartemen yang ia tinggali tidak begitu besar. Mudah bagi sang anak untuk melihat kegiatan ibunya dari kamar.
Kaila tertarik dan berjalan mendekat. Riana yang masih berkutat dengan kegiatannya tidak menyadari kedatangan sang anak. Wanita itu jika sudah berada di dunianya tidak bisa diganggu gugat.
“Mamah, lagi apa?” tanya Kaila, penasaran.
“Eh! Sayang? Kenapa belum tidur hm?” Riana mengusap puncak kepalanya penuh kasih sayang.
“Aku tidak bisa tidur... karena Mamah tidak ada di samping Kaila," jawabnya tenang.
Senyum terpendar di bibir ranum Riana. Ia pun mengusap sebelah pipinya pelan.
“Maaf yah Sayang, malam ini Mamah tidak bisa menemani kamu tidur, karena banyak pekerjaan,” kata Riana menjelaskan.
“Eung, kalau begitu Kaila di sini temani Mamah.” Kaila pun membaringkan diri di samping pangkuan sang ibu.
Kepala bulatnya membuat Riana tidak bisa mengalihkan pandangan. Ia merasa bersalah dengan anak semata wayangnya ini. Namun, bagaimanapun juga ia tengah berjuang untuk masa depan Kaila.
"Aku tidak boleh menyerah. Aku harus membuat YeonJin-ssi berkesan supaya kontrak kerja ini bisa diperpanjang," benaknya serius.
Setiap hari Riana menghabiskan waktu dengan miniatur-miniatur yang ia susun membentuk bangunan kecil. Ia pun sempat melewatkan kebersamaannya dengan Kaila.
Gadis kecil itu terkadang mengeluh, sebab ibunya direnggut paksa oleh pekerjaan. Bibir kecilnya selalu mengerucut tat kala Riana menolak untuk membacakannya dongeng sebelum tidur.
Rasa penyesalan terkadang melintasi hati. Riana sudah melewati kesempatan untuk terus berdekatan dengan Kaila. Namun, mau bagaimana lagi pekerjaannya tidak bisa ditunda.
Dua tahun waktu yang diberikan Kim YeonJin untuknya. Ia dikontrak selama itu untuk membuat bangunan yang diinginkannya dan Riana tidak bisa menyia-nyiakannya begitu saja.
Dua minggu berlalu, tepat pada malam ini ia berhasil menyelesaikan pekerjaan. Semua beban sudah terangkat dan ia pun bisa bernapas lega untuk sesaat.
“Alhamdulillah, Ya Allah," ucap Riana seraya merentangkan tangan ke udara.
Jam menunjukan pukul setengah tujuh malam. Ia pun bergegas membereskan barang-barang bersiap pulang.
Baru saja ia keluar ruangan, langkahnya terhenti melihat YeonJin berjalan mendekat. Tatapannya tajam tidak sehangat biasanya.
Riana mengerutkan dahi heran, ragu untuk menyapanya. Alhasil pria itu hanya melewatinya begitu saja. Ia berbalik melihat YeonJin terus berjalan dengan langkah lebar.
“Sssshh, kenapa? Apa ada sesuatu?” gumamnya tidak mengerti.
Melihat Riana terdiam Jimin yang sedari tadi mengikuti ke mana perginya YeonJin pun menghentikan langkah tepat di sampingnya. Ia melihat keheranan yang terpendar dalam mata wanita berhijab itu.
“Kamu pasti heran kenapa sang CEO seperti itu, kan?” tanya Jimin to the point.
Riana tersentak lalu menoleh padanya, pria itu kembali melanjutkan.
“Besok ada berita besar. Kamu akan tahu sendiri nanti.”
Penjelasannya sama sekali tidak membantu. Tidak lama Jimin pun meninggalkannya.
“Berita besar? Apa itu? Apa besok YeonJin-ssi berulang tahun?” bisik Riana dan kemudian melenggang pergi.
Malam ini YeonJin terlihat gelisah, tidak menyangka wanita yang satu tahun pergi ke Paris akan kembali besok. Seharusnya ia senang, tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu.
Ada sesuatu dalam diri untuk menolak kedatangannya. Ia masih tidak mengerti dengan sesuatu yang terus bersarang dalam diri tanpa diketahui.
Keren kamu Thor...
Karyamu sungguh luar biasa...
Semoga sukses selalu untuk author...
Sama2 bandot tua bau tanah nan serakah menyebalkan..
narasi2nya bener2 nyesek...
Rasa mau ngulek jntungnya
Bener2 ngehempas mental anak kecil, ga ad hati😡😡😡
Walau fiksi...Mak merinding bacanya ..
Terharu..
Walau sekedar membaca narasi..
Luar biasa authornya
Pandai ngacak2 perasaan reader
Ga usah ditutupi
Agar BS sama2 menghadapi si tua bangka itu
Mbo ya eliiiing kamu tuuuh...
Hhhh tak sentil jantungmu Syiiiid
Geram rasanya..
Dr bab awal sj, ni air mata rasanya ngalir tanpa diminta
Rasanya sakit banget Thor..