"Apa! Masuk pesantren?"
tanya seorang gadis yang bernama Senja itu pada ayah nya.
"iyah nak,kamu mau kan?"memangnya ayah yakin mau memasukan senja ke pesantren?"katanya seraya mengerutkan keningnya.
betapa bahagia nya sang ayah melihat putri kesayangan nya itu setuju untuk masuk ke pesantran, padahal jika di perhatikan tingkahnya hampir menyerupai anak laki-laki, keras dan sangat nakal. bahkan di sekolah dia dikenal sebagai Queen bar-bar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 7
~Pov Author
_______________
Saida dan Amel menuntun Senja hingga di kamar, disana sudah ada Ustadzah Farihah menanti mereka yang agak sedikit terlambat.
"Kenapa lama sekali?" Ustadzah Farihah bertanya lembut.
"Hehehe, Senja mules Ustadzah,"jawab Saida cengesan menjelaskan.
"Oowh, ya sudah. Istirahat yang cukup ya Senja, Ustadzah carikan obat ya."
"Engga papa Ustadzah, Senja udah mendingan." Sambil mengelus sedikit perutnya Senja menjawab.
"Beneran ngga papa?" tanya Ustadzah kembali.
Senja mengangguk pelan, yang disambut senyum manis dari Ustadzah kesayangannya itu.
***
Malam berlalu hingga subuh menyapa, Senja dan lainnya pun sudah melaksanakan sholat subuh berjamaah di musholla pesantren Ar-Risalah ini.
Sejenak tadi, Senja sempat melirik ke toilet yang berada disisi kanan musholla tersebut. Terlintas di pikirannya kejadian semalam yang membuatnya sampai menguras keringat, terkurung di dalam toilet bersama kegelapan. Dan satu hal lagi yang membuat batin Senja terus bertanya, yaitu sifat baru dari seorang king bar-bar Fajar pangestu. Yang dulu dikenal nya dengan sifat sombong, dimana setiap harinya selalu mengatur-atur Senja, yang sering membuat nya merasa kesal. Namun apa yang terjadi semalam, Fajar yang menolongnya saat dalam kondisi sekarat, dan juga memberi dia ketenangan agar tidak mengeluarkan air mata lagi.
Senja senang mengingat tentang sikap Fajar yang sekarang, seperti perlakuan nya terhadap Senja tadi malam, yang terus terngiang-ngiang di benak Senja. Hingga tersadar bahwa dia sekarang sedang berada di depan panggung acara lomba.
Lanjutan dari yang semalam, masih dengan lomba da'i (Dakwah). Mungkin akan berlanjut sampai nanti malam, karena masih banyak peserta dari pesantren lain yang belum tampil.
Senja bersama para santri lainnya begitu menikmati acara hingga selesai, dan nanti malam akan dilanjutkan dengan acara lomba para peserta qori hafiz(tilawah).
Amel menarik nafas panjang saat mendengar penuturan dari MC yang mengatakan diharapkan bersiap-siap untuk peserta qori, yang akan tampil nanti malam. Senja dan Saida menggenggam erat tangan Amel dengan memberi seulas senyuman dan menyemangati sahabat mereka itu.
Ustadzah Farihah pun ikut memberikan suport kepada santri-santrinya, dan memberi dukungan dengan beberapa do'a semoga dilancarkan.
***
Malam sudah tiba, ba'da magrib acara pun dimulai. MC sudah mengawalinya dengan melafazkan muqaddimah, kemudian langsung pada cara lomba.
Peserta yang tampil pertama dari kalangan santri putra, berganti-ganti giliran dengan santri putri yang berasal dari pesantren yang berbeda-beda.
Sampai akhirnya tiba giliran Amel, dengan penuh semangat dia mengucap bismillah saat menuju panggung dan terus menarik perhatian dewan juri dengan mengeluarkan suara emasnya disana, saat membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Senyuman manis kembali terukir di bibir Senja, Saida, Ustadzah Farihah dan lainnya, begitu melihat orang-orang memberi tepuk tangan setelah penampilan Amel.
Tidak lama berselang, Rafi juga kembali menunjukkan aksi terbaik nya di panggung, sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri bagi guru yang membimbing mereka, tidak lain adalah Ustad Azman dan Ustadzah Farihah.
***
Setelah selesai acara, Ustad Azman dan Ustadzah Farihah mengajak para muridnya baik santri putra dan satri putri untuk berkumpul sejenak sebelum kembali ke kamar peristirahatan.
Mereka pun berkumpul di tempat tidak jauh dari tenda tempat duduk mereka tadi saat menyaksikan acara.
Tujuan perkumpulan ini adalah, mereka ingin memberi semangat dan berdo'a bersama agar para peserta dilancarkan saat tampil berikutnya. Namun sebelum do'a dimulai, seorang santri putra dari pesantren Ar-Risalah datang menghampiri mereka semua. Santri itu adalah Fajar.
Fajar menyapa mereka dengan mengucap salam, lalu mencium tangan Ustad Azman.
"Masya Allah, ini Fajar? Jadi sekarang mondok disini ya?" tanya Ustad Azman pada Fajar, yang di balas anggukan kecil darinya.
"Alhamdulillah iya. Ustad bagaimana kabarnya? Dan kenapa bisa tau Fajar mondok disini?" Fajar balik bertanya pada Ustad Azman.
"Alhamdulillah baik. Tentu Ustad tau lah, almamater kamu kan sudah menjawab semuanya." Ustad Azman tersenyum menjawab pertanyaan Fajar sambil menunjuk ke seragam Fajar.
Fajar melirik bajunya, dan juga ikut tersenyum konyol karena bertanya seperti itu tadi.
Senja, Saida dan Amel mengerutkan kening saat melihat obrolan Fajar dan Ustad Azman, mereka penasaran kenapa Ustad Azman bisa mengenal Fajar.
"Jadi, dulu Fajar sempat mendaftar jadi santri di pondok pesantren kita. Tapi hari itu juga dia mengundurkan diri, entah apa sebabnya?" Ustad Azman menjelaskan kenapa beliau bisa mengenal Fajar. Fajar hanya tersenyum tanpa memberi alasan kenapa dia tidak jadi mondok di pesantren As-Sasunnajah.
Tidak berlama-lama, Ustad Azman memulai bacaan do'anya. Fajar juga ikut mengaminkan.
Senja melirik ke arah Fajar, namun pada saat itu Fajar juga sedang memperhatikannya. Pandangan mereka sempat beradu, tapi dengan sigap Senja mengakhirinya karena melihat Fajar mengedipkan sebelah matanya ke arah Senja. 'Apaan sih tuh anak, makin ngga jelas aja.' Batin Senja meracau kesal, karena mendapati lagi sikap aneh Fajar.
Setelah Ustad Azman menyelesaikan do'a dan memberi semangat kepada para muridnya, beliau mempersilahkan mereka untuk kembali ke kamar masing-masing.
Sebelum mereka bubar, Senja mengatakan sesuatu kepada gurunya itu.
"Maaf Ustad, Ustadzah. Senja boleh ngga minta izin sebentar untuk mengobrol dengan Fajar. Bukan berdua, tapi sama Saida dan Amel juga. Tidak bermaksud apa-apa, Fajar adalah teman SMA lama Senja, sebentar saja ... boleh ya? Ustad, Ustadzah." Senja meminta izin kepada gurunya, entah apa yang ingin dia bicarakan dengan Fajar.
"Gimana ya? eum ... menurut Ustadzah Farihah gimana? Boleh ngga?" Ustad Azman tersenyum nampak berpikir untuk memberi izin atau tidak pada Senja, lalu menanyakan kepada Ustadzah Farihah.
"Menurut saya boleh saja Ustad, asalkan mereka tidak berkhalwat. Dan di tempat terbuka. Tapi janji jangan lama, Saida dan Amel temani mereka ya!" Izin di beri oleh Ustadzah Farihah, dan Ustad Azman juga menganggukinya.
Lalu mereka pun mulai meninggalkan tempat berkumpul tadi, yang tersisa hanya Senja dan kedua sahabatnya, beserta Fajar dan juga Rafi yang masih tetap berdiri tegak disana.
~Bersambung
~Krisan di butuhkan;)