"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Aku berangkat bersama Nana setelah berdebat panjang dengan Pria yang notabennya adalah suamiku sendiri, dengan sifat keras kepalanya itu dapat aku sejukkan dengan bujuk rayu dari seorang Nana, sang kelinci yang cerdik.
Flashback √
"Kak Fallen," panggil Fio dan Fallen yang tengah sibuk memasang sepatunya kemudian mendongak menatap sang istri.
"Hari ini aku berangkat bersama Nana, jadi Kakak gak perlu repot-repot," ucap Fio kembali.
"Tidak!" balas Fallen dengan ekspresi datarnya.
Tentu saja Fio mendecak sebal sambil memijit pelipisnya, "Kak, aku tuh udah janjian sama Nana, jadi Kakak tolong mengerti!" balas Fio ketus.
Fallen memejamkan matanya berusaha menenangkan dirinya agar tidak meledak di depan istrinya sendiri.
Nana sedari tadi menatap drama tersebut langsung mengambil langkah sebagai jalan penengah, walau sebetulnya ia tengah tersenyum licik.
Nana mendekat ke arah Fallen kemudian berbisik, "Kak, pendekatan untuk mendapatkan jatah dari seorang Istri adalah menuruti keinginannya dan selalu membuatnya bahagia, perlahan tapi pasti, itu akan berbuah dengan cepat."
Itulah yang diucapkan oleh Nana yang tidak diketahui oleh Fio, tapi itu sukses membuat Fallen terdiam dan mencerna perkataan Nana.
Bermenit-menit kemudian Fallen menganggukkan kepalanya.
"Untuk hari ini Aku memperbolehkanmu Fio, tapi lain kali, tidak ada lagi," putus Fallen kemudian melanjutkan aktifitas yang tertunda tadi.
Flashback ×
Akhirnya mereka telah sampai di sekolah kemudian melewati pintu gerbang sambil menyehatkan mulut mereka dipagi hari dengan berbincang.
"Apa sih yang Kamu bisikin ke Kak Fallen?" tanya Fio penasaran.
Dengan santai, Nana menjawab dengan lantang, "Yah pastinya buat dapatin jatah dari Kamu, dengan cara menuruti keinginanmu dan lama-lama Kamu bakalan senang dengan Kak Fallen. Ketika Kak Fallen meminta jatah Kamu bakalan kasih dengan sesuka hati."
Fio menggeram kesal, "Sahabat gila!" teriak Fio.
Sedangkan Nana tertawa terbahak-bahak kemudian berlari, langkah selanjutnya sudah pasti Fio mengejarnya.
"Wow! Pemandangan yang baru, apakah itu Nana? Gadis cupu yang kini berubah 180 derajat," ucap Fahrul yang menghentikan kegiatan saling mengejar mereka.
Nana tersenyum miring dan menatap sinis Fahrul, "Sudah cukup bermain-mainnya Fahrul, gue gak ada urusan sama lo, dan mulai hari ini jangan pernah ganggu gue maupun sahabat gue, atau lo bakalan menyesal," balas Nana yang membuat Fahrul terkejut akan mulut berbisanya Nana.
"Gue gak percaya kalau lo ternyata wanita munafik!"
"Gue gak peduli, mau munafik kek, berlindung dibalik topeng, atau apapun itu, karena ini adalah hidup gue, dan lo punya hidup sendiri, jadi, gak usah ngurusin hidup orang lain, emangnya hidup lo dah bener? Terus, mana tuh anak ayam lo? Siapa tuh? Kyla yah? Hahaha," balas Nana lagi yang mengundang para siswa untuk menyaksikan kejadian tersebut.
Benar-benar langka, apalagi nama Kyla yang disebut dengan lantang, sedangkan gadis yang bernama Kyla tersebut sudah berada di belakang Nana yang tengah mengepalkan tangannya kuat.
"Nana! Jangan main-main dengan gue," ucap Kyla.
"Ups, ternyata anak ayamnya udah datang," balas Nana kemudian berbalik menatap Kyla tak takut.
Fio berjalan pelan kemudian menghampiri Nana dan berbisik, "Udah, Na. Kita pergi aja, gak usah ber-urusan dengan Kyla."
"Oke, kita pergi, soalnya ini bukan waktu yang tepat juga," ucap Nana kemudian menarik tangan Fio.
Nana berhenti sebentar, "Gue gak sabar nih bahwa berita ini bakalan tersebar di sosmed, mungkin sekolah ini punya akun lambe turahnya? Itupun mungkin," ucap Nana kemudian melanjutkan langkahnya dengan tangan yang masih setia menarik Fio.
Permainan baru dimulai, lo belum tahu siapa Nana sebenarnya, cukup sampai di sini gue pura-pura, siapapun yang mengganggu orang yang gue anggap sebagai saudara gue sendiri, bakalan ber-urusan dengan gue.
~~
Terimakasih telah membaca cerita ini, silahkan klik like dan beri tanggapan/komentar.
kalau pribadi yimak .membawa like