Yuk senam bibir, cerita Sarasvati yang kocak dalam menghadapi majikannya yang lumpuh.
Terlahir kaya raya membuat Dewa bersikap arrogant dan dingin kepada siapa saja. Terutama mahluk yang bernama wanita. Namun, ketika melihat mantan pacarnya bermesraan di suatu pesta, ia menyeret dengan asal seorang gadis dan mengaku pada semua tamu undangan, mereka akan segera menikah.
Sartika Sarasvati, si gadis miskin yang tidak tahu apa-apa. Ia harus terlibat dengan bongkahan es tersebut gara-gara mengantar dompet pelangan yang tertinggal di cafe tempatnya bekerja. Ya, Tika hanya gadis pelayan di sebuah cafe. Tapi, malam ini semua mata tertuju pada gadis manis yang tangannya digengam oleh CEO Diamondland, perusahaan real estate nomor satu di Indonesia. Apa mereka akan menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Cuan
Jerat Cinta Tuan Muda #6
Oleh Sept
Rate 18+
"Tugasmu dimulai dari memandikan Tuan muda, memastikan perutnya selalu terisi dan meminumkan obat. Tiga kali sehari, tidak kurang atau lebih. Kalau sampai kamu lalai sedikit saja, siap-siap Nyonya besar akan menyeretmu keluar!" terang Mbak Mar dengan panjang lebar. Terlihat sekali kalau ia tidak main-main, kata-katanya tegas dan penuh nada ancaman.
Tika langsung merinding, matanya masih tidak percaya pada apa yang ia lihat. Pria yang mengutang bibirnya 20 juta itu kini terbaring lemah tak berdaya. Tika menatap Dewa yang masih terlelap.
Tapi tunggu, karena saking terkejutnya, Tika sampai tidak mencerna arahan Mbak Mar. Memandikan Tuan muda? Apa ia tidak salah dengar? Memandikan bayi besar? Membayangkan saja ia sudah geli. Kalau menyiapkan makan dan minum obat sih Tika oke-oke saja.
"Emm ... mandi bagaimana Mbak Mar?" Kata tanya itu meluncur begitu saja tanpa bisa direm.
"Jangan kurang ajar kamu, Tika!" sentak Mbak Mar.
Spontan Tika mengkerut, ia tidak tahu di mana letak kesalahan yang ia buat. Lalu mengapa mata Mbak Mar melotot seperti Susana saat melihat ke arahnya. Kalau saja tidak menghormati orang yang lebih tua, rasanya Tika pingin nyolok tuh biji mata. Sabar, sabar ... itu dosa Tika.
"Cukup siapkan perlengkapan mandi Tuan muda, siapakan semua keperluannya," jelas Mbak Mar.
"Kalau jelas begitu kan ... Tika jadi ngerti, Mbak."
"Jangan pernah punya pikiran kotor di rumah ini!" Mbak Mar melirik ke arah Tika dengan tajam dan wajah galak.
Tika menelan ludah dengan kasar, kalau saja Mbak Mar tahu. Otak Tika nggak ada kotot-kotornya. Paling cuma isinya mikirin cuan. Bagaimana cara agar cepat menjadi kaya.
Karena suara berisik di dalam kamarnya, perlahan mata Dewa mengerjap. Pangeran tidur itu pun bangun dari mimpi buruknya.
"Kenapa pagi-pagi sudah ribut? Tinggalkan kamar ini!"
Malas bangun, Dewa menarik selimut kembali, dan menutupi seluruh tubuhnya. Sejak bangun dari koma, Dewa menjadi pribadi yang semakin dingin. Bahkan hampir tidak memiliki semangat hidup.
Tanpa melihat siapa yang ada di dalam kamarnya, pria itu langsung mengusir siapa saja yang membuat keributan di dalam kamarnya.
"Sekarang bangunkan Tuan muda, satu jam lagi aku akan kembali ke sini. Bila Tuan muda masih di atas ranjang, dan belum terlihat rapi. Siap-siap, mungkin ini hari terakhir kamu kerja di sini, Tika!" terang Mbak Mar dengan bisik-bisik.
"What?" pekik Tika.
"Pelankan suaramu!" setak Mbak Mar.
"Tapi ...!"
"Lakukan mulai sekarang! Jangan membuang waktu, kamu tahu Tika? Waktu adalah uang!" Mbak Mar berbalik meninggalkan Tika berduan dengan Tuan muda.
"Gila!" batin Tika meronta.
Hanya diberi waktu satu jam, kalau sampai gagal ia dipecat. Artinya ia harus ganti rugi? "Sial!" rutuk Tika yang merasa sudah masuk jebakan mereka.
Srekkk
Tika menarik selimut dengan sekali tarikan, demi uang Tika akan melakukan tugasnya dengan semangat. Demi motor, demi mobil dan demi rumah. Hahaha, wanita muda itu malah tertawa dalam hati. Membayangkan menjadi orang kaya saja sudah membuatnya gembira ria.
"Aku bilang tinggalkan kamar ini!" teriak Dewa sembari membuka mata, ia kesal karena seorang mengusik tidurnya.
Mata panda itu terbelalak, menatap siapa yang dengan sengaja menarik selimutnya.
"Kamu?" Dewa mengacungkan telunjuk ke wajah Tika.
Dewa memperhatikan pakaian Tika, ia memindai Tika dari atas sampai bawa. Ia heran, mengapa Tika memakai seragam pelayan di rumahnya.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku?"
Sambil membungkuk layaknya pelayan istana jaman kerajaan, Tika memperkenalkan siapa dirinya.
"Selamat pagi, Tuan. Saya pelayan pribadi Tuan muda mulai sekarang." Tika terlihat sangat terpaksa saat tersenyum. Masalahnya, ia masih sebal dan dendam karena Dewa masih hutang 20 juta padanya, atau malah 50 juta? Ah, berapa pun itu. Pokoknya Dewa masih punya hutang yang belum dibayar.
"Siapa yang menyuruhmu kerja di sini? Pergi sana! Kamu saya pecat!"
"Astaga!"
"Keluar!" perintah Dewa.
Mana mau Tika keluar, belum juga lima menit. Masa ia dipecat, tidak mau kalah dari Dewa. Tika langsung mengambil kursi roda yang terparkir di sudut ruangan.
Gadis yang terlahir tak kaya itu memiliki muka tembok yang tebal. Mau Dewa mengusirnya berkali-kali, ia tidak peduli.
"Hey! Apa yang kamu lakukan! Pergi!"
Dewa menyerang Tika, pria itu melempar semua apa saja yang bisa diraih oleh tangannya. Bantal, guling, seprai, ia lempar ke arah Tika. Agar gadis itu tidak menyentuh tubuhnya.
Tika tersenyum kecut, dalam hati ia merutuk sikap bar-bar Tuan mudanya. Karena kondisi Dewa yang sekarang, Tika menahan emosinya. Ia tidak boleh kalah, demi uang Tika akan beruang.
"Mau aku lelas, apa dilepas sendiri?" Tika melirik piyama milik Dewa.
"Wanita mesum! Pergi dari kamarku!" teriak Dewa. Sudah tidak ada barang yang bisa ia lempar lagi. Kecuali kursi roda, kalau ia lempar, bisa-bisa Tika mati.
Sedangkan Tika, gadis itu malah membuang muka, kemudian mendengus kesal. Setelah berhasil mengatur napas agar tidak emosi. Kini Tika berjalan mendekati ranjang. Di sana mata Dewa sudah melotot padanya. Sebagai tanda jangan mendekat.
Dasar Tika, demi uang ia bisa melakukan apa saja. Tanpa ragu Tika langsung naik ke atas ranjang. Ia mengatur posisi, berdiri di balik tubuh Dewa yang terduduk. Dengan sekuat tenaga, ia memindah Dewa ke atas kursi roda.
Pria itu panik, tapi tubuhnya tak berkutik. Ya, pria tampan dan kaya itu mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya.
PLAKKKK
"Lancang sekali kamu Tika!" Bersambung.