NovelToon NovelToon
Kawin Lari

Kawin Lari

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Duda / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

Ketika kenyataan tak seindah bayangan...

Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.

Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.

Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.


"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~


"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Butuh tumpangan?

Waktu menunjukkan pukul tiga siang masih dua jam lagi untuk mengakhiri aktivitasnya di kantor. Dan kebetulan besok adalah hari Sabtu dimana hari yang di tunggu-tunggu oleh para pencari nafkah untuk mengistirahatkan tubuh atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

"Udah selesai Na?" tanya Lala teman satu profesinya.

"Udah, masuk ke dalam yuk." Ajak Jenna pada Lala untuk masuk ke ruangan mereka dan meninggalkan meja customer yang sejak pagi tadi mereka tempati.

Seharian menghadapi customer dari berbagai macam karakter orang semakin membuat Jenna mencintai pekerjaannya. Dulu semasa ia berkuliah di Jakarta ingin sekali ia bekerja di gedung-gedung bertingkat, memakai pakaian kantor yang fashionable dan mengakhiri akhir minggu dengan pergi ke salah satu club mahal atau sekedar nongkrong di cafe terkenal.

Tapi itu hanya mimpi, selepas wisuda Jenna di minta pulang kembali ke Bangka, mengikuti tes ASN dan tes masuk perbankan. Lagi-lagi semua sudah di susun rapih oleh sang Mama. Setelah Akbar, abangnya yang menjadi salah satu ASN di kota itu maka mama Kartina ingin Jenna mendapatkan salah satunya, ASN atau pegawai bank. Pemikiran seorang ibu seperti mama Kartina ini masih banyak kita jumpai sampai sekarang.

Kehidupan sedari kecil yang di atur hingga detik ini membuat Jenna tak begitu mempunyai banyak teman, hanya teman sekali lewat begitu istilahnya.

"Meeting besok pagi jangan lupa ya Na," kata Lala lagi saat semua orang satu per satu mulai meninggalkan tempat kerja mereka.

"Ok La," jawab Jenna.

"Di jemput?"

"Iya, sama Abang Akbar ... by the way Abang titip salam buat kamu," ujar Jenna pada Lala.

Wajah Lala bersemu merah, ini adalah salam titipan yang entah ke berapa namun selalu Lala jawab dengan "Waalaikumsalam."

"Abang beneran loh La ... coba aja," kata Jenna lagi.

"Kayak apa gitu di coba, Na." Dan mereka pun tertawa.

"Aku duluan ya," ujar Lala yang sudah terbiasa menaiki motor matic kemana-mana.

"Ok ... hati-hati."

Jenna masih menunggu di depan kantornya yang merupakan ruko empat lantai. Di depan ruko terdapat jajaran makanan kaki lima. Biasanya jika menunggu jemputan gadis itu akan menunggu sambil membeli beberapa makanan untuk di bawa pulang atau hanya sekedar berbincang dengan tukang parkir yang berada di sana.

Sudah lebih setengah jam, Akbar belum juga menampakkan dirinya. Jenna mengusap gawainya, berusaha menghubungi Akbar namun tak ada jawaban.

Awan mulai gelap, sepertinya sore itu memang akan hujan. Jenna mulai gelisah, beberapa kali dia berusaha menghubungi Akbar masih belum ada jawaban.

"Jenna," ujar suara itu.

Lelaki itu membuka kaca jendela mobilnya lebih lebar, lelaki berhidung mancung itu pun tersenyum. Jenna sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Hai," sapa Radit.

"Hai."

"Nunggu jemputan?" tanya Radit.

Jenna mengangguk.

"Butuh tumpangan? Masih lama? kalo masih lama bareng aja ... gimana?"

"Hah?"

"Udah mau hujan ... ayo, tenang aja aku Anter sampai rumah aman dan terpercaya." Lelaki itu mencoba untuk tidak kaku.

"Aduh, gimana ya?" Jenna bingung alih-alih ia takut ikut Radit, Akbar datang ... menunggu Akbar tapi tak ada kabar.

"Sambil menghubungi yang mau jemput ... kalo kamu udah bareng aku."

Jenna berpikir lagi.

"Gimana? udah mau Magrib loh." Radit tersenyum tipis.

Kamu dimana sih, Bang? gerutu Jenna dalam hati lalu masuk ke dalam mobil Radit.

"Jadi ngerepotin," ujar Jenna lalu memasang sabuk pengamannya.

"Gak ngerepotin ... kebetulan lewat terus liat kamu," ujar Radit menoleh ke arah Jenna.

Ya ampun, jangan tanya bagaimana debar jantung Radit saat ini. Rasanya ia ingin melompat, berjingkrak, berteriak mengatakan YESS. Gadis yang sudah beberapa bulan membuatnya selalu penasaran.

"Ini kita kemana?" tanya Radit.

"Pulang kan?" Jenna menjawab salah tingkah.

"Iya pulang ... emang mau kemana?" Tawa Radit pun pecah.

Jenna tersenyum malu membuang pandangannya keluar jendela.

"Dari sini arah kemana? aku belum tau seluk beluk jalan di Bangka," kata lelaki itu lalu mengganti musik dengan musik yang sedikit slow.

"Dari lampu merah nanti ke kanan terus aja nanti perempatan besar kita ke kanan lagi," jawab Jenna.

"Baik."

"Em ... kamu baru tinggal di Bangka?"

"Baru ... dua hampir tiga bulan."

"Oh ...."

"Kamu asli Bangka?" tanya Radit.

"Dari lahir di sini, cuma orang tua asli Palembang."

"Oh ... berarti nama Masayu itu nama kebangsawanan Palembang?" tanya Radit dan Jenna mengangguk.

"Gak pernah ke coffee shop lagi," ujar Radit kembali menoleh ke arah Jenna saat berhenti di lampu merah.

"Coffee shop yang di alun-alun?"

"He eh ... awal jumpa," ujar Radit menyunggingkan senyuman.

"Masih inget?"

"Gak bisa lupa ...." Radit tersenyum malu begitu pun Jenna.

Astaga batin Jenna.

"Kapan-kapan nanti ke sana lagi ... oh ya aku masih punya hutang sama Mas Radit."

"Mas?"

"Eh ... salah ya?"

"Ah ... gak, gak papa ... ok, Mas." Radit menutup bibirnya yang lagi-lagi tersenyum.

"Hutang apa?"

"Buku novel yang waktu itu Mas Radit bayarin," ujar Jenna.

"Oh itu ... Jenna, ini kita ke kanan?"

"Iya ke kanan nanti ada gerbang besar masuk ke komplek itu," jawab Jenna memberikan petunjuk.

"Buku novel yang waktu itu? kamu mau bayar hutangnya?" tanya Radit lagi.

"Iya ... aku gak biasa berhutang."

"Ok ... aku terima," ujar Radit.

"Baik." Jenna pun ikut tersenyum.

"Besok? makan siang?"

"Hah? secepat itu?"

"Kenapa gak? hutang harus cepat di bayar, kan?"

"Haha ... bisa aja," Jenna terkekeh.

"Semua bisa kalo sama Radit ... Mas Radit," ujar Radit pun terkekeh.

"Dimana?" tanya Jenna.

"Apa nya?"

"Ish ... makan siangnya." Jenna lalu menunjukkan arah gerbang besar komplek perumahan orang tuanya. "Nanti ada blok ke tiga ke kiri, pagar kayu warna hitam," ujar Jenna lagi.

"Besok aku jemput?"

"Jangan!"

"Hah?"

"Jangan ... jangan jemput, aku aja yang datang ... nomer Mas Radit aku minta." Jenna memberikan gawainya pada Radit.

"Oh ... oke, yakin gak aku jemput?"

"No ... jangan, biar aku yang ketemu kamu." Jenna beberapa kali menggeleng.

"Ini ... berarti aku bisa ya chat kamu?" tanya Radit menghentikan mobilnya tepat di depan pintu pagar rumah Jenna.

Jenna mengangguk, "Mas ... makasih ya," ujarnya lalu hendak membuka pintu mobil.

"Jenna ...."

"Ya?"

"Selamat beristirahat," ujar Radit tersenyum.

"Mas Radit juga," jawab Jenna lalu turun dari mobil lelaki itu.

Radit membunyikan klaksonnya tanda pamit pada Jenna, dan Jenna masih berdiri terpaku menatap mobil yang sudah meluncur menjauh dari hadapannya hingga klakson mobil lain mengagetkannya.

"Ngapain di luar?" tanya Akbar.

"Baru juga sampe ... Abang kemana? aku nungguin lama banget ... untung ada orang baik."

"Buka pager dong, masuk dulu ini ... ntar Abang kasih tau kenapa tadi gak bisa jemput kamu," titah Akbar yang terlihat begitu lelah.

Jenna mendorong pagar rumah di bantu oleh penjaga rumah yang tergopoh-gopoh berlari dari arah pekarangan.

***enjoy reading 😘

mari kita nikmati awal keuwuan Mas Radit si duda uwu 😂eiittss jangan lupa jempol mana jempol 😘***

1
Wiwik Roviyantini
kpn mulai up cerita terbaru kk
Maryati Subur92
AQ ikut deg deg kan
Aisya
part ini ak nangis malem malem 😭😭
Agus Tina
Baca ini sudah ketiga kalinya ... nggak bosen. Suka ceritanya .... Pak Sofyan sosok ayah yg baik dan bijaksana banget ...
Dewa Nara
gak ada kota bangka Thor, karena bangka itu nama pulau. adanya kota Pangkal Pinang, Mentok, dsb.
Chida: oh iya kota Pangkal Pinang .. makasih ya
total 1 replies
Ulil Baba
jangan pernah berhenti untuk mencintai KU
dalem banget artinya
Ulil Baba
wong gendeng 😤😤 semremet Karo mbok e
Ulil Baba
yaa Allah serius kak nangis nyesek banget,, konyol ku lagi mata masih merah habis nangis ada kurir paket datang,,,ambyar deeehh
T.N
Luar biasa
Ulil Baba
bacanya ikut senyum senyum
Vivo Smart
Budi emang anak baik kek dibuku buku pelajaran
Vivo Smart
duda emang udah lebih berani ya
Vivo Smart
kok diajarin boong Jenna nya Dit
Vivo Smart
aku sudah punya anak dua, tapi masih suka banget kalau dicium
Vivo Smart
waaahhh... kasih pak Manto tips Na. oke banget dia padahal belum dibriefing
Vivo Smart
Radit duda kan
Vivo Smart
kadang cinta datang tanpa menunggu kesiapan Mas.
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba
Vivo Smart
akbar nggak tegas jadi laki
Vivo Smart
Emang Abang nggak kemana-mana Bang?
May Keisya
diajarin ya mas😂..itu senjata dia wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!