Adrian seorang laki-laki berusia 28 tahun dan menjadi seorang CEO pemilik perusahaan ternama yang terkenal sombong, angkuh dan dingin. Dibalik sifat yang dingin, Ardian memiliki masa lalu yang kelam karena dimasa lalunya, Adrian pernah disakiti mantan kekasihnya yang sangat tega menduakan dirinya di belakang dan ditambah lagi orang tua yang meninggal karena dibunuh dan pada akhirnya Adrian merencakan untuk membalaskan dendamnya atas kematian kedua orang yang paling berharga di hidupnya.
Jesi Cleopatra seorang perempuan yang mandiri dan baik hati. Selain itu Jesi memiliki wajah yang cantik dan anggun, Jesi adalah seorang anak yatim piatu sama seperti Adrian. Namun, orang tua Jesi meninggal karena kecelakaan satu tahun yang lalu, disaat dia masih kuliah namun sekarang Jesi sudah lulus.
Suatu hari Jesi melamar perkerjaan di suatu perusahaan ternama yang tidak lain milik Adrian dari situlah awal pertemuan kedua orang itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunike Yuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Maaf Adrian Berujung Celaka
Satu minggu kemudian, Jesi masih belum juga mendapatkan uang, untuk melunasi semua hutangnya kepada Adrian, karena beberapa hari lagi Adrian pasti akan menagih janji dengannya, namun Jesi masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Bagaimana ini? Bongkahan es itu pasti menagih janjinya!" gumam Jesi dengan khawatir.
Sebenarnya Jesi masih terpukul dengan apa sudah ia alami beberapa hari ini, bahkan tidur saja ia sering mengigau, berteriak histeris karena kejadian itu .
Jesi bahkan selalu membersihkan tubuhnya selama beberapa jam, sampai semua kulit nya terluka, menangis hingga ketiduran karena kelelahan.
Tapi ia sadar menyesal sudah terjadi pun tidak ada guna nya lagi, dari situlah Jesi perlahan-lahan untuk melupakan semuanya, walaupun sangat berat bagi nya, biar bagaimana pun itu sudah menjadi kesalahan nya sendiri, seandai nya dia tidak bekerja di bar, mungkin itu tidak akan terjadi pada nya.
Ingin rasanya ia mengundurkan diri, namun ia sudah menanda tangani surat kontrak tersebut, bahwa berhenti harus bayar denda satu miliar, jika tidak membayar maka akan masuk penjara. Jesi yang tidak mau di penjara dan tidak punya uang sebanyak itu, ia hanya pasrah bekerja di perusahaan itu dan akan selalu bertemu dengan bos nya itu lagi.
Tiba-tiba saja ada sebuap Pesan masuk di ponsel Jesi, lalu ia melihat ponselnya dan ternyata itu adalah dari Adrian bosnya, sehingga membuat Jesi sangat malas untuk melihatnya.
"Baru saja aku mengatakannya! Eh muncul pesan dari bongkahan salju, huh! menjengkelkan, aku benar-benar membencinya, Seandainya saja aku tidak punya hutang dan tidak memerlukan uang, sudah dari kemarin-kemarin aku mengundurkan diri, karena aku benar-benar muak melihat wajahnya, tapi jaman sekarang susah mencari pekerjaan sebagus ini. Belum lagi kontrakan ku sudah jatuh tempo, cari buat uang makan saja susah, bekerja di toko pun kebutuhan aku tidak akan bakal cukup ,karena banyak pengeluaran yang aku keluarkan. Aku tidak mau kabur dari masalah ku, sekarang aku harus hadapin ini dengan sabar dan belum lagi kontrakan gila itu seperti bos nya akh!" gumam Jesi dalam hati, sambil mengacak-ngacak rambut nya.
"Mengingat apa yang sudah dilakukannya, diriku benar-benar kotor sekarang, apa yang harus aku lakukan? Apa bila aku bersuami, apa kah suamiku nanti akan menerima ku apa adanya? Ah! tidak mungkin aku jadi besi tua tidak menikah," gumam nya dalam hati lagi.
"Astaga! Aku lupa membaca pesan dari bos." Kemudian jesi membaca pesan tersebut dengan tergesa-gesa.
"Nanti jam makan siang kamu segere keruang kantor saya paham!" ucap isi pesan tersebut.
"Astaga! Apa lagi kali ini? " kata Jesi, namun ia tidak membalas pesan dari bos nya, karena dia bingung harus membalas apa.
Jam makan siang pun tiba, Adrian dengan wajah masamnya, terus menunggu kedatangan Jesi, namun yang di tunggu-tunggu belum juga muncul.
"Alfin! Kamu bawa nona Jesi masuk keruangan saya segera!" perintah Adrian dengan nada kasar
"Baik pak."
Sedangkan Jesi sedang asik melahap bekalnya yang dibawa dari rumahnya ,akan tetapi ia membuat kesalahan besar karna telah mengabaikan perintah atasan nya bahwa untuk segera keruangan nya.
"Nona Jesi!" panggil Alfin dari belakang Jesi, deengan nada yang sedikit keras.
"Uhuk, uhuk." Jesi pun tersedak, karena terkejut, akhirnya ia langsung meminum air putih.
"Ada apa bapak memanggil saya?" tanya Jesi.
"Nona Jesi, anda dipanggil sama bos. Tolong anda segera kesana secepatnya, karena bos tidak suka dengan kata yang menunggu, anda paham!" bentak sekertaris Alfin.
"Ba..baik pak," Jesi langsung berlari memasuki lif menuju keatas. Sampai didepan pintu, Jesi tidak langsung masuk. Jesi terlebih dahulu merapikan penampilannya, kemudian dia mengetuk pintu.
"Masuk!" ucap Adrian dengan nada sinis. Jesi pun masuk dan menundukan kepalanya, karena melihat wajah Adrian saja membuatnya semakin membenci lelaki tersebut.
"Ma-af kan saya." ucap Adrian terbata-bata, seketika darah Jesi mendidih.
Namun, Jesi langsung saja memberi sebuah tamparan di pipi Adrian tiga kali, kemudian Jesi memukul dada Adrian berulang kali dengan beruraian air mata di pipinya.Sedangkan Adrian hanya diam saja menerima pukulan Jesi terhadap dirinya.
"Apa salah saya? Apa?" teriak Jesi yang sangat frustasi, ia mendengar Adrian mengucapkan kata 'maaf' terdengar sangat mudah, sedangkan dirinya harus menerima semua rasa sakit yang telah Adrian lakukan pada dirinya.
"Maafkan saya, saya khilaf." Hanya itu yang terucap dari bibir Adrian, ia tidak tahu harus berkata apa lagi dengan Jesi.
"Khilaf bapak bilang? Lelaki brengsek!" Kemudian Jesi mengambil sebuah gunting dari meja Adrian, tanpa sadar lagi, ia langsung menancap gunting tersebut ke perut Adrian, hingga darah mengalir.
Sedangkan Adrian hanya diam saja menahan rasa sakit itu, ia tidak mungkin untuk melawan, karena ia sudah melakukan kesalahan yang besar terhadap Jesi, ia berpikir bahwa ini adalah pantas untuk nya,
Jesi yang dari tadi kehilangan kesabaran, perlahan-lahan mereda ,namun seketika Jesi kaget melihat atasan nya tergelatak bersimpuh darah dan tidak menyangka apa yang sudah ia lakukan itu, lalu segera menghampiri Adrian tergeletak di lantai,Sedangkan Alfin yang mendengar keributan di dalam ruangan bos nya itu langsung segera membuka pintu dan melihat bos nya sudah tergeletak di lantai.
"Pak Alfin apa yang sudah saya lakukan hiks...hiks."Jesi menyesali perbuatan nya,karna kemarahan nya tidak terkendali hingga melukai orang.Padahal Jesi tidak pernah semarah itu sebelum nya.
"Bantu saya membawa pak Adrian ke rumah sakit dan tolong anda pangilkan dokter pribadi bapak Adrian no telepon nya cari di handphone nya cepat!" teriak Alfin khawatir.
"B-aik pak." Mereka berdua pun langsung membawa Adrian melewati lif belakang, yang langsung menuju ke arah parkiran, karena Alfin tidak ingin semua karyawan di situ heboh mengetahui keadaan bosnya itu.
Setelah sampai di rumah sakit. Adrian segera di tanggani dokter.
"Bagaimana keadaan nya Dokter?" tanya Alfin dengan tidak sabaran.
"Untung saja kalian membawa nya segera kerumah sakit. Kalau tidak, beliau akan banyak kehilangan darahnya lebih dari ini dan sekarang beliau sudah melewati masa kritis nya, tunggu saja beliau sadar," ucap Dokter tersebut, sedangkan Jesi hanya duduk di kursi, dengan tatapan kosong. Ia sangat takut dengan perbuatannya, namun ia juga sangat terluka dan sakit hati dengan di perlakuan Adrian terhadap dirinya.
"Terima kasih banyak pak." ucap Alfin. Dokter pun pergi meningalkan mereka berdua, lalu Alfin dan Jesi pun masuk keruangan Adrian, untuk melihat keadaannya.
"Sebaiknya, kalian urusi masalah pribadi kalian dengan baik-baik, kalau sudah begini urusan nya tidak akan bisa selesai, malah akan bertambah," ucap Alfin menegur Jesi.
"M-af kan saya pak...." lirih Jesi, ia langsung menundukkan kepalanya, sambil bersedih.
"Ya sudah, anda minta maaf saja kepada bapak Adrian dan asal anda tau, saat itu pak Adrian juga di jebak oleh seseorang, dengan memasuki obat perangsang ke dalam minuman nya, saya dan pak Adrian telah menyelidikinya, Ternyata seorang perempuan bar-bar yang ingin memiliki pak Adrian, dengan secara menjijikan dan anda tau kan, kalau sudah meminum itu apa yang akan terjadi? Kalau tidak memenuhi hasrat tersebut, nyawa nya yang akan jadi taruhan nya, pak Adrian memang sering ke bar, namun ia tidak pernah sekali pun bermain dengan wanita dan beruntung nya, dia melihat anda untuk menolong nya, karena ia tidak mau bermain dengan wanita sembarangan, maka nya beliau memilih anda dan melakukan nya," ucap Alfin panjang lebar, Jesi pun hanya terdiam mendengar nya.
Setelah sekian jam, Adrian pun terbangun dan perlahan-lahan membuka mata nya. Jesi pun menghampiri Adrian.
"Maafkan saya pak," ucap Jesi, Adrian hanya tersenyum.
"Saya akan memaafkan kamu, asalkan kamu selalu datang ke ruangan kantor saya, untuk makan siang bersama. Tidak ada penolakan!" ucap Adrian.
"Ba-iklah," jawab Jesi.
Sebenarnya Adrian juga tidak tega dengan memarahi Jesi, karena setiap Adrian memperhatikannya dari jauh, Jesi selalu memakan roti dan air putih saja, pasti itu tidak akan cukup memenuhi kebutuhan nutrisi untuk tubuhnya, dengan begini Jesi bisa makan teratur, karena Adrian tidak tega melihat Jesi menderita, apa lagi setelah mencari semua informasi dari Jesi, bahwa Jesi jadi yatim piatu sama seperti dirinya. Dari situlah Adrian merasa ada hal yang aneh pada dirinya, setiap melihat Jesi jantungnya berdetak dengan kencang.
INI MAYA,, BENCI YG GK MASUK AKAL KE AMALA.. AKHIRNYA KBENCIAANNYA MNGANTARKN KE KMATIAN.... KLO SPRTI INI DNDAM TKKN HABIS2NYA, PSTI ORTU MAYA AKN BALAS DENDAM.. DN SELAMANYA AKAN TRUS BEGITU...