Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hari berganti. Minggu berlalu. Begitu pula rasa dalam hati yang mulai menjadi semakin hari. Tanpa mampu menahan dan bertekad akan memperjuangkan. Tanpa resah ataupun lelah yang seakan sudah terbiasa.
Jelita semakin mematri hatinya pada seorang Chandra Adi Prama. Rasa rindu kian menyeruak tatkala tak dapat berjumpa meski hanya sebentar saja.
Lain Jelta lain Chandra. Pria berkulit kuning Langsat itu nyatanya tak memiliki rasa suka pada Jelita. Tujuan utama seorang Chandra untuk mendekati Jelita adalah tak lain untuk menggali informasi tentang Dewi Anjar, adik tiri Jelita.
Ya, Chandra memanglah merasa tertarik pada sosok Dewi yang begitu polos dan sikapnya yang lemah lembut.
Chandra terpikat.
Chandra terpesona.
Chandra jatuh hati pada sosok Dewi yang begitu cantik di mata Chandra.
Chandra Adi Prama bukanlah berasal dari keluarga biasa. Ia bisa mendapatkan informasi apapun yang ia mau, termasuk informasi tentang Dewi Anjarwati Nugraha.
Tak satupun yang terlewat begitu saja info tentangnya, termasuk Dewi yang terlahir dari seorang wanita simpanan bernama Sukma Wati Nugraha dan memiliki saudara tiri Jelita.
Dengan hati yang penuh harapan, Chandra mendekati Jelita.
Hingga sore itu tiba, Chandra mengabarkan bahwa ia ingin bertemu dengan Jelita saat makan malam nanti. Jelita tentu saja merasa sangat bahagia tatkala Chandra lebih dulu menghubunginya dan berniat untuk bertemu dengannya.
Mungkinkah Chandra merindukannya? Mungkinkah Chandra mulai menyukainya nya?
Mungkinkah?
Mungkinkah?
Dengan cepat Jelita membalas 'iya' pada pesan yang di kirim Chandra.
Jelita bahagia. Hatinya berbunga-bunga dan seperti di penuhi dengan kupu-kupu bertebaran. Kebahagiaan menyeruak tatkala Orang ia sukai seperti memberi signal bahwa ia juga demikian.
Dengan senyum lebar yang tak pernah luntur, Ia memasuki kamarnya yang terdahulu yang ia kunci rapat. Tanpa seorang pun yang boleh masuk. Bahkan, untuk membersihkannya pun, Jelita membersihkannya seorang diri.
Namun, jangan kira Jelita akan tidur di kamarnya Karna nyatanya Jelita juga menguasai kamar utama.
Dengan gerakan cepat, Jelita mengobrak Abrik seluruh isi lemarinya demi mendapatkan baju yang pas untuk ia kenakan saat bertemu Chandra nanti malam. Seperti gadis yang kehabisan waktu.
Hingga pilihan Jelita pada sebuah dress selutut berwarna navy dengan hiasan brukat dari bahu turun ke perut hingga paha, namun tak Samapi menyamai panjang dresnya.
Setelah membersihkan diri, Jelita segera mengenakan dress itu di padu dengan polesan make up sederhana namun terlihat sangat elegan.
Jelita pun berangkat tanpa mempedulikan percakapan hangat tiga orang keluarga bahagia yang tengah menatapnya tanpa berkedip. Bahkan, saat berjalan di depan orang tuanya pun, Lita tidak Sudi menyapa lebih dulu, apa lagi di sapa yang tentu saja hanya akan di acuhkan begitu saja oleh Jelita.
Dengan menggunakan Mobil sport kesayangan Jelita, Jelita membelah Jalanan ibukota di saat gelap mulai menyapa. Dengan senyum yang terus tersungging di sudut bibirnya, Jelita hanya membayangkan makan malam romantis bersama sang pujaan hati.
Sesampainya di tempat yang Chandra tunjukkan lewat pesan singkat tadi, Jelita turun dan membuat berpasang-pasang mata menatap nya kagum, termasuk Chandra.
Namun entah mengapa, Hati memang tidak akan ada yang tau pada siapa ia akan berlabuh, bukan?
Begitulah Chandra dengan pendiriannya yang hanya akan memanfaatkan Jelita untuk mengorek informasi dan mendekati Dewi.
Chandra sempat terpesona dengan aura kecantikan yang Jelita miliki.
Seperti bunga yang baru akan mulai mekar, Mengeluarkan aroma yang begitu harum dan menampakkan keindahan tanpa tanding. Menghiasi alam dengan keindahan yang tak tergantikan. Itulah Jelita.
Namun, Siapa yang mampu menebak akan seperti apa takdir membawanya setelah ini?
"Hai..", Jelita melambaikan tangan dan segera di balas oleh Chandra.
"Duduklah. Kau nampak mempesona malam ini. Bahkan aku hampir tak mengenalimu. Benarkah..... ini Jelita?".
"Tentu saja. Kau pikir siapa?".
"Baiklah, Pesanlah makanan. Malam ini, aku yang terakhir".
Jelita tersenyum senang mendengarnya. Seperti kupu-kupu dan indah yang mengelilingi bunga cantik yang sedang bermekaran penuh pesona. Hati Jelita di penuhi bunga-bunga.
"Terima kasih". Senyum manis mengukir indah di bibir Jelita.
"Ku dengar kau memiliki keluarga baru saat ini, dan.... Seorang adik tiri? Benarkah?" Tanya Chandra. Chandra menangkap gelagat Jelita yang terlihat tak nyaman saat topik beralih pada pembahasan keluarga.
"Ya". Hanya itu yang Chandra dengar.
"Bagaimana sosok Dewi menurutmu?".
"Aku tidak mengenalinya".
"Oh benarkah?".
"Ya. Jika kau mendekatiku hanya untuk menggali informasi tentang putri dari seorang jalang yang merebut papaku dari mamaku, kau salah orang tentunya, tuan Prama". Ucap Jelita lembut tanpa menatap manik mata Chandra.
Dengan masih mengaduk makananya, Jelita melanjutkan kalimatnya.
"Ku Sarankan, sebaiknya kau urungkan niatmu sebelum kau terluka", lanjut Jelita dengan santai tanpa beban. Kemudian mencoba beranjak meninggalkan Chandra.
Jangan kira Jelita bodoh, Chandra.
Jangan kira Jelita tak menangkap maksudmu.
"Jangan salah paham, Lita. Aku hanya bertanya. Baiklah, sekarang duduklah lagi dan kita bahas hal lainnya", Cegah Chandra dengan meraih tangan Jelita dan menarinya agar terduduk kembali.
Chandra bukan mengelak. Ia hanya khawatir jika ia kehilangan sumber informasinya.
Bagaimana tidak? Dewi tak memiliki seorang tema pun dan lebih memilih menutup diri. Jika Jelita pergi, lantas, siapa yang akan di manfaatkan lagi? Chandra tak mau itu terjadilah.
Dengan wajah datar tanpa binar bahagia seperti saat baru datang tadi, Jelita akhirnya kembali duduk. Hatinya berdenyut sakit saat pria yang di sukai ya nyatanya sekedar ingin memanfaatkannya.
"Setelah makan malam, maukah ku ajak jalan-jalan?".
"Aku bawa mobil sendiri", Jawab Jelita seperti tak terjadi apapun. Chandra hanya menahan nafasnya merasa tak nyaman.
"Biar sopirku yang menjaga mobilku. Aku akan menyetir mobilmu dan membawamu Jalan-jalan".
"Kemana?", Hati Jelita mendadak bersorak kegirangan. Namun, tetap saja Jelita tak memperlihatkannya. Jelita lebih memilih menyembunyikannya rapat-rapat emosi yang ia miliki di dasar hatinya.
Begitulah Jelita semenjak kepergian mendiang Ambar. Ia berubah menjadi pribadi yang lebih bisa menguasai dirinya. Ada Radhi juga yang ikut andil dalam pembentukan karakter Jelita yang dulu periang, kini lebih sensitif.
"Ke suatu tempat untuk melihat bintang dan bulan yang bersinar terang nan indah. Seperti wanita di hadapanku ini", Jelita tersenyum tipis.
Jelita tak menyangkal. Hatinya bersorak kegirangan mendengar Chandra memuji dirinya. Hingga ia larut dan semakin jatuh hati pada pria berkulit kuning Langsat ini.
"Baiklah. Kemanapun, asal kau memberiku kebahagiaan yang tak kudapatkan dari keluargaku beberapa bulan terakhir".
Chandra tak ingin bertanya lebih jauh lagi. ia tau batasannya agar tak banyak bertanya. Masalah tentang Dewi, akan ia pikirkan lagi nanti.
"Apapun untukmu, sayang. Hanya untukmu".
"Berhenti memanggilku sayang". Jelita berkata sambil mengaduk minuman dingin di depannya. Sejujurnya, wajah Jelita tengah merona.
"Kalau aku tidak mau?"
"Terserah".
🍁🌺🍁