Adakalanya semua yang buruk belum tentu terjadi atas ke inginan hati seseorang. Terkadang suatu hal dapat merubah seseorang menjadi lebih buruk dari yang kita bayangkan.
Lihat lah seseorang dari sisi lain yang bukan dari sisi pendapat mu saja, namun cobalah utk melihat dari sisi mereka berdiri, maka kamu akan melihat sesuatu hal yang berbeda.
Jangan lupa like, comment, Vote.
Terimakasih readers setia ku❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
"Apa???? Clara masuk rumah sakit" ujar Ramlan kaget mendengar kabar putrinya dari sahabatnya.
Prang!!!!!
Ramlan menoleh ketika mendengar suara piring jatuh ke lantai.
"Baiklah aku dan Maria akan segera kesana" ucapnya kemudian memutuskan telfon.
Ramlan kemudian mendekati istrinya yang tengah gemetar ketika mendengar putrinya masuk rumah sakit.
"Clara kenapa pah, putriku kenapa? " tanya Maria panik.
"Sayang, Clara baik baik ajah, kamu tenang aja yah"bujuk Ramlan memeluk istrinya agar lebih tenang. Ia tahu istri nya pasti sangat terkejut.
"Kita kerumah sakit sekarang yah" Maria mengangguk.
Ramlan dan istri bergegas menuju ke rumah sakit yang disebutkan Adam padanya.
Tidak membutuhkan waktu lama, hanya 30 menit mereka tiba di rumah sakit.
Maria berlari ketika melihat Jeri, Adam, dan Rani tengah berdiri di depan pintu UGD.
"Dimana putriku? " tanya Maria pada Jeri, karena dialah yang membawa Clara.
"Bagaimana bisa putriku masuk rumah sakit, Bukankah dia pergi bersama mu!! " Teriak Maria histeris. Ramlan menahan tubuh istrinya yang terus menggoyangkan tubuh Jeri yang diam seribu bahasa.
"Tenanglah ma, Clara pasti baik baik ajah" Bujuk Ramlan menenangkan istrinya.
Maria memeluk suaminya, ia sangat khawatir dengan kondisi Clara yang sedang diperiksa oleh dokter.
"Maafkan saya tante, ini semua salah saya" Ucap jeri menyesal, ia benar-benar tidak tahu akan jadi seperti ini. Maria tidak menggubris ucapan jeri, ia menutup mulutnya menahan tangis.
Ceklek
Seoramg dokter keluarr dari dalam ruangan dimana Clara diperiksa.
"Permisi, siapa diantara kalian keluarga nona Clara? " Tanya dokter.
"Saya orang tuanya dok" Jawab Ramlan.
"Bagaimana kondisi putri saya dok" Desak Maria. Rani yang sedari tadi diam hanya membantu Maria berdiri tegap. Ia tahu bagaimana perasaan Maria saat ini.
"Nona Clara baik baik saja, pasien hanya perlu istirahat dan tolong perhatikan pola makannya selama pemulihan. Tubuhnya sedikit lemah efek dari demam tinggi yang menyerang tubuh nona Clara" Jelas dokter panjang lebar.
mereka semua bernafas lega. "Kalau begitu saya permisi" Pamit dokter kemudian berlalu pergi.
"Sekali lagi saya minta maaf tante, kalau saja Jeri tidak meninggalkan Clara didanau ini semua tak akan terjadi" Ucap jeri kembali meminta maaf kepada Maria dan Ramlan.
"Maafin tante juga yang terlalu menyudutkan kamu, tante hanya terlalu khawatir" Balas Maria menyesal.
"Kamu gak salah kok Jer, Clara mengalami kecelakaan semasa kecil, jadi ia melupakan semuanya. Kamu juga pasti bingung mengapa Clara tidak mengingat kamu" Jelas Ramlan panjang lebar. Sementara jeri mangut mangut mengerti mengapa reaksi Clara padanya seperti orang yang tak pernah bertemu.
...****...
"Engrrrgg" Clara mengerang, mencoba membuka matanya perlahan.
"Dimana aku? " Gumam Clara menatap sekelilingnya. ia berada di ruangan serba putih khas rumah sakit.
"Lo dah bangun? " Tanya Jeri yang sedari tadi duduk di sofa ruang inap Clara. Orang kaya kalo masuk rumah sakit yah begini. Ruangan kayak rumah sendiri.
"Kenapa gue disini? " Tanya Clara mengacuhkan pertanyaan Jeri. Ia memaksakan dirinya untuk duduk. Melihat Clara kesusahan, Jeri akhirnya berdiri dan mencoba membantu Clara.
"Lo pingsan kemarin" Jawab Jeri singkat ketika tangannya ditepis oleh Clara saat ingin membantunya duduk.
"Lo kenapa gak bilang kalau lo gak tahu jalan pulang" Tanya Jeri yang kini kembali duduk disofa.
"Bilang sama jejak lo? " Tanya Clara menatap Jeri mengejek. Bagaimana mungkin Clara akan mengatakannya jika Jeri saja pergi tanpa menoleh ataupun bertanya.
Ceklek!
"Sayang, kamu sudah bangun" Ucap Maria kembali menutup pintu. Clara tersenyum pada mamanya.
"Kamu sudah makan? " Clara menggeleng menjawab pertanyaan mamanya.
"Makan dulu yah sayang, biar cepat sembuh" Maria menyiapkan meja makan yang terlipat diujung ranjang Clara. Kemudian menata makanan yang telah dibawanya dari rumah.
"Kamu juga yah Jer" Ucap Maria menyodorkan sepiring nasi goreng pada Jeri.
"Terimakasih tante" Ucap Jeri menerima Nasi goreng dari Maria.
"No sayang, tante yang makasih. kamu udah jagain anak tante" Balas Maria tersenyum pada Jeri.
Mendadak ruangan rawat Clara menjadi sepi, yang terdengar hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring.
...****...
Jeri menatap langit malam dari balkon kamarnya. sudah seminggu Sela tidak mengabarinya.
"Maaf nomor yang anda tuju, Tidak dapat dihubungi" Jeri melempar ponselnya keatas ranjang.
"Kemana gadis itu" Dumel Jeri kesal.
Pernikahan tinggal 2 hari lagi, Setalah kepulangan Clara dari rumah sakit Kedua orang tua mereka langsung menyiapkan acara pernikahan mereka.
"Apa gue harus pasrah ajah. " Ucap Jeri dalam hati.
"Tapi gadis itu.. arggggg" Jeri menarik rambutnya kuat. Ia masih belum bisa melupakan kejadian dimasa lalu. Ditambah lagi ia tidak mencintai Clara, setidaknya itu yang ia yakini sekarang. Rasa yang dulu telah di kuburnya bersama kejadian itu.
Ting!!
jeri berlari kedalam kamarnya, ia berfikir jika pesan itu dari sela, namun harapannya pupus. Pesan itu berasal dari Clara.
Clara
Gue tunggu lo di cafe Rendy
Jeri memasukkan ponselnya kedalam saku kemudian berlalu keluar dari kamar.
"Kamu mau kemana nak? " Tanya Rani ketika melihat Jeri ke luar dari kamarnya. Jeri pun menghentikan langkahnya kemudian tersenyum kepada mamanya.
"Mau jumpa sama calon istri ma" Jawab Jeri tersenyum jahil.
"Cieee, kemarin ajah nolak-nolak" Goda Rani tersenyum lebar, akhirnya putranya mau menerima perjodohan ini.
"Yaudah yah mah Jeri berangkat dulu" Pamit jeri menyalim mamanya
Adam yang baru saja turun dari tangga menghampiri istrinya sembari menatap kepergian putranya.
"Jeri mau kemana? "
"Ihh papa kepo yahhh" goda Rani. Adam mengerucutkan bibirnya merajuk.
"Ihh jangan merajuk sayang, anak kita mau jumpai calon istri nya" ucap Rani.
Adam merubah ekspresi nya menjadi berseri. "Seriusan? wah seperti nya dah mulai tu jatuh cinta. " tutur Adam memeluk istri nya
**TBC.
Haloooooo semuanya, gimana ceritanya???
nyambung gak?? Mohon maaf yah, gue lagi belajar nulis nih. mohon dukungannya gays. Jika kalian suka cerita ini ikutin terus yah, jangan lupa like, comment and share. jika kalian gak suka maka cukup abaikan saja. tapi kalo berkenan sebelum mengabaikannya like ajah dulu🤣🤣🤣
terimakasih buat yang udah like, yang udah Comment. Makasi banget yah. yang ingin promo silakan. Gue janji bakal mampir.
Sekian terimakasih guys😘😘😘😘
😘😘😘😘😘😘 Saranghae**
ini yg dinamakan klo semua org baik akan cepat mati dan org jahat klo tiba2 baik bisa bahagia tanpa ada karma
awas luw ya... 👊👊👊
👍👍👍
follback ya kak.