NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Ego Sang Pelahap

Kesadaran yang pekat dan dipenuhi oleh amarah yang membara perlahan-lahan mulai terkumpul kembali. Di dalam kegelapan batinnya, Behemoth merasa seolah-olah dia baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk yang meremukkan seluruh eksistensinya. Sebagai makhluk kuno yang angkuh dan memegang Hukum Devouring di ranah tertinggi, ingatan terakhirnya adalah tentang pengkhianatan mengerikan oleh empat Legendary Beast lainnya di The Abyssal Void. Segel kutukan bersama itu telah menghancurkan wadah keagungannya, meretakkan jiwanya, dan melemparnya ke ranah fana.

Ketika mata kecilnya benar-benar terbuka, hal pertama yang disadari oleh Behemoth adalah hilangnya hawa dingin membekukan yang sempat mengancam jiwanya. Dia kini berada di sebuah ruangan yang sangat hangat dan nyaman. Aroma kayu ek yang terbakar dari perapian dan wangi ramuan herbal yang menenangkan tercium oleh indra penciumannya yang kini terasa sangat tajam namun asing.

Behemoth mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit dan menegakkan posisi berdiri, namun rasa sakit yang luar biasa dahsyat langsung menjalar ke setiap jengkal sarafnya. Wadah fisiknya terasa sangat rapuh dan ringkih. Ketika dia menundukkan kepala untuk memeriksa tangannya, ego sang penguasa kuno itu seketika terguncang hebat oleh badai kejutan, amarah, dan keputusasaan yang luar biasa mendalam.

Cakar raksasa yang dulunya sanggup meremukkan gunung dan membelah dimensi, kini telah berubah menjadi sepasang cakar kecil berbulu hitam legam yang sangat halus. Ekornya pendek, dan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh lilitan kain perban putih yang menutupi luka-luka retakan energi emasnya. Dia telah menyusut total menjadi seekor kucing domestik yang sangat lemah, makhluk rendahan yang biasanya tidak akan pernah sudi dia lirik bahkan dalam seribu tahun keabadiannya. Kekuatan gravitasinya tersegel total di ranah paling bawah, menyisakan sisa-sisa energi yang bahkan tidak cukup untuk memicu sebuah sihir tingkat rendah.

“Sialan! Leviathan! Phoenix! Berani-beraninya kalian mengutukku hingga ke titik serendah ini!” raung Behemoth di dalam batinnya. Suara yang seharusnya menggema layaknya guntur yang memecah langit, kini hanya keluar dalam bentuk desisan kecil dari tenggorokan kucingnya.

Amarah dan harga diri yang terluka membuat insting murni Behemoth sebagai Sang Pelahap langsung bangkit bergejolak. Dia harus memulihkan kekuatannya, tidak peduli seberapa kecil atau lambat prosesnya. Satu-satunya cara tercepat untuk menambal jiwanya yang retak saat ini adalah dengan melahap jiwa mahluk hidup lain yang berada di dekatnya.

Behemoth memutar kepalanya yang terasa berat, mengedarkan pandangan mata emasnya ke seluruh sudut ruangan yang luas tersebut. Ruangan itu dipenuhi oleh perabotan kayu berkualitas tinggi, karpet bulu yang tebal, dan deretan buku-buku besar di dinding. Di samping tempat tidur besar tempat dia berbaring, terdapat sebuah kursi kayu dengan sandaran tinggi. Di atas kursi tersebut, duduk seorang anak laki-laki manusia yang sedang tertidur dengan posisi menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur. Anak itu adalah Sander Duster.

Melihat manusia kecil yang sedang tidak waspada itu, Behemoth menyipitkan mata emasnya yang menyala redup dalam kegelapan kamar. Ingatannya kembali berputar pada sensasi kehangatan di tengah badai salju sebelumnya. Manusia inilah yang telah memeluknya dan membawanya ke tempat ini. Namun, bagi seekor penguasa kuno yang kejam, konsep balas budi adalah hal yang sangat konyol. Di dunia mistis, yang lemah hanyalah makanan bagi yang kuat.

Behemoth menyeret tubuh kecilnya yang kesakitan secara perlahan, melangkah tanpa suara di atas selimut sutra yang lembut. Dia mendekati tepi tempat tidur, tepat di mana leher Sander yang terbuka berada dalam jangkauan jarak serangnya. Jiwa anak manusia ini tampak sangat murni dan bersih, wadah yang sangat cocok untuk dijadikan makanan pertama demi mengembalikan setitik energi hukumnya.

Dengan sisa tenaga yang dia paksakan, Behemoth menjulurkan kuku-kuku tajam dari balik cakar hitamnya. Kuku kecil itu berkilau dingin di bawah temaram sisa api perapian. Dia mengangkat cakarnya tinggi-tinggi, mengarahkannya tepat ke urat nadi di leher Sander. Insting pembunuhnya menggelegar, bersiap untuk mencakar leher anak manusia tersebut dan melahap sisa jiwanya tanpa ampun.

Namun, tepat ketika ujung kuku tajamnya hampir menyentuh permukaan kulit Sander, anak laki-laki itu mendadak bergerak kecil dan membuka kedua matanya. Sander terbangun karena merasakan perubahan hawa di dekatnya.

Bukannya berteriak panik, melompat mundur, atau memanggil pengawal ketika melihat seekor mahluk bersiap menyerangnya, mata hitam Sander justru seketika berbinar dengan kilatan kelegaan yang luar biasa besar. Sebuah senyuman tulus yang sangat hangat mengembang di wajah anak itu saat melihat kucing hitam kecil yang diselamatkannya telah sadar.

“Ah, kau sudah bangun? Syukurlah... aku sempat mengira kau tidak akan bisa bertahan melewati malam ini,” kata Sander dengan nada suara yang sangat lembut, penuh dengan rasa syukur yang jujur tanpa ada kepalsuan sedikit pun.

Tangan Sander yang hangat perlahan-lahan bergerak maju. Behemoth yang terkejut oleh reaksi manusia ini secara otomatis menarik kembali cakarnya dan memasang kuda-kuda waspada, mendesis pelan untuk mengintimidasi. Namun, Sander sama sekali tidak takut. Dengan gerakan yang sangat telaten dan berhati-hati agar tidak menyakiti luka si kucing, Sander menyentuh kepala Behemoth, mengelusnya dengan kelembutan yang luar biasa seolah-olah sedang memegang permata yang paling rapuh di dunia.

“Jangan takut, kau aman di sini. Ini kamarku di Kastil Aethelgard,” bisik Sander, terus mengelus bagian belakang telinga Behemoth.

Sander kemudian berdiri dari kursinya, berjalan mendekati sebuah meja kecil di sudut ruangan. Dia mengambil sebuah mangkuk porselen kecil yang berisi susu sapi hangat yang baru saja diantarkan oleh pelayan beberapa waktu lalu, serta sebuah piring perak yang berisi potongan-potongan daging rusa utara yang sangat empuk dan telah dipotong kecil-kecil agar mudah dikunyah.

Sander kembali ke tepi tempat tidur dan menyodorkan semangkuk susu hangat serta potongan daging tersebut tepat di hadapan Behemoth. “Kau pasti sangat lapar setelah kedinginan di luar sana. Ini, minumlah susu ini dan makan dagingnya agar tubuhmu bisa cepat pulih.”

Behemoth menatap makanan di depannya dengan pandangan tidak percaya. Sebagai Legendary Beast, dia biasanya melahap monster tingkat tinggi, energi murni, atau esensi alam semesta. Namun, aroma susu hangat dan daging rusa yang segar ini mendadak memicu insting lapar dari lambung kecil kucing domestiknya yang fana. Yang lebih mengguncang ego Behemoth bukanlah makanan tersebut, melainkan ketulusan tanpa pamrih yang terpancar dari mata anak manusia di hadapannya.

Anak ini telah mengorbankan jubah hangatnya di tengah badai, hampir mati membeku, dan sekarang setelah terjaga semalaman untuk menjaganya, hal pertama yang dia lakukan adalah tersenyum lega dan memberikan makanan terbaiknya tanpa meminta imbalan apa pun. Ego sang penguasa kuno yang selama jutaan tahun hanya mengenal pengkhianatan, perebutan kekuasaan, dan kekejaman dari sesama mahluk legendaris, kini terguncang hebat oleh sebuah perasaan asing yang sangat mengusik batinnya. Perasaan itu bernama kehangatan dan ketulusan.

Cakar yang semula berniat untuk membunuh kini terkulai lemas di atas kasur. Behemoth menatap Sander untuk waktu yang lama, mencoba mencari tahu apakah ada niat busuk tersembunyi di balik mata hitam itu, namun dia tidak menemukan apa pun selain rasa kasih sayang yang murni.

Dengan perasaan yang campur aduk antara harga diri yang runtuh dan rasa lapar yang tidak bisa ditahan lagi, Behemoth akhirnya menurunkan kepalanya. Dia mulai menjilati susu hangat dari mangkuk tersebut dengan perlahan, lalu mengunyah potongan daging rusa yang empuk dengan lahap.

Sander yang melihat hal itu tertawa kecil penuh kemenangan, kembali duduk di kursinya sambil terus menemani kucing hitam misterius tersebut menghabiskan makanannya dalam keheningan malam yang hangat di Kastil Aethelgard. Sang penguasa kuno terpaksa mengakui dalam batinnya, bahwa untuk sementara waktu, hidup sebagai peliharaan manusia ini mungkin tidak akan seburuk yang dia bayangkan.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!