bersatu demi keinginan orang tua yang ingin menjodohkan anaknya,demi keperntingan bisnis dan pertemanan,yang dimana sepasang kekasih tersebut menerima keinginan orang tua mereka,tapi dengan awal yang berat akhirnya benih cinta akhirnya tumbuh di hati mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Witan Alfariski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Lisa baru saja menyelesaikan larinya sebanyak 10 putaran, tiba-tiba langkahnya terhenti kerena kedatangan Clara dan teman-temannya, seperti biasa kedatangan Clara hanya ingin menyulut emosi lisa.
"Hey cewe pembuat onar," panggil Clara ketika sudah sampai didepan lisa.
"Lo gak cape apa dari kelas 10 sampe sekarang lo udah kelas 11 masih aja terus buat masalah, orang tua loe emang gak pernah marah gitu,melihat kelakuan lo kayak gini,heran gue," Sambung lisa.
"Ampun kali ortunya, ngurusin anak badung kaya dia ,upsss," Kali ini teman Clara yang bersuara.
Dan dibalas gelak tawa oleh lisa dan temannya.
Lisa masih diam enggan menjawab, namun kini kesabarannya telah habis setelah mereka membahas masalah orang tua. Lisa kembali teringat suasana rumah yang membuatnya muak.
Tak mendapat balasan dari lisa,akhirnya Clara memutuskan untuk pergi, tetapi tiba-tiba lisa terjatuh karena langkah kakinya dengan sengaja dicekal oleh kaki lisa. Siku tangan Clara berdarah mengenai batu, dan lisa pergi begitu saja untuk melanjutkan hukumannya.
"Sialan loe, awas aja bakalan gue balas loe," teriak Clara tak terima, Clara yang dibantu teman-temannya berdiri dan pergi menuju ruang OSIS, ya tentu saja bukan UKS, karena Clara pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapat perhatian dari roy.
Setelah menyelesaikan lari nya sebanyak 20 putaran, kini dia tengah berdiri ditengah lapangan tepatnya dibawah tiang bendera sang Merah Putih. Keringatnya bercucuran, pasalnya matahari kini mulai meninggi dan cahayanya yang mulai terik.
Tetapi beruntung karena hari ini guru-guru tengah mengadakan rapat jadi lisa tidak tertinggal jam pelajaran.
Dari kejauhan kedua sahabat lisa hanya memandang sendu sahabatnya itu, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika itu sudah keputusan sang ketua OSIS.
Selain kedua sahabatnya itu, dilapangan basket ada juga Rendy dan juga Brian dewa sang pangeran basket yang berwatak dingin dan tidak terlalu peduli dengan urusan perempuan.
"Siapa gadis yang disana," tanya Brian kepada Rendy, sambil melempar bola basketnya kedalam ring.
"Yang lagi dihukum,noh,?" tanya Rendy sambil merebut bola dari tangan Brian.
"Hemm,"
"Dia lisa anak 11 IPA, cewe pembuat onar sejak dulu, dari pertama masuk sekolah sampe sekarang gak ada perubahannya, padahal tiap hari dapet hukuman mulu," jelas Rendy yang sedikit heran dengan perilaku lisa.
Perihal Brian yang menanyakan tentang seorang gadis, pasalnya selama ini laki laki itu tidak pernah tertarik kepada gadis-gadis cantik disekolah ini.
"Oh," kata Brian singkat, tanpa disadari bibirnya terangkat mengukir senyum tipis yang tidak pernah dilihat oleh siapapun selama ini.
Brian mencoba menghampiri lisa dengan membawa sebotol air mineral, sebelum benar-benar sampai dihadapan lisa, Brian meminjam topi salah satu murid yang ada disana.
Banyak yang melihat hal itu mereka hanya mampu teriak histeris, melihat pangeran kedua disekolah mereka, yang berjalan menghampiri lisa.
"Nih minum dulu," ucap laki laki itu dingin, sambil menyerahkan botol air mineralnya.
Lisa menerimanya dan langsung meminumnya, sedangkan Brian tengah mengatur ukuran topi yang dia pinjam tadi, lalu dengan segera dia memakaikan topi tersebut ke kepala lisa,lisa sedikit kaget atas perlakukan sederhana dari salah satu kakak kelasnya itu, belum sempat lisa mengucapkan terimakasih,Brian berlalu begitu saja.
Gadis itu melihat Brian pergi, kini penghilahatannya mulai kabur, karena terik matahari yang mulai terik itu membuatnya merasakan pusing dan pandangan sedikit demi sedikit mulai menggelap, dan akhirnya lisa tumbang juga.
Kini tengah ada dua orang laki-laki tampan yang menangkap tubuh lisa ditengah lapangan yang terik itu, Keduanya kini tengah saling menatap.
"Biar gue yang bawa dia ke UKS, ini sebagian dari tanggung jawab gue sebagai ketua OSIS," jelas roy yang baru datang.
"Gak apa-apa biar gue aja," Tolak Brian yang langsung mengendong lisa pergi dan membawanya menuju UKS, tanpa menunggu jawaban dari roy.
Semua yang dilakukan roy dan juga Brian, tak luput dari pandangan siswa-siswi yang tengah berkumpul tak jauh dari lapangan.
Roy mengepalkan tangannya, entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat kesal.
"Aaaaaaa Kyaaa, enak banget jadi lisa bisa digendong sama kak Brian" teriak Sinta histeris sambil memukul-mukul lengan Wanda yang ada disamping nya.
"Ihh, apaan sih, sakit bego, udah ayo mending kita susulin tuh anak ke UKS," Ajak Wanda sambil bergegas pergi menuju UKS.
"Kalian teman dia kan, bentar lagi dia sadar. Dia pingsan karena perutnya kosong," jelas Brian sambil menunjuk lisa yang tengah berbaring diatas brankar dalam keadaan pingsang, lalu Brian bergegas keluar dari UKS.
"I..iyah kak, makasih ya," jawab Sinta gugup.
Tak lama Brian kembali ke UKS dengan membawa kantong plastik di tangannya.
"Ini kasih tau temen loe kalo udah sadar,jangan lupa dimakan, obatnya jangan lupa juga diminum," Ujar Brian sambil menyerahkan sekantong plastik berisi nasi kotak dan air mineral kepada Wanda, Setelah itu laki laki itu bergegas lagi keluar dari UKS.
"Loe udah sadar,lis" kata Sinta setengah berteriak.
"Apaan sih loe lebay banget deh," jawab lisa dengan santainya.
"Nih, loe minum dulu, terus loh makan dan minum obat yah," Ujar Sinta sambil menyodorkan air mineral kepada lisa.
"Eh loe tau gak siapa yang bawa loe kesini," kata Wanda sambil menaik turunkan alisanya.
"Emang siapa?"
"Kak Brian." jawab Sinta girang, sedangkan Wanda hanya menatap Sinta dengan malas.
Belum sempat lisa menanggapi, pintu ruang UKS tiba-tiba terbuka, dan tampaklah seorang pria yang berjalan ke arah mereka.
"Loe udah sadar syukurlah, kalo gitu sekarang loe bisa kan ikut gue," kata orang tersebut sambil bergegas keluar dari UKS.
Lisa diantar oleh kedua sahabatnya mengikuti langkah pria tersebut yang tak lain adalah Rendy, langkah Rendy berhenti tepat didepan pintu ruang OSIS.
Kedua teman lisa,lagi-lagi kebingungan, apa lagi yang diperbuat lisa,sehingga dipanggil keruang OSIS, pasalnya lisa baru bangun dari pingsannya.
"Kalian pulang aja duluan, gue nanti dijemput sama mang jarot,kok" kata lisa kepada kedua sahabatnya.
Ya, sekarang adalah jam pulang sekolah, dan sekolah sudah hampir sepi.
"Beneran gak apa-apa nih kita balik duluan?" tanya Wanda dengan nada tidak enak kepada lisa.
"Beneran,"
Setelah kepergian kedua sahabatnya,Rendy memerintahkannya untuk masuk kedalam ruangan OSIS.
Clekk...
Setelah lisa masuk mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan hingga matanya menangkap sosok roy,Arya ,Brian Clara dan tentunya anggota OSIS lainnya, juga ada Brian disanah.
Sepertinya mereka baru saja selesai melakukan rapat OSIS pikir lisa.
"Duduk," perintah roy dengan suara datar.
Lisa langsung duduk disalah satu kursi, yang disusul oleh Rendy.
Sebagian pengurus OSIS telah keluar dan hanya tersisa roy, Arya, Clara, dan Rendy disana.