🌶️ WARNING!!🌶️
Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.
Cantik. Elegan. Mematikan.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.
Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.
Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.
Satu kehilangan diri karena trauma.
Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mau itu
Lantai beton yang lembap dan berlumut yang terasa seperti penghinaan bagi sepasang sepatu stiletto mahal milik Seravina. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra, matanya berkilat penuh rasa jijik menatap dinding-dinding yang penuh noda minyak dan bau pesing yang menyengat.
"Mikhail, tempat ini sampah. Aku tidak sudi menginjakkan kaki di sini," desis Seravina.
Di sampingnya, Mikhail melangkah dengan keanggunan seorang raja di tengah reruntuhan. Jas hitamnya yang licin tampak sangat berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai anak sulung sekaligus otak di balik politik berdarah keluarga Zharvok, Mikhail tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan.
"Kau kehilangan 'anjingmu' kemarin, Seravina. Dan kau tahu aturannya," suara Mikhail terdengar dingin dan mutlak, tanpa ruang untuk negosiasi. "Kau tidak akan keluar sendirian. Pilih satu petarung di sini, atau aku akan mengurungmu selama sebulan."
"Aku bisa mencari sendiri, tidak perlu di tempat busuk ini!" balas Seravina sengit.
Mikhail berhenti melangkah, menatap adik tirinya dengan tatapan protektif yang menyesakkan. "Di luar sana banyak yang ingin memotong lehermu. Aku butuh seseorang yang bisa membunuh.Masuk."
Mereka tiba di sebuah pintu besi ganda yang dijaga oleh dua pria bertubuh raksasa dengan senjata laras panjang. Begitu melihat Mikhail, kedua penjaga itu langsung menunduk dalam, hampir menyentuh lantai.
"Tuan Besar Mikhail," sapa mereka serentak.
Pintu terbuka, menyemburkan hawa panas, bau keringat, dan suara sorakan liar yang memekakkan telinga. Mereka memasuki sebuah arena bawah tanah yang luas, di mana di tengahnya terdapat sebuah ring besi yang berkarat.
"Tuan Zharvok! Sebuah kehormatan besar!" seorang pria pendek dengan perut buncit dan gigi emas berlari menghampiri mereka. Boris, pemilik arena sekaligus pion kecil dalam bidak catur Mikhail.
Boris membungkuk berkali-kali, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. "Kami sudah menyiapkan petarung-petarung terbaik untuk Anda tinjau. Semuanya haus darah, Tuan!"
Mikhail tidak membalas sapaan itu, ia hanya melirik Seravina yang berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya menunjukkan ekspresi muak yang amat sangat.
"Tunjukkan pada adikku koleksimu," perintah Mikhail dingin. "Pastikan dia tidak mati dalam satu malam seperti yang sebelumnya."
Boris mengangguk cepat, tangannya gemetar saat mempersilakan mereka menuju balkon VIP yang menghadap langsung ke ring. "Tentu, tentu! Mari, Nona Seravina. Saya jamin, di tempat 'jijik' ini, Anda akan menemukan monster yang paling setia."
Seravina melirik ke arah kerumunan manusia yang berteriak haus darah di bawah sana. Baginya, mereka semua bukan manusia, hanya sekumpulan kecoa yang saling menggigit.
"Cepatlah," gumam Seravina.
Seravina duduk di kursi beludru balkon VIP dengan kaki bersilang, menopang dagu dengan wajah yang sangat bosan. Di bawah sana, pemandangan yang tersaji benar-benar brutal dan tanpa estetika. Mikhail duduk di sampingnya, tetap tenang seolah sedang menonton pertunjukan teater, sementara Boris berdiri di belakang mereka dengan tangan yang terus-menerus meremas sapu tangan.
"Perlawanan pertama, Nona!" seru Boris antusias, menunjuk ke arah ring.
Di bawah sana, dua pria berotot besar saling menerjang. Tidak ada keindahan dalam teknik mereka. Hanya ada kegilaan primitif. Dalam waktu kurang dari dua menit, satu petarung menghantamkan kepala lawannya ke tiang besi ring hingga terdengar bunyi krak yang memuakkan. Pria itu jatuh seketika, matanya mendelik kaku, mati di tempat.
Seravina hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap kuku-kukunya yang dipulas rapi. "Terlalu lambat. Dia menang hanya karena lawannya lebih bodoh, bukan karena dia hebat."
"Perlawanan berikutnya! Cepat!" Boris memberi aba-aba dengan panik ke arah bawah.
Dua petarung baru naik ke ring. Yang satu menggunakan pisau kecil yang disembunyikan di balik lilitan tangan, yang lain bertangan kosong. Pertarungan berlangsung sangat singkat—hanya sekitar sembilan puluh detik. Pria dengan pisau itu berhasil menyayat leher lawannya, namun di saat yang sama, tulang rusuknya diremukkan oleh pukulan lawan hingga ia muntah darah hitam dan pingsan. Keduanya diseret keluar ring oleh petugas arena seperti menyeret bangkai hewan.
"Hancur dalam hitungan menit. Kau menyebut mereka petarung terbaikmu?" suara Mikhail mengalun rendah, mengandung nada dingin yang membuat Boris gemetar hebat.
"Ma-maaf, Tuan Mikhail! Sa-saya bersumpah, mereka biasanya bertahan lebih lama! Malam ini mungkin mereka terlalu tegang karena kehadiran Anda!" Boris tergagap, wajahnya sepucat kertas.
Seravina mengembuskan napas panjang yang penuh penghinaan, matanya menyapu lantai arena yang kini makin merah oleh darah segar. "Tempat ini benar-benar membuang waktuku, Mikhail. Semuanya sampah. Ada yang mati karena ceroboh, ada yang menang tapi cacat dalam lima menit. Tidak ada satu pun yang layak menyentuh pintu mobilku, apalagi menjagaku."
Ia melirik ke arah pintu keluar, merasa mual dengan bau anyir yang menguap di bawah lampu arena yang panas. Mikhail tetap tidak bergeming, matanya yang tajam masih menatap ke arah lorong gelap di bawah sana, menunggu sesuatu yang benar-benar layak untuk harga seorang Zharvok.
Seravina tidak tahan lagi. Bau keringat, darah, dan keputusasaan di balkon VIP itu terasa seperti racun bagi paru-parunya. Tanpa sepatah kata pun kepada Mikhail, ia berdiri dan melangkah keluar, mengabaikan seruan panik Boris.
"Aku tunggu di lorong. Jangan lama-lama. Tempat ini membuatku mual," ucapnya dingin sebelum menghilang di balik pintu besi.
Lorong bawah tanah itu remang-remang, hanya diterangi lampu neon kuning yang berkedip-kedip. Suara sorakan liar dari arena terdengar meredam, menciptakan suasana sunyi yang mencekam. Seravina mendengus, merogoh tas Chanel-nya untuk mengambil ponsel. Ia perlu menghubungi seseorang—siapa saja—untuk menjemputnya dan pergi dari kegilaan abangnya ini.
Namun, karena sarung tangan sutranya yang licin atau mungkin karena hatinya yang sedang tidak tenang, ponsel mewah itu tergelincir dari jemarinya.
Prak!
Ponsel itu jatuh, meluncur beberapa sentimeter di atas lantai beton yang dingin, tepat ke arah bayangan besar yang muncul dari tikungan lorong.
Seravina membeku. Ia baru saja akan membungkuk untuk mengambilnya, namun sebuah tangan besar dengan balutan handwrap putih yang sedikit kotor lebih dulu menjangkaunya.
Pria itu berjongkok dengan gerakan yang sangat efisien, hampir seperti predator yang sedang mengamati mangsa. Saat ia berdiri tegak, Seravina refleks mendongak—dan terus mendongak. Pria itu sangat tinggi, posturnya yang mencapai 191 cm membuat Seravina yang mungil seolah tertelan oleh bayangannya.
Pria itu mengenakan hoodie hitam polos dengan tudung yang tersampir di punggung, memperlihatkan rambut pirang keperakan yang sedikit berantakan. Meskipun pakaiannya santai, bahunya yang lebar dan otot lengannya yang keras tetap terlihat jelas.
Ia menyodorkan ponsel itu tanpa ekspresi. Tatapan matanya yang dingin, jernih, terasa benar-benar kosong—seolah tidak ada satu pun nyawa atau emosi yang tertinggal di sana.
Seravina terpaku sejenak. Ia terbiasa melihat pria tampan, ia terbiasa melihat pengawal yang kuat, tapi ia belum pernah melihat mata seperti ini.
"Ponselmu," suara pria itu berat dan datar, tidak ada nada menggoda atau pun takut meskipun ia tahu wanita di depannya mengenakan pakaian seharga mansion.
Seravina segera tersadar dari keterpakuannya. Ia meraih ponselnya, namun jemarinya tidak sengaja bersentuhan dengan kulit pria itu. Dingin. Kulit pria itu terasa dingin.
"Kau... petarung di sini?" tanya Seravina, suaranya yang biasanya penuh penghinaan kini terdengar sedikit tertahan karena rasa penasaran yang mendadak muncul.
Pria itu—Viktor—hanya menatapnya lurus. Tidak ada binar ketertarikan di matanya saat melihat kecantikan Seravina yang luar biasa. Baginya, wanita di depannya hanyalah objek lain di lorong ini.
"Bukan urusanmu," jawab Viktor singkat.
Pria itu baru saja akan memutar tubuh untuk melanjutkan langkahnya yang sunyi, Seravina justru bergerak. Alih-alih membiarkannya pergi, Seravina melangkah kecil mengikutinya dari belakang—gerakannya lincah dan penuh rasa ingin tahu, persis seperti kucing liar yang baru saja menemukan mainan baru yang menarik untuk dicakar.
"Hoi," panggil Seravina, nadanya kembali pada keangkuhan yang biasa, namun ada binar obsesi yang mulai menyala di matanya yang tajam.
Langkah kaki besar pria itu terhenti. Ia tidak berbalik sepenuhnya, hanya menolehkan sedikit kepalanya, memberikan profil rahangnya yang tajam di bawah cahaya lampu neon yang redup.
Seravina berjalan memutari pria itu, menatap postur tegapnya dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang terang-terangan. "Apa kau tidak ada jadwal perlawanan hari ini?" tanyanya sambil menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. "Atau kau hanya pajangan di lorong busuk ini?"
Viktor menatap wanita mungil di depannya itu dengan tatapan yang tetap datar—kosong, tanpa sedikit pun riak emosi.
"Bukan urusanmu," jawab Viktor lagi dengan nada yang sama dinginnya.
Seravina tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun mengandung racun. Ia berani melangkah lebih dekat, menipiskan jarak di antara mereka hingga ia harus mendongak jauh untuk menatap mata abu-abu pria itu.
"Semua yang ada di sini adalah urusanku," bisik Seravina dengan nada menantang. "Apalagi jika sesuatu itu terlihat... menjanjikan."
Viktor tidak mundur satu inci pun. Ia hanya menatap Seravina.
Seravina mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Viktor dan melipat tangannya di dada, menatap Viktor dengan binar mata yang penuh ambisi sekaligus penghinaan.
"Kau punya mata yang bagus. Kosong, seperti mayat," ucap Seravina, suaranya mengalun rendah dan provokatif. "Aku baru saja kehilangan anjing penjagaku. Dia mati dengan cara yang membosankan."
Viktor tidak berkedip. Ia hanya diam, membiarkan wanita asing ini meracau di depannya.
Seravina menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring yang penuh kemenangan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat mencoba mendominasi ruang di antara mereka.
"Bagaimana? Kau terlihat jauh lebih kuat daripada sampah-sampah yang ada di ring itu," Seravina menatap lurus ke dalam mata Viktor yang jernih namun mati. "Kau mau jadi anjing baruku?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja, lugas dan tanpa basa-basi. Seravina tidak menawarkan pekerjaan atau kontrak; dia menawarkan perbudakan dalam kemasan mewah. Baginya, pria sekuat apa pun di tempat ini tetaplah aset yang bisa dibeli dengan harga yang tepat.
Viktor tetap tidak memberikan reaksi. Tidak ada kemarahan, tidak ada rasa tersinggung. Ia menatap Seravina selama beberapa detik, seolah sedang melihat dinding kosong, sebelum akhirnya membuka suara dengan nada yang sangat datar.
"Aku tidak butuh majikan."
Baru saja Seravina ingin membalas, suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah arena. Mikhail muncul di ujung lorong dengan ekspresi dingin yang tidak terbaca, diikuti oleh Boris yang tampak semakin panik.
"Seravina. Apa yang kau lakukan di sini?" suara berat Mikhail memecah ketegangan di antara mereka.
Seravina tidak menoleh pada kakaknya. Matanya masih terkunci pada Viktor, seolah pria itu adalah satu-satunya hal yang eksis di lorong remang tersebut. "Aku sedang menegosiasikan kontrak baru. Dan kurasa, aku sudah menemukannya."
Boris, yang melihat siapa yang sedang diajak bicara oleh Seravina, hampir pingsan di tempat. "Nona... itu... itu Viktor. Dia bukan petarung biasa yang bisa Anda beli begitu saja!"
Viktor mengabaikan mereka semua. Tanpa pamit atau pun rasa hormat pada keluarga Zharvok, ia berbalik dan berjalan pergi menuju pintu ruang ganti, meninggalkan Seravina yang masih menatap punggung lebarnya.
Seravina tetap bergeming di tempatnya berdiri, bahkan saat Viktor sudah menghilang ditelan kegelapan lorong.
Perlahan, Seravina mengangkat tangannya, menyentuh bibirnya sendiri yang masih menyisakan senyum miring yang gila. Matanya berkilat-kilat karena hasrat untuk memiliki sesuatu yang terlihat mustahil untuk dijinakkan.
"Mikhail," panggilnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari arah perginya Viktor. Suaranya rendah, bergetar oleh jenis kegembiraan yang hanya dirasakan predator saat melihat mangsa yang paling menantang.
Mikhail menyipitkan mata. "Seravina, jangan katakan kalau kau—"
"Aku mau itu," potong Seravina cepat.
Ia berbalik pelan, menatap abang sulungnya dengan tatapan yang sanggup membakar apa pun yang menghalanginya. Jari telunjuknya yang lentik menunjuk ke arah pintu ruang ganti tempat Viktor menghilang tadi.
"Aku tidak mau yang lain. Aku mau pria itu," desisnya dengan nada yang mutlak. "Jadikan dia milikku."
Mikhail terdiam melihat kegilaan yang membuncah di mata adik tirinya.