Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Yang Terlambat
Setelah percakapan panas itu, Kael tidak langsung memaksa masuk ke dalam kehidupan Kai. Ia tahu bagaimana luka yang selama ini dirasa. Bahkan kehilangan sosok ayah yang seharusnya ada.
Dari sini pria itu mulai berbalik arah tanpa meninggalkan sepatah kata apapun.
Berbeda dengan Alena meskipun tahu pria itu sudah pergi, namun pikirannya tidak bisa benar-benar tenang. Karena ia tahu orang seperti Kael tidak akan berhenti begitu saja untuk memasuki dunia anaknya.
"Tidak... aku tidak boleh tinggal diam, Kai itu anakku," gumamnya sambil berlari menuju rumahnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hari-hari berikutnya berlalu cukup tenang.
Namun satu hal mulai berubah. Sosok Kael semakin sering terlihat di sekitar pesisir.
Terkadang hanya berdiri jauh di bibir pantai lalu duduk diam memperhatikan Kai bermain layang-layang.
Meski begitu, pria itu masih belum benar-benar berani memasuki dunia anak tersebut.
Tapi tidak untuk hari ini.
Sepertinya Kael mulai memberanikan diri mendekati Kai yang mulai fokus dengan layang-layangnya.
"Kamu sangat pandai," ucap Kael tiba-tiba.
Sontak Kai sedikit terkejut, akan tetapi tatapannya masih terlalu fokus mendongak keatas. "Kata ibuku." Kai terdiam sejenak.
“Layang-layang itu harus dijaga. Soalnya makin tinggi terbangnya, anginnya juga makin kuat.”
Ucapan sederhana itu seolah mengandung makna yang jauh lebih dalam dari yang seharusnya.Dan entah kenapa, ia tidak mampu mengabaikannya.
Sejenak pria itu mengepalkan tangannya kuat. Benar kata Alena jika sang anak akan tumbuh baik-baik saja tanpa kehadirannya.
"Kai...," panggilnya akhirnya.
Kai menoleh sebentar. "Iya."
"Kamu mau gak Om kasih alat-alat layangan?" tanya Kael pelan-pelan.
Sejenak anak itu mulai berpikir. Alat-alat layang-layang, sesuatu yang selama ini ia inginkan, namun beberapa detik kemudian anak itu terlihat menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih," ucap Kai. "Tapi Kai sudah punya alat-alat yang cukup bagus hasil perjuangan para ibu Kai," lanjut anak itu.
Kael hanya mengangguk pelan. Penolakan itu membuatnya terdiam beberapa saat.
Bukan karena harga alat-alat itu mahal, melainkan karena Kai menolaknya dengan alasan yang sederhana.
Anak itu lebih menghargai hasil perjuangan empat wanita yang membesarkannya daripada hadiah apa pun dari orang asing sepertinya.
"Tapi Om cuma ingin kasih saja, biar Kai punya banyak koleksi," ucap pria itu lagi seolah tidak mau menyerah begitu saja.
Kai akhirnya menurunkan layang-layangnya, lalu menggulung benang itu dengan cepat.
"Tapi Om, bukannya alat-alat itu sangat mahal kenapa Om ingin memberikan itu padaku?" tanya anak itu menyelidik.
Kael mendadak gugup saat anak kecil itu mulai menjawab dengan jawaban yang tidak pernah ia bayangkan.
"Enggak, Om hanya ingin kasih saja sama kamu, karena Om lihat kamu berbakat, dan buktinya kemarin kamu memenangkan perlombaan itu," sahut Kael.
Kael terdiam cukup lama." Jadi itu alasan Om mau memberiku alat-alat itu."
Kael mengangguk cepat. "Iya, Om gak ada maksud lain."
Kai terdiam cukup lama anak itu seolah tidak mudah untuk diiming-imingi sesuatu.
"Gimana Kai mau apa enggak?" tanya Kael kembali.
"Aku tanyakan dulu ya sama Mama," sahutnya pelan.
"Kenapa harus tanya dulu?" kata Kael.
"Karena apapun keputusan yang Kai ambil Mama, dan Ibu Kai lainnya harus tahu."
Deg!
Anak kecil itu sudah bisa menjaga komitmennya terhadap orang tuanya. Kael memejamkan matanya sejenak. Rahangnya mulai mengeras, karena tidak biasanya ia pandai merayu anak, apalagi dengan tipikal Kai yang tak mudah diluluhkan.
"Baik Om, kalau gitu Kai pulang dulu ya," pamit anak itu.
Kael hanya mengangguk ragu, meskipun dalam hati ia masih ingin berlama-lama bersama anak itu, namun rupanya ia tak berkuasa untuk mencegahnya agar tetap berada di dekatnya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam harinya rumah kecil itu kembali ramai. Anne sedang memasak ikan sederhana, untuk melepas Rina yang mungkin besok pagi akan kembali ke kota.
Sementara Alena sibuk dengan menu masakan lainnya, berbeda dengan Senna yang sedang sibuk membantu Kai memperbaiki layang-layang yang rusak.
"Ya, mulai besok kita gak ketemu lagi deh sama Ibu Rina," keluh Kai.
"Iya nih, padahal kan kita lagi seru-serunya," sahut Senna.
Sementara Rina yang sedang menata piring mulai berhenti lalu menatap ke arah Kai. "Ibu Rina harus kerja lagi Nak, selagi masih kuat kita harus tetap berjuang," tuturnya lembut.
Kai tersenyum kecil perlahan langkahnya mulai mendekat ke arah Rina lalu memeluk wanita itu dengan begitu erat. "Makasih udah datang ke acara festival kemarin," ucap anak itu lirih.
Rina pun membalas pelukan itu sangat erat. "Kamu anak kita mana mungkin Ibu Rina gak hadir."
Perlahan ketiga wanita itu mulai mendekati dan memberikan semangat untuk Kai yang sebenarnya sulit untuk melepas, karena Rina paling jauh sendiri diantara ketiga ibunya.
"Kai, jangan sedih ya Nak, kan Bu Rina di sana kerja untuk Kai juga," ujar Senna.
"Iya Sayang, Bu Rina pasti kembali lagi ke kampung kita," timpal Anne.
Sementara Alena hanya terdiam melihat ketulusan para wanita itu terhadap anaknya, tanpa sadar tangannya mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya.
Dan setelah kejadian mengharukan itu beberapa menit kemudian suasana menjadi ceria kembali, saat mereka berkumpul di meja makan, dekat ruang tamu. Tawa kecil Kai memenuhi rumah sempit itu.
Sambil menikmati hidangan sederhana, ungkapan kecilnya selalu menimbulkan tawa bagi keempat wanita itu.
“Kalau Mama Lena marah, nanti Ibu Senna belain Kai ya!"
“Kalau Ibu Senna ikut marah?” goda Anne.
Kai langsung menunjuk Rina sambil tertawa. “Masih ada Ibu Rina!”
Rumah kecil itu langsung dipenuhi tawa hangat. Namun tanpa mereka sadari. Dari luar rumah.
Kael berdiri diam memperhatikan semuanya.
Tatapan Kael tidak beranjak dari jendela rumah itu.
Kai tertawa begitu lepas. Empat wanita di sekelilingnya ikut tertawa bersama. Rumah itu sederhana. Makanannya pun sederhana.
Namun kehangatan yang ada di dalamnya terasa begitu utuh.
Perlahan rahang Kael mengeras.
Selama ini ia selalu berpikir uang mampu menyelesaikan banyak hal.
Tapi malam itu ia melihat sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli dengan kekuasaan ataupun harta.
Kebersamaan.
Dan Kai telah memilikinya sejak lama.
Sedangkan dirinya. Bahkan tidak memiliki tempat di meja makan kecil itu.
Bersambung.