NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Status: tamat
Genre:Single Mom / Mafia / Anak Genius / Tamat
Popularitas:41.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.

Delapan tahun berlalu.

Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Yang Terlambat

Setelah percakapan panas itu, Kael tidak langsung memaksa masuk ke dalam kehidupan Kai. Ia tahu bagaimana luka yang selama ini dirasa. Bahkan kehilangan sosok ayah yang seharusnya ada.

  Dari sini pria itu mulai berbalik arah tanpa meninggalkan sepatah kata apapun.

  Berbeda dengan Alena meskipun tahu pria itu sudah pergi, namun pikirannya tidak bisa benar-benar tenang. Karena ia tahu orang seperti Kael tidak akan berhenti begitu saja untuk memasuki dunia anaknya.

  "Tidak... aku tidak boleh tinggal diam, Kai itu anakku," gumamnya sambil berlari menuju rumahnya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Hari-hari berikutnya berlalu cukup tenang.

Namun satu hal mulai berubah. Sosok Kael semakin sering terlihat di sekitar pesisir.

Terkadang hanya berdiri jauh di bibir pantai lalu duduk diam memperhatikan Kai bermain layang-layang.

Meski begitu, pria itu masih belum benar-benar berani memasuki dunia anak tersebut.

 Tapi tidak untuk hari ini.

Sepertinya Kael mulai memberanikan diri mendekati Kai yang mulai fokus dengan layang-layangnya.

  "Kamu sangat pandai," ucap Kael tiba-tiba.

  Sontak Kai sedikit terkejut, akan tetapi tatapannya masih terlalu fokus mendongak keatas. "Kata ibuku." Kai terdiam sejenak.

“Layang-layang itu harus dijaga. Soalnya makin tinggi terbangnya, anginnya juga makin kuat.”

  Ucapan sederhana itu seolah mengandung makna yang jauh lebih dalam dari yang seharusnya.Dan entah kenapa, ia tidak mampu mengabaikannya.

 Sejenak pria itu mengepalkan tangannya kuat. Benar kata Alena jika sang anak akan tumbuh baik-baik saja tanpa kehadirannya.

  "Kai...," panggilnya akhirnya.

Kai menoleh sebentar. "Iya."

  "Kamu mau gak Om kasih alat-alat layangan?" tanya Kael pelan-pelan.

  Sejenak anak itu mulai berpikir. Alat-alat layang-layang, sesuatu yang selama ini ia inginkan, namun beberapa detik kemudian anak itu terlihat menggelengkan kepalanya.

 "Terima kasih," ucap Kai. "Tapi Kai sudah punya alat-alat yang cukup bagus hasil perjuangan para ibu Kai," lanjut anak itu.

Kael hanya mengangguk pelan. Penolakan itu membuatnya terdiam beberapa saat.

Bukan karena harga alat-alat itu mahal, melainkan karena Kai menolaknya dengan alasan yang sederhana.

Anak itu lebih menghargai hasil perjuangan empat wanita yang membesarkannya daripada hadiah apa pun dari orang asing sepertinya.

  "Tapi Om cuma ingin kasih saja, biar Kai punya banyak koleksi," ucap pria itu lagi seolah tidak mau menyerah begitu saja.

  Kai akhirnya menurunkan layang-layangnya, lalu menggulung benang itu dengan cepat.

 "Tapi Om, bukannya alat-alat itu sangat mahal kenapa Om ingin memberikan itu padaku?" tanya anak itu menyelidik.

  Kael mendadak gugup saat anak kecil itu mulai menjawab dengan jawaban yang tidak pernah ia bayangkan.

  "Enggak, Om hanya ingin kasih saja sama kamu, karena Om lihat kamu berbakat, dan buktinya kemarin kamu memenangkan perlombaan itu," sahut Kael.

  Kael terdiam cukup lama." Jadi itu alasan Om mau memberiku alat-alat itu."

  Kael mengangguk cepat. "Iya, Om gak ada maksud lain."

  Kai terdiam cukup lama anak itu seolah tidak mudah untuk diiming-imingi sesuatu.

  "Gimana Kai mau apa enggak?" tanya Kael kembali.

  "Aku tanyakan dulu ya sama Mama," sahutnya pelan.

  "Kenapa harus tanya dulu?" kata Kael.

  "Karena apapun keputusan yang Kai ambil Mama, dan Ibu Kai lainnya harus tahu."

  Deg!

Anak kecil itu sudah bisa menjaga komitmennya terhadap orang tuanya. Kael memejamkan matanya sejenak. Rahangnya mulai mengeras, karena tidak biasanya ia pandai merayu anak, apalagi dengan tipikal Kai yang tak mudah diluluhkan.

 "Baik Om, kalau gitu Kai pulang dulu ya," pamit anak itu.

  Kael hanya mengangguk ragu, meskipun dalam hati ia masih ingin berlama-lama bersama anak itu, namun rupanya ia tak berkuasa untuk mencegahnya agar tetap berada di dekatnya.

  ☘️☘️☘️☘️☘️

Malam harinya rumah kecil itu kembali ramai. Anne sedang memasak ikan sederhana, untuk melepas Rina yang mungkin besok pagi akan kembali ke kota.

Sementara Alena sibuk dengan menu masakan lainnya, berbeda dengan Senna yang sedang sibuk membantu Kai memperbaiki layang-layang yang rusak.

"Ya, mulai besok kita gak ketemu lagi deh sama Ibu Rina," keluh Kai.

"Iya nih, padahal kan kita lagi seru-serunya," sahut Senna.

Sementara Rina yang sedang menata piring mulai berhenti lalu menatap ke arah Kai. "Ibu Rina harus kerja lagi Nak, selagi masih kuat kita harus tetap berjuang," tuturnya lembut.

Kai tersenyum kecil perlahan langkahnya mulai mendekat ke arah Rina lalu memeluk wanita itu dengan begitu erat. "Makasih udah datang ke acara festival kemarin," ucap anak itu lirih.

Rina pun membalas pelukan itu sangat erat. "Kamu anak kita mana mungkin Ibu Rina gak hadir."

Perlahan ketiga wanita itu mulai mendekati dan memberikan semangat untuk Kai yang sebenarnya sulit untuk melepas, karena Rina paling jauh sendiri diantara ketiga ibunya.

"Kai, jangan sedih ya Nak, kan Bu Rina di sana kerja untuk Kai juga," ujar Senna.

"Iya Sayang, Bu Rina pasti kembali lagi ke kampung kita," timpal Anne.

Sementara Alena hanya terdiam melihat ketulusan para wanita itu terhadap anaknya, tanpa sadar tangannya mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya.

Dan setelah kejadian mengharukan itu beberapa menit kemudian suasana menjadi ceria kembali, saat mereka berkumpul di meja makan, dekat ruang tamu. Tawa kecil Kai memenuhi rumah sempit itu.

Sambil menikmati hidangan sederhana, ungkapan kecilnya selalu menimbulkan tawa bagi keempat wanita itu.

“Kalau Mama Lena marah, nanti Ibu Senna belain Kai ya!"

“Kalau Ibu Senna ikut marah?” goda Anne.

Kai langsung menunjuk Rina sambil tertawa. “Masih ada Ibu Rina!”

Rumah kecil itu langsung dipenuhi tawa hangat. Namun tanpa mereka sadari. Dari luar rumah.

Kael berdiri diam memperhatikan semuanya.

Tatapan Kael tidak beranjak dari jendela rumah itu.

Kai tertawa begitu lepas. Empat wanita di sekelilingnya ikut tertawa bersama. Rumah itu sederhana. Makanannya pun sederhana.

Namun kehangatan yang ada di dalamnya terasa begitu utuh.

Perlahan rahang Kael mengeras.

Selama ini ia selalu berpikir uang mampu menyelesaikan banyak hal.

Tapi malam itu ia melihat sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli dengan kekuasaan ataupun harta.

Kebersamaan.

Dan Kai telah memilikinya sejak lama.

Sedangkan dirinya. Bahkan tidak memiliki tempat di meja makan kecil itu.

Bersambung.

1
Sugiharti Rusli
semoga karya" mu berikutnya bisa terus menghibur yah dan ada sesuatu yang didapat saat kita membacanya, meski dari hal sederhana,,,
Ayumarhumah: Aamiiin.... makasih ya kak ...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
dan yah sekali lagi Kai berhasil membuat mereka semua bisa menyatu tanpa dendam dan saling bersapa layaknya saudara, dan Bianca juga sudah bagian dari mereka,,,
Sugiharti Rusli
semoga saja suatu saat su Rafael menyadari kesalahannya dan tidak memelihara dendamnya,,,
Sugiharti Rusli
dia pasti masih memikirkan Bianca kalo sampai menghabisi saudara satu" nya itu, meski sekarang mereka tidak sejalan
Sugiharti Rusli
bagus deh kalo pada akhirnya Kael membuat keputusan bijak dengan tidak membunuh si Rafael meski ada kesempatannya yah,,,
tia
waduh cepat skli tamat
Ayumarhumah: iya Kak ...

pengin suasana baru...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
padahal si Rafael tahu batas kekuatannya di mana, tapi karena egonya yang tinggi maka dia sudah ambil semua resikonya termasuk kalo dia harus hancur
Sugiharti Rusli
entah akan seperti apa pertumpahan yanh akan mereka alami nanti dan siapa yang akhirnya harus kalah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya hal itu sangat dihayati betul oleh si Rafael saat ini, dia ingin kekuasaan berada di bawah telapak kakinya sendiri
Sugiharti Rusli
kalo dalam dunia mafia siapa kuat dia yang bisa menguasai dunia yah,,,
Sugiharti Rusli
semoga Kael tidak lengah yah, apalagi dia tahu akan mendekati jalur distribusi milik Rafael,,,
Sugiharti Rusli
dan alasan agar adiknya tidak jadi korban karena sikap Kael, hanya jadi alasan saja sih sebenarnya dan sekarang dapat validasi buat konfrontasi sama kelompok Kael,,,
Sugiharti Rusli
dalam egonya si Rafael dia selalu berada di bawah bayang" Kael baik dari segi kekuasaan maupun cinta dari orang" yang mereka sayangi,,,
Sugiharti Rusli
sejak awal tujuan si Rafael memang mengalahkan Kael apapun caranya,,,
Sugiharti Rusli
dan si Rafael sudah jadi pembunuh berdaraj dingin dan baru puas kalo yang dianggap musuh musnah di tangannya,,,
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya pemikiran si Rafael hanya penuh dendam semata dan sepertinya adiknya sendiri akan dijadikan musuh
Sugiharti Rusli
apalagi menjadikan seorang sebagai target buat menghantam temannya sendiri yah
Sugiharti Rusli
padshal kan maksud Bianca bukan seperti itu, dia ingin abangnya menghentikan pertumpahan darah yang tidak perlu,,,
Sugiharti Rusli
kalo sudah dasarnya hatinya gelap, apapun yang si Rafael lihat selalu dianggap melukai hatinya,,,
Sugiharti Rusli
kira" di mana tempat persembunyian si Rafael yah, apa si Bianca memiliki petunjuk mungkin karena dia adiknya🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!