Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan pernikahan
Di luar rumah suasana nampak sedikit ramai. Para tetangga terdekat berdatangan setelah mendengar kabar pernikahan yang akan di laksanakan hari ini. Para bapak-bapak langsung bekerja bergotong royong memasang tenda. Sedangkan ibu-ibu segera menyiapkan makanan. Tentu saja semua bahan-bahan masakan Nina yang siapkan. Dia segera menelpon tukang sayur langganan nya di pasar ketika sudah sampai di rumah nya. Masalah pembayaran dia akan minta pada Fitri atau Ridho nanti.
Daryo juga yang mengajak bapak-bapak untuk menyiapkan tenda. Sementara untuk kursi,peralatan masak juga piring dan gelas sudah tersedia di Pak RT. Setiap RT di desa itu memang mengadakan iuran setiap bulan nya untuk dibelikan alat-alat dan barang untuk digunakan warga di setiap acara.
Di rumah nya, Ridho sudah siap dengan setelan baju pengantin warna putih. Dia nampak begitu tampan. Wajah nya terlihat tenang dan juga berseri. Namun dibalik itu ada jantung yang tengah berdetak tak karuan. Berkali-kali pria itu menghela nafas agar tidak terlihat gugup.
"Do,...kamu yakin mau menikahi Fitri ?" Tanya ibunya di ambang pintu.
"Yakin Bu," Jawab Ridho mantap.
"Kamu kenapa bisa ada di sana,sih ? Mana tidur nya pelukan lagi?" Tanya Ibunya mulai protes,nampak nya ia kurang begitu suka dengan Fitri.
"Semalam Fitri nyelametin aku, Bu. Kalau tidak ada Fitri mungkin saat ini ibu dan ayah sedang menangisi kematian ku " Ujar Ridho yang rupanya baru bisa mengingat kejadian semalam. Meski dia saat itu tidak sadar tetapi alam bawah sadarnya merekam kejadian itu.
Kening ibunya mengernyit, "Maksud kamu apa ?" Tanya nya tak percaya.
"Nanti aku jelaskan, sekarang aku harus fokus ke pernikahan aku dulu" Ucap Ridho seraya merapikan pakaiannya.
"Kamu kok, kaya kesenengan gitu sih mau nikah sama dia ?" Tanya ibunya curiga.
"Ya karena aku cinta sana Fitri bu. Sudah dari lama, dan Fitri adalah alasan aku sekolah sampai bekerja di Jakarta. Tujuan ku untuk bisa mencari nya di Jakarta. tetapi ternyata takdir malah mempertemukan kita kembali di desa ini" Jelas Ridho mengejutkan ibunya.
"Apa ?"
Sementara itu, Kojek yang sudah berdandan rapih siap pergi ke kecamatan bersama Fitri dan juga Ridho, baru saja keluar dari rumah nya. Aroma parfum yang tajam menyebar di udara. Wajah nya nampak cerah membayangkan setiap rencana yang dia susun berjalan dengan mulus. Belum tahu saja dia jika hari ini Fitri dan Ridho akan menikah.
Entah akan seperti apa reaksinya saat dia tahu. Kondisi desa yang sepi karena tengah berkabung atas kepergian Mamat, membuat informasi begitu lambat sampai padanya. Namun situasi di depan rumah Fitri begitu berbeda. Di sana nampak ramai meski yang datang hanya tetangga terdekat. Sengaja Nina maupun orangtua Ridho tak memberi tahu semua orang sebab mereka masih dalam masa berduka.
Di dalam kamar nya, Fitri masih didandani oleh Anton sang MUA atau yang lebih dikenalnya dengan nama Nia. Dari tadi wajah Fitri terus ditekuk, tak ada sedikit pun senyuman di bibirnya, begitu berbeda dengan Ridho yang nampak sumringah.
"Iiihhh.... kenapa manyun terus sih dari tadi? Pengantin itu harus banyak senyum biar aura pengantin nya lebih keluar " Ucap Anton alias Nia.
"Bodo " Sahut Fitri ketus.
"Jangan judes-judes, gak baik tau ..."
"Bodo " Ucap Fitri lagi, namun kini tatapan nya beralih ke jendela.
"Apa gue kabur aja ya, lewat jendela " Pikirnya
Jamilah yang mengerti arti tatapan itu segera pergi ke depan jendela, menghalangi nya.
"Hayo... mau kabur lewat jendela ya ?! " Tebak nya.
"Ckk..." Fitri tidak menyahut dan malah mendecakkan lidah lalu membuang muka.
"Nah,... selesai. Woooww,...ya ampunnn....cantik sekali... Ridho beruntung banget dapet istri cantik spek bidadari begini, aku juga kalo jadi cowok pasti udah naksir" Ucap Anton nampak terpesona melihat kecantikan Fitri, apalagi dengan polesan riasan darinya membuat nya merasa bangga pada dirinya sendiri.
"Emang selama ini,Lo apaan ?" Tanya Fitri dengan wajah kompleks.
"Hehehe.... apa ya...aku juga bingung. Dibilang laki tapi aku rasa perempuan,dibilang perempuan kok ada burung perkutut nya,hihihi...."
"Cah gendeng " Gumam Jefry yang nampak gemas ingin menendang nya sampai keluar.
Fitri menghela nafas panjang, bingung harus bagaimana. Ingin rasanya dia kabur tapi dia tak ingin menambah Nina jadi semakin kecewa padanya. Ia dapat melihat tatapan kecewa bibinya itu tadi, ditambah sampai saat ini Nina tak juga menemui nya. Menjadi semakin yakin lah dia jika bibinya begitu kecewa, tak tahu saja dia jika saat ini bibinya itu tengah sibuk mengatur segalanya di luar.
Beberapa saat kemudian,suara deru mesin motor Kojek memecah kesibukan. Semua orang menoleh padanya, Kojek sendiri merasa bingung dengan apa yang dia lihat. Tenda biru terpasang di depan rumah Fitri. Kursi-kursi berjajar rapih,meja prasmanan di depan nya serta para ibu-ibu yang nampak sibuk memasak tak jauh dari sana.
"Ini ada apaan ya,...kok mendadak rame gini ? Ada acara apa ? Kemarin Fitri gak ngomong apa-apa ?" Gumam Kojek bertanya-tanya. Pria itu tidak ngeh dengan warna tenda yang terpasang,namun saat kedua matanya tak sengaja melihat ke arah pintu,dia tersentak kaget.
"Janur kuning ?" Mendadak jantung nya berdebar begitu kencang,ada sesuatu dalam hatinya terasa teriris.
"Gak mungkin Fitri nikah kan...sama siapa ?" Tanya nya lirih.
Dari arah dalam,rupanya Berliana melihat kedatangan Kojek. Kuntilanak itu segera menghampiri pria itu.
"Eh bang Kojek datang,...bang Kojek jangan marah dan sedih ya, biarkan Fitri bahagia bersama Ridho" Ucap Berliana yang tentu saja tak dapat di dengar pria itu.
"Waduh...kok jadi merinding ya...." Lirih nya seraya mengusap tengkuk serta kedua lengannya bergantian.
"Jangan-jangan.....setannya Fitri datang...." Gumam pria itu sambil menengok sekeliling nya dengan gelisah.
"Heh...sembarangan setannya Fitri ! Aku aduin tahu rasa kamu ! Enak saja,Fitri masih hidup belum jadi setan, bisa-bisanya kamu bilang setannya Fitri ! Awas kau ya...." Kesal Berliana sambil berkacak pinggang namun tentu saja pria di depan nya itu tak dapat mendengar maupun melihatnya.
Yang dimaksud Kojek 'setannya Fitri itu sebenarnya teman nya Fitri,hanya saja pria itu salah penyebutan saja hingga akhirnya Berliana jadi salah paham.
Merasa penasaran,Kojek mendekat ke arah ibu-ibu yang tengah memasak,dia ingin curi dengar apa yang tengah dibahas ibu-ibu itu.
"Lah...malah pergi ! Hey...mau kemana kau ! Urusan kita belum selesai !" Teriak Berliana.
Kojek mendekat bersikap seolah dirinya hendak mengambil minum yang berada di dekat salah satu ibu-ibu.
"Aku juga ngerasa aneh sih sebenarnya,kenapa tiba-tiba mereka mau nikah hari ini,dan semua acaranya serba dadakan loh....apa jangan-jangan mereka ketahuan mesum terus langsung saja dinikahkan "
"Wah...kalau itu sih kayanya enggak mungkin deh,kita kan sama-sama tahu gimana sikap dan perangai Ridho. Dia itu udah ganteng,baik ,sopan,ibadahnya rajin ,gak pernah aneh-aneh,gak seperti kebanyakan pemuda yang selalu ada aja gebrakan nya . Selama ini Ridho juga gak pernah terlihat dekat dengan gadis manapun,kalaupun ada gadis yang mendekat dia sering menghindar"
"Bener tuh, mana mungkin Ridho macam-macam,atau jangan-jangan ceweknya yang gatel sengaja menjebak kaya di cerita-cerita novel"
"Huss...jangan sembarangan ! Kita gak tahu yang sebenarnya,jadi jangan asal menebak ,takut jadi fitnah"
" Iya juga,sih..."
"Tapi aku juga penasaran sih, kenapa acaranya dadakan banget "
Kojek yang mendengar itu pun mengepalkan tangannya, ia merasa kesal, marah, cemburu , tak terima. Pria itu pun pergi dengan hati yang penuh emosi.
Melihat tatapan dan raut wajah yang penuh emosi, Daryo segera mengejar Kojek yang berjalan cepat ke arah pintu.
"Jek,... syukurlah kamu datang,sini bantu saya gotongin meja ! " Ucap Daryo sambil menepuk pundak Kojek. Pria itu telah mendengar jika Kojek sedang berusaha mendekati keponakan nya,dia tahu apa yang dirasakan pria itu.
"Ini ada acara apa pak Daryo ?" Tanya Kojek memastikan.
"Acara nikahan "Jawab Daryo singkat.
"Siapa yang nikah ?" Tanya Kojek menahan nafas,namun tentu perasaan nya tidak tenang.
"Fitri sama Ridho " Jawab Daryo apa adanya.
"Hah ?"
"Jadi gini Jek,... sebenarnya Fitri dan Ridho itu sudah dijodohkan dari dulu,tapi berhubung Fitri pindah ke Jakarta komunikasi mereka terputus begitu saja. Dan sekarang setelah kembali baru lah perjodohan dilanjutkan, tanpa ingin membuang waktu jadi pernikahan pun segera dilakukan" Tutur Daryo.
Tadi dia sempat berdiskusi dengan pak Iwan,dan alasan perjodohan lah yang akan mereka gaungkan jika ada yang bertanya demi menutupi aib, menurut mereka.
Bagai disengat lebah di siang bolong,eh... disambar petir siang bolong, Kojek merasa dunia nya berhenti berputar.
"Apa...? Jadi mereka sudah dijodohkan ? Sejak kapan?" Tanya Kojek lirih, mendadak ngebleng. Padahal tadi Daryo sudah mengatakan nya tapi karena hatinya yang tengah dilanda shock, membuat nya seperti orang linglung.