Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Suar di Tengah Gelap dan Hadirnya Sang Fajar
Ruang kerja Kakek Danu telah berubah menjadi lemari es raksasa yang pekat. Cahaya dari lampu minyak yang padam secara gaib menyisakan kegelapan absolut, hanya diselingi oleh kilatan petir dari luar jendela yang sesekali menerangi wajah tegang kakek tua itu.
Namun, kegelapan dan udara beku di ruangan itu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di bawah telapak kaki mereka.
Lantai kayu panggung berbahan jati itu terasa semakin panas. Bukan panas yang menyengat seperti api kompor, melainkan panas radiasi yang padat, seolah-olah sebuah reaktor nuklir mini yang tak stabil sedang beringsut perlahan mengitari pilar-pilar penyangga rumah.
GRRRRR.
Geraman itu menggetarkan seluruh perabotan di dalam ruangan. Botol-botol kaca di atas meja Kakek Danu berdenting pelan, saling beradu.
Kakek Danu berdiri dengan kuda-kuda rendah, sebilah parang pusaka berkilat ditarik keluar dari sarung kayunya. Rajah tato kuno di punggungnya memancarkan pendar keperakan yang sangat redup, merespons ancaman gaib yang ada di dekat mereka. "Jangan bergerak dari posisimu, Dara," desis Kakek Danu tanpa menoleh. "Apapun yang kau dengar, jangan bersuara."
Namun, Dara tidak bisa mendengar peringatan kakeknya dengan jelas.
Telinga gadis itu berdenging keras. Ada sebuah frekuensi yang hanya bisa ditangkap oleh indranya sendiri. Sesuatu di dalam darahnya—warisan kuno yang tertidur selama belasan tahun di bawah hiruk-pikuk kota Jakarta—kini meronta bangun dengan beringas.
Insting itu mengatakan satu hal dengan sangat jelas: Makhluk di bawah sana sedang menderita. Ia terbakar oleh nafsunya sendiri, dan hanya kau yang bisa memadamkannya.
Dara tersengal. Keringat dingin mengucur dari keningnya, bertolak belakang dengan hawa panas yang merambat naik dari lantai kayu. Tubuhnya bergerak di luar kendali akal sehatnya. Ia tidak merasa takut. Yang ia rasakan adalah tarikan magnetis yang sangat dahsyat, seolah gravitasi bumi telah bergeser dan berpusat pada makhluk bermata emas di bawah kolong rumahnya.
Secara perlahan, Dara berlutut di atas lantai kayu tersebut.
"Dara! Apa yang kau lakukan?!" Kakek Danu berteriak tertahan, menyadari cucunya bergerak mendekati pusat panas itu. Pria tua itu berniat meraih bahu Dara, namun sebuah gelombang energi tak kasat mata—seperti dinding angin yang sangat kuat—tiba-tiba menolaknya mundur hingga punggungnya menabrak rak buku.
Dara tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya, memejamkan mata, dan meletakkan kedua telapak tangannya mendatar di atas permukaan lantai kayu yang terasa nyaris seperti arang membara.
Saat telapak tangannya bersentuhan dengan kayu itu, waktu seolah berhenti berdetak di Lembah Marapi.
Dari dalam dada Dara, tepat di pusat jantungnya, sebuah sensasi dingin yang luar biasa menyejukkan meledak keluar. Sensasi itu mengalir deras melalui pembuluh darah di lengannya, turun ke telapak tangannya, dan menembus lantai kayu jati tebal itu seperti air bah yang menerjang padang pasir.
Dara bisa melihatnya di dalam pikiran—atau mungkin itu adalah mata batinnya yang baru terbuka. Ia melihat sesosok pemuda yang tengah berlutut di tanah berlumpur di bawah rumah. Pakaian pemuda itu compang-camping. Kuku-kukunya telah berubah menjadi cakar hitam legam yang menancap dalam ke tanah. Urat-urat di wajah dan lehernya menonjol, menyala dengan warna keemasan seperti lava yang siap meletus. Ia sedang bertarung melawan insting binatang yang berusaha mengoyak kewarasannya. Ia kesakitan. Ia sedang sekarat akibat panas tubuhnya sendiri.
Dara tidak tahu bagaimana ia melakukannya, namun secara instingtif, ia mendorong energi dingin dari dalam dirinya ke arah pemuda itu.
Tenanglah, batin Dara. Bukan sebuah perintah, melainkan sebuah pelukan tak kasat mata.
Di dunia nyata, cahaya biru pucat yang sangat redup—menyerupai pendar kunang-kunang di tengah hutan—memancar dari titik di mana telapak tangan Dara menyentuh lantai.
Geraman buas dari bawah rumah mendadak terputus. Berganti dengan suara tarikan napas panjang yang serak, seperti seseorang yang baru saja ditarik keluar dari dalam lautan setelah nyaris tenggelam.
Hawa panas ekstrem yang mengancam akan membakar rumah itu surut seketika. Menguap ditiup oleh udara dingin yang diembuskan dari telapak tangan Dara.
Makhluk di bawah sana terdiam selama beberapa detik. Dalam keheningan yang mencekam itu, Dara bisa merasakan emosi murni yang dipancarkan oleh Indra Bagaskara: kelegaan yang absolut, kedamaian yang memabukkan, dan... sebuah kehausan baru yang jauh lebih mengerikan dari sekadar rasa lapar.
Syiuut!
Suara desir angin yang sangat cepat membelah derasnya hujan di luar. Makhluk itu melesat pergi, menjauh dari rumah Kakek Danu, kembali ke pelukan hutan pinus yang gelap dengan kecepatan yang tidak mungkin ditangkap oleh mata manusia.
Dara tersentak. Begitu koneksi gaib itu terputus, energi yang menopang tubuhnya seolah dicabut secara paksa. Ia jatuh tengkurap di atas lantai kayu, napasnya tersengal-sengal hebat layaknya pelari maraton yang kehabisan oksigen.
Pandangannya berputar. Seluruh persendian di tubuhnya terasa seperti baru saja ditumbuk dengan palu godam. Rasa sakit yang tajam menusuk pelipisnya.
Kakek Danu bergegas menghampirinya setelah dinding angin gaib itu menghilang. Pria tua itu menyalakan sebuah senter kecil yang selalu ia simpan di saku sarungnya, menyorotkan cahayanya ke wajah Dara.
"Astaga, Nduk..." suara Kakek Danu terdengar panik—sebuah emosi yang sangat jarang ditunjukkan olehnya.
Dara menyentuh hidungnya yang terasa basah. Saat ia melihat ujung jarinya di bawah cahaya senter, ada darah segar yang mengalir keluar dari kedua lubang hidungnya.
"Kakek... kepalaku sakit..." rintih Dara pelan, sebelum kegelapan akhirnya merengkuh kesadarannya secara total.
Saat Dara kembali membuka matanya, hal pertama yang ia sadari adalah bau minyak kayu putih dan kapur barus. Ia terbaring di atas ranjang di kamarnya sendiri. Tirai beludru merah marunnya terbuka setengah, membiarkan cahaya pagi yang pucat dan keabu-abuan masuk ke dalam ruangan.
Dara mengerang pelan, memijat pangkal hidungnya. Kepalanya masih terasa berat seperti diisi oleh batu bata, namun rasa sakit yang menusuk semalam telah mereda.
Ia memaksakan diri untuk duduk. Di atas nakas, terdapat segelas air putih hangat dan sebuah mangkuk porselen berisi bubur yang sudah tidak lagi mengepul. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi.
Pintu kamarnya berderit terbuka, menampilkan sosok Kakek Danu yang membawa nampan berisi handuk kecil dan baskom air hangat. Garis wajah pria tua itu terlihat lebih tegas dan lelah dari biasanya.
"Sudah bangun kau, Nduk," ucap Kakek Danu datar. Ia meletakkan baskom itu di dekat ranjang, menarik kursi kayu kecil, dan duduk menghadap Dara.
"Kek... apa yang terjadi semalam?" Dara mengambil gelas air hangat dan meminumnya dengan rakus. Kerongkongannya terasa sekering kemarau panjang.
"Kau pingsan," jawab Kakek Danu singkat. Mata cokelat gelapnya menatap tajam ke arah telapak tangan Dara. "Buka telapak tanganmu."
Dara mengerutkan kening, menuruti perintah kakeknya. Ia membalikkan kedua telapak tangannya. Dara tersentak kaget. Di tengah-tengah kedua telapak tangannya, terdapat sebuah pola samar berwarna kemerahan, menyerupai kelopak bunga yang melingkar, seolah kulitnya baru saja dicap dengan besi panas, namun tidak terasa sakit.
"Itu adalah Segel Pawang. Segel yang terbentuk saat kau menyalurkan energi penyeimbangmu untuk pertama kalinya," Kakek Danu menjelaskan, nada suaranya dipenuhi oleh beban masa lalu. "Semalam, tanpa pelatihan, tanpa mantra pelindung, kau menggunakan energi murni dari dalam darahmu untuk mendinginkan Nafsu Rimba pemuda Bagaskara itu."
"Aku tidak sengaja, Kek. Tubuhku bergerak sendiri... rasanya seperti ditarik paksa," Dara membela diri, menatap telapak tangannya dengan ngeri. "Apakah dia... Indra... apakah dia sudah pergi?"
"Dia pergi," Kakek Danu menghela napas berat, bersandar pada sandaran kursi. "Tetapi ini bukanlah akhir, Dara. Ini baru permulaan. Apa yang kau lakukan semalam sama saja dengan melempar suar yang menyala terang ke tengah lautan yang gelap gulita."
Kakek Danu mencondongkan tubuhnya, menatap Dara dengan intensitas yang membuat gadis itu menelan ludah.
"Energi seorang Pawang tidak hanya menenangkan, tetapi juga sangat adiktif. Semalam, kau memberikan Indra Bagaskara setetes air murni saat ia sedang sekarat kehausan. Sekarang, insting binatang di dalam dirinya telah mengenali aromamu bukan lagi sekadar sebagai sesuatu yang familier, melainkan sebagai kebutuhan mutlak."
"Maksud Kakek... dia akan kembali?"
"Dia, dan makhluk-makhluk lain yang menghuni hutan ini," potong Kakek Danu tegas. "Kau telah membuktikan bahwa darah ibumu tidak mati bersama kecelakaan pesawat itu. Sekarang, seluruh penghuni bayang-bayang di Lembah Marapi tahu bahwa ada seorang Pawang baru di desa ini. Beberapa akan datang untuk meminta perlindunganmu, beberapa akan datang untuk memakanmu, dan beberapa... akan mencoba mengikatmu untuk dijadikan senjata."
Ancaman itu menggantung berat di udara pagi yang dingin. Dara memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya. Ia hanya ingin sekolah dengan normal. Ia hanya ingin melupakan trauma kematian orang tuanya. Mengapa ia harus berurusan dengan manusia harimau, kutukan rimba, dan hutan yang mengincarnya?
"Bersiaplah ke sekolah," kata Kakek Danu, bangkit dari kursinya. "Jangan tunjukkan rasa takutmu pada siapa pun, terutama pada klan Bagaskara. Pemuda itu mungkin sekarang merasa berutang budi padamu, atau mungkin ia sedang berjuang setengah mati untuk tidak menerkammu. Jaga jarakmu. Jangan biarkan segel di tanganmu terlihat."
Sekolah terasa seperti panggung sandiwara yang absurd hari ini.
Dara berjalan melewati gerbang besi karatan SMA Nusantara Lereng Marapi dengan langkah berat. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan air di lapangan basket. Kabut tipis menyelimuti atap-atap gedung tua sekolah, membuat suasananya tampak semakin suram.
Santi, sahabat barunya, langsung menyambutnya di koridor depan dengan celotehan ceria tentang tugas Biologi dan gosip artis ibu kota. Suara Santi adalah satu-satunya hal yang mengingatkan Dara bahwa ia masih berada di dunia manusia. Dunia di mana hal paling menegangkan seharusnya hanyalah ulangan harian.
Namun, kewarasan sementara itu langsung hancur ketika mereka berbelok di koridor utama.
Gerombolan murid yang tadinya berisik mendadak membelah diri seperti Laut Merah, menyepi ke tepi dinding koridor dengan kepala menunduk. Suasana berubah hening, statis, dan memancarkan aura ketakutan yang kental.
Di ujung koridor, formasi tiga bersaudara Bagaskara itu berjalan mendekat.
Mata Dara langsung tertuju pada pemuda yang berjalan di tengah. Indra Bagaskara.
Penampilan Indra hari ini tampak sangat berbeda dibandingkan kemarin. Jika kemarin ia terlihat seperti singa jantan yang siap mengamuk dengan kemeja berantakan dan napas memburu, hari ini pemuda itu terlihat luar biasa... tenang. Rambut hitamnya tersisir rapi meski dibiarkan agak gondrong, seragamnya terkancing sempurna, dan yang paling mencolok: tidak ada uap panas yang mengepul dari tubuhnya.
Saat jarak mereka menyusut, Indra mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Dara.
Mata cokelat keemasan itu tak lagi liar atau memancarkan penderitaan. Matanya kini jernih, dalam, dan dipenuhi oleh intensitas yang membuat napas Dara tercekat. Tidak ada amarah di sana. Yang ada hanyalah fiksasi. Sebuah tatapan posesif yang absolut, seolah Indra sedang menatap satu-satunya jangkar yang menahan dirinya agar tidak jatuh ke dalam jurang kegilaan.
Dara merasakan telapak tangannya—tempat di mana segel gaib itu berada—berdenyut pelan merespons tatapan Indra.
Maya Bagaskara, yang berjalan di sebelah kiri Indra, menyadari hal itu. Gadis cantik berwajah mematikan itu langsung melangkah sedikit ke depan, memotong pandangan Indra terhadap Dara. Maya memberikan tatapan peringatan yang keras kepada Dara, bukan tatapan membunuh seperti kemarin, melainkan tatapan waspada yang tajam: Jangan berani-berani mencoba memancingnya lagi.
Di sebelah kanan, Raka hanya tersenyum tipis penuh arti ke arah Dara, sebelum akhirnya kelompok penguasa sekolah itu berbelok menaiki tangga menuju lantai dua.
Dara mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tak sadar ia tahan. Kakinya sedikit gemetar.
"Kamu beneran punya nyawa sembilan, ya," bisik Santi sambil menyenggol lengan Dara. "Kamu sadar nggak sih Kak Indra dari tadi ngeliatin kamu terus?! Untung aja ada Kak Maya. Kalau nggak, mungkin dia udah nyamperin kamu lagi kayak kemarin."
"Aku cuma kebetulan berdiri di jalan mereka, San," Dara berbohong, memaksakan diri untuk berjalan menuju kelasnya. "Ayo cepat, nanti telat."
Pelajaran hari itu berlalu dengan sangat lambat. Fokus Dara pecah berantakan. Ia terus melirik ke arah jendela kelas yang menghadap ke area belakang sekolah. Bayangan tentang wujud monster Indra yang menderita semalam terus tumpang tindih dengan wajah tampan dan tenang yang ia lihat pagi ini.
Aku menyembuhkannya, pikir Dara. Tapi dengan melakukan itu, aku mengikat diriku padanya.
Saat bel istirahat berbunyi, Dara merasa dadanya sesak karena terlalu banyak dikelilingi oleh murid-murid di dalam kelas. Ia butuh udara segar. Ia butuh tempat sepi di mana ia tidak perlu berpura-pura menjadi manusia normal.
Menolak tawaran Santi untuk pergi ke kantin dengan alasan ingin ke perpustakaan, Dara justru berjalan menyusuri koridor sayap timur yang jarang dilewati. Ia terus berjalan hingga melewati deretan ruang laboratorium tua yang sudah tidak terpakai, dan akhirnya tiba di area pekarangan belakang sekolah.
Tempat itu ditumbuhi rumput gajah yang tinggi dan berbatasan langsung dengan pagar kawat berkarat. Di balik pagar kawat itu, Hutan Marapi berdiri menjulang dengan pepohonan pinus dan jatinya yang gelap.
Dara duduk di sebuah bangku semen tua yang tertutup lumut kering di bawah pohon mahoni. Ia menarik napas panjang, menikmati aroma tanah basah. Kesunyian di sini sedikit banyak membantunya meredakan pening di kepalanya.
Ia merogoh saku roknya, berniat mengeluarkan sapu tangan, namun gerakannya terhenti ketika telinganya menangkap suara langkah kaki. Bukan langkah kaki yang berat dan mengancam, melainkan langkah yang ringan, santai, dan diselingi oleh siulan kecil yang familier—nada dari sebuah lagu indie lawas yang sering diputar di kafe-kafe Jakarta.
Dara menoleh.
Seorang pemuda muncul dari balik bangunan laboratorium tua. Penampilannya sangat berantakan tapi dengan cara yang menyenangkan. Seragamnya dikeluarkan dari celana, kancing atasnya dibiarkan terbuka, dan ia mengenakan jaket varsity berwarna merah marun yang sedikit kebesaran. Kulitnya berwarna sawo matang yang sehat, mengisyaratkan bahwa ia sering menghabiskan waktu di bawah sinar matahari langsung. Rambutnya hitam legam, sedikit ikal di bagian ujungnya, dan tampak acak-acakan karena diterpa angin.
Berbeda dengan Indra yang memancarkan aura dominasi yang mencekik, pemuda ini memancarkan aura yang sangat berbeda.
Saat pemuda itu berjalan mendekat, Dara bisa merasakan sebuah gelombang kehangatan. Bukan hawa panas yang membakar dan berbau darah seperti Cindaku, melainkan kehangatan yang nyaman, seperti sinar matahari pagi di awal musim semi. Aura itu entah mengapa membuat insting kewaspadaan Dara yang sejak semalam terus berteriak kini perlahan-lahan mereda.
Pemuda itu menghentikan langkahnya saat melihat Dara. Ia mengerjap sejenak, menatap Dara dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum akhirnya sebuah senyum lebar yang sangat cerah mengembang di wajahnya. Senyum itu membuat matanya yang berwarna cokelat terang tampak menyipit ramah.
"Wah, wah. Sedang apa anak kota yang bikin heboh satu sekolah ini sendirian di tempat angker begini?" sapa pemuda itu. Suaranya renyah, berat di bagian ujungnya, dan sangat bersahabat.
Dara mengerutkan kening, sedikit defensif. "Kamu siapa? Kok tahu aku anak kota?"
Pemuda itu tertawa kecil, melangkah mendekat tanpa sedikit pun ragu dan menjatuhkan dirinya duduk di ujung bangku semen yang sama, menjaga jarak sopan sekitar satu meter dari Dara.
"Satu desa juga tahu kalau cucu Kakek Danu yang selamat dari kecelakaan pesawat itu sudah datang," jawabnya santai. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan tampak kapalan ke arah Dara. "Kenalin, aku Bumi. Bumi Arka. Kelas XI-IPS 2."
Dara ragu sejenak. Namun, getaran aura hangat dari pemuda ini terasa sangat meyakinkan. Ia menyambut uluran tangan itu.
"Dara," jawabnya pelan.
Saat kulit mereka bersentuhan, Dara terkesiap di dalam hati. Tangan Bumi terasa sangat hangat. Hangat yang masuk hingga ke aliran darahnya, mengusir sisa-sisa rasa dingin yang ditinggalkan oleh efek penggunaan energi Pawangnya semalam. Sentuhan ini terasa sangat manusiawi, membumi, dan melindungi.
Bumi menarik tangannya kembali setelah beberapa detik, senyumnya masih belum pudar. Ia menatap ke arah hutan pinus di balik pagar kawat dengan pandangan yang tiba-tiba berubah sedikit lebih tajam.
"Kamu punya nyali juga duduk di sini sendirian," gumam Bumi, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian ia menoleh kembali pada Dara. "Dengar, Dara. Aku tahu hari pertamamu kemarin sedikit... kacau karena ulah anak-anak Bagaskara yang sok berkuasa itu. Tapi saran dariku, mulai sekarang, kalau kau butuh tempat sembunyi yang sepi, jangan ke area yang dekat dengan perbatasan hutan."
"Kenapa?" pancing Dara, matanya memicing menatap Bumi. Ia mencoba mencari tahu apakah pemuda bersahabat ini juga mengetahui rahasia kelam desa ini.
Bumi mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan sebelah tangan. Mata cokelat terangnya menatap lurus ke dalam mata Dara, dan untuk sepersekian detik, Dara bersumpah ia melihat kilat warna merah kecokelatan berkelebat di mata pemuda itu, menyerupai warna tanah yang subur.
"Karena hutan ini tidak suka pada orang asing," jawab Bumi pelan, namun nadanya mengandung peringatan yang sangat serius. "Dan beberapa makhluk di dalamnya... lebih menyukai mangsa yang sendirian. Kalau ada yang mengganggumu lagi—entah itu geng sekolah, atau sesuatu yang lebih buruk dari itu—cari saja aku. Kaum-ku... maksudku, teman-temanku dan aku, kami tidak suka pada kelompok arogan yang mengganggu anak baru."
Bumi bangkit berdiri, membersihkan debu dari celana seragamnya. Ia memberikan satu kedipan mata jahil sebelum berbalik. "Sampai ketemu di jam pulang sekolah, Anak Kota."
Dara menatap punggung Bumi yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan koridor. Kehangatan yang ditinggalkan pemuda itu di udara perlahan memudar, digantikan kembali oleh udara dingin khas pegunungan.
Kepingan puzzle di kepala Dara semakin rumit. Ia teringat cerita dari buku-buku lama. Jika klan Bagaskara adalah penguasa bayang-bayang dengan wujud harimau yang menyala kepanasan, maka siapa Bumi Arka? Kehangatan komunal, penciuman tajam, dan peringatan tentang perbatasan hutan.
Dara menyentuh telapak tangannya sendiri yang masih menyisakan segel gaib. Di tengah kabut Marapi yang menutupi rahasia-rahasia purba, takdir sepertinya telah melemparkan Dara tepat ke tengah-tengah wilayah kekuasaan dua pemangsa yang bertolak belakang. Dan perang antara cakar dan taring, seperti yang tersirat di mata Bumi, baru saja akan dimulai.