Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.
Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.
Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.
Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.
Semakin dekat, semakin sulit berhenti.
Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:
Menjaga masa depannya...
atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Ranjang Dua Ego
BAB 18 — Satu Ranjang Dua Ego
Malam itu, suasana di vila seketika berubah drastis.
Awalnya semuanya indah, penuh tawa dan kehangatan. Tapi saat obrolan santai mulai mengarah ke topik yang lebih serius, topik tentang "apa selanjutnya?", tembok pertahanan mereka kembali berdiri tegak.
Mereka sedang duduk di sofa, keheningan yang tadinya damai kini berubah menjadi hening yang mencekik.
"Jadi..." Alena memecah keheningan dengan suara pelan namun tegas. "Setelah liburan ini... kita kembali jadi apa? Kembali jadi orang asing di kampus? Kembali sembunyi-sembunyi terus kayak gini?"
Adrian menghela napas panjang, wajahnya kembali menampakkan kerutan kelelahan. Dia menoleh ke arah jendela, menghindari tatapan Alena.
"Kita sudah bahas ini, Len. Keadaan memang begini adanya. Kita harus sabar menunggu waktu yang tepat."
"Waktu yang tepat kapan?!" Alena tidak bisa menahan diri lagi, suaranya meninggi sedikit. "Sudah berbulan-bulan kita begini, Adrian! Aku butuh kepastian! Aku butuh tahu hubungan ini mau dibawa ke mana! Aku tidak mau terus-terusan hidup dalam bayang-bayang rasa takut!"
Adrian mendengus kasar, menegakkan tubuhnya. "Ini bukan soal mau atau tidak mau, Len! Ini soal realita! Kau pikir gampang memutuskan hubungan seperti ini? Kalau ketahuan, kariermu hancur, reputasiku hancur! Semuanya berantakan!"
"Terus aku harus apa?! Menunggu sampai kau siap?! Menunggu sampai kau mau mengakui aku di depan umum?! Sampai kapan?!" Air mata Alena mulai jatuh, dadanya sesak menahan amarah dan kekecewaan. "Kau bilang aku milikmu, kau posesif, kau sayang... tapi kenapa kalau ditanya masa depan, kau malah menghindar dan bilang ini rumit?!"
"YA MEMANG RUMIT!" bentak Adrian, matanya memancarkan emosi yang campur aduk antara marah dan frustrasi. "Aku ini pria yang sudah banyak salah di masa lalu! Aku tidak tahu apa aku bisa memberimu bahagia atau tidak! Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa sekarang! Jangan paksa aku!"
"Karena Sophia? Karena kau takut dia atau orang lain bilang aku tidak setara?!"
"BUKAN SOAL SOPHIA!" Adrian berdiri tegak, suaranya berat bergema di ruangan itu. "Ini soal AKU! Soal kenyataan bahwa kita beda dunia! Dan kadang... sekuat apa pun kita berusaha, beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk jadi nyata di siang bolong!"
PRANG.
Kata-kata itu menghantam wajah Alena seperti tamparan keras.
Tidak ditakdirkan untuk jadi nyata...
Jadi selama ini... apa yang mereka rasakan hanyalah ilusi? Hanya main-main di malam hari?
Alena tertawa getir, air matanya mengalir deras membasahi pipi. "Oke... aku mengerti sekarang. Maaf sudah merepotkan Bapak dengan permintaan konyolku."
Tanpa menunggu jawaban, Alena berbalik cepat dan berlari masuk ke dalam kamar tidur, membanting pintu dengan keras.
DOR!
Adrian tertinggal di ruang tengah, memegang kepalanya dengan tangan gemetar. Dia menyesal. Dia menyesal sudah mengeluarkan kata-kata pedas itu. Tapi egonya... egonya sebagai pria yang takut gagal dan takut menyakiti, membuatnya berkata demikian.
🛌 Satu Ranjang, Dua Dunia
Malam semakin larut.
Akhirnya Adrian pun masuk ke kamar dengan langkah berat. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk dari celah gorden.
Di atas ranjang besar itu, Alena sudah berbaring memunggunginya. Tubuh gadis itu tampak menggigil kecil, mungkin karena menangis, mungkin karena dingin.
Jarak di antara mereka terasa begitu luas, meski mereka berbagi kasur yang sama.
Adrian berbaring di sisi paling tepi, memberikan jarak aman yang cukup jauh dari punggung Alena. Dia tidak berani menyentuh, tidak berani memeluk. Hati dan pikiran mereka sedang perang.
Dua ego yang sama-sama keras, sama-sama terluka, dan sama-sama tidak mau mengalah duluan.
Alena memejamkan mata erat-erat, tapi tidak bisa tidur.
Kenapa dia begitu keras kepala? Kenapa dia tidak bisa mengerti kalau aku cuma ingin diakui?
Di sisi lain, Adrian menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Kenapa kau tidak mengerti aku melakukan ini semua demi melindungimu, Len? Kenapa kau memaksaku berjanji pada hal yang belum pasti?
Suasana beku. Dingin. Seperti dua kutub magnet yang saling tolak-menolak. Mereka tidur satu ranjang, tapi rasanya berjauhan seperti berada di dua dunia yang berbeda.
🤗 Pelukan Tengah Malam
Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi.
Semua sudah hening. Angin di luar menderu pelan.
Tiba-tiba, dalam kegelapan yang pekat itu, gerakan kecil terjadi.
Tangan besar Adrian yang sejak tadi terkepal di samping badan, perlahan bergerak memberanikan diri. Dengan sangat pelan, sangat hati-hati, dia menggeser tubuhnya mendekat ke arah Alena.
Dia tidak berkata apa-apa. Tidak ada maaf, tidak ada penjelasan.
Tapi dengan lembut, dia melingkarkan lengannya kuat-kuat memeluk pinggang ramping gadis itu dari belakang. Dadanya menempel rapat di punggung Alena, dagunya bersandar di bahu gadis itu, menghirup dalam-dalam aroma rambut yang sangat dia rindukan.
Gerakan itu penuh penyesalan. Penuh rasa sayang. Dan penuh kepasrahan.
Alena tersentak sedikit saat merasakan hangat itu kembali menyelimutinya. Tubuhnya sempat kaku, ingin meronta, ingin tetap marah. Tapi saat dia merasakan betapa eratnya genggaman tangan Adrian di perutnya, saat dia merasakan napas pria itu yang bergetar sedikit di lehernya...
Duri-duri kemarahan itu perlahan luruh.
Air mata Alena kembali jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih atau marah. Tapi karena lega.
Mereka mungkin masih bertengkar. Mereka mungkin masih belum punya jawaban untuk masa depan. Ego mereka mungkin masih sama-sama tinggi.
Tapi tubuh mereka... hati mereka... tidak bisa berbohong. Mereka butuh satu sama lain.
Mereka tetap diam dalam pelukan itu. Tanpa kata-kata. Hanya detak jantung yang berpacu menjadi satu di keheningan malam.