Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Baru di Meja makan
Pagi hari di griya tawang Mahardika Group tidak lagi terasa kaku seperti beberapa bulan lalu. Jika dulu sarapan hanya diisi oleh keheningan yang canggung dan denting sendok yang beradu dengan piring porselen, kini suasananya jauh lebih hangat.
Kontrak pernikahan di atas kertas bermeterai itu mungkin masih tersimpan di laci ruang kerja Gibran, tetapi aturan-aturan di dalamnya sudah lama menguap, digantikan oleh rutinitas baru yang penuh dengan debaran nyata.
Nayla berdiri di dapur bersih, masih mengenakan celemek linen berwarna krem di atas baju rumahannya. Tangannya dengan cekatan memotong daun bawang untuk campuran dadar telur bebek menu sederhana yang belakangan ini menjadi favorit baru sang CEO mengalahkan egg benedict ala hotel bintang lima.
Dari arah belakang, sebuah lengan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya, mengejutkan Nayla hingga pisau di tangannya hampir saja meleset.
"Mas Gibran! Kaget tahu!" omel Nayla, meskipun ia tidak bisa menyembunyikan senyuman yang langsung merekah di bibirnya.
Gibran menyandarkan dagunya di bahu Nayla, menghirup aroma harum dari rambut istrinya yang baru selesai dikeramas. Pria itu masih mengenakan celana kain hitamnya, namun kemeja putihnya masih setengah terbuka, menampilkan kesan kasual yang sangat jauh dari citra kaku di majalah bisnis.
"Wanginya enak. Masakan lu, atau... lu-nya?" goda Gibran dengan suara serak khas bangun tidur.
Nayla memutar tubuhnya dalam kekangan lengan Gibran, lalu mengetuk hidung mancung suaminya menggunakan ujung jari yang sedikit basah. "Gombal jam tujuh pagi itu tidak akan membuat dadar telurnya matang lebih cepat, Pihak Kesatu. Sana duduk, pakai kemejamu dengan benar. Sebentar lagi Mas Gunawan pasti datang menjemput."
Gibran terkekeh, namun bukannya menjauh, ia justru mendaratkan satu ciuman singkat namun dalam di kening Nayla sebelum akhirnya menyerah dan duduk di kursi bar meja dapur. "Gunawan bisa menunggu. Lagipula, siapa yang berani memecat CEO kalau dia telat karena urusan domestik?"
"Sombongnya kumat lagi," cibir Nayla, menyajikan sepiring nasi goreng kampung dengan telur dadar tebal di atasnya ke hadapan Gibran.
Namun, momen manis itu tidak bertahan lama. Baru saja Gibran menyuapkan sendok pertama, ponsel yang tergeletak di atas meja kaca ruang tengah berdering nyaring. Nada deringnya khusus, penanda bahwa panggilan itu datang dari jalur pribadi keluarga besar Mahardika.
Nayla mengambil ponsel tersebut, lalu menyerahkannya pada Gibran dengan kening sedikit berkerut setelah melihat nama di layar. "Mama Renata, Mas."
Gibran menggeser tombol hijau, lalu menempelkannya ke telinga. "Ya, Ma? Selamat pagi."
"Gibran! Akhirnya kamu angkat juga," suara Renata Mahardika terdengar sedikit panik namun ada nada antusiasme yang tertahan dari seberang telepon. "Kamu dan Nayla tidak lupa kan kalau malam ini adalah jadwal makan malam besar keluarga di kediaman utama? Papa kamu yang minta langsung."
Gibran melirik Nayla yang kini menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. "Gibran ingat, Ma. Ada agenda khusus? Tidak biasanya Papa meminta makan malam keluarga besar di tengah pekan."
"Ini tentang proyek Bali yang kemarin sempat heboh itu, Gibran. Setelah masalah sabotase selesai, Papa ingin merayakan keberhasilan transisi data baru, sekaligus ... Papa mengundang beberapa kolega dekatnya. Dan Gibran, Mama harap Nayla bersiap dengan baik. Ini pertama kalinya dia akan diperkenalkan secara resmi sebagai menantu utama di hadapan lingkaran inti bisnis Papa."
Rahang Gibran sedikit mengeras. Ia tahu betul apa arti "lingkaran inti bisnis" bagi ayahnya. Itu bukan sekadar makan malam biasa, melainkan medan pertempuran sosial yang dipenuhi oleh para sosialita ibu kota, pengusaha papan atas, dan anak-anak perempuan mereka yang dulu sempat antre untuk menjadi menantunya.
"Baik, Ma. Kami akan datang tepat waktu," ujar Gibran sebelum menutup sambungan telepon.
Nayla menghela napas pelan, nafsu makannya mendadak menurun. Ia duduk di sebelah Gibran, menopang dagunya dengan kedua tangan. "Makan malam besar lagi ya, Mas? Berarti aku harus pakai gaun ketat yang bikin susah bernapas dan tersenyum kaku sepanjang malam?"
Gibran meraih tangan Nayla, menggenggam jemari kecil itu dengan erat di atas meja. "Lu tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain, Nay. Pakai apa saja yang bikin lu nyaman. Kemarin Papa sudah meminta maaf secara terbuka, jadi tidak akan ada yang berani merendahkan lu lagi di rumah itu."
"Aku tidak takut pada Papa, Mas," bisik Nayla jujur, menatap lurus ke dalam manik mata elang suaminya. "Aku cuma takut ... aku mempermalukan kamu di depan kolega-kolega hebatmu itu. Aku ini cuma gadis yang tahu cara menawar harga sayur di pasar, bukan cara membahas saham gabungan di bursa efek."
Gibran tersenyum, sebuah senyuman hangat yang seketika mengikis kecemasan di hati Nayla. Pria itu membawa tangan Nayla ke bibirnya, mencium punggung tangan itu dengan lembut. "Lu lupa kalau lu itu Detektif Sepatu Mewah yang berhasil membongkar kasus sabotase terbesar di perusahaan gue kemarin? Lingkaran bisnis Papa itu tidak ada apa-apanya dibanding kejelian mata lu, Nay. Jadi, angkat dagu lu. Malam ini, lu adalah ratunya."
****
Pukul tujuh malam, sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti di pelataran luas mansion utama keluarga Mahardika.
Lampu-lampu kristal gantung yang mewah menerangi pilar-pilar putih besar bangunan tersebut, memberikan kesan megah sekaligus intimidatif.
Nayla turun dari mobil dibantu oleh Gibran. Malam ini, atas saran dari Mama Renata, Nayla mengenakan gaun kebaya modern berwarna biru dongker yang dipadukan dengan kain batik tulis sutra. Rambutnya disanggul modern yang sederhana, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya dengan anggun. Di sebelahnya, Gibran tampil sangat menawan dengan setelan tuksedo hitam formal.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruang perjamuan, puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka. Bisik-bisik mulai terdengar dari sudut-sudut ruangan yang dipenuhi oleh wanita-wanita paruh baya berhiaskan berlian berkilauan.
"Oh, jadi itu perempuan yang dari kampung itu?"
"Kudengar dia yang menjatuhkan Valeria Pratama kemarin."
"Cantik sih, tapi sayang ... latar belakangnya tidak selevel dengan Gibran."
Nayla mendengar sayup-sayup cibiran itu. Jantungnya berdegup kencang, dan genggamannya pada lengan Gibran semakin erat. Gibran yang merasakan ketegangan istrinya, sedikit merapatkan tubuh mereka, memberikan sandaran kekuatan yang nyata.
"Gibran, Nayla! Akhirnya kalian datang," Mama Renata berjalan mendekat dengan senyum merekah, langsung memeluk Nayla dengan hangat, sebuah tindakan yang sengaja ia lakukan untuk membungkam mulut-mulut usil di sekitar mereka. "Ayo, Papa sudah menunggu di meja utama."
Di meja makan panjang berbahan kayu jati solid, Baskoro Mahardika sudah duduk di kepala meja. Di sebelah kanan dan kirinya, duduk beberapa pria paruh baya yang penampilannya sangat berwibawa para taipan bisnis properti dan keuangan Indonesia.
Namun, yang membuat langkah Nayla sempat tertahan adalah kehadiran seorang gadis muda yang duduk di sebelah salah satu kolega Baskoro.
Gadis itu sangat cantik, dengan gaun malam rancangan desainer Paris berwarna merah menyala, memancarkan aura percaya diri yang sangat tinggi. Namanya adalah Clarissa Utama, putri tunggal dari pemilik Utama Holding, salah satu mitra strategis terbesar Mahardika Group untuk proyek di Bali.
"Ah, ini dia pahlawan kita malam ini," ujar Baskoro lantang begitu Gibran dan Nayla mendekat. Berbeda dengan sambutan dinginnya yang dulu, kali ini Baskoro berdiri dan menyambut mereka dengan senyuman bangga. "Perkenalkan semuanya, ini Gibran, CEO Mahardika Group, dan di sebelahnya adalah Nayla ... menantu saya."
Nayla tersenyum sopan, membungkuk sedikit untuk memberi hormat kepada para kolega Baskoro. Ketika matanya beradu dengan Clarissa, gadis berbaju merah itu hanya menaikkan sebelah alisnya dengan pandangan menilai yang sangat meremehkan.
Makan malam dimulai dengan hidangan pembuka yang mewah. Pembicaraan di meja makan mengalir seputar perkembangan ekonomi global, investasi saham, dan ekspansi hotel di Bali.
Nayla hanya diam, mendengarkan dengan patuh sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia merasa seperti makhluk asing yang terdampar di planet lain.
"Kudengar, proyek di Bali itu bisa berjalan lancar kembali karena kejelian insting seseorang di kantor," Clarissa tiba-tiba bersuara, memotong pembicaraan para orang tua. Matanya tertuju lurus pada Nayla dengan senyum sinis. "Benar begitu, Bulan ... eh, maaf, maksud saya Mbak Nayla?"
Suasana di meja makan mendadak agak hening. Renata tampak menegang di kursinya, sementara Gibran sudah bersiap untuk menyahut dengan kalimat tajam, namun Nayla menahan lengan suaminya di bawah meja.
"Hanya sebuah kebetulan kecil, Mbak Clarissa. Saya hanya memperhatikan apa yang seharusnya diperhatikan," jawab Nayla tenang, suaranya terdengar lembut namun tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.
Clarissa terkekeh meremehkan. "Tentu saja, detail kecil. Seseorang dari latar belakang ... sederhana ... biasanya memang sangat terlatih untuk memperhatikan hal-hal kecil seperti barang milik orang lain, bukan? Berbeda dengan kami yang terbiasa melihat gambaran besar dari sebuah makro ekonomi."
Sindiran itu sangat halus namun sangat menusuk. Clarissa sengaja ingin mengingatkan semua orang di meja itu bahwa Nayla berasal dari kelas bawah yang tidak mengerti apa-apa tentang dunia bisnis mereka.
Baskoro Mahardika berdeham, wajahnya mulai tampak tidak nyaman dengan arah pembicaraan Clarissa. Namun, sebelum ada orang lain yang sempat mengintervensi, Nayla meletakkan sendok dan garpunya dengan perlahan di atas piring, tidak menimbulkan bunyi berisik sedikit pun sebuah etika makan yang belakangan ini dia pelajari dengan keras dari Mama Renata.
Nayla menatap Clarissa dengan pandangan yang sangat tenang, bahkan ada sedikit kilatan jenaka di matanya yang membuat Clarissa mendadak merasa tidak nyaman.
"Mbak Clarissa benar," ujar Nayla, membuat seluruh meja terkejut karena ia membenarkan sindiran tersebut. "Orang dari latar belakang seperti saya memang terbiasa melihat hal-hal kecil. Karena bagi kami, jika kami lalai memperhatikan hal kecil seperti kebocoran kecil pada atap rumah atau selisih seribu rupiah saat berbelanja akibatnya bisa merusak seluruh tatanan hidup keluarga kami."
Nayla menjeda kalimatnya sejenak, lalu melirik ke arah Baskoro dan kolega bisnisnya sebelum kembali menatap Clarissa. "Dan bukankah dalam bisnis makro yang Mbak agungkan itu juga sama? Mahardika Group hampir saja kehilangan proyek triliunan di Bali bukan karena analisis makro ekonominya yang salah, tetapi karena kelalaian kecil dalam memperhatikan detail sepatu seorang penyusup. Jadi saya rasa ... kemampuan melihat hal kecil itu tidak ada hubungannya dengan latar belakang sosial, melainkan tentang apakah otak kita digunakan dengan jeli atau tidak."
Plak! Plak! Plak!
Suara tepuk tangan tunggal yang cukup keras tiba-tiba terdengar dari ujung meja. Baskoro Mahardika tertawa lepas, sebuah tawa puas yang sangat jarang ia tunjukkan di depan umum.
"Luar biasa! Tepat sekali apa yang dikatakan menantuku!" seru Baskoro sambil menepuk meja dengan bangga. Ia menoleh ke arah ayah Clarissa. "Utama, lihat itu! Menantuku ini tidak hanya jeli, tapi logikanya sangat tajam. Kamu harus mengajari anakmu ini agar tidak meremehkan detail kecil, kalau tidak, investasi kita di Bali bisa goyah hanya karena hal-hal sepele."
Wajah Clarissa seketika berubah merah padam karena malu. Ia langsung menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Nayla lagi sepanjang sisa makan malam. Ayah Clarissa hanya bisa tersenyum canggung sambil mengangguk setuju dengan ucapan Baskoro.
Gibran yang duduk di sebelah Nayla diam-diam meremas tangan istrinya di bawah meja. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Nayla, berbisik dengan nada yang penuh dengan rasa bangga dan cinta yang membuncah. "Gue tarik kata-kata gue tadi pagi, Nay. Lu bukan cuma ratu malam ini ... tapi lu adalah komandan perang terbaik yang pernah gue miliki."
Nayla melirik suaminya dengan senyum kemenangan yang tertahan, matanya berbinar bahagia di bawah pendar lampu kristal mansion Mahardika.
Malam itu, di meja makan yang paling ia takuti, Nayla tidak hanya berhasil mempertahankan harga dirinya, tetapi ia juga telah mengukuhkan posisinya dengan mutlak: bahwa ia pantas berdiri di sebelah Gibran Mahardika, bukan karena selembar kontrak, melainkan karena kualitas dirinya sendiri.
sory ya thor 🙏