Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Matahari Los Angeles menyengat dari balik kaca jendela, menciptakan pantulan cahaya yang menyilaukan di permukaan meja kayu Faelynn. Namun, hawa dingin justru merambat di tengkuknya. Gadis itu menatap layar ponselnya seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. Pesan teks dari nomor tak dikenal itu—pesan yang menyebut nama lengkapnya—membuat dunianya yang selama ini terisolasi rapi terasa retak.
Faelynn menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang liar. Ia melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Di luar, suara televisi yang menyiarkan berita pagi dan denting piring dari dapur menandakan ibunya sedang sibuk. Dunia di luar kamarnya berjalan normal, namun di dalam genggamannya, sebuah invasi sedang terjadi.
“Jangan abaikan aku. Apa kau sesibuk itu bekerja sampai mengabaikan pesan selama seminggu?”
Pesan baru masuk. Faelynn menggigit bibir bawahnya. Ada kemarahan yang mulai membakar rasa takutnya. Siapa pria ini? Beraninya dia menerobos privasinya?
"Sebenarnya aku tidak pernah jauh dari ponselku," Faelynn mengetik dengan jemari yang sedikit gemetar namun tegas. "Aku seorang penulis penuh waktu, duniaku ada di benda ini. Aku hanya mengabaikanmu karena aku takut kau hanyalah pria pengangguran yang hobi mengganggu wanita di internet untuk mengisi waktu luang."
Di seberang kota, di balkon mansion keluarga Emerson yang tenang, Kingsley mendengus pelan. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi rotan, membiarkan angin pagi memainkan helai rambutnya. Jawaban Faelynn jujur—terlalu jujur hingga terasa seperti tamparan kecil bagi seorang agen yang baru saja menggunakan aset negara untuk mencari nomor teleponnya.
Pengangguran? Kingsley tersenyum miring.
Tanpa peringatan, ia menekan ikon kamera di pojok kanan atas layar. Ia ingin melihat wajah itu. Ia ingin melihat ekspresi gadis yang berani melabelinya pengangguran setelah ia mempertaruhkan nyawa di berbagai belahan dunia.
Dering panggilan video bergema di kamar Faelynn. Gadis itu terlonjak, hampir menjatuhkan ponselnya ke atas karpet. Layar menampilkan wajah Kingsley—pria di foto profil itu—namun dalam versi yang lebih "nyata" dan bergerak. Tanpa berpikir dua kali, Faelynn menekan tombol merah. Menolak.
"Chatingan saja. Jangan panggilan video," balas Faelynn cepat. Jantungnya berdegup kencang. Ia belum siap melihat pria itu secara langsung, apalagi dalam kondisi ia baru bangun tidur dengan kaus oblong kebesaran.
Kingsley terkekeh, suaranya rendah dan serak, tenggelam dalam kesunyian balkonnya. "Baiklah. Chatingan saja."
"Apa pekerjaanmu yang sebenarnya?" tanya Faelynn kemudian. "Jangan katakan kau hanya hobi menulis. Tidak ada penulis hobi yang bisa meretas nomor pribadi orang lain."
Kingsley terdiam sejenak. Ia memutar-mutar ponsel di tangannya. Haruskah ia berbohong lagi? Menjadi diplomat lagi? Tidak, gadis ini punya insting yang terlalu tajam. "Coba baca novelku lagi. Itu pekerjaanku."
"Aku sudah membacanya," balas Faelynn cepat. "Banyak adegan aksi di sana. Detail senjata, cara melumpuhkan lawan, protokol keamanan... Apa itu pekerjaanmu? Kau melakukannya di dunia nyata?"
"Iya. Itu pekerjaanku."
Faelynn tertegun. Ia teringat plot-plot spionase yang sering ia bangun. "Wah, kau seorang FBI?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Sejenis itu..."
"Kau agen rahasia?" Faelynn mengetik dengan rasa tidak percaya yang memuncak.
"Hm.." jawab Kingsley singkat.
Ada jeda panjang. Faelynn menatap layar itu, mencoba mencerna informasi tersebut. Seorang agen rahasia sedang menggodanya lewat pesan singkat? Ini terdengar seperti salah satu bab paling konyol dalam novelnya. "Lalu, siapa namamu?"
Di balkonnya, Kingsley menarik napas dalam. Ini adalah wilayah berbahaya. Seorang agen tidak pernah memberikan nama aslinya kepada subjek yang tidak dikenal. Tapi Faelynn bukan subjek. Dia adalah gangguan yang ingin ia miliki secara utuh.
"Nama asli?" balas Kingsley.
"Konyol kau... Tentu saja nama asli. Apa kau akan memberiku nama samaran seperti di film-film?"
Kingsley berdiri, berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia membuka sebuah laci rahasia yang terenkripsi secara biometrik. Di dalamnya terdapat beberapa dompet kulit dengan isi yang berbeda-beda. Ia mengambil ponsel kerjanya, lalu mulai mengambil foto satu per satu.
Ponsel Faelynn berdenting bertubi-tubi. Ia membuka pesan itu dan matanya membelalak.
Kingsley mengirimkan foto lima kartu identitas yang berbeda. Ada paspor Amerika dengan nama Kingsley Emerson, ada kartu identitas diplomatik dengan nama Arthur Vance, ada lisensi mengemudi internasional dengan nama Roger Stone, dan dua lainnya dengan nama yang bahkan sulit dieja. Namun, foto di semua kartu itu sama: Wajah pria yang sama dengan tatapan mata elang yang dingin.
"Kau ingin nama yang mana? Pilih salah satu," tulis Kingsley.
Untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya, Kingsley Emerson membocorkan identitas gandanya—sesuatu yang bisa membuatnya dipenjara atau bahkan dieksekusi oleh agensinya sendiri—hanya demi dipercaya oleh seorang gadis yang tinggal di apartemen kelas menengah.
Faelynn gemetar. Ia memperbesar foto paspor bernama Kingsley Emerson. Ia mencocokkan wajah di paspor itu dengan foto profil Instagram yang ia lihat sebelumnya. Tanda tangannya, cap resminya, bahkan bekas luka kecil di dekat alisnya yang terlihat di paspor namun tertutup di foto profil. Semuanya asli.
"Wah... kau memang seorang agen," balas Faelynn, suaranya tertahan di tenggorokan meski ia hanya mengetik.
"Aku membagi rahasiaku hanya denganmu, Faelynn. Jangan buat aku menyesal telah menyerahkan 'nyawaku' di tanganmu," balas Kingsley.
Faelynn tidak membalas. Ia meletakkan ponselnya di dada, merasakan jantungnya berdegup kencang. Rahasia ini terlalu besar. Beban mental dari tetangga yang menganggapnya perawan tua tiba-tiba terasa sangat sepele dibandingkan dengan kenyataan bahwa ia baru saja memegang rahasia negara.
Di mansionnya, Kingsley menatap layar ponsel yang tak kunjung menunjukkan status 'mengetik'. Lima menit, sepuluh menit.
"Wah... benar-benar gadis yang cuek," gumam Kingsley. Ia melemparkan ponselnya ke meja dengan frustrasi yang bercampur dengan kekaguman. Ia baru saja membocorkan identitasnya, mempertaruhkan kariernya, dan gadis itu bahkan tidak memberinya emoji terkejut atau sekadar kata "terima kasih".
Kingsley bersandar di kursinya, menatap langit-langit. Ia tahu, ia sudah terjebak terlalu dalam. Faelynn Yosephine bukan sekadar target atau pengalih perhatian. Gadis itu adalah badai yang tenang, dan Kingsley Emerson baru saja dengan sukarela berjalan masuk ke pusatnya.
Sementara itu, di apartemennya, Faelynn mulai membuka laptop. Bukan untuk menulis novel romantisnya, melainkan untuk mencari tahu lebih dalam tentang nama Kingsley Emerson. Ia mulai menyadari bahwa bab paling berbahaya dalam hidupnya baru saja dimulai, dan kali ini, ia bukan penulisnya. Ia adalah pemeran utamanya.