Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Ini Cemburu?
Ketika Li Hua pingsan dalam pangkuan Hao Lin; Shu Hua masih bermain-main dengan Xiao Yan di pasar. Dia tidak tahu jika telah terjadi sesuatu kepada Kakaknya.
Shu Hua begitu senang ketika diajak berkeliling pasar. Dia melihat banyak makanan, kemudian meminta kepada Xiao Yan agar dibelikan. Layaknya seorang anak kecil yang meminta sesuatu kepada orangtua mereka.
Xiao Yan tentu saja tidak menolak untuk membelikan apapun yang Shu Hua inginkan. Dan setiap kali Shu Hua mengatakan dia menyukai satu barang, Xiao Yan akan langsung bertanya...
"Kamu suka? Jika kamu suka, kamu bisa membelinya. Biar aku yang bayar."
Saat mengatakan kalimat seperti itu, Xiao Yan terlihat keren di mata Shu Hua. Dan tentu saja Shu Hua tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk membeli apapun yang dia inginkan.
Begitu banyak hal yang Shu Hua beli sampai-sampai tangannya tidak sanggup membawa semua barang belanjaan itu. Dan akhirnya, Xiao Yan lah yang membantu dirinya untuk membawa. Untung saja Xiao Yan baik, dia tidak keberatan membantu Shu Hua.
Berjalan-jalan di pasar itu memang menyenangkan, bahkan sampai membuat Shu Hua lupa waktu dan lupa tujuan utamanya untuk pergi. Setelah ia merasa cukup untuk bersenang-senang, Shu Hua mulai mempelajari tentang segala macam hal yang terjadi di pasar itu.
Orang-orang bisa mendapatkan uang dari menjual hasil tangkapan binatang di hutan, seperti rusa, kelinci, burung, bahkan ular pun juga diperjualkan.
Shu Hua kini telah mengetahui cara mendapatkan uang di tempat itu. Dan dengan kemampuan yang dimilikinya, bukan hal yang sulit untuk mendapatkan tangkapan seperti itu. Dan kini satu hal penting lain adalah, Shu Hua harus bisa menemukan tempat tinggal yang pas untuk dirinya dan Kakaknya. Dan tentu saja harganya harus sesuai dengan kantong mereka. Ya, walaupun untuk saat ini isi kantong mereka masih nol.
"Xiao Yan, boleh aku bertanya sesuatu?"
Shu Hua dan Xiao Yan beristirahat di bawah pohon besar untuk menikmati kue yang baru saja mereka beli. Dan pada kesempatan itu, Shu Hua ingin bertanya beberapa hal kepada Xiao Yan.
"Iya. Kamu ingin tahu tentang apa?"
"Misalkan. Ini misal saja aku berburu di hutan, apakah nanti aku akan di tangkap?" tanya Shu Hua. Mengingat kembali peraturan yang ada di dunianya. Melakukan pemburuan liar bisa membuat seseorang di tangkap dan di penjara, bahkan harus mengeluarkan uang ganti rugi kerusakan.
Mendengar pertanyaan Shu Hua, Xiao Yan tertawa. Baginya pertanyaan Shu Hua itu lucu. Bagaimana tidak? Pada zaman ini, berburu bukanlah tindakan yang dilarang. Banyak orang yang bergantung hidup dari berburu, dan itu artinya tidak akan ada orang yang menangkap seorang pemburu.
Ketika menyadari jika pertanyaan memang konyol, Shu Hua hanya bisa tertawa canggung. Dan tepat pada saat tawa itu pecah, tiba-tiba kue yang ada di tangan Shu Hua terjatuh. Perasaan Shu Hua tiba-tiba saja terasa tidak enak, dadanya terasa sesak dan detak jantungnya terasa jauh lebih cepat.
"Shu Hua, ada apa?"
Melihat Shu Hua menahan sakit, Xiao Yan langsung panik. Padahal beberapa detik yang lalu Shu Hua masih baik-baik saja, tetapi tiba-tiba saja rasa sakit menyerang dirinya.
"Kurasa kita harus kita kembali. Aku takut terjadi sesuatu kepada Kakak." Dengan menggenggam erat tangan Xiao Yan, Shu Hua ingin segera pergi dan kembali kepada Li Hua.
Firasat Shu Hua tidak enak tentang Li Hua, dan perasaan buruk itu tidak pernah salah.
Saat Shu Hua dan Xiao Yan sampai, Shu Hua dibuat sangat kaget saat seorang tabib sedang memeriksa Li Hua yang tidak sadarkan diri di tempat tidur dan dari matanya tampak darah segar masih ada di sana.
"Kakak!?" Shu Hua berteriak, menjatuhkan semua barang yang ia beli di pasar, berlari mendekati Li Hua yang masih belum menujukkan tanda-tanda akan sadar.
"Apa yang terjadi kepada Kak Li Hua? Kamu apakan dia?!" teriak Shu Hua kepada Hao Lin yang saat itu tangannya terkena darah Li Hua.
Shu Hua yang marah, mendorong Hao Lin beberapa kali. Tindakan berani dan lancang dari Shu Hua membuat tabib yang dipanggil untuk mengobati Li Hua kaget; dia memberikan peringatan kepada Shu Hua untuk menghentikan kelancangannya kepada Pangeran Mahkota.
Namun, siapa peduli dengan statusnya? Yang dipedulikan Shu Hua hanya Kakaknya. Tidak peduli dengan siapa dia berhadapan... jika orang itu berani melukai Li Hua, Shu Hua pun tidak akan segan-segan kepadanya.
"Tabib, tinggalkan kami. Aku akan memanggilmu lagi setelah kondisinya membaik." Xiao Yan yang mengerti dengan keadaan saat itu dengan cepat membawa keluar tabib dan semua orang yang ada di dalam kamar itu, membiarkan Hao Lin menenangkan Shu Hua.
"Shu Hua, kita bisa bicara baik-baik. Dan yang pasti, aku tidak melakukan apa-apa kepada Li Hua. Dia pingsan sendiri. Dan untuk membantunya, aku memanggil tabib istana kemari. Kamu harus percaya kepadaku," ucap Hao Lin.
"Bagaimana bisa Kakakku pingsan begitu saja? Pasti ada penyebab dia sampai pingsan, dan darah di tanganmu mungkin menjadi jawabannya. Dan ada apa dengan matanya?! Sebenarnya kamu apakan dia?!" Sekali lagi Shu Hua berteriak dengan mata yang memerah.
"Pedang!" Shu Hua yang penuh dengan amarah, memanggil pedang dan kemudian mengarahkan pedang itu ke leher Hao Lin.
Pedang Shu Hua begitu tajam; bahkan sebelum ia menggunakan pedang itu, pedang tersebut sudah lebih dulu melukai Hao Lin. Sedikit goresan yang mengeluarkan sedikit darah. Dan ketika melihat hal itu, Shu Hua bahkan tak mundur dan tetap mempertahankan pedang di tangannya.
Amarah Shu Hua benar-benar besar. Tidak takut dengan apa yang menunggu dirinya nanti jika sampai seseorang melihatnya mengarahkan pedang kepada Pangeran Mahkota. Dan sebuah keberuntungan, orang yang melihat kejadian itu hanya Xiao Yan.
Xiao Yan dengan hati-hati menenangkan Shu Hua, meyakinkan Shu Hua untuk menurunkan pedangnya. Dan setelah beberapa saat akhirnya Shu Hua pun tenang, dan menjauhkan pedang dari leher Hao Lin.
"Satu hal yang harus kalian tahu, terutama kamu, Hao Lin. Aku tidak peduli dengan statusmu. Tidak peduli jika kamu itu Pangeran Mahkota yang akan melanjutkan Dinasti ini. Aku tidak peduli; jika berani menyentuh Kakakku, aku tidak akan segan-segan memutuskan kepalamu!" tegas Shu Hua.
Pada saat itu, baik Xiao Yan maupun Hao Lin, keduanya hanya bisa terdiam di hadapan Shu Hua yang tampak begitu menakutkan.
Shu Hua benar-benar serius dengan apa yang dia katakan, dah luka kecil di leher Hao Lin adalah bukti bahwa dia benar-benar tidak takut.
Dan ketika akhirnya Shu Hua bisa berpikir lebih jernih, dengan satu tarikan, Shu Hua merobek lengan baju yang ia pakai, menggunakan kain itu untuk mengikat luka yang ada di leher Hao Lin.
Shu Hua berdiri dekat dengan Hao Lin, membuat Hao Lin bisa merasakan hembusan napas Shu Hua. Dan dengan tangan lembutnya, Shu Hua mengikat luka itu agar tidak terlihat lagi.
Dan pada saat itu, Xiao Yan yang melihat Shu Hua yang berdiri dekat dengan Hao Lin tiba-tiba saja merasakan perasaan aneh; perasaan tidak nyaman dan tidak suka.
Dan mungkin itulah yang disebut dengan 'cemburu'.
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄