NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Layar Kaca

Malam itu, suasana di ruang tamu utama The Dendra Foundation terasa begitu hidup. Kehadiran Isaac yang baru saja kembali dari kota menjadi magnet bagi lima belas anak yang telah merindukannya. Mereka tidak membiarkan Isaac duduk sendirian bahkan untuk satu menit pun. Mereka berkerumun di sekeliling sofa kayu besar, menceritakan segala pencapaian dan kejadian yang terlewatkan selama sang nakhoda pergi berperang di belantara beton.

Di antara keriuhan itu, Rian berdiri dengan sikap yang lebih dewasa. Siswa kelas satu SMA itu tidak lagi melompat-lompat kegirangan seperti adik-adiknya yang masih SD, namun binar di matanya tidak bisa berbohong. Ia memegang sebuah map berlogo resmi kenegaraan dengan sangat hati-hati.

"Pak Isaac, lihat ini," ujar Rian sembari menyerahkan map tersebut.

Isaac membukanya perlahan. Senyum bangga merekah di wajahnya yang masih tampak pucat saat membaca baris demi baris kalimat di sana. "Juara 1 Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMA? Rian, ini luar biasa!"

"Aku ingin memberikan ini sebagai hadiah kepulangan Bapak," sahut Rian dengan suara beratnya yang kini terdengar mantap. "Selama Bapak di kota, aku belajar lebih keras karena aku ingin membuktikan bahwa investasi Bapak untuk pendidikanku tidak sia-sia."

Isaac menepuk bahu Rian dengan penuh rasa haru. "Pendidikanmu adalah tanggung jawabku, Rian. Tapi kemenangan ini adalah hasil kerja kerasmu sendiri. Teruslah terbang tinggi, jangan pernah merasa puas."

Anak-anak lain pun ikut bersorak. Bumi dan Bimo sibuk bertanya tentang bagaimana rasanya mengerjakan soal yang sulit, sementara Aira dan Lulu memamerkan gambar-gambar baru mereka. Isaac melayani mereka satu per satu dengan sabar, mengabaikan rasa nyeri yang sesekali masih menusuk persendiannya. Di sampingnya, Luna duduk dengan tenang, menyandarkan kepalanya di bahu Isaac, menikmati kehangatan yang selama tiga minggu ini hilang dari jangkauannya.

Waktu merayap menuju tengah malam. Satu per satu anak-anak mulai menguap. Atas instruksi lembut dari Isaac, mereka perlahan bangkit dan memberikan pelukan selamat malam sebelum masuk ke kamar masing-masing. Hingga akhirnya, ruang tamu itu kembali sunyi. Hanya menyisakan derak kayu bangunan dan desis angin malam dari balik jendela.

Isaac menoleh ke samping dan menyadari bahwa bahunya terasa sedikit berat. Luna telah terlelap dengan sangat damai. Napasnya teratur, dan sisa-sisa guratan kecemasan di wajahnya tadi sore kini telah hilang, digantikan oleh ekspresi tenang seorang istri yang telah menemukan kembali rumahnya.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak mengejutkannya, Isaac menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Luna. Meskipun tubuhnya belum pulih benar, dorongan kasih sayang memberikan Isaac kekuatan tambahan. Ia menggendong Luna menaiki tangga menuju kamar mereka di lantai atas.

Sesampainya di kamar, Isaac merebahkan Luna di atas ranjang yang empuk. Ia menyelimuti istrinya dengan penuh kelembutan, lalu duduk di tepi ranjang sejenak. Menatap Luna yang tertidur damai memberikan efek penyembuhan yang jauh lebih kuat daripada obat-obatan dari rumah sakit mana pun. Isaac merasa seolah seluruh beban di pundaknya luruh saat melihat wanita ini berada di dekatnya lagi.

Isaac kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping Luna. Ia belum mengantuk; adrenalin dari keberhasilannya di kota dan kebahagiaan kepulangannya masih mengalir di nadinya. Ia memandangi wajah Luna di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, tangannya terangkat untuk merapikan sehelai rambut yang menutupi kening Luna. Ia memainkan ujung rambut istrinya itu sebentar, lalu berbisik sangat pelan, "Terima kasih sudah menungguku, Luna."

Tiba-tiba, sebuah getaran memecah kesunyian. Ponsel Luna yang tergeletak di atas meja nakas menyala, menandakan adanya notifikasi masuk. Isaac melirik sekilas. Layarnya menampilkan pesan dari nomor yang tidak dikenal.

"Halo Luna, apakah kau punya waktu luang minggu depan? Aku ingin kita bertemu kembali seperti yang pernah kita bicarakan sebelumnya."

Isaac mengernyitkan keningnya. Rasa ingin tahu mulai menyelinap. Siapa orang ini? Pria atau wanitakah yang mengirim pesan dengan nada seakrab itu? Apakah ini rekan kerja, teman lama, atau seseorang yang tidak ia ketahui selama ia berada di kota?

Isaac meraih ponsel itu, jemarinya ragu sejenak di atas layar. Ia bermaksud membuka kontak tersebut untuk sekadar memastikan identitas pengirimnya agar ia tidak perlu menyimpan rasa curiga yang tidak perlu. Namun, saat ia menekan tombol samping untuk menyalakan layar sepenuhnya, ia terhenti.

Matanya terpaku pada wallpaper ponsel Luna.

Itu adalah foto Isaac. Foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi saat ia sedang tertidur pulas—mungkin saat ia sedang kelelahan setelah mengurus administrasi panti atau saat ia sedang beristirahat di sofa. Dalam foto itu, Isaac tampak sangat tenang, dan sudut pengambilan gambarnya menunjukkan betapa penuh kasihnya orang yang mengambil foto tersebut.

Isaac terdiam, lalu sebuah senyuman kecil namun sangat tulus terukir di bibirnya. Ia merasa dadanya menghangat. Di tengah segala ketakutan Luna akan perselingkuhan atau pengabaian, ternyata wanita ini menjadikan wajah lelah suaminya sebagai hal pertama yang ia lihat setiap kali membuka ponsel. Rasa haru itu seketika menyingkirkan rasa ingin tahunya tentang pesan dari nomor tak dikenal tadi.

Ia meletakkan kembali ponsel itu di tempatnya semula tanpa mengecek apa pun lagi. Baginya, melihat wallpaper itu sudah cukup sebagai bukti kesetiaan dan cinta Luna yang tak tergoyahkan. Siapa pun yang mengirim pesan itu, Isaac yakin Luna akan menceritakannya jika memang itu penting. Ia tidak ingin mengotori malam pertamanya kembali dengan rasa tidak percaya.

Isaac berbalik, memposisikan dirinya menghadap Luna. Ia melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, menarik tubuh Luna agar lebih dekat ke dalam dekapannya. Luna seolah merasakan kehadiran suaminya dalam tidurnya; ia bergerak sedikit dan membenamkan wajahnya di dada Isaac, mencari kehangatan yang familiar.

"Tidur yang nyenyak, Sayang," bisik Isaac lagi sembari mencium kening Luna.

Malam itu, di bawah atap The Dendra Foundation, sang nakhoda akhirnya benar-benar beristirahat. Ia tidak lagi memikirkan grafik perusahaan yang melonjak atau tuntutan para investor. Ia hanya peduli pada detak jantung Luna yang seirama dengan napasnya. Dalam pelukan itu, Isaac menemukan kesembuhan yang sesungguhnya, membiarkan kegelapan malam membungkus mereka dalam kedamaian yang sempurna, sebelum mereka harus menghadapi rahasia yang mungkin dibawa oleh pesan di ponsel itu esok pagi.

Isaac pun akhirnya terlelap, membawa senyum di bibirnya ke dalam alam mimpi, merasa menjadi pria paling beruntung karena memiliki rumah untuk pulang, dan hati yang selalu menunggunya dengan setia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!