Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: SISA KEJAYAAN SANG PENCIPTA TULANG
Langkah Han Jian membawa dirinya mendaki lebih jauh ke jantung Hutan Kabut Abadi, melampaui wilayah-wilayah yang berani dipetakan oleh manusia. Udara di ketinggian ini tidak lagi sekadar lembap; ia mengandung tekanan spiritual yang aneh, seolah-olah atmosfer itu sendiri memiliki berat yang menekan pundak. Namun, bagi Han Jian, tekanan ini terasa seperti pelukan yang akrab. Tulang Perunggu Bumi di dalam tubuhnya bergetar pelan, menyerap tekanan tersebut dan mengubahnya menjadi bahan bakar untuk memperkuat serat-serat ototnya.
Setelah mendaki lereng curam yang terdiri dari batu granit tajam, Han Jian tiba di sebuah dataran tinggi yang tersembunyi di balik awan. Di sana, di puncak yang seharusnya kosong, berdiri sebuah reruntuhan megah yang dibangun dari tulang-tulang raksasa purba yang telah memfosil. Bangunan itu tidak menyerupai kuil atau istana biasa; ia lebih terlihat seperti sebuah kerangka naga raksasa yang melingkar, melindungi sebuah pelataran di tengahnya.
"Tempat ini..." Han Jian berbisik. Fragmen tulang hitam di dalam telapak tangannya berdenyut begitu kuat hingga ia bisa merasakan getarannya merambat sampai ke tengkorak kepalanya.
Ia melangkah masuk melalui gapura yang terbentuk dari dua taring raksasa. Seketika, kabut yang menyelimuti tempat itu tersibak, menyingkapkan sebuah kolam kristal di tengah reruntuhan. Di dasar kolam itu, terdapat ribuan senjata yang telah hancur—pedang, tombak, dan kapak yang semuanya kehilangan kilaunya. Namun, di atas permukaan air yang tenang, melayang sebuah bola cahaya berwarna abu-abu redup yang memancarkan aura kesedihan yang mendalam.
"Hanya mereka yang tak memiliki bejana fana yang boleh menginjakkan kaki di sini," sebuah suara gaib, berat dan berwibawa, bergema dari segala arah.
Han Jian segera waspada. Ia menancapkan kakinya ke bumi, siap meledak kapan saja. "Siapa kau? Tunjukkan dirimu!"
Tiba-tiba, udara di depannya memadat. Seorang pria tua dengan jubah putih yang compang-camping muncul. Sosoknya transparan—sebuah proyeksi jiwa yang telah bertahan selama ribuan tahun. Pria itu tidak memiliki mata, namun Han Jian merasa seolah-olah setiap inci dari sumsum tulangnya sedang dipindai oleh tatapan yang tak terlihat.
"Aku adalah penjaga makam ini, atau apa yang tersisa darinya," ucap sosok itu. "Namaku sudah lama terhapus oleh waktu, tapi dunia dulu mengenalku sebagai salah satu murid dari Kaisar Tulang Abadi."
Mata Han Jian menyipit. "Kaisar Tulang Abadi? Apakah dia yang menciptakan teknik yang kupakai ini?"
Sosok itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan kegetiran. "Dia tidak menciptakannya. Dia menemukannya. Sebelum sistem Dantian diciptakan oleh para penguasa langit untuk membatasi potensi manusia, kita semua berkultivasi melalui kerangka kita. Tubuh adalah dunia, dan tulang adalah pilar yang menopang langit. Namun, mereka yang berada di atas takut akan kekuatan yang tidak bisa mereka kontrol. Mereka menciptakan sistem Dantian sebagai 'katup'—sebuah wadah yang bisa mereka sumbat atau hancurkan kapan saja."
Han Jian teringat akan nasibnya sendiri. Betapa mudahnya klan membuangnya hanya karena "katup" itu tidak berfungsi. "Jadi, aku bukan cacat... aku hanya kembali ke cara yang seharusnya?"
"Benar," sosok itu mendekat. "Fragmen tulang hitam yang kau bawa adalah 'Kunci Sumsum'. Ia memilihmu karena kau lahir dengan kegagalan Dantian yang sempurna. Namun, apa yang kau miliki sekarang hanyalah kulit luar. Kau telah mencapai Tulang Perunggu, tapi itu hanya cukup untuk melawan semut-semut di dunia bawah ini."
Pria tua itu menunjuk ke arah bola cahaya abu-abu yang melayang di atas kolam. "Itu adalah Esensi Jiwa Tulang. Di dalamnya tersimpan memori dan energi dari sepuluh ribu pejuang tanpa Dantian yang tewas dalam perang besar melawan para penghuni langit. Jika kau menyerapnya, kau akan melompati batas perunggu dan mencapai Tulang Perak Langit."
Han Jian menatap bola cahaya itu. Ia bisa merasakan tarikan yang luar biasa, namun ia juga merasakan bahaya yang mematikan. "Apa harganya?"
"Rasa sakit yang akan membuat Penyaliban Sumsum di lava tadi terasa seperti gigitan nyamuk," jawab sang Penjaga. "Kau harus membiarkan jiwa-jiwa ini masuk ke dalam tulangmu. Mereka akan mencoba menghancurkan kesadaranmu. Jika kau gagal, kau akan menjadi salah satu dari kerangka di dasar kolam ini. Jika kau berhasil, kau akan menjadi satu-satunya orang di benua ini yang memiliki kekuatan untuk membunuh seorang dewa."
Han Jian terdiam sejenak. Ia teringat wajah menghina Han Lei, wajah serakah Tetua Agung, dan wajah sekarat Tetua Kedua. Ia teringat betapa lemahnya dia selama enam belas tahun.
"Lakukan," ucap Han Jian tegas.
Ia berjalan masuk ke dalam kolam kristal. Airnya terasa sangat dingin, kontras dengan energi api yang masih tersimpan di sumsumnya. Saat ia menyentuh bola cahaya abu-abu itu, dunia di sekelilingnya meledak.
BRAAAKK!
Bukan ledakan fisik, melainkan ledakan mental. Han Jian merasa seolah-olah ribuan nyawa masuk ke dalam tubuhnya sekaligus. Ia melihat gambaran perang besar—langit yang terbakar, lautan yang mendidih, dan para pejuang dengan tulang yang bercahaya menghancurkan gunung dengan satu pukulan. Namun, ia juga merasakan keputusasaan mereka, kemarahan mereka karena dikhianati oleh hukum alam yang tidak adil.
"AAARRRGGHHH!"
Han Jian jatuh berlutut di dalam kolam. Kulitnya mulai mengeluarkan cahaya perak yang tajam, seperti ribuan pisau kecil yang mencoba keluar dari dalam tubuhnya. Tulang-tulangnya berderak, memanjang dan memadat dalam frekuensi yang menyakitkan. Tulang Perunggu Bumi yang berwarna cokelat tua mulai terkikis, digantikan oleh warna perak mengkilap yang seolah-olah terbuat dari bintang-bintang yang jatuh.
Di tengah penyiksaan itu, sosok pria tua tadi berdiri di tepi kolam. "Jangan menyerah, Nak! Jika kau membiarkan rasa sakit ini menguasaimu, tulangmu akan hancur menjadi debu!"
Han Jian menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia memusatkan seluruh kehendaknya pada satu titik. Ia tidak mencoba melawan jiwa-jiwa itu, melainkan mengintegrasikan kemarahan mereka dengan dendamnya sendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai wadah bagi semua ketidakadilan yang pernah ada.
"Aku... adalah... nakhoda dari tulangku sendiri!" teriak Han Jian dalam batinnya.
Seketika, cahaya perak itu meledak keluar dari tubuhnya, membentuk pilar cahaya yang menembus awan dan bisa terlihat dari jarak ratusan mil. Seluruh reruntuhan bergetar. Air di kolam kristal menguap seketika karena panasnya energi yang dilepaskan.
Beberapa saat kemudian, kesunyian kembali.
Han Jian berdiri di tengah kolam yang kini kering. Seluruh pakaian atasnya telah lenyap. Tubuhnya kini memancarkan aura yang jauh lebih dingin dan tajam. Warna perunggu telah hilang, digantikan oleh kilau perak yang sangat murni di bawah kulitnya. Matanya kini sepenuhnya berwarna perak, memancarkan wibawa yang membuat sang Penjaga Makam menundukkan kepala.
"Tulang Perak Langit..." bisik sang Penjaga. "Kau benar-benar melakukannya."
Han Jian mencoba menggerakkan jarinya. Setiap gerakan kecil menciptakan suara siulan tajam di udara, seolah-olah gerakannya memotong ruang itu sendiri. Ia merasa indranya telah meluas; ia bisa mendengar detak jantung binatang buas di kaki gunung, ia bisa merasakan aliran energi di setiap daun yang gugur di hutan.
"Berapa lama aku di sini?" tanya Han Jian. Suaranya kini memiliki vibrasi yang membuat udara bergetar.
"Tiga hari," jawab sang Penjaga. "Dan kau harus segera pergi. Cahaya dari kenaikan tingkatmu tadi telah memberitahu seluruh dunia tentang lokasimu. Klan Han tidak lagi hanya mengirim pengejar kecil. Tetua Agung telah memerintahkan seluruh pasukan elit dan meminta bantuan dari sekte-sekte tetangga."
Han Jian menatap tangannya yang kini sekuat baja langit. Sebuah senyum dingin muncul di wajahnya. "Biarkan mereka datang. Aku butuh cukup banyak tulang untuk membangun jalan kembaliku ke kota utama klan."
Sang Penjaga Makam menyerahkan sebuah kotak kecil dari kayu cendana. "Di dalamnya ada sebuah teknik gerak yang disebut 'Langkah Bayangan Tulang'. Gunakan itu. Kau sekarang adalah ancaman bagi hukum langit. Jangan biarkan mereka menangkapmu sebelum kau mencapai tahap Emas."
Han Jian menerima kotak itu dan membungkuk hormat pada sosok yang mulai memudar tersebut. "Terima kasih, Penjaga. Namamu mungkin terlupakan, tapi apa yang kau berikan hari ini akan mengubah sejarah benua ini."
Sosok pria tua itu tersenyum sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya menjadi butiran cahaya. "Hancurkan langit itu, Han Jian... hancurkan penjara mereka."
Han Jian berbalik dan berjalan keluar dari reruntuhan. Dengan setiap langkah, aura peraknya semakin terkendali, tersembunyi di dalam tubuhnya seperti pedang yang masuk ke dalam sarungnya. Ia menatap ke arah bawah gunung, di mana ia bisa merasakan kehadiran puluhan kultivator tingkat tinggi yang sedang mendaki dengan niat membunuh.
"Pertunjukan yang sebenarnya... baru saja dimulai," gumam Han Jian.
Ia melepaskan satu langkah, dan dalam sekejap, ia menghilang dari puncak gunung, meninggalkan bayangan perak yang samar. Ia tidak lagi melarikan diri. Kali ini, ia sedang berburu.